Platform 5: Energi dan Sumber Daya Alam

Sebagai partai baru yang berkomitmen pada kreatifitas dan inovasi, PSI bertekad akan bekerja keras di bidang energi. Tantangan terberat di bidang energi ke depan adalah bagaimana menyeleraskan antara kebutuhan energi untuk industri dan menggerakkan ekonomi di satu sisi, dengan ancaman bencana dari perubahan iklim akibat pola kebijakan dan penggunaan energi yang salah di sisi lain.

PSI menilai, sejauh ini kita belum menunjukkan komitmen yang kuat dan sungguh-sungguh untuk menempuh jalan baru di bidang energi, yang selain mampu menggerakkan ekonomi, tapi juga sekaligus menjauhkan kita dari ancaman bencana perubahan iklim.

Ada sejumlah masalah serius di bidang energi yang harus diperhatikan. Antara lain  pemerataan listrik, diversifikasi energy, konservasi energi, riset dan inovasi.

 

  • Pemerataan Listrik

Berdasar Outlook Energi BPPT 2013, rasio elektrifikasi negara kita pada tahun 2012, baru 75,8%. Artinya, 24,8% penduduk Indonesia belum menikmati listrik. Bandingkan dengan Singapura 100%, Malaysia 99,4%, Filipina 89,7%, dan Vietnam 97,6%.

Listrik adalah sumber kegiatan ekonomi dan kesejahteraan. PSI akan bekerja sungguh-sungguh untuk memastikan semua lapisan masyarakat bisa menikmati listrik, dengan sumber energi yang lebih inovatif dan beragam.

  • Diversifikasi Energi

Masih dari Energy Outlook yang diterbitkan BPPT, secara umum produksi, eksplorasi dan konsumsi energi kita masih bertumpu pada energi fosil. Cadangan energi kita masih bertumpu terutama pada batubara, gas, dan minyak bumi. Dan ini semua energi yang tidak terbarukan, akan habis dikonsumsi. Cadangan batubara kita misalnya, akan habis setelah 75 tahun, gas kita akan habis setelah 33 tahun, dan minyak bumi kita –kalau tidak ditemukan cadangan baru—sudah akan habis dikonsumsi dalam waktu 12 tahun.

Eksplorasi dan inovasi dari sumber-sumber energi alternative seperti nuklir, matahari, air, angin, biomassa, dan seterusnya, sejauh ini belum masuk menjadi agenda serius bangsa.

  • Konservasi Energi

Bahayanya, selain belum serius melakukan diversifikasi sumber energi, kita juga belum serius melakukan konservasi dan penghematan konsumsi. Dan itu terjadi pada energi fosil, yang selain membebani ekonomi juga menambah beban kerusakan lingkungan.

Masih dari data Energy Outlook BPPT, selama kurun waktu 2000-2012, total konsumsi BBM meningkat dari 315 juta SBM pada tahun 2000 menjadi 398 juta SBM pada tahun 2012 atau meningkat rata-rata 1,9% per tahun.

Kenaikan terus menerus itu, juga disertai dengan perubahan pola konsumsi yang boros. Tahun 2000, konsumsi minyak solar termasuk minyak diesel mempunyai pangsa terbesar (42%) disusul minyak tannish (23%), bensin (23%), minyak bakar (10%), dan avtur (2%). Tahun 2012 urutannya berubah menjadi bensin (50%), minyak solar (37%), avtur (7%), minyak tanah (4%), dan minyak bakar (2%).

Selama kurun waktu 2000-2012, sektor transportasi mengalami pertumbuhan terbesar yang mencapai 6,92% per tahun, diikuti sektor komersial (4,58%), dan sektor industri (2,51%). Sedangkan untuk pertumbuhan di sektor rumah tangga hanya sebesar 0,92%, dan sektor lainnya mengalami penurunan sebesar 0,94%. Tingginya laju pertumbuhan konsumsi energi di sektor transportasi disebabkan pesatnya pertumbuhan kendaraan bermotor dari kurun waktu 2000-2012 yang mencapai sekitar 14,3% per tahun.

Pemborosan itu terjadi lebih-lebih karena pertumbuhan kendaraan bermotor itu terjadi pada kendaraan pribadi. Sebagai contoh betapa boros dan timpangnya penggunaan energi di sektor ini: BPPT menghitung, di Jakarta ini jumlah kendaraan pribadi mencapai 96,5% yang melayani 44% perjalanan, sedangkan jumlah angkutan umum mencapai 3,5% yang melayani 56% perjalanan (diantaranya 3% dilayani kereta api / KRL Jabodetabek).

Pemborosan konsumsi energi di sektor transportasi ini selain mengancam lingkungan, juga terus menggerogoti cadangan devisa. Statistik Bank Indonesia menunjukkan defisit neraca perdagangan minyak dan gas naik menjadi 3,2 miliar Dolar pada kuartal kedua 2014, naik dari defisit sebesar 2,1 miliar Dolar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara sumber energi bidang transportasi lebih banyak dari impor, negara juga terus terbebani karena harus mengeluarkan subsidi. Selama beberapa tahun terakhir subsidi energi meningkat terus menerus. Pada tahun 2011 subsidi energi sebesar Rp 195,3 triliun, meningkat menjadi Rp 268 triliun di 2013. PSI akan bekerja keras memutar haluan konsumsi energi yang selain boros, juga membebani keuangan negara ini. Kebijakan penggunaan energi di sektor tranportasi harus menjadi perhatian serius. Kebijakan impor yang antara lain telah menjadi ajang para pemburu rente (mafia migas) harus dikelola secara serius, transparan, dan lebih ketat.

  • Riset dan Inovasi

Diversifikasi dan konservasi energi, membutuhkan riset dan inovasi yang harus didukung penuh negara. PSI akan berupaya sungguh-sungguh agar negara bukan hanya mendukung riset dan inovasi, tapi juga ikut membangun pasarnya. PSI akan mendorong negara ikut aktif menarik gerbong inovasi energi dan teknologi yang lebih ramah lingkungan.

Tunjukkan Solidaritasmu!