PSI Ajak Greenpeace Kolaborasi untuk Selamatkan Lingkungan
Liputan Liputan Nasional

PSI Ajak Greenpeace Kolaborasi untuk Selamatkan Lingkungan

PSI mengajak Greenpeace mengedepankan kolaborasi. Ini menanggapi pernyataan keras Greenpeace terhadap pidato Presiden Jokowi di COP 26 Glasgow.

“Sebaiknya kawan-kawan di Greenpeace duduk bersama KLHK dan bicara soal data, bukannya perang opini yang membuat rakyat Indonesia bingung,” kata Juru Bicara PSI bidang Lingkungan Hidup, Mikhail Gorbachev Dom dalam keterangan tertulis, Kamis (4/11).

Dia juga menilai, Greenpeace bersikap berbeda ke negara maju dan negara berkembang. Greenpeace sebagai NGO Internasional seharusnya lebih berimbang bersikap kepada semua negara di dunia.

“Jangan lembek kepada negara maju yang menghasilkan lebih dari 50% emisi karbon dunia dan malah keras ke negara berkembang seperti Indonesia, yang hanya menyumbang 1,7% emisi karbon dunia,” ujar mahasiswa Doktoral Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia itu.

Menurutnya, apa yang dilakukan Greenpeace malah kontra produktif dengan usaha penyelamatan lingkungan hidup yang harus melibatkan semua pihak.

“Gaya komunikasi Greenpeace yang arogan malah memperlebar jurang kolaborasi pemerintah dan masyarakat sipil, padahal ke depan kita butuh seluruh elemen untuk berjejaring dan berkolaborasi. Saran saya Greenpeace jangan membawa gaya advokasi luar negeri ke Indonesia, advokasi mereka harus lebih membumi jika ingin menyelamatkan bumi Indonesia,” tambah Gorba.

Ditambah lagi Indonesia, menurut Gorba, sudah sangat paham posisinya dalam usaha dunia menghadapi Krisis Iklim.

“Indonesia ini sudah sangat paham posisi kita sebagai paru paru dunia, karena itu Indonesia bergerak lebih ke sektor kehutanan. Jika ada perbedaan data sebaiknya dibicarakan saja dengan KLHK, jangan beropini yang seakan Indonesia tidak berbuat apa-apa, nyatanya usaha kita sudah setara dengan usaha Australia, Amerika, Jepang dan China, walau target kita sebenarnya di bawah negara maju tersebut. Ini kan patut diapresiasi,” ujarnya.

Gorba juga meminta Menteri KLHK untuk mendengar dan berdiskusi lebih sering dengan para aktivis.

“Saya pikir kita semua, atau dalam hal ini KLHK dan Greenpeace punya tujuan yang sama, ingin bumi Indonesia lestari dan ingin dunia selamat dari krisis iklim. Karena itu saya pikir Bu Siti Nurbaya juga harus lebih sering ngobrol dan membangun kolaborasi dengan teman-teman NGO. Krisis iklim dunia adalah panggilan buat kita semua agar berhenti bekerja sendiri-sendiri dan mulai bekerja sama,” tutup Gorba.

Sumber : https://www.merdeka.com/peristiwa/psi-ajak-greenpeace-kolaborasi-untuk-selamatkan-lingkungan.html

PSI Tawarkan Peran Indonesia dalam Menghadapi Krisis Iklim
Liputan Nasional

PSI Tawarkan Peran Indonesia dalam Menghadapi Krisis Iklim

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menawarkan gagasan soal peran dan cara Indonesia menyelamatkan dunia dari krisis iklim.

“Hutan kita, hutan Indonesia, bisa memberikan kontribusi besar menurunkan pemanasan global dengan menyerap lebih banyak karbon dioksida, Untuk menuju ke sana, PSI menawarkan sebuah gagasan,” kata Plt Ketua Umum DPP PSI, Giring Ganesha, dalam sebuah video yang tayang di akun media sosial pada Sabtu (30/10).

Data memperlihatkan, ada sekitar 10,6 juta hektare hutan lindung dan konservasi yang kini hanya menjadi semak belukar. “Jika kita menanam kembali pohon di sana, dalam beberapa tahun lahan itu akan menjadi hutan yang akan menyerap 3,8 miliar ton karbon dioksida. Itu setara dengan 21 kali emisi karbon transportasi tahunan di Jakarta,” kata Giring.

Untuk menyelamatkan bumi, setidaknya dengan dua cara. Pertama, dengan energi terbarukan. Kedua, dengan konservasi dan perlindungan hutan.

“Namun menurut kajian Badan Kebijakan Fiskal, investasi energi terbarukan akan memakan biaya sampai 240 miliar dolar AS. PSI mendukung upaya investasi energi terbarukan ini tapi kajian yang sama mengatakan konservasi dan perlindungan hutan dapat lebih ampuh menurunkan emisi dengan biaya 2% saja,” kata Giring.

Planet bumi bergantung kepada tiga hutan hujan tropis sebagai paru-paru. Satu di Amazon Brasil, satu di Kongo, dan satu lagi di Indonesia.

Untuk mewujudkan gagasan konservasi tersebut, perlu kerja sama, sebuah kerja besar menanam dan merawat lahan itu agar kelak menjadi hutan yang menyelamatkan dunia. Sebuah kerja bersama yang akan menghasilkan dua manfaat

“Selain menyelamatkan hutan dan menjadikan Indonesia sebagai pahlawan penyelamat dunia, kerja bersama ini akan menjadi sumber lapangan pekerjaan baru yang bisa menyerap jutaan tenaga anak muda,” lanjut calon presiden RI 2024 tersebut.

Anak-anak muda itu turut merawat rumah masyarakat adat dan kekayaan satwa Indonesia seperti orang utan, harimau, badak, dan cenderawasih.

“Inilah sebuah pekerjaan besar yang akan membuat Indonesia diingat dunia: sebagai negara yang menyelamatkan bumi dari krisis iklim,” tutup Giring.

Sumber : https://www.merdeka.com/peristiwa/psi-tawarkan-peran-indonesia-dalam-menghadapi-krisis-iklim.html

Jadi Petani Bisa Kaya dan Sejahtera, Asalkan…
Liputan Nasional

Jadi Petani Bisa Kaya dan Sejahtera, Asalkan…

Menjadi kaya dan sejahtera dari bertani bukan hal mustahil. Tapi untuk mencapainya, mesti dimulai dari fondasi yang kuat. Demikian disampaikan pendiri komunitas Petani Harus Kaya (PHK) Bali, I Made Gunada, dalam diskusi online “Petani Harus Kaya!” yang digelar DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

“Bertani itu kan pilihan, mau jadi petani hobi, bertani hanya untuk makan, atau petani bisnis? Yang mungkin kita pikirkan ke depan, untuk menjadi petani bisnis yang kaya itu, kita mulai dari fondasi,” kata dia, Jumat 29 Oktober 2021 malam.

I Made Gunada kemudian mengatakan, sama seperti profesi lain, menjadi petani pun kudu disertai keyakinan untuk menjalaninya.

“Harus ada fondasi untuk menjadi kaya dari bertani. Satu, kita harus kaya secara spiritual dulu, karena spiritual itu mengajarkan kita untuk yakin. Termasuk pekerjaan jadi petani, kalau kita gak yakin ya bagaimana, hasilnya bakal setengah-setengah. Makanya saya ajarkan menjadi petani itu harus yakin dulu,” tambah dia.

Selain modal keyakinan, lanjut I Made Gunada, untuk menjadi kaya dan sukses, petani harus terus belajar dan memahami komoditas pertanian. Modal lain yang tak kalah penting, menurutnya, adalah kejujuran. Tanpa kejujuran, apa pun jenis pekerjaan tidak akan membawa kesejahteraan bagi pelakunya.

“Ketiga, kaya kejujuran. Kejujuran ini adalah fondasi fundamental dari sebuah komitmen. Kalau kita gak belajar jujur dan gak punya komitmen, kerja setengah-setengah, kita gak akan sampai pada ujung,” ujar pria yang sudah 30 tahun menggeluti dunia pertanian ini.

Jika ketiga syarat itu terpenuhi, mereka yang bertani bisa kaya secara materiil.

“Nah, sehingga dari modal keyakinan, intelektual yang bagus dan kejujuran, kita akan kaya sahabat, kaya saudara, kaya peluang, kaya link (jejaring), maka kaya secara materiil akan mengikuti,” imbuhnya.

Keinginan untuk memberdayakan para petani agar kaya dan sejahtera itu pula yang mendorong I Made Gunada menginisiasi komunitas petani PHK. Terlebih pada situasi pandemi ini.

Dia menyebut banyak masyarakat Bali yang sebelumnya bekerja di industri pariwisata dan terkena dampak pandemi, lantas beralih ke sektor pertanian untuk bertahan hidup.

Dalam waktu relatif singkat, komunitas PHK didirikan 12 Februari 2021, kini sudah mengelola tak kurang dari 50 hektare lahan pertanian. Itu menandakan bahwa tren dan animo masyarakat untuk kembali ke pertanian menguat akibat pandemi.

Komunitas PHK, lanjut I Made Gunada, juga memastikan hasil panen anggotanya terjual. Berbeda dengan kebanyakan petani konvensional yang menjual komoditas mentah, PHK justru menjual hasil panen dengan cara inovatif sehingga mampu memberi nilai tambah ekonomi kepada petani.

“Di PHK ini kita buatkan central kitchen, hasil tanam petani PHK kita proses, kalau kita jual mentahan ke pasar, kita akan bersaing dengan petani-petani konvensional. Nah, apa pun yang kita tanam, masuk ke sentral kitchen saya kasih sentuhan. Dari kubis, sawi, sayur hijau lain-lain kita olah dengan standar internasional, mulai dari sanitasi, safety product, kita kasih bumbu, sehingga lahirlah simple cooking PHK yang dimasak hanya dalam 5 menit,” kata dia.

Sementara itu, Listiarini Dewajanti yang turut hadir menjadi pembicara menguraikan berbagai tantangan yang dihadapi petani di kemudian hari, terutama perubahan iklim yang sangat mungkin kian menyulitkan ekonomi petani.

Karena itu, Listiarini mengatakan, kebijakan pemerintah yang mendukung pengendalian perubahan iklim, dan di sisi lain tetap memihak dan melindungi petani mutlak dibutuhkan.

“Memang harus ada kebijakan dari regulator atau pemerintah untuk berpihak kepada penanganan perubahan iklim, misalnya, subsidi yang terkait dengan praktik-praktik ESG (Environmental Social Governance) atau penyediaan KUR khusus yang kalau petaninya memakai energi terbarukan, itu akan dapat kemudahan, misalnya,” papar Expert Strategic Futures Indonesia itu.

Terkait dengan nasib petani, Listiarini juga menyerukan gagasan merevitalisasi BUMDes (Badan Usaha Milik Desa). Menurutnya, konsep BUMDes secara konseptual sangat bagus, namun dalam praktiknya tidak bertaji dalam melindungi kesejahteraan petani.

“Sebenarnya sudah ada konsep BUMDes (Badan Usaha Milik Desa), tapi kayaknya konsepnya bagus tapi eksekusi yang belum bagus. Prinsip BUMDes itu kan korporatisasi pertanian, seperti di Jepang. Jepang itu kan kecil-kecil petaninya cuma dia bisa gabung jadi satu sehingga memproduksi massal,” ucap lulusan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya itu.

Lebih jauh, dalam diskusi yang dimoderatori Koordinator Juru Bicara PSI Kokok Dirgantoro itu, Listiarini menyebut sebetulnya banyak komoditas unggulan pertanian Indonesia yang diekspor ke luar negeri. Tapi masalahnya, menurut Listiarini, strategi pemasaran di luar negeri pun masih lemah, yang berdampak pada kesejahteraan petani dalam negeri.

Jika ingin mengangkat derajat ekonomi petani, kata Listiarini, rantai pasokan dari BUMDes, informasi produk, sampai strategi pemasaran mesti dibenahi secara serius.

“Indonesia ini kaya banget, semua komoditas eksotis yang dicari itu ada di Indonesia, seperti lada, vanila, kakao, kopi, dan lain lain, tapi ketika dijual di luar negeri, saya lihat kok brand (Indonesia) gak ada,” imbuh dia.

“Pengalaman saya membawa partner UMKM kita untuk go global lewat Amazon.com, bisa jualan di Amazon.com lewat diaspora Indonesia yang di sana. Nah, itu tugas perwakilan kita itu menghubungkan potensi itu dengan produsen di sini, produsen di sini di-BUMDes-kan itu tadi, dikorporatisasikan, jadi gak insidentil penjualannya,” tandas dia.

 

Mantan Plt Sekjen PKPI Gabung PSI
Liputan Nasional

Mantan Plt Sekjen PKPI Gabung PSI

Mantan Plt Sekjen Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Takudaeng Parawansa atau akrab disapa Keke Parawansa bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI)

“Saya melihat harapan besar di PSI dalam memperbaiki Indonesia. Dengan bergabung, saya berharap bisa menambah kekuatan di partai yang mayoritas dikelola anak muda yang energetik dan penuh integritas ini,” kata Keke saat diperkenalkan di Basecamp DPP PSI, Rabu (27/10).

Di PSI, Keke diberi amanat sebagai Direktur DPP PSI Bidang Tata Kelola, Infrastruktur dan Sanitasi. Bidang yang menjadi tanggung jawabnya ini tak jauh-jauh dengan perjalanan hidupnya yang berwarna.

Keke pernah bergabung dengan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias pada 2005-2009 di Direktorat Infrastruktur Jalan & Jembatan, Perhubungan, Air Minum dan Sanitasi.

“Ketika mendengar tsunami Aceh tersebut, saya berpikir, saya seorang arsitek, kenapa harus diam? Pasti ada yang bisa saya lakukan untuk masyarakat Aceh,” ungkapnya.

Oleh karena itu, dia pun berangkat untuk menjadi relawan sebuah NGO yang terjun ke Aceh. Beberapa bulan sebelumnya, ia harus mengikhlaskan wafatnya suaminya.

Setelah beberapa lama di Aceh, BRR merekrutnya . Alumnus Teknik Arsitektur Universitas Hasanuddin ini dikenal sebagai pekerja keras, tekun, dan peduli pada rakyat kecil.

Ada satu kisah ketika Keke mengusahakan barak penampungan yang memadai untuk para penderita kusta di Dusun Podiamat, Banda Aceh. Mereka harus dipindahkan dari Podiamat karena barak tersebut terkena proyek irigasi. Tapi mereka tidak mau.

“Saya cari tahu kenapa mereka tidak bersedia. Ternyata, barak yang baru ini buruk kualitasnya. Tidak manusiawi untuk dihuni, “ kata perempuan yang dibesarkan di Makassar tersebut.

Keke langsung bergerak untuk memastikan barak pengganti diperbaiki. Ia mengontak sejumlah perwakilan LSM internasional. Maka, American Red Cross membantu perbaikan sanitasi toilet, OXFAM membantu soal air bersih, dan LSM internasional lain memberikan bantuan sarana kesehatan.

Ia pun mencari bantuan dana dari para sahabatnya di Jakarta untuk biaya menggelar peusijuk agar sekitar 300 warga itu bersedia pindah. Peusijuk secara sederhana sebuah prosesi selamatan yang dilakukan pada kegiatan-kegiatan tertentu dalam kehidupan masyarakat di Aceh. Keke juga mengusahakan dua sapi kurban untuk warga karena pemindahan berlangsung menjelang Idul Adha.

“Alhamdulillah, akhirnya barak itu layak dihuni. Fasilitas air bersih, sanitasi, listrik dan lain-lain dibenahi. Akhirnya mereka mau pindah,” kata perempuan kelahiran Manado ini.

Buat Keke, BRR itu seperti university of life. Dia belajar banyak tentang kehidupan dan kemanusiaan selama empat tahun bekerja di sana.

“Saya beruntung mengalami fase itu. Saya memetik banyak pelajaran, yang berguna untuk kehidupan selanjutnya. Termasuk saat terjun ke politik,” ungkapnya

Keke juga aktif berorganisasi. Sejak 2017, ia menjabat sebagai Ketua Umum Persaudaraan Alumni SMA Katolik Rajawali (SMAKARA) Makassar. Bersama organisasi ini, ia menggelar kegiatan sosial.

Plt Ketua Umum DPP PSI Giring Ganesha menyambut gembira bergabungnya Keke PSI. Menurut Giring, PSI bersyukur mendapat amunisi baru menuju 2024.

“Bergabungnya Sis Keke sangat membesarkan hati dan membuat keluarga besar PSI gembira. Pengalaman panjangnya di bidang politik dan non-politik pasti akan sangat bermanfaat dalam perjalanan PSI ke depan,” kata Giring.

Terakhir, Giring mengatakan PSI membuka pintu untuk seluruh warga negara Indonesia yang ingin bergabung dalam kerja besar perbaikan politik Indonesia.

Sumber: https://www.merdeka.com/politik/mantan-plt-sekjen-pkpi-gabung-psi.html

Peringatan Hari Santri, Jubir PSI Minta Santri Tanamkan Literasi Agama Lewat Medsos
Liputan Nasional

Peringatan Hari Santri, Jubir PSI Minta Santri Tanamkan Literasi Agama Lewat Medsos

Juru Bicara DPP PSI, Nanang Priyo Utomo, meminta para santri lebih giat lagi menanamkan literasi agama dengan memanfaatkan media sosial. Pasalnya, di era digitalisasi informasi ini, orang-orang cenderung mempelajari agama secara tekstual dan mengabaikan konteks.

“Dengan munculnya era digitalisasi yang sangat memudahkan seseorang mengakses ilmu agama, membuat orang itu lebih mudah untuk mendapatkan ilmu agama secara tekstual sehingga terkadang konteksnya tidak dipahami, maka peran santri memperkuat literasi agama dengan budaya pesantren tadi,” kata Nanang, dalam diskusi online “Kiprah Santri di Era Digital”, pada Jumat 22 Oktober 2021.

Selain itu Nanang menyebut, digitalisasi informasi memang memudahkan orang belajar ilmu agama, tapi tidak lantas membuat orang tersebut menguasai literasi agama.

Oleh karenanya, lanjut Nanang, santri lulusan pesantren yang sudah tentu dibekali literasi agama yang kuat harus bisa mengambil peran untuk mengatasi tantangan tersebut.

“Hal ini patut dikhawatirkan karena dengan mudahnya mengakses ilmu (agama) itu, maka nilai literasinya menjadi lemah. Padahal dunia santri itu adalah dunia yang terkenal dengan kuatnya literasi,” imbuhnya.

Lemahnya literasi agama di kalangan pembelajar daring itu, tambah Nanang, terjadi karena ada dua prinsip dasar pembelajaran dalam Islam yang hilang. Pertama, tidak dibimbing oleh ustaz atau guru agama yang kompeten dan kapabel. Dan kedua, mereka yang belajar agama di media sosial cenderung berpuas diri dengan satu referensi tunggal yang mereka baca.

“Para santri belajar satu ilmu di pesantren itu bisa bertahun-tahun, sementara anak sekarang dengan berbagai kemudahan di era digital ini, dalam 3 atau 4 hari itu sudah merasa menguasai satu ilmu. Seminggu baca google sudah merasa pintar melebihi orang-orang yang mondok 5 atau 10 tahun,” lanjut kader Nahdlatul Ulama itu.

Diskusi yang digelar DPP PSI untuk memperingati Hari Santri itu, turut menghadirkan pengurus Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) bidang Humas dan HI, Ifa Ashilatul Kharomiyah, sebagai pembicara.

Perempuan yang disapa Maya itu menuturkan, Hari Santri yang diperingati tiap tahun sejak 2015 merupakan bentuk pengakuan negara terhadap kontribusi kaum santri dalam membangun negeri.

“Kita patut bersyukur bahwa negara sudah mengakui kontribusi santri untuk negeri,” ujar Maya.

Kontribusi kaum santri itu sendiri tak terlepas dari karakter pembelajaran yang diterapkan di pondok pesantren. Menurut Maya, para santri dituntut untuk tidak hanya mencari ilmu, melainkan juga mempraktikkan dan menyebarkan ilmu dalam bingkai akhlakul karimah.

Dia pun menambahkan, budaya pondok pesantren sekarang sudah banyak berubah, terutama dalam menempatkan posisi santri perempuan yang lebih setara dengan santri laki-laki.

“Kalau dulu, santri perempuan itu di belakang, dan dalam urusan pesantren sendiri biasanya tidak ikut campur. Tapi era sekarang sudah lebih terbuka untuk menerima perempuan dan kiprahnya,” ujar salah seorang perwakilan Indonesia di forum 2nd ASEAN-India Youth Summit 2019 itu.

Maya melanjutkan, kader-kader muda perempuan NU yang tergabung dalam PP IPPNU juga membuktikan diri mampu beradaptasi dengan perkembangan dunia digital, terutama untuk kepentingan dakwah.

Misalnya, PP IPPNU menginisiasi program Daiyah Fun Camp, yang tujuannya menyiarkan dakwah Islam dalam bentuk konten-konten yang menarik.

“Kita mengkarantina para daiyah yang terpilih untuk bisa menghadirkan konten yang menarik dan sesuai dengan perkembangan zaman dan syariat Islam,” ungkap Maya.

Hadir juga Kepala Divisi IV Persaudaraan Profesional Muslim (PPM) Aswaja, Abdul Rasyid, dalam diskusi yang dimoderatori Juru Bicara DPP PSI, Mary Silvita, itu.

Dalam paparannya, Abdul Rasyid mengungkapkan pengalaman uniknya ketika memperkenalkan sistem teknologi informasi (TI) kepada pengurus-pengurus pondok pesantren di bawah naungan NU.

Revolusi industri yang berlangsung sangat cepat, menurutnya, membuat sebagian besar Kiai dan pengurus pesantren NU kesulitan memahami pengoperasian teknologi siber dan teknologi otomatisasi seperti sekarang.

“Dulu banyak pengurus RMI (Rabithah Ma’ahid Islamiyah) yang mengelola pondok pesantren se-Indonesia kaget karena perubahan era dari 2.0 langsung melompat ke 4.0, jadi sebagian dari mereka ada yang masih nge-blank,” ujar pria yang turut menjadi pendiri PPM Aswaja itu.

“Pernah memberi pelatihan di Jawa Timur, Kiai-kiai di pesantren Jawa Timur malah tidak konsen di pelatihannya, malah ngobrol sendiri-sendiri. Akhirnya, solusinya kita mencari orang-orang pesantren bukan Kiai, tapi dia menguasai bidang IT,” pungkasnya.

Ancaman Nyata Pedofilia dan Mendesaknya Pengesahan RUU P-KS
Liputan Nasional

Ancaman Nyata Pedofilia dan Mendesaknya Pengesahan RUU P-KS

Dampak psikologis korban pedofil bisa terus dirasakan dalam jangka panjang. Perilaku pedofilia tidak hanya menimbulkan trauma kepada sang anak sebagai korban, tapi juga pada orang-orang di sekitarnya.

“Dampak psikologis anak korban pedofil bisa terus dirasakan dalam jangka panjang hingga mereka dewasa. Yang juga sering kali dilupakan kebanyakan orang, setiap orang yang mencintai si anak ini mengalami secondary trauma, yang kadang-kadang lebih besar dari trauma yang dirasakan si anak itu sendiri,” kata seksolog klinis Zoya Amirin dalam diskusi online “Awas Pedofil!” yang digelar DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Jumat 8 Oktober 2021.

Zoya pun menyebut anak korban pedofil berpotensi menjadi pedofil di kemudian hari jika tidak mendapat bimbingan psikologi dan mental yang tepat.

“Setiap anak korban pedofil yang tidak mendapatkan konseling psikologi dan rehabilitasi mental yang layak, menurut penelitian, memiliki kecenderungan 30 persen untuk juga menjadi pelaku,” lanjut Zoya.

Namun masalahnya, kata Zoya, orang-orang seperti dirinya kerap menemui kendala saat akan memberi bimbingan dan konseling kepada anak korban kekerasan karena ketiadaan payung hukum.

RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (P-KS) yang didesain agar korban kekerasan seksual terpenuhi hak-haknya pun justru tak kunjung disahkan oleh DPR RI.

“Susah juga sih, karena sebenarnya di lapangan, saya banyak kepentok di payung hukum. Jadi dengan belum adanya rencana pengesahan RUU P-KS cukup membuat saya frustrasi,,” sesal dia.

Diskusi yang dimoderatori Koordinator Juru Bicara PSI, Kokok Dirgantoro, juga menghadirkan Koordinator Komite Solidaritas Pelindung Perempuan dan Anak PSI (KSPPA PSI), Karen Pooroe. Ia menceritakan pengalaman KSPPA ketika mendampingi anak yang menjadi korban pedofil oleh tetangganya beberapa waktu lalu.

Dari pengalaman itu dia beranggapan, proses hukum untuk kasus kekerasan seksual berjalan sangat lambat dibandingkan kasus-kasus lain. Belum lagi para korban dihadapkan pada prosedur birokrasi yang memakan waktu dan biaya, sementara korbannya banyak berasal dari kalangan kurang mampu.

“Menurut saya, proses hukum kita terlalu ribet, terlebih lagi korban harus bolak-balik ke P2TP2A yang jauh dari rumahnya. Untuk makan saja susah kok, apalagi harus bolak-balik keluar ongkos,” tegas penyintas KDRT itu.

Menyoal apa langkah tepat untuk mencegah praktik kekerasan seksual, Karen menyebut edukasi kepada masyarakat harus terus dilakukan dalam skala yang lebih masif dan intens lagi.

“Edukasi untuk ke masyarakat harus semakin banyak. Aktivis-aktivis perempuan dan orang-orang yang punya kepedulian terhadap anak perlu membuat lebih banyak penyuluhan-penyuluhan, supaya masyarakat mengerti bahwa ini extraordinary crime (kejahatan luar biasa), ini tidak bisa dibiarkan,” pungkas jebolan kontes Indonesia Idol tersebut.

Sementara, psikolog dan konselor, Nona Pooroe Utomo, mengingatkan pedofilia merupakan penyakit yang susah disembuhkan.

“Apakah pedofilia itu penyakit? Ya. Jadi ada yang namanya DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, fifth edition) yang disebut pedophilic disorder. Sejumlah studi dan fakta di lapangan memperlihatkan bahwa sangat sulit menyembuhkan pedofil. Umumnya, para pengidap penyimpangan seksual itu juga menolak melakukan upaya penyembuhan,” kata Nona.

Lebih jauh Nona menambahkan, individu dengan masalah tertentu berpotensi menjadi pedofil. Di antaranya, adalah perilaku anti-sosial. Seorang pedofil, menurutnya, cenderung menutup diri dari lingkungannya.

“Selalu ada korelasi yang besar antara seorang pedofil dan perilaku anti-sosial. Jadi orang-orang yang memiliki perilaku anti-sosial itu punya kecenderungan untuk terlibat dalam perilaku seksual dengan anak, karena punya kecenderungan perilaku seksual yang cukup ekstrem,” ucap lulusan London Guindhall University dan Harvard University Graduate School of Education itu.

Hal selanjutnya yang menyebabkan penyimpangan perilaku seksual pedofilia pada seseorang adalah riwayat kekerasan seksual atau pernah menjadi korban kekerasan seksual di masa anak-anak. Sehingga di usia dewasanya, mereka berisiko tinggi menjadi pedofil. Ketiga, pedofilia yang disebabkan oleh faktor biologis, atau adanya gangguan pertumbuhan saraf saat anak dalam kandungan.

Kendati susah disembuhkan, penyimpangan perilaku seksual seperti pedofilia dapat dicegah. Caranya, dengan memberikan pendidikan seksual kepada anak dan praremaja.

“Saya prihatin terhadap pendidikan seksual yang tidak dilakukan dengan baik di sistem pendidikan kita, karena sering kali pendidikan seksual itu dianggap sebagai sesuatu yang tabu karena dipikir pendidikan seksual itu berarti mengajarkan anak-anak untuk melakukan perilaku seksual, bukan itu sebetulnya,” tambah Nona.

KPK Puji Ketegasan PSI Pecat Viani Limardi
Liputan Liputan Nasional

KPK Puji Ketegasan PSI Pecat Viani Limardi

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memuji langkah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang memberhentikan Viani Limardi dari keanggotaaannya di PSI.

“Ini ada praktik baik yang dilakukan PSI. Ini menunjukkan PSI serius menangani persoalan korupsi,” kata Kepala Satuan Tugas Kampanye Anti-Korupsi KPK, Dian Rachmawati, dalam diskusi online berjudul “Internalisasi Budaya Anti Korupsi dalam Partai Politik” yang digelar DPW PSI DKI Jakarta, Kamis 7 Oktober 2021.

Dian menambahkan, terlihat bahwa kalau seumpama ada kader-kadernya yang melanggar kode etik dan kesepakatan, PSI berani menindak.

“Saya mengapresiasi. Berarti komitmen PSI dalam menegakkan integritas bagus,” kata Dian dalam diskusi terbuka itu.

Menanggapi pernyataan tersebut, Ketua DPW PSI DKI Jakarta Michael Victor Sianipar menegaskan bahwa langkah pendisiplinan partai terhadap Viani Limardi bertujuan memastikan para kader PSI amanah.

“Terima kasih atas apresiasi yang disampaikan KPK. PSI berkomitmen menjaga integritas dan menegakkan disiplin terhadap pejabat publik kami. Pujian KPK ini memperkuat komitmen kami dan menjadi penyemangat untuk menjalankan partai yang bersih dari korupsi,” kata Michael.

*Viani Diberhentikan dari PSI*

Viani diberhentikan selamanya dari keanggotaan PSI sejak 25 September 2021. Keputusan tersebut dibuat setelah melalui proses panjang berupa evaluasi dan penilaian berjenjang, mulai dari DPW PSI DKI Jakarta, Direktorat Pembinaan Fraksi dan Anggota Legislatif PSI, Tim Pencari Fakta (TPF), dan terakhir DPP PSI.

Dari hasil evaluasi tersebut, Viani dinyatakan tidak lagi sejalan dengan visi-misi partai dan terbukti melanggar AD/ART Partai, tepatnya Anggaran Rumah Tangga Pasal 5 tentang kewajiban anggota: yakni patuh dan setia kepada garis perjuangan, AD/ART serta keputusan-keputusan Partai.

Karena sudah bukan anggota PSI, Viani otomatis tidak bisa lagi menjadi anggota DPRD mewakili PSI.

Selain Dian, hadir juga dalam diskusi tersebut, Wakil Menteri ATR/Wakil Ketua BPN Surya Tjandra dan Peneliti Perludem Heroik M Pratama.

Sumber: https://www.liputan6.com/news/read/4679391/kpk-puji-ketegasan-psi-pecat-viani-limardi

Pariwisata Masa Depan, Cari Destinasi yang Dekat dan Kembali Ke Alam
Liputan Nasional

Pariwisata Masa Depan, Cari Destinasi yang Dekat dan Kembali Ke Alam

Direktur Pariwisata DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Aishah Gray, memperkirakan ada beberapa tren di industri pariwisata di hari-hari mendatang. Demikian disampaikannya dalam diskusi online “Imajinasi Bisnis Pariwisata Masa Depan” yang diselenggarakan DPP PSI, Jumat 1 Oktober 2021.

“Pertama, travelling jarak jauh akan berkurang. Makan waktu lama, harga tiket mahal, wajib karantina, tes berulang-ulang. Orang akan tertarik untuk jalan ke tempat yang dekat-dekat saja,” kata Aishah.

Maka, kecenderungannya adalah wisata di dalam negeri. Aishah menegaskan, ini potensi besar yang seharusnya dimanfaatkan pihak-pihak terkait di Tanah Air.

“Kedua, akan lebih suka berwisata sendiri, bersama keluarga, atau bareng kelompok teman aja. Beberapa teman sudah melakukan itu. Walaupun tujuannya masih untuk kerja dari Bali atau Yogya. Ini lebih aman karena pandemi mungkin masih akan lama,” lanjut Aishah.

Ketiga, perjalanan darat sepertinya akan jauh lebih meningkat. Pada gilirannya, kecenderungan berwisata menggunakan van bisa meningkat.

“Dengan van, hanya melibatkan satu grup kecil, mereka merasa aman, jauh dari kerumunan. Jalan darat, begitu ada tempat bagus, tinggal berhenti,” kata Aishah.

Nah, untuk mengantisipasi tren ini, harus dibangun tempat-tempat khusus untuk menginap. Di sana ada tempat makan, mandi, isi air bersih, jualan oleh-oleh. Ini bakal membangkitkan ekonomi lokal.

Terakhir, traveller akan lebih suka melakukan wisata alam. Persis di sinilah kelebihan Indonesia.

“Apa yang Indonesia gak punya? Soal bahari, jelas indonesia negara kepulauan terebesar. Bawah lautnya luar biasa. Soal pantai, mau warna pasir apa pun ada di Indonesia, “ kata mantan TV presenter ini.

Menanggapi paparan Aishah, pelaku industri wisata, Johnnie Sugiarto, menyatakan sependapat.

“Pak Jokowi telah membangun banyak jalan tol. Untuk perjalanan darat, tinggal bagaimana tempat peristirahatan diperbanyak di jalan tol. Fasilitas dibangun lengkap. Restoran, gerai UMKM untuk membeli oleh-oleh, kalau perlu ada panggung pertunjukan,” kata pendiri El John Group tersebut.

Johnnie mengatakan, untuk urusan pariwisata, alam kita luar biasa. Spektakuler. Susah dicari tandingannya di dunia.

“Problemnya destinasi-destinasi itu belum dikelola secara profesional. Dibutuhkan elemen-elemen lain untuk bisa menjadikannya layak jual. Dibutuhkan infrastruktur. Juga sumber daya manusia yang mumpuni,” katanya.

Bayangkan misalnya ada destinasi wisata yang begitu bagus, tapi tidak ada air di kamar kecilnya. Apalagi kalau banyak lalat, kotor, dan jorok.

Selanjutnya, ujar Johnnie, tiap pemerintah daerah harus memetakan destinasi yang mau mereka tawarkan. Harus ada prioritas. Misalnya satu provinsi punya 30 destinasi wisata. Sementara hanya ada Rp 30 miliar per tahun. Masing-masing dikucuri Rp 1 miliar dan hasilnya nihil.

“Kalau punya Rp 30 miliiar, fokuskan saja untuk satu destinasi. Tahun berikutnya untuk destinasi lain. Terus begitu, bergantian. Pada akhirnya, secara bertahap, ada banyak destinasi yang layak dijual,” ujar Johnnie.

Dalam pengantar diskusi, Plt Ketua Umum DPP PSI Giring Ganesha, juga menyebut soal infrastruktur di sejumlah destinasi yang masih harus ditingkatkan.

“Ini cerita sebelum pandemi ya. Saya menemukan ada tempat yang instagramable. Tetapi, kita mau ganti baju sehabis berenang saja susah. Lalu, di sekitar banyak sampah. Ini akan membuat wisatawan kecewa,” katanya.

Juga warga sekitar yang harus pandai menjaga wilayahnya. Kalau tidak pintar, wisatawan tidak akan mau datang lagi.

Sementara, di masa pandemi ini, dibutuhkan kolaborasi dan solidaritas untuk membangkitkan pariwisata yang terpuruk.

“Kita yakin pariwisata akan menghasilkan banyak devisa jika dikelola dengan benar. Untuk itu dibutuhkan ide-ide segar, juga studi-studi kasus dari luar negeri,” kata Giring.

”Kangen Bali,” Dari Keramahan Warga, Keelokan Alam, Juga Energi Positif
Liputan Nasional

”Kangen Bali,” Dari Keramahan Warga, Keelokan Alam, Juga Energi Positif

Menjadi salah satu destinasi wisata andalan Indonesia, Bali selalu dirindukan untuk dikunjungi. Hal itu disampaikan Plt Ketua Umum DPP PSI, Giring Ganesha, dalam obrolan online “Kangen Bali” yang digelar DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

“Yang menarik dan bikin kangen dari Bali itu bukan cuma pantainya saja, tapi setiap sudutnya itu indah, karena budaya dari saudara-saudara kita di Bali memang memperlakukan alam dengan sangat baik. Kami bagi-bagi rice box sampai ke desa-desa, dan itu (desa-desa) gak ada yang jelek, semua bagus,” kata Giring, Jumat 24 September 2021.

Setelah satu bulan mendampingi Giring menemui dan menyerap aspirasi masyarakat Bali, sang istri Cynthia pun mengaku kangen untuk kembali ke Pulau Dewata. Yang paling berkesan, menurutnya, adalah keramahan orang Bali.

“Yang aku paling senang sih orang-orangnya, ya. Orang-orangnya ramah-ramah, banyak senyum, jadi kita merasa diterima. Jadi, senang aja sih sama orang-orang Bali yang sangat ramah,” sebutnya.

Giring melanjutkan, selain setiap jengkalnya banyak menawarkan keindahan, Bali menyimpan pengalaman personal tak terlupakan bagi dia dan sang istri. Namun kebijakan pemerintah yang menutup tempat-tempat wisata di Bali sebagai upaya penanggulangan pandemi membuat Pulau Seribu Pura itu menjadi sepi. Kondisi itu pula yang membuat Giring sedih.

“Ada satu momen yang bikin saya meneteskan air mata adalah kita napak tilas sama anak-anak, kita mau kasih tahu di sini mama dan ayah pertama kali ketemu, terus jatuh cinta. Tapi yang biasanya Legian, Seminyak itu ingar bingar, sekarang sepi banget, sedih sekali” ujar dia.

Kegelisahan yang sama, ujar Giring, turut dirasakan masyarakat dan pelaku industri pariwisata Bali. Umumnya mereka meminta pemerintah pusat dan daerah membuka kembali tempat-tempat wisata sebagai sumber ekonomi mereka.

Oleh karena itu, pada kesempatan bertemu dengan Presiden Jokowi awal September kemarin di Istana Negara, Giring secara khusus menyampaikan aspirasi tersebut.

Kepada Presiden Jokowi, Giring mengusulkan konsep Quarantine in Paradise yang memungkinkan para turis mancanegara melakukan karantina di daerah tujuan wisata, alih-alih diharuskan karantina terpusat di Jakarta.

Kendati demikian, imbuh Giring, konsep Quarantine in Paradise tetap memperhitungkan kelayakan fasilitas kesehatan yang mumpuni dan pengawasan yang ketat selama melakukan karantina.

“Waktu ketemu Pak Jokowi, saya langsung coba menyuarakan aspirasi masyarakat Bali soal satu, kapan Bali mulai dibuka lagi untuk wisatawan internasional, dan kedua kenapa turis-turis yang mau ke Bali harus karantina di Jakarta, kenapa karantinanya gak langsung saja ke Bali,” urai Giring.

Senada dengan Giring, vlogger dan presenter televisi, Aishah Gray yang turut memantik obrolan mengatakan, Bali memiliki pesona luar biasa yang membuat siapa pun yang pernah berkunjung ingin kembali lagi.

“Bali itu punya suasana yang magical banget, vibe-nya itu udah beda tiap kali kita ke Bali. Siapa pun yang pernah ke Bali sudah langsung bisa merasakan vibes yang cuma Bali yang punya,” ucap perempuan yang menggemari olahraga menyelam itu.

Lebih jauh Aishah menambahkan, di samping wisata alam, yang membuatnya kagum dan kangen Bali adalah tentang bagaimana masyarakat di sana begitu bangga dengan budaya dan tradisi. Sehingga membuat Bali punya daya pikat dan memberi energi positif.

Dia juga mendukung konsep Quarantine in Paradise yang sempat viral beberapa waktu lalu itu. Menurut Aishah, sudah seharusnya karantina bagi turis internasional yang ingin berkunjung ke daerah wisata di Indonesia dikemas dengan suasana berbeda tanpa mengabaikan prokes.

“Kebayang gak sih kalau kita misalkan bisa karantina di tempat yang asyik banget, kece banget, terus sirkulasi udaranya juga bagus, gitu kan, jadi walaupun karantina gak terlalu berasa karantina. Jadi aku sih setuju banget, ide yang bagus banget,” imbuh Aishah.

Obrolan yang dimoderatori Juru Bicara DPP PSI Dara Nasution itu, juga menghadirkan Ketua DPW PSI Bali, I Nengah Yasa Adi Susanto. Adi mengungkapkan data bahwa sebelum pandemi, pariwisata Bali menyumbang 30 % dari devisa pariwisata nasional, atau senilai Rp 75 triliun per tahun.

Mengingat kontribusi pariwisata Bali yang sangat besar selama ini, dia berharap pemerintah pusat memberi perhatian khusus kepada pelaku-pelaku industri pariwisata agar bisa bertahan di masa pandemi. Misalnya, sebut Adi, akses permodalan, insentif berupa keringanan pajak dan subsidi listrik, dsb.

Jika terobosan kebijakan itu tidak diambil pemerintah pusat, dia khawatir sektor pariwisata Bali akan kian kolaps. Pasalnya, dia memperkirakan ada potensi 70 % hotel-hotel kelas menengah dan bawah di Bali terancam dijual karena tidak mampu menutup biaya operasional akibat sepi pengunjung yang didominasi turis asing.

“Jadi sekarang harusnya in return, pemerintah pusat memberikan kontribusi juga. Kontribusinya dalam bentuk apa? Berikan pelaku pariwisata penyaluran modal melalui perbankan dan memberikan insentif juga berupa pemotongan bayar listrik, bayar pajak, dll,” kata dia.

‘Jangan Sampai Indonesia Jatuh ke Tangan Anies Baswedan’, Giring Eks Nidji Sebut Anies Pembohong
Liputan Nasional

‘Jangan Sampai Indonesia Jatuh ke Tangan Anies Baswedan’, Giring Eks Nidji Sebut Anies Pembohong

Ajang pemilihan presiden (Pilpres) masih lama digelar.

Namun, sejumlah tokoh sudah saling serang untuk maju sebagai calon presiden.

Jika sesuai rencana.

Pilpres baru bakal digelar pada tahun 2024 datang.

Plt Ketua Umum DPP PSI Giring Ganesha, menyebut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai pembohong karena kerap menunjukkan sikap pura-pura peduli terhadap penderitaan rakyat di tengah pandemi.

Maka, Giring pun berharap agar Indonesia jangan sampai jatuh ke tangan Anies Baswedan pada Pilpres 2024, mendatang.

“Pura-pura peduli adalah kebohongan Gubernur Anies di tengah pandemi dan penderitaan rakyat. Rekam jejak pembohong ini harus kita ingat, sebagai bahan pertimbangan saat pemilihan presiden 2024. Jangan sampai Indonesia jatuh ke tangan pembohong, jangan sampai Indonesia jatuh ke tangan Anies Baswedan,” kata Giring dalam keterangan resminya, Senin (20/9/2021).

Giring juga menilai, Anies selalu menampakkan diri peduli dengan penderitaan rakyat di masa pandemi.

Untuk menguji hal tersebut, Giring mengajak publik melihat Anies membelanjakan uang rakyat di masa pandemi.

“APBD Jakarta yang begitu besar dia belanjakan untuk kepentingan ego pribadi untuk maju sebagai calon presiden 2024. Dia mengabaikan tekanan rakyat yang meminta dia membatalkan rencana balap mobil Formula E dan menggunakan Rp 1 triliun uang rakyat untuk acara tidak berguna itu,” ucap Giring.

Uang muka acara Formula E dibayar Anies pada saat pemerintah secara resmi mengumumkan negara dalam keadaan darurat karena pandemi.

“Uang sebanyak itu dihabiskan Anies di tengah penderitaan rakyat yang sakit, meninggal dunia, dan hidupnya susah karena pandemi. Uang Rp 1 triliun dia keluarkan padahal rakyat telantar tidak bisa masuk rumah sakit yang penuh. Rakyat kesulitan makan karena kehilangan pekerjaan, “ ujar Giring.

Ironisnya, di tengah semua penderitaan rakyat, Anies mengatakan menyerah, tidak bisa mengatasi situasi.

Ia mengaku tidak punya dana untuk mengatasi Covid-19 dan meminta pemerintah pusat mengambil alih penanganan Covid-19 di Jakarta.

“Saya percaya, kejujuran adalah resep penting untuk keluar dari krisis. Situasi genting akibat pandemi ini memerlukan keterbukaan dan transparansi. Karena hanya dengan itu kita bisa mengidentifikasi masalah dengan benar dan mencari jalan keluar dari krisis,” terang Giring.

Dalam situasi krisis, seorang pemimpin sejati harus berupaya keras mungkin untuk menyelamatkan rakyat, menyelamatkan kepentingan yang lebih besar.

“Gubernur Anies bukanlah sebuah contoh orang yang bisa mengatasi krisis,” jelas Giring.

Pernyataan resmi Giring ini juga diunggah melalui kanal YouTube Partai Solidaritas Indonesia dengan judul Gubernur Anies Pembohong pada Senin (20/9/2021).

Sumber : https://pekanbaru.tribunnews.com/2021/09/20/jangan-sampai-indonesia-jatuh-ke-tangan-anies-baswedan-giring-eks-nidji-sebut-anies-pembohong