Nawal El Saadawi, Perginya Pejuang Kesetaraan Gender

Kepergian aktivis perempuan asal Mesir, Nawal El Saadawi, pada 21 Maret 2021 lalu, merupakan kehilangan besar bagi pejuang kesetaraan gender. Demikian disampaikan Bendahara Umum DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Suci Mayang Sari, dalam diskusi online yang digelar PSI untuk mengenang Nawal yang wafat di usia 89 tahun itu.

“Kepergiannya tidak hanya kehilangan besar bagi Mesir tapi juga bagi masyarakat dunia yang merindukan kesetaraan,” ucap Mayang, Senin 29 Maret 2021 malam.

Menurut Mayang, perjalanan hidup sang dokter, psikiater, aktivis politik, dan novelis itu, penuh dengan kekuatan ide dan keberanian. Mayang menambahkan, tidak banyak perempuan seperti Nawal yang berani menggugat hal-hal tabu dalam budaya patriarki yang sangat mengakar dalam tatanan masyarakat dan sistem politik di Mesir.

Misalnya, lewat karya-karyanya, Nawal menyoal masalah kesetaraan perempuan dengan laki-laki, agama dan kekuasaan.

“Kisah Nawal adalah cerita tentang kekuatan ide dan keberanian. Tentang perempuan yang bangkit melawan ketidakadilan di tengah masyarakat yang konservatif. Ia tanpa basa-basi membicarakan tiga hal tabu: kesetaraan perempuan dan laki-laki, agama, dan kekuasaan,” lanjut dia.

Mayang mengisahkan, kekuatan dan keberanian Nawal itu tidak muncul begitu saja. Di usia yang masih sangat belia, Nawal sudah menelan pengalaman pahit sebagai perempuan yang hidup dalam belenggu budaya patriarki.

Pada usia 6 tahun, sebut Mayang, Nawal mengalami sunat perempuan. Selain itu, di usia 10 tahun, dia hampir dikawinkan muda. Nawal lahir dan tumbuh dalam budaya masyarakat Mesir yang memandang perempuan tidak lebih dari hama.

Kendati demikian, menurut Mayang, Nawal tidak lantas kalah. Dia justru bangkit, menyemai perlawanan, dan konsisten berjuang melawan ketidakadilan bagi dirinya dan perempuan-perempuan lain. Perlawanan itu tertuang dalam 55 buku yang ditulis Nawal dan pelbagai gerakan aktivisme lain.

Karena keberanian dan ide perlawanan itu pula, Nawal sempat 3 tahun hidup dalam pengasingan dan mengajar di Duke University, Amerika Serikat. Pasalnya, kelompok konservatif dan ekstremis menilai Nawal orang berbahaya yang harus dilenyapkan.

Lebih jauh, Mayang berujar, alih-alih berbahaya, Nawal justru sangat berjasa karena telah menularkan keberanian dan mendorong kesadaran akan pentingnya kesetaraan kaum perempuan.

“Sebagaimana rasa takut, keberanian adalah sesuatu yang menular. Keberanian Nawal, membangkitkan keberanian yang sama bagi jutaan perempuan di tempat lain. Mendorong mereka mulai mempertanyakan apa yang sebelumnya dianggap normal, dianggap bagian dari tradisi dan bahkan sakral. Mendorong lahirnya kesadaran tentang apa arti sesungguhnya dari kata ‘SETARA’” tandas lulusan Teknik Arsitektur, Universitas Trisakti, itu.

Sementara sutradara kenamaan, Nia Dinata, menceritakan awal perkenalannya dengan pemikiran Nawal. Menurut Nia, buku berjudul “Perempuan Di Titik Nol” yang ditulis Nawal, menginspirasi lahirnya salah satu karya film Nia yang mengangkat masalah poligami, yaitu film “Berbagi Suami”.

“Nawal menjadi penyemangat saya, bahwa seorang perempuan Muslim, tinggal di negara Mesir, bisa menerbitkan buku seperti buku Perempuan Di Titik Nol. Sehingga, timbullah inspirasi dan semangat itu (membuat film Berbagi Suami),” kenang Nia.

Tak hanya itu, Nia melanjutkan, pengalaman bersinggungan dengan Nawal berlanjut pada 2008, atau dua tahun setelah film “Berbagi Suami” dirilis.

Ketika itu, sebagai sutradara “Berbagi Suami”, Nia diundang pihak Duke University untuk hadir dalam pemutaran film tersebut untuk publik. Di luar dugaan, Nawal El Saadawi turut hadir pada acara tersebut. Pada momen itu juga, Nia menjadi pembicara diskusi bersama Nawal.

“Salah satu dean (dekan) perempuan bilang sudah menonton film Berbagi Suami di festival film di Hawaii. Lalu dia ingin sekali melakukan pemutaran publik di Duke University, karena mereka bilang sedang kedatangan alumni kami, yaitu Nawal El Saadawi. Saya baca email-nya mau pingsan,” kata Nia.

Selain Nia, diskusi yang dimoderatori Juru Bicara DPP PSI, Mary Silvita itu, turut menghadirkan wartawan senior, Qaris Tajudin. Qaris berbagi pandangan ketika mewawancarai Nawal saat Revolusi Mesir 2011.

Menurut Qaris, di balik keberanian dan ketajaman karya-karya Nawal dalam melawan budaya patriarki Mesir, Nawal adalah perempuan yang humanis dan bersahabat.

“Kegalakan Nawal dalam tulisan-tulisan itu, sebetulnya, tidak terlihat dalam pergaulan dia sehari-hari. Dia justru ingin merangkul banyak orang. Sebelum Revolusi Mesir, dia bikin beberapa kelompok diskusi yang isinya bukan hanya dari kelompok sekuler, tapi dari ikhwan dan orang-orang yang punya pandangan keagamaan yang kuat, bergabung di situ,” sebutnya.

Dalam kesempatan yang sama, untuk menanggapi pertanyaan moderator, akademisi dan aktivis perempuan, Neng Dara Affiah, menegaskan bahwa kontribusi Nawal dalam upaya menegakkan kesetaraan gender di Indonesia sangat besar.

“Kontribusi Nawal yang paling besar adalah mengubah cara pandang tentang bagaimana dunia dan masyarakat yang sering kali tidak menganggap perempuan memiliki nilai kemanusiaan yang setara dan tidak bersikap adil kepada perempuan,” papar dia.

Neng Dara Affiah menambahkan, pemikiran Nawal sangat relevan untuk meneropong diskriminasi terhadap perempuan yang masih banyak terjadi dalam konteks kehidupan di Indonesia.

Karenanya, pemikiran Nawal patut dipelajari untuk membangun sensitivitas ketidakadilan dan diskriminasi terhadap perempuan itu.

“Diskriminasi terhadap perempuan masih sangat sering terjadi di berbagai tempat, baik itu di tengah-tengah masyarakat, di locus keagamaan, pemerintahan dan dalam ragam praktik kebudayaan. Untuk membangun sensitivitas ketidakadilan dan diskriminasi terhadap perempuan itu, memang, kita harus banyak belajar (dari Nawal),” terangnya lagi.

Hal relevan lain yang bisa disimak dari perjalanan hidup Nawal, menurut Neng Dara Affiah, adalah posisi perempuan yang sangat rentan menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual.

Terkait dengan impresi terhadap pemikiran dan karya Nawal yang dipandang anti-agama, penulis Kalis Mardiasih, menampik hal itu.

Menurutnya, perlawanan Nawal terhadap budaya patriarki yang berkembang kala itu dan di masa sekarang, bukan menentang agama. Melainkan menentang tafsir atau interpretasi ajaran agama yang meniadakan kesetaraan dan keadilan perempuan, contohnya, penolakan Nawal dengan praktik sunat perempuan yang dia nilai melanggar hak-hak seksual perempuan.

“Saya kurang nyaman dengan istilah menentang agama, yang perlu digarisbawahi adalah menentang dominasi atau tafsir agama yang patriarkis atau menentang dominasi interpretasi agama yang menindas yang lebih lemah. Nah, saya tidak pernah membaca novel-novel Nawal yang menentang agama,” ujar penulis buku “Muslimah yang Diperdebatkan” itu.

Recommended Posts