Kasidah Ahok di Pulau Pramuka
Liputan Liputan Nasional Pilkada DKI Jakarta 2017

Kasidah Ahok di Pulau Pramuka

Menyaksikan video Gubernur Basuki Tjahaja Purnama di Pulau Pramuka yang diunggah Nong Darol Mahmadah di Facebook, saya mbrebes mili. Mata saya berkaca-kaca — dan akan menangis sesenggukan seandainya saya adalah Ahok.

Saya tidak akan sanggup menanggung limpahan cinta dan simpati semacam itu, justeru ketika sebagian warga di tempat lain, tempat yang jauh dari Kepulauan Seribu, menghujat saya dengan bengis, bahkan ingin melihat saya berhenti dari pekerjaan saya dan menderita di dalam sel penjara, karena dosa yang tidak pernah saya perbuat.

Ia disambut musik kasidahan dengan rebana dan tamborin oleh sejumlah gadis berjilbab. Sepanjang video 11 menit itu, tak putus-putus kerumunan tua-muda-laki-perempuan itu meneriakkan namanya dengan nada cinta dan bersahabat. ‘Ahok! Ahok! Nomor dua! Nomor dua!’ Terus menerus, tanpa henti dengan menghunus dua jari, sambil mereka beringsut-ingsut di jalan kecil yang padat itu.

Ahok tak sempat berkata apa-apa. Gemuruh suara massa memang tak memberinya kesempatan untuk mengucapkan apapun. Saya duga di balik kacamata hitamnya di siang terik itu, Ahok menyembunyikan airmatanya.

Mereka adalah warga pulau tempat Ahok menyampaikan pidato yang kemudian heboh berkepanjangan. Jika benar Ahok menista Islam seperti yang dituduhkan, pastilah mereka yang pertama kali marah. Seperti kata sejumlah pemuka masyarakat setempat, seandainya Ahok berbuat sebagaimana dituduhkan, “dia tidak akan bisa keluar dari pulau ini.”

Sambutan hangat yang mendekati histeria massa itu saya kira merupakan cara mereka menyatakan betapa tidak benarnya tuduhan terhadap Ahok tersebut. Itu pula tampaknya cara mereka berterima kasih kepada Gubernur Ahok untuk program-program penyejahteraan yang diterapkannya di sana, baik yang mulai berjalan maupun sejumlah rencana gamblang yang mudah dipahami dan dipercaya penuh pewujudannya oleh mereka.

Sambutan dengan kasidahan rebana itu juga cara warga Pulau Pramuka menunjukkan bahwa mereka tidak mau, tidak sudi, turut membenci dan menista orang yang justeru sedang berupaya membantu meningkatkan taraf hidup mereka dengan program-program pemerintah yang jelas, yang selama berpuluh tahun tidak pernah mereka rasakan sebagai warga ‘luar Jakarta’; warga kepulauan yang kesejahteraannya tak pernah ada di posisi cukup tinggi dalam skala prioritas Pemda DKI. Kampung mereka hanya dipentingkan oleh sejumlah kecil orang Jakarta superkaya yang membeli pulau-pulau tetangga sebagai milik pribadi untuk bersantai dan mendongkrak gengsi.

Mereka tak terima bahwa dengan posisi yang konstan dimarjinalkan itu, forum dialog mereka bersama Gubernur DKI justeru dimanipulasi untuk memfitnah sang gubernur, hanya karena ia boleh jadi keseleo lidah, dan untuk itu ia bahkan sudah beberapa kali mohon maaf kepada siapa saja yang merasa tersinggung.

Kemarinlah, ketika Gubernur Ahok kembali berkunjung setelah pidato lumrah yang kemudian didesain jadi menggemparkan, merupakan hari bagi warga Pulau Pramuka untuk memuntahkan gumpalan kemarahan atas segala bentuk manipulasi yang mengatasnamakan forum dan kampung halaman mereka.

Menyaksikan antusiasme yang mengharukan itu, saya duga pasangan Basuki-Djarot dalam pilgub 15 Februari nanti akan menang mutlak di Pulau Pramuka dan pulau-pulau sekitar. Saya tidak akan terkejut jika raihan mereka mendekati 100 persen.

Dan semua orang tahu bahwa Ahok sudah memenangkan kontes ini — terlepas dari hasil nyata pilgub nanti. Tingkat gairah simpati dan dukungan terhadap Basuki-Djarot tidak mungkin ditandingi oleh kedua pasangan lawannya — sebagaimana bisa dirasakan oleh mereka sendiri.

Ahok telah menjadi gubernur di hati warga.

Rebana Pulau Pramuka akan bergema ke seluruh wilayah Ibukota.

sumber: http://www.jakartaasoy.com/2017/01/31/kasidah-ahok-di-pulau-pramuka/

“Kalau Pak Ahok Menistakan Agama, Saya yang Akan Bacok Dia di Sana”
Liputan Liputan Nasional

“Kalau Pak Ahok Menistakan Agama, Saya yang Akan Bacok Dia di Sana”

JAKARTA, – Seorang Warga Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu, Abdi Yaman (21) menyambangi Rumah Lembang untuk menyatakan dukungannya kepada calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Abdi mengaku bingung dengan pernyataan Ahok di Pulau Pramuka, beberapa waktu lalu, yang dituduhkan sebagai penodaan agama.

“Pernyataan Pak Ahok di Pulau Pramuka, menurut saya pribadi dan kawan-kawan di Pulau Seribu bingung, di mana penistaan agamanya? Pernyataan yang mana?” kata Abdi, di Rumah Lembang, Kamis (5/1/2017).

Jika Ahok benar-benar melakukan penodaan agama, warga Kepulauan Seribu pasti tidak akan tinggal diam. Sebab, mayoritas warga Kepulauan Seribu merupakan muslim. Namun, nyatanya tak satu pun warga yang menuntut bahkan melaporkan Ahok ke polisi.

“Kalau di Pulau seribu menistakan agama, enggak usah habib yang melaporkan, saya yang akan bacok Pak Ahok di sana,” kata Abdi.

Mahasiswa Universitas 17 Agustus Jakarta itu mengaku tak langsung menghadiri acara kunjungan kerja Ahok di Pulau Pramuka pada 27 September lalu. Namun, dia mengaku terpanggil untuk datang ke Rumah Lembang dan mendukung Ahok.

“Pernyataan apa yang menistakan agama? Bahkan orang Kepulauan Seribu tidak ada yang ikut demo, soalnya enggak tahu posisi apa yang disebut menistakan,” kata Abdi yang mengaku menikmati program Kartu Jakarta Pintar itu.

Ahok merupakan terdakwa kasus dugaan penodaan agama. Ahok didakwa melanggar Pasal 156a tentang Penodaan Agama dengan ancaman penjara maksimal lima tahun.

Berikut cuplikan video saat Abdi Yaman mengemukakan pendapatnya:

Sumber berita: Kompas.com