60% Pendaftar Gelombang Pertama Rekrutmen Caleg PSI adalah Milenial
Siaran Pers

60% Pendaftar Gelombang Pertama Rekrutmen Caleg PSI adalah Milenial

Dewan Pimpinan Pusat Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengumumkan hasil tes wawancara Gelombang Pertama rekrutmen calon legislatif (caleg) untuk Pemilu 2019.

Ketua Umum PSI, Grace Natalie, mengatakan ada tiga kategori: lulus, lulus dengan syarat, dan belum lulus.

Dari 146 peserta yang mengikuti tes wawacara, PSI menetapkan 57 calon dinyatakan lolos, 58 lolos dengan syarat. Sementara, 31 orang dinyatakan tak lolos.

“Jika nilainya minimal 3,75, dinyatakan lulus. Jika mendekati 3,75, dinyatakan lulus dengan syarat., ” kata Grace dalam jumpa pers di Basecamp DPP PSI, Minggu (16/12/2017).

Total, pada Gelombang Pertama, ada 1.155 pendaftar. “Dari keseluruhan pendaftar, 94% adalah laki-laki, 6% perempuan,” kata Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) PSI, Sumardy, pada kesempatan yang sama.

Menariknya, 60% pendaftar tergolong generasi Milenial (di bawah 35 tahun). Sementara itu, Generasi X (35-50 tahun), diwakili 34% pendaftar.

Para peserta yang lulus, pada Januari-Februari 2018, akan mengikuti tahap evaluasi sosialisasi. Mereka akan turun ke daerah, mengindentifikasi masalah dan solusinya, lalu menyusun laporan.

Mereka yang dinyatakan lulus dengan syarat diwajibkan mengikuti sejumlah kelas yang akan digelar secara online. Mereka yang belum lulus diperkenankan mendaftar di gelombang berikutnya.

Para caleg yang lulus dan lulus dengan syarat diundang hadir dalam jumpa pers untuk menerima surat kelulusan dari DPP PSI. Satu di antaranya adalah Giring “Nidji Ganesha.

Juri independen, Mari Elka Pangestu, mengatakan dirinya sangat senang mengikuti proses rekrutmen secara terbuka ini. “Ternyata disruption ada di mana-mana, termasuk dalam rekrutmen caleg. Saya sangat excited,” kata mantan Menteri Perdagangan.

Mari menyatakan, proses rekrutmen caleg PSI mencerminkan Indonesia karena para peserta yang beragam. “Sekarang tinggal mengerjakan PR yang tersisa. Yaitu bagaimana mengidentifikasi masalah di daerah masing-masing dan bagaimana berkomunikasi dengan kalangan grass-root,” ujar Mari dalam jumpa pers.

Juri independen lain, Neng Dara Affiah, mengimbau para peserta yang lolos untuk belajar dari para tokoh seperti Sukarno, Moh Hatta, Sutan Sjahrir, atau Abraham Lincoln.

“Petik intisari dan semangat mereka untuk bekal kita berenang di lautan perbaikan Indonesia ke depan, ” kata mantan Komisioner Komnas Perempuan itu sambIl menunjuk foto para tokoh-tokoh itu yang terpajang di dinding.

Gelombang Kedua juga segera dibuka. Selain nama-nama yang sudah terlibat di Gelombang Pertama, ada tambahan juri, yaitu advokat senior Todung Mulya Lubis, mantan Rektor UIN Jakarta Azyumardi Azra, mantan Menkeu Muhammad Chatib Basri, pakar Hubungan Internasional Clara Juwono, tokoh perempuan Natalia Soebagjo, pakar hukum Bivitri Susanti, dan penulis Goenawan Mohamad.

“Pada Gelombang Kedua ini, saya berharap ada lebih banyak perempuan yang mendaftar. Masih sangat kurang. Sehingga mudah-mudahan minimal sepertiga dari calon legislatif PSI nanti perempuan,” ujar Mari Elka Pangestu.

Rilis Media
Dewan Pimpinan Pusat Partai Solidaritas Indonesia

60% of PSI Legislative Candidates Recruitment in the First Batch are Millennial Generation

Menunggu Godot di Tengah Keriuhan Pilkada
Blog Solidaritas Opini

Menunggu Godot di Tengah Keriuhan Pilkada

Oleh: Nissa Rengganis

Pengantar:

Esai ini merupakan salah satu karya peserta Lomba Esai “Anak Muda dan Politik” yang diselenggarakan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bekerja sama dengan Qureta pada 2016.

Godot selalu hadir di setiap perubahan jaman. Dengan membawa semangat yang sama: harapan dan kecemasan.

Pilkada datang lagi. Orang-orang di negeri ini mulai tenggelam dalam ingar-bingarnya. Beberapa diantaranya mulai menyiapkan diri seperti siswa yang pertama kali masuk sekolah setelah liburan panjang usai. Beberapa sisanya lebih memilih jalan sunyi—menepi dari keriuhan pilkada.

Tapi ada yang tidak bisa dihindari: jalanan yang mulai sesak oleh sederet spanduk, baliho, papan reklame yang hadir diantara pohon-pohon layu. Televisi mulai beradu berebutan dengan berita politik, iklan sampo, komedi basi dan wajah muda-mudi alay di sinetron.

Koran penuh iklan dan janji-janji politisi. Kita yang sebagian tersisih dari ingar bingr pesta pilkada kerap menanam harapan sekaligus kecemasan–seraya berdoa dapat menggunakan hak pilih dengan tepat. Memang di musim politik begini sellau banyak kata semoga diantara kita.

Saya yang memilih untuk menyepi dari keriuhan pilkada tiba-tiba teringat pada dua tokoh dungu Vladimir dan Estragon-nya Beckett. Orang-orang yang sepanjang hidupnya dikutuk dan dihukum sebagai penunggu Godot– di bawah pohon tepi jalan. Vladimir dan Estragon adalah kita.

Orang-orang gelisah yang disuguhkan peristiwa dari segala musim. Tidak berdaya, dihinggapi kegetiran hidup, terasing dari lingkungan sosialnya dalam keadaan nyaris putus asa. Di musim pilkada begini, kita terseret lagi pada ritual yang sama; menanti suatu kesia-siaan dengan penuh harap.

Sementara di tengah penantian itu, kita terus membual tentang harapan yang ditunggu-tunggu itu akan datang. Menunggu hingga hari berganti minggu, minggu berganti bulan hingga ke tahun-tahun yang terik. Tapi yang kita temui hanyalah sederet peristiwa mencekam yang datang silih berganti. Dan kita menertawakan segala peristiwa pahit itu.

Naskah Waiting for Godot yang ditulis Beckett pada awal 1950-an adalah sebuah drama penting dunia. Ia mewakili semangat zaman pasca Perang Dunia II, tetapi semangat itu hingga kini masih relevan. Sekalipun sudah 60 tahun selepas naskah dipentaskan untuk kali pertama di Paris, godot selalu hadir di setiap perubahan jaman.

Dengan membawa semangat yang sama: harapan dan kecemasan. Hari ini, kita tengah terseret ke arus besar pesta demokrasi dan tengah berlomba-lomba merayakannya. Tapi, kita kerap cemas dengan segala harapan yang sisa-sisa. Harapan yang kita titipkan pada sekelompok orang yang entah.

Vladimir dan Estragon adalah kita. Yang terus mengulang peristiwa demi peristiwa. Orang-orang yang gelisah, menemui kegetiran dan hampir putus asa. Godot sebuah tragedi. Seperti kita barangkali yang tengah menanti suatu keajaiban dengan penuh harap.

Tidak berdaya, dihinggapi kegetiran hidup, terasing dari lingkungan sosialnya dan dalam keadaan nyaris putus asa. Barangkali itulah wajah-wajah pemilih menjelang pilkada. Ditengah keputusasaan itu, kita terus saja menyusuri sebuah terowongan gelap berliku-liku, dan percaya akan menemui seberkas sinar di ujung terowongan sana.

Kita ini barangkali dikutuk dan dihukum untuk jadi penunggu — seperti Vladimir dan Estragon yang menanti Godot di bawah pohon di tepi sebatang jalan. Mereka menunggu, menunggu dan menunggu tetapi Godot tak pernah datang.

Jika Godot adalah sosok pemimpin ideal yang kita harapkan, mungkinkah ia hadir dari kancah pilkada yang sengit ini? Sementara kita tahu, pertarungan politik hanya perihal kalah menang. Lalu lintas politik hari ini terlampau riuh oleh gesekan-gesekan yang saling menjatuhkan satu sama lain. Ironisnya, terkadang diantara kita pun turut tumbang.

Godot dan politik kerap menyeret manusia selalu berada dalam posisi antara, antara diri sebagai subjek dengan diri sebagai objek. Dua posisi ini memberikan pengalaman yang mampu menyimbolkan kondisi manusia sebagai mahluk bebas tetapi berhadapan dengan kuasa.

Godot dan para tokoh yang hadir di dalamnya—betapa siapa pun tak bisa membebaskan diri dari kutuk lingkungan. Ada yang dramatik dari para tokoh Waiting for Godot—silang sengkarut konflik mewarnai penantian mereka. Saling menyimpan curiga, marah, mengumpat, menyalahkan, juga memafkan di kemudian. Mirip kompetisi politik kita.

Lantas apa yang tersisa? Harapan barangkali. Seperti Vladimir dan Estragon penuh harap menunggu Godot yang tak kunjung datang. Ya, saya menduga dalam teks-teks yang penuh kegetiran itu ada makhluk gaib bernama harapan. Ia semacam rasa optimisme untuk melawan tragedi yang melahirkan nasib buruk pada si tokoh.

Mereka terus menjadi sekaligus merebut realitas sosial pasca Revolusi Industri yang mengawali abad pencerahan di Eropa. Alienasi, keterasingan terlahir ketika individu merasa kecewa atau menyesal karena gagal dalam memahami kehidupan manusia. Dalam politik, kekecewaan ini kemudian melahirkan sikap apolitis hingga golput. Peristiwa ini kemudian mengutuk kita menjadi homo videns–manusia penonton, kata Giovanni Sartoni.

Tokoh asing. Situasi mencekam. Pembaca secara mendadak diajak bertemu dengan tokoh yang asing, tanpa ada prolog pengenal. ―meminjam istilah Dami N toda; bagai seorang gerilya yang mendadak muncul dari hutan-hutan gelap. Ini terjadi juga pada kita menjelang pilkada. Kita terpaksa harus memilih orang-orang yang muncul dari hutan gelap dan mengaku dirinya adalah Tarzan. Sialnya kita percaya bualan si Tarzan dengan segala petualangannya sebagai raja hutan.

Padahal kecewa kemarin belum reda. Tapi kita si penunggu dungu yang penuh harap harus siap menerima segala cemas. Perasaan kecewa, pasrah, marah, bercampur aduk dengan rasa tidak berdaya menghadapi permasalahan yang datang berlapis-lapis semenjak tumbangnya Orde Baru hingga hari ini.

Perubahan yang digadang-gadang reformasi ternyata tersaruk-saruk tak tentu arah. Perubahan yang diserukan SBY hingga Jokowi tak kunjung datang. Tapi bukankah kita manusia penunggu yang penuh harapan dan bersiap untuk kecewa. Barangkali selalu memang terlampau banyak kata semoga diantara kita.

Pilkada datang lagi. Orang-orang di negeri ini mulai tenggelam dalm ingar-bingarnya. Ada yang menyambut gembira, tidak sedikit yang hambar saja. Tapi kesemuanya dari kita akan berlomba-lomba mencari pegangan yang kuat untuk bisa mengendalikan perahu layar kita yang diombang-ambingkan ombak besar adab digital, cyber, hologram, hingga wireless world ini.

Siapapun tokoh dalam pilkada, kita adalah Vladimir Estragon yang kerap setia menunggu Godot di setiap keriuhannya. Sekalipun sia-sia, tapi toh kita tetap penuh harap menunggunya.

Nissa Rengganis

Penulis

Lomba Esai Politik PSI-Qureta Juara Harapan 3

Lomba Esai Politik PSI ini bekerja sama dengan Qureta, diselenggarakan 20 Agustus-05 Oktober 2016. Dewan juri memutuskan tiga orang juara, yakni juara 1, 2, dan 3, serta tujuh juara harapan.

Sumber

Gandeng Kaum Muda dan Perempuan, PSI Barsel Siap Berpartisipasi di Pemilu 2019
Liputan Daerah

Gandeng Kaum Muda dan Perempuan, PSI Barsel Siap Berpartisipasi di Pemilu 2019

Dengan menggandeng kawula muda, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Barito Selatan, yakin mampu bersaing dalam pemilu legislatif dan pemilu Presiden Tahun 2019.

Menjadi salah satu parpol yang lolos dalam pendaftaran Sistem Informasi Partai Politik (Sipol), yang diselenggarakan oleh KPU RI. PSI berkeyakinan mampu bersaing dalam penyelenggaraan Pemilu legislatif dan Pemilu Presiden tahun 2019 mendatang.

Optimisme ini ditunjukan oleh DPD PSI Barsel. Ditemui di Kantornya, di Kelurahan Jelapat, Kecamatan Dusun Selatan, Barsel, Rabu (13/12/2017). Seperti diungkapkan oleh Ketua DPD Barsel, M Rafi’i, melalui Wakil Sekretaris DPD Barsel, Ayu Andira S.Sos, menerangkan bahwa PSI Barsel, sangat terbuka terhadap keterlibatan kawula muda dan perempuan.

“Kami (PSI) sangat terbuka dan bahkan menargetkan anggota terbanyak untuk PSI di Barsel, merupakan dari kalangan anak muda dan kaum perempuan,” ungkap Ayu.

Kenapa Kaum muda dan perempuan? Dilanjutkan Ayu, sangatlah penting bagi PSI Barsel, menggandeng kaum muda dan perempuan. Dengan keterwakilan anak muda dan perempuan dalam sebuah organisasi, maka akan semakin cepat pulalah sebuah organisasi tersebut berkembang.

Sesuai dengan visi dan misi yang diusung PSI, kesetaraan gender serta tidak diskriminatif terhadap kaum muda sebagai pemula dalam sebuah organisasi. Membuat PSI Barsel, menjadi salah satu Parpol yang mampu lolos dalam pendaftaran Sipol tahun 2017.

“Ini bukti, bukan hanya retorika saja, bahwa dengan keterlibatan kaum muda dan perempuan, PSI Barsel, mampu lolos dalam pendaftaran Sipol. Hal ini disebabkan, karena kaum muda dan perempuan, bergerak lebih agresif, lebih teliti dan lebih koferehensif dalam menjalankan roda organisasi dan kami yakin, dan kedepannya PSI pasti mampu bersaing dalam penyelenggaraan Pemilu di tahun 2019 mendatang,” optimis dara cantik lulusan S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Banjarmasin ini.

Untuk target kedepannya sendiri, PSI Barsel akan berupaya memenuhi semua persyaratan, agar lolos dalam verifikasi faktual yang akan dilaksanakan oleh KPU.

“Kami berupaya memenuhi semua persyaratan dari KPU, untuk lolos dalam verifikasi faktual yang akan segera dilaksanakan,” tegas Ayu.

Untuk diketahui, PSI Barsel telah meloloskan 156 orang daftar anggotanya, dalam Sipol KPU Barsel 2017, dari persyaratan seharusnya untuk wilayah Barsel, yakni sebanyak 123 orang. Adapun keanggotaan yang telah diloloskan dalam Sipol, adalah terdiri dari, 28 orang anggota di wilayah kecamatan Dusun Hilir, 112 orang di Dusun Selatan, 6 orang di Dusun Utara, di Kecamatan Gunung Bintang Awai ada 4 orang, Jenamas 3 orang dan yang terakhir Kecamatan Karau Kuala, sebanyak 9 orang anggota.[tampetu]

Sumber

#SolidarityTalk: Cara Asik Ngobrol Politik di Media Sosial Bareng Anak Muda PSI, Dari Mulai Raisa Hingga Mimpi Indonesia
Liputan Daerah

#SolidarityTalk: Cara Asik Ngobrol Politik di Media Sosial Bareng Anak Muda PSI, Dari Mulai Raisa Hingga Mimpi Indonesia

1) Hallo bro, @gussanusi kumaha damang ? Apa saja kesibukannya saat ini?

“Masih sehat segar bugar min. Ya masih sibuk cari pengganti Raisa. U know lah”

2) Apa sih pandangan bro @gussanusi tentang dunia politik saat ini? Diluar patah hati ditinggal raissa 😋

“Ada kejenuhan. Kita butuh kebaruan baik itu semangat, nilai-nilai, aktor dan yang pasti organik”

3) Menarik,apa yg mendorong bro @gussanusi hingga memutuskan u/ terjun kedunia politik? & kebaruan apa yg mau diperjuangkan?

“Pertama, saya terinspirasi Gandhi ‘Jadilah bagian dari perubahan yang kamu inginkan di dunia ini. Simple berhenti mengutuk kerjakan. Ya, perubahan butuh aktor termasuk dalam politik. Solusinya adalah terjun, mengambil peran & tanggungjawab”

“Kedua, kebaruan seperti apa? Jelas yang sejalan dengan semangat republikanisme, daulat rakyat. Kita ambl kembali apa yang telah terenggut. Tentu dengan cara kita. Anak muda. Generasi millenial. Jika itu terjadi Indonesia bakal keren”

4). Inspiratif 👏
Bagaimana bro @gussanusi memotivasi anak muda purwakarta supaya mau terlibat dlm dunia politik?

“Anak muda it dinamis, suka hal bru & aktivitas. Ajak mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Hal paling penting bersahabatlah. Sebagian perlu dibantu menemukan “passion”nya termasuk mengajak mereka lebih percaya pada diri merek sendiri. Potensi mereka”

5). Dalam pandangan bro @gussanusi sepenting apa sih politik itu ?

“Pertama, sih mari kita bicara mimpi Indonesia seperti apa yang kita inginkan di masa depan. Disini politik adalah cara untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Bayangkan berapa banyak hal bisa kita ubah dengan politik”

“Kedua jika politik erat dengan kekuasaan kita jangan alergi. Kekuasaan baik atau buruk tergantung pada siap penguasanya. Nah karenanya disinilah kita harus berani mengambil peran & tanggung jawab. Lagipula politik itu sederhana sesuatu yang sehari-hari bisa kita lakukan. Bagi saya suatu keharusan saat ini anak muda berpolitik dan memimpin”

6). Bravo, mencerahkan banget bro @gussanusi 👏 Btw cerita sedikit dong suka dukanya gabung @psi_id 😁

“Long life learning. Di PSI saya menemukan banyak hal baru dan juga sebuah tantangan. Saya bisa terus belajar. Dukanya? Cukup adil saya kira merelakan Raisa dengan dia. Untuk mengukuhkan solidaritas.

Sumber Cidahu