Dedek terbilang sosok nyeleneh. Setelah lulus S2 di Swedia, ia punya kesempatan tinggal di sana. Dedek malah pulang ke Indonesia.
Pulang dari Swedia, Dedek menjadi peneliti di Lembaga Demografi di FEB UI. Hanya setahun, ia pindah ke lembaga internasional, juga sebagai peneliti. “Di sana saya menjadi peneliti kebijakan,” kata pria kelahiran 23 April 1984 ini.
Kini, ia mendaftar sebagai calon legislatif dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Jika ditadirkan menjadi anggota DPR, Dedek bilang akan memfokuskan diri untuk mengurus bonus demografi – sesuai latar belakang akademisnya. Dalam uji kelayakan, Sabtu (4/11/2017), Dede menegaskan, “Bonus demografi tidak akan terulang. Kalau lewat, habis. Baru akan terjadi 600 tahun lagi.”
Bonus demografi biasa dikategorikan sebagai “jendela peluang.” Namun mungkin juga mendatangkan bencana. Andai tidak dimanfaatkan dengan benar, justru bisa memunculkan kriminalitas.
Dedek menambahkan, “Bonus demografi hanya bisa diperoleh jika arah kebijakan menitikberatkan pada bidang kependudukan, pendidikan, pemberdayaan, dan ketenagakerjaan. Dibutuhkan koordinasi sejumlah kementerian dan kelembagaan.”
Juri independen, Hamdi Muluk, bertanya, “Karier Anda sudah cukup bagus. Kenapa mau masuk politik? Politik kan jalan terjal dengan banyak duri.”
Dedek menjawab, “Passion saya memang politik. Pertanyaannya lebih ke soal kapan akan terjun ke politik.”
Ia bercerita, selama belasan tahun, dirinya mengidap semacam sindrom “jijik partai”. Setelah menamatkan S1 di Selandia Baru, ia sempat masuk ke politik.
“Saya tur ke parlemen di sana, memang sesuai text book. Waktu saya Indonesia, nyemplung ke politik dengan menjadi anggota partai, ini kok uang (rakyat) pada hilang,” kata Dedek.
Kecewa berat, selama 15 tahun, Dedek menjadi golput dalam pemilu legislatif. Tapi, saat Pilpres, dia memilih.
Sampai akhirnya Dedek menemukan orang-orang “gila” di PSI yang berpolitik dengan cara baru dan beradab. “Menemukan PSI, saya memutuskan meninggalkan zona nyaman saya,” ujar Dedek.