Sis Mayang

Suci Mayang Sari

Bendahara Umum

mayang@psi.id

@suci.mayang.9

@maytje_

Konon seorang aktivis bukanlah orang yang berkata bahwa sungai kotor. Aktivis adalah orang yang bertindak membersihkan sungai. Panggilan sebagai aktivis itulah yang membawa Suci Mayang Sari — seorang arsitek yang pernah memenangkan lomba revitalisasi gedung tua “Kuntskring Gebouw” di Menteng, Jakarta – untuk masuk ke dunia politik.

Mayang adalah orang yang percaya bahwa politik harus diisi oleh orang-orang muda yang ingin melihat Indonesia baru. Indonesia yang kreatif, dinamis dan tidak terbelenggu oleh Oligarki lama.

Panggilan yang sama pula yang dulu pernah membawa ia bersama para mahasiswa `98 turun ke jalan. Ia ada di tengah peristiwa pada 12 Mei 1998, saat terjadi penembakan atas aksi damai yang mengakibatkan empat kawannya: Elang Mulya Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan dan Hendriawan Sie, gugur, dan kelak diingat sebagai pahlawan reformasi.

“Passion” atas dunia politik pula yang menggiring Mayang meninggalkan dunia arsitektur dan memilih menjadi wartawan di KBR 68H. Sebagai wartawan, ia terus memelihara jiwa aktivisme. Tahun 2004 ia ikut mendirikan Komite Darurat Kemanusiaan, untuk mensinergikan bantuan bagi para korban Tsunami Aceh. Ia juga berkontribusi memanfaatkan pengetahuannya dalam bidang arsitektur untuk terlibat dalam pembuatan Peta Hijau Jakarta Kota, bersama komunitas arsitek muda Jakarta yang tergabung dalam “Green Map”.

Setelah tujuh tahun di dunia jurnalistik, ia bergabung dengan The Indonesian Institute, sebuah lembaga pemikiran dan kajian kebijakan publik.

Sambil bekerja ia menyelesaikan kuliah S2 pada tahun 2011, dan mendapatkan gelar master dalam bidang Corporate Social Responsibility (CSR) Universitas Trisakti, dimana ia terpilih menjadi salah satu lulusan terbaik. Tesisnya berjudul “Studi Komparatif, Mengenai Batas-Batas Tanggung Jawab Sosial Empat Perusahaan Minyak dan Gas di Indonesia” terpilih untuk dipresentasikan di hadapan 150 Professor, PhD dan para peneliti kawasan Asia Pasifik dalam konferensi International Society for Third Sector Research.

Ia sempat tinggal selama hampir tiga tahun di kota Bonn, Jerman, dari 2012-2014, sebelum akhirnya kembali ke The Indonesian Institute dan kemudian bergabung dalam Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Ia percaya, bersama PSI ia akan bisa mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih baik. Indonesia yang dipimpin orang-orang muda yang kreatif, yang melampaui batas-batas sekat suku dan agama.