Kamilah Kini Yang Berkata!

Editorial Koran Solidaritas, Edisi V – Nov 2015

Salam Solidaritas!

Judul diatas akan mudah dimengerti ketika kita telah membaca puisi Chairil Anwar yang berjudul Karawang-Bekasi. Dalam puisi tersebut Chairil Anwar menulis puisinya dengan membayangkan puisinya sebagai tulang-tulang berserakan yang bicara di malam yang hening “Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan. Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan, atau tidak untuk apa-apa? Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata.”

Puisi Chairil Anwar dan biasanya foto Bung Tomo menghiasi peringatan hari pahlawan setiap tahunnya. Sebagaimana cerita heroik tentang kepahlawanan, akan selalu berujung pada sebuah euforia kemenangan atau kesedihan karena ditinggal pergi. Tapi benarkah yang bangsa ini butuhkan adalah hanya sebuah cerita dan euforia atau sensasi generasi yang mengenang? Hanya mengenang sebuah ceritakah yang dibutuhkan bangsa ini? Lalu semua persoalan selesai setelah 10 November lagu gugur bunga dilantunkan dan pidato resmi Presiden RI secara resmi dibacakan dalam upacara pagi. Tampaknya kita sedang menyederhanakan persoalan.

Yang bangsa ini butuhkan bukanlah sebuah narasi cerita berulang yang meski kemasannya berbeda, namun selalu hanya berujung pada kenangan. Tentu kenangan atau memori adalah hal yang penting, tapi transformasi yang terjadi setelah semua kenangan itu adalah hal yang jauh lebih penting. Untuk itulah Chairil Anwar perlu merepotkan diri menuliskan puisi Karawang-Bekasi. Dia tidak ingin, kegiatan mengenang kepahlawanan hanya berujung pada kata “atau tidak untuk apa-apa.” Generasi pengenang, atau generasi yang masih hidup hingga saat ini harusnya mampu mengatakan “kamilah kini yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan. Kami ingin nilai kalian bukan hanya sekedar kemerdekaan dan kemenangan, tapi juga sebagai harapan. Kalian memang sudah mati, tinggal tulang-tulang, tapi kau harus tahu, kamilah kini yang berkata!.”

Memperingati hari pahlawan, tidak boleh berhenti hanya pada kegiatan mengenang sesuatu yang telah lampau. Hari pahlawan juga harus memiliki makna hari depan, kepahlawanan yang berisi harapan tentang sesuatu yang lebih baik di masa yang akan datang. Namun sayang sekali, dari sekian orang yang meneteskan airmata mengenang cerita-cerita heroik, bahkan meledakkanya tangis ketika membaca kisah penderitaan para Nabi dan sahabat-sahabatnya, sangat sedikit dari mereka yang menyiapkan diri untuk menjalani takdir ‘kepahlawanan’ itu. Sangat sedikit yang menyediakan dirinya untuk tugas memerangi kebathilan dan meninggalkan kebajikan di muka bumi, meski harus menderita karenanya.

Bisa dibayangkan, bonus demografi yang harusnya menjadi momentum bangsa ini untuk menjadi  produsen, harus kita hadapi dengan kenyataan bahwa 70% usia produktif adalah tamatan Sekolah Dasar. Lebih parah lagi, jika kita melihat perilaku elit hari ini, bahaya yang paling nyata adalah ancaman bonus demografi yang menjelma jadi krisis kebajikan yang dikarenakan jumlah populasi yang korup jauh lebih besar daripada yang anti korupsi. Jumlah angkatan kerja yang anti toleransi jauh lebih besar jika dibandingkan dengan jumlah yang toleran terhadap perbedaan. Atau jumlah orang baik kalah jauh dari jumlah orang yang permisif terhadap perilaku jahat. 

Koran Solidaritas, mengangkat judul “Kamilah kini yang berkata!” karena sudah saatnya kegiatan mengheningkan cipta harus dibarengi dengan kegiatan menciptakan karya. Tugas generasi saat ini, selain mengenang, harusnya siap untuk menjadi ‘tulang-tulang’ berserakan yang akan dikenang oleh generasi yang akan datang. Bonus demografi harus diisi dengan menyiapkan pahlawan-pahlawan masa depan. Hanya dengan itu cerita tentang “pahlawan” tidak hanya berputar tentang masa yang lampau, tapi juga tentang sesuatu yang mengandung makna harapan tentang masa depan. Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu mengenang jasa pahlawannya, tapi juga bangsa yang menyiapkan diri menjadi pahlawan yang akan dikenang kelak. Tugas kita bukan lagi hanya “menjaga Bung Karno, menjadi Bung Hatta, menjaga Bung Sjahrir” tapi tugas utama kita justru adalah “menjadi Bung Karno, menjadi Bung Hatta, menjadi Bung Sjahrir” di masa kini. Tidak ada cerita heroik yang dibangun diatas pesta pora dan hedonisme. Kita haruslah menjadi Avanti-avanti yang terus berjaga di garis batas harapan dan impian.     

 

Recommended Posts