Tak andalkan popularitas dan wajah cantik, tapi itikad baik
Wawancara

Tak andalkan popularitas dan wajah cantik, tapi itikad baik

Mantan presenter beberapa stasiun televisi, Isyana Bagoes Oka mantap berpindah haluan dari dunia jurnalistik ke dunia politik. Mengaku tak cuma mengandalkan popularitas dan kecantikan wajah semata, Isyana semata-mata ingin beritikad baik.

“Saya memang di TV, orang lihat di TV dan sebagian kenal, tapi banyak yang nggak kenal juga. Saya mengandalkan sebenarnya adalah itikad baik saya,” ujar Isyana Bagoes oka dalam wawancara khusus dengan merdeka.com di sebuah mal di bilangan Jakarta Selatan, minggu lalu.

Isyana mengaku sempat ditawari masuk partai politik beberapa tahun lalu. Namun dia belum tertarik, lantaran dunia jurnalis masih menjadi pilihan utamanya. Namun pilihannya kini justru jatuh pada Partai Solidaritas Indonesia (PSI), dan sekaligus mengabaikan partai lama yang dulu pernah ‘meminangnya’.

Apa yang membuat Isyana lebih tertarik gabung ke PSI? Berikut wawancara lengkap merdeka.com dengan Isyana Bagoes Oka:

PSI menurut Isyana seperti apa sih?

Muda, baru, gesit. Kalau saya boleh bikin jadi 3 kata.

Peluang PSI dibanding partai-partai baru lainnya?

Saya menilai terlalu dini untuk bicara menilai, bagaimana PSI nantinya bisa melihat peluang di PSI 2019 nanti. Tapi yang jelas yang kami ingin lakukan sekarang bagaimana membentuk parpol baru, benar-benar lepas dari pengaruh parpol lama. Jadi bukan sekadar ganti baju dari partai lama, karena orang baru inilah mungkin pengalaman politiknya jauh lebih kecil dibanding orang politik lama. Tapi mudah-mudahan kebaruan itu yang jadi kekuatan PSI, kemudaan juga jadi kekuatan PSI, dan masyarakat bisa menilai PSI beda dengan partai lama sebelumnya, atau partai baru yang bisa jadi partai baru yang ada orang partai lama.

Sebagai kader PSI, garansi apa yang PSI berikan kepada masyarakat agar mereka mau memilih PSI dalam Pemilu 2019 mendatang, tentunya kalau PSI lolos verifikasi?

Kita nggak bisa memberi garansi apa-apa dong. Yang jelas, kalau yang paling beda memang itu iya, karena kalau kita lihat partai yang lain, pasti sama, mereka ingin baik dan sebagainya. Tapi kemudaan dan kebaruan itulah yang membuat PSI terlihat nyata beda.

Secara mental siap terjun ke dunia politik? Mengingat politik bagi sebagian orang dianggap kejam?

Sampai saat ini masih terus mempersiapkan mental, karena seperti pendapat orang politik itu bikin apatis. Kalau semua orang akhirnya apatis dengan politik, bagaimana orang-orang baru bisa masuk ke politik? Kalau semua orang anti politik maka orang lama yang ada di politik yang membuat orang lain pada apatis, orang-orang itu lagi yang terus berada di dunia politik. Kita juga nggak bisa pungkiri yang paling penting adalah bagaimana DPR kita diisi oleh orang-orang yang berkualitas baik, dan bagaimana kita pilih pemimpin yang benar-benar mewakili rakyat.

Pada 2014 mayoritas masyarakat senang dan dukung Jokowi. Tapi tiket ke Jokowi kan ada prosesnya. Dari awal kita tidak memiliki figur tertentu, tapi yang jelas 2019 pemilu berlangsung bersamaan legislatif dan presiden, kita akan memberi tiket itu ke figur yang kita nilai baik. PSI akan jadi perahu orang-orang yang baik dan dinilai layak oleh masyarakat. Kita akan survei juga siapa yang akan kita pilih. Tapi perjalanannya panjang kan, banyak tahapannya, terutama partai baru. Kita harus lolos ferivikasi Depkumham, harus lolos ferivikasi KPU, mudah-mudahan nantinya kita benar-benar bisa lalui hal itu, sehingga kita bisa lolos, dan memberikan kendaraan atau perahu bagi orang-orang yang memang terbaik.

Jadi PSI tidak berhasrat mencalonkan kadernya sendiri?

Kalau nanti sampai ada kader PSI yang bagus dan didukung masyarakat kenapa tidak. Tapi sekarang belum ada figur yang kuat di PSI. Kalau kita justru melihat ada begitu banyak figur-figur yang baik, di Bandung ada Ridwan Kamil, di Jakarta ada Ahok, di Surabaya ada Bu Risma, dan lain-lain, itu figur bagus buat pimpin bangsa. Kita lihat nanti masyarakat apakah akan dukung tokoh-tokoh seperti ini atau tokoh-tokoh baru lagi.

Beberapa waktu lalu ketua umum, Grace Natalie bilang persiapan di daerah sudah 70 persen, apakah saat ini sudah ada perkembangan?

Masih kurang lebih sama, memang masih terus digalakkan karena kan tiap orang punya tugas masing-masing, dan yang jago urus organisasi pasti terus urus organisasi, terutama kepengurusan di kecamatan-kecamatan.

Di PSI Isyana dikasih target?

Kita belum ngomongin target. Target kita adalah bagaimana kita lolos ferivikasi, itu saja dulu target utamanya.

Nantinya akan ke daerah-daerah juga bertemu calon pengurus daerah?

Bisa jadi begitu, yang jelas kita bagi tugas. Kalau Grace dan yang lain sudah jalan ke daerah-daerah.

Persis masuk PSI sudah berapa lama?

Saya nggak tau persisnya, beberapa bulan lalu ngobrol dan tertarik, persisnya gabung kok nggak ada tanggal persisnya. Ya kemarin itu (kirim surat terbuka) benar-benar announce. Tapi resmi bergabung, berjalan dengan sendirinya, nggak ada tanggal persisnya kapan.

Modal masuk PSI apa? Popularitas, kecantikan, atau?

Kalau popularitas, saya kan bukan artis yang punya banyak fans di mana-mana. Saya memang di TV, orang lihat di TV dan sebagian kenal, tapi banyak yang nggak kenal juga. Saya mengandalkan sebenarnya adalah itikad baik saya. Saya ingin melakukan yang baik saja deh, karena bisa jadi orang anggap yang baik di politik sulit ditemui. Orang banyak yang ngomong, doain saya tetap bisa baik ya, karena orang bisa berubah ya. Mudah-mudahan saya tetap di jalan yang baik, dan salah satu keuntungan jadi jurnalis, kita bisa wawancara banyak orang, kita bisa tahu banyak isu, banyak hal, mudah-mudahan jadi modal saya untuk nantinya benar-benar yang terbaik bagi negara ini.

Isyana punya keturunan darah Bali, ada rencana untuk lebih mengembangkan PSI di Bali?

Saya masih belum tahu persis, karena yang penting sekarang itu, balik lagi ke ferivikasi. Semua daerah sama pentingnya. Kalau masalah nama saya nggak tau berpengaruh apa tidak, tapi yang jelas kita kerjakan di setiap daerah.

Dari jurnalis ke politisi, ada persiapan-persiapan?

Nanti pasti ikut banyak training-training dan ngobrol-ngobrol. Makanya ini dengan komunitas-komunitas kita bukber, supaya kita bisa ngobrol lebih banyak. Pandangan mereka apa, tentang isu-isu yang dekat dengan mereka, terutama komunitas-komunitas, seperti komunitas makanan, mereka punya pandangan sendiri. Kemudian untuk kawan komunitas peduli lingk hidup, pasti mereka tahu dan peduli info-info yang jurnalis nggak tahu pandangan dari mereka seperti apa tentang isu-isu yang dekat dengan mereka. Kita gali info ke mereka apa sih yang harus dilakukan oleh parpol untuk membuat kebijakan-kebijakan yang baik untuk mereka.

Merasa dimudahkan jalan masuk dunia politik dari profesi sebelumnya sebagai jurnalis?

Sampai saat ini mungkin bukan memanfaatkan ya, tapi lebih ke arah pertemanan saja, baru resmi seminggu ya, belum terlalu. Jadi sekarang masih persiapan ini fokus ke bukber komunitas-komunitas, sama habis ini balik lagi ke kegiatan-kegiatan verifikasi itu.

Terinspirasi nenek, presenter cantik Isyana Bagoes Oka masuk politik
Wawancara

Terinspirasi nenek, presenter cantik Isyana Bagoes Oka masuk politik

Belum lama ini, kantor redaksi media-media di Jakarta mendapatkan kiriman bunga mawar putih. Dalam rangkaian bunga mawar cantik itu, terselip sebuah surat terbuka dari presenter cantik Isyana Bagoes Oka. Tak main-main, surat terbuka itu isinya pamitan, dari dunia jurnalistik ke dunia politik.

Bukan kali pertama seorang jurnalis, khususnya jurnalis televisi masuk ke dunia politik. Sebelumnya presenter cantik Grace Natalie juga telah mengepakkan sayap ke dunia politik. Bahkan tak tanggung-tanggung, mantan presenter tvOne itu menjadi Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Apa motivasi Isyana Bagoes Oka mengikuti jejak Grace Natalie masuk PSI?

“Almarhum nenek saya juga pernah jadi anggota DPR, pernah utusan golongan juga untuk MPR, saya merasa dari dulu ada keinginan ke arah situ, tapi dari dulu belum pas,” kata Isyana kepada merdeka.com minggu lalu di sebuah mal di bilangan Jakarta Selatan.

“Saya tidak bermaksud untuk kemudian benar-benar mengikuti persis jejak nenek saya, karena saya masuk lewat jalur beda. Mudah-mudahan cita-cita perjuangannya tetap sama. Karena nenek sauya dulu Utusan Golongan Hindu, tapi sangat memperjuangkan keragaman itu, kedamaian keragaman antara agama-agama,” imbuh Isyana.

Tak dapat dipungkiri, sosok Grace Natalie juga memberi andil besar bagi Isyana untuk memilih jalur politik, ketimbang melanjutkan profesi jurnalis yang membesarkannya. Sebagai sesama perempuan, sama-sama memiliki buah hati, dan sama-sama pernah jadi presenter televisi, membuat mereka nyambung, dan akhirnya Isyana mengikuti Grace, hijrah ke PSI.

“Salah satunya ya karena sudah kenal dengan Grace. Lebih mudah, dan lebih enak, dan pada saat ketemu anggota PSI lain ternyata orang-orangnya muda, gesit dan terbuka pemikirannya dan sekaligus gaya komunikasinya juga terbuka,” ungkap wanita cantik yang pernah jadi jurnalis di beberapa stasiun televisi seperti Trans TV, TV7, RCTI, dan pernah mengisi acara di MetroTV tersebut.

Bukan pilihan mudah, Isyana juga sempat gamang sebelum akhirnya benar-benar memutuskan pindah dari profesi yang sangat dicintainya. Namun dengan tekad bulat dan berkat dukungan dari keluarga dan orang-orang dekatnya, akhirnya wanita keturunan Bali-Manado ini mantap pamitan, kulonuwun, dan mendeklarasikan dirinya hijrah ke dunia politik.

Berikut wawancara wartawan merdeka.com, Anwar Khumaini dengan Isyana Bagos Oka, belum lama ini:

Belum lama ini kirim surat terbuka disertai bunga mawar putih ke media-media maksudnya apa?

Sebenarnya maksudnya untuk memberitahukan supaya orang-orang tahu kalau mulai saat itu saya bukan lagi jadi jurnalis. Kenapa melalui surat terbuka, karena kalau nggak melalui surat terbuka bisa jadi orang-orang berpikir, oh Isyana kan presenter, jurnalis televisi. Saya berpikir kalau sudah masuk ke politik sebaiknya memang ada batas ya. Kalau saya masih siaran, apalagi berita kayaknya nggak pas dilakukan oleh seorang yang sudah memiliki pandangan politik tertentu dan masuk partai. Jadi saya berpikir cara apa yang paling efektif, saya ngobrol dengan teman-teman PSI juga, akhirnya saya pikir bagus juga kalau kita kirim surat dan disertai mawar putih, karena logo PSI salah satunya ada mawar putih. Maksudnya adalah sekaligus tanda saya gabung PSI.

Dikirim ke mana saja surat terbuka dan bunga mawar putih itu?

Ke media-media, pemred-pemrednya terutama, terutama televisi, karena saya dari 2003 masuk sebagai jurnalis televisi. Salah satunya sebagai penghormatan saya, kulonuwun bahwa saya mundur dari jurnalis. Kalau saya kirim surat terbuka itu jadinya satu kali, dan senior-senior saya, teman-teman semua tahu kan. Sementara kalau tidak kirim surat terbuka dan bunga itu, mungkin yang tahu jadi sedikit. Jadi tujuannya sebenarnya memang murni ingin pamit, kulonuwun dan memberitahukan kalau saya sudah bukan lagi jurnalis.

Pamit untuk sementara atau seterusnya tak lagi jadi jurnalis?

Sampai saat ini saya berpikir kemarin itu, pada saat saya kirim bunga itu, dan surat terbuka itu, saya degdegan, luar biasa degdegan. Karena itu langkah terbesar dalam hidup saya. Saya berpikir kalau saya sudah memutuskan ini, mungkin yang bikin saya makin degdegan, karena saya merasa dengan kirim surat ini there is no turning back, nggak bisa balik lagi. Jadi degdegan saya itu seperti waku saya pertama live report dan wawancara Hillary Clinton, rasa degdegannya seperti itu. Degdegan itu berakhir saat wawancara selesai, wawancara Hillary 10 menit maksimal 15 menit, sementara live report pertama, arus mudik di Pantura 3 menit waktu masih di Trans TV, lalu pindah ke TV7. Itu setelah selesai siaran, degdegannya selesai. Tapi ini degdegannya panjang. Sudah dikirim (surat terbuka dan bunga) degdegan, sudah diterima belum ya, reaksinya seperti apa ya, karena saya memang murni ingin pamit baik-baik. Tapi kan kita nggak tau reaksi orang, dan itu degdegannya panjang. Setelah malam hari, tanggapan-tanggapan berdatangan, mulai makin lega, mulai makin mantap.

Mereka rata-rata mendukung langkah Isyana terjun ke dunia politik?

Banyak yang mengucapkan misalnya good luck, ada juga yang menyayangkan, sedih tapi memberikan masukan, mudah-mudahan bisa melakukan yang terbaik. Jadi kalau saya lihat mayoritas positif dan mendoakan, itu yang paling penting menurut saya, karena di dunia politik menurut saya semakin banyak dukungan doa semakin baik.

Dalam surat terbuka itu Isyana bilang bahwa surat itu sebagai penghormatan terhadap profesi jurnalis, bisa lebih dijelaskan?

Kan profesi jurnalis seharusnya independen. Pada saat saya sudah tidak lagi independen maka saya perlu kirim surat itu supaya orang tahu saya sudah lagi tidak independen dan berpartai. Sekaligus penghormatan saya pada senior-senior saya yang saya kirimi bunga dan surat terbuka, meskipun kalau saya tidak kirim bunga bukan berarti saya tidak hormat ke mereka.

Di PSI posisinya sebagai apa?

Salah satu ketua DPP.

Ketua bidang apa?

Kita masih Ketua DPP saja.

Masuk PSI lantaran di sana ada Grace Natalie (ketua umum) atau ada pertimbangan lain?

Salah satunya ya karena sudah kenal dengan Grace. Lebih mudah, dan lebih enak, dan pada saat ketemu anggota PSI lain ternyata orang-orangnya muda, gesit dan terbuka pemikirannya dan sekaligus gaya komunikasinya juga terbuka. Seperti kurang lebih di redaksi saja apa yang ada di pikiran kita kita kemukakan. Nah kemudian juga yang paling membuat saya tertarik adalah karena partai ini baru, orang-orangnya baru, muda-muda semua. Di DPP, Bahkan yang paling tua usianya nggak sampai 40 tahun. Syarat di seluruh pengurus sampai kecamatan kita maunya orang-orang muda yang tidak berusia lebih 45 tahun, kemudian belum pernah menjadi pengurus aktif di parpol mana pun supaya benar-benar baru dan tidak ada budaya dari parpol lama dibawa ke parpol baru ini.

Apakah pilih masuk PSI lantaran juga karena ketua umumnya seorang perempuan?

Salah satunya juga, karena kalau kita lihat ketumnya Grace, dia perempuan, seorang ibu, sampai sekarang masih memberi asi dan pompa asi untuk anaknya. Jadi karena perempuan kan pasti salah satu hal yang paling penting dalam hidupnya anak dan keluarga. Dengan adanya ketum perempuan, juga lebih mengerti kalau kita punya kebutuhan-kebutuhan mendesak terutama keluarga. Itu yang membikin saya oke, mari kita jalan dan tetap membagi perhatian untuk keluarga.

Dari jurnalis pindah menjadi politisi, apa karena jurnalis kurang menantang dibanding politisi?

Nggak juga. Kalau dibilang menarik, jurnalis jelas-jelas sangat menarik, sangat luar biasa menarik, karena bisa membawa kita ke mana saja. Cuman almarhum nenek saya itu juga pernah jadi anggota DPR, pernah utusan golongan juga untuk MPR, saya merasa dari dulu ada keinginan ke arah situ, tapi dari dulu belum pas. Pada saat saya melihat adanya PSI yang baru ini kok sepertinya sesuai dengan diri saya. Apalagi PSI punya DNA PSI, bukan menggunakan kata ideologi. PSI menggunakan DNA kebajikan dan keragaman. Saya merasa PSI sesuai dengan diri saya. Saya berasal dari keluarga beda suku, agama, dan Indonesia memang begitu, ada banyak agama, suku. Satu hal yang penting ditekankan di Indonesia, Bhineka Tunggal Ika.

Jadi masuk politik bukan tanpa alasan, karena mengikuti jejak nenek?

Meskipun sebenarnya nenek saya nggak penah gabung ke partai. Nenek saya itu lebih banyak masuk ke utusan golongan. Saya tidak bermaksud untuk kemudian benar-benar mengikuti persis jejak nenek saya, karena saya masuk lewat jalur beda. Mudah-mudahan cita-cita perjuangannya tetap sama. Karena nenek sauya dulu Utusan Golongan Hindu, tapi sangat memperjuangkan keragaman itu, kedamaian keragaman antara agama-agama.

Reaksi keluarga, orang tua, suami terutama saat Isyana memutuskan masuk dunia politik?

Beragam, ayah karena nenek saya itu ibunya ayah saya, ayah saya setuju sekali, senang sekali. Kemudian kalau ibu saya khawatir. Seperti biasa perempuan itu lebih khawatir, apalagi masuk dunia politik. Ibu saya jelas lebih khawatir. Kemudian sampai akhirnya saya meyakinkan ibu saya kalau yang saya lakukan hanyalah ingin mencoba berbuat baik. Kalau dari ibu saya yang baik itu yang paling penting. Ibu saya itu bisa dibilang sebegitu lurusnya. Akhirnya saya meyakinkan ibu saya, saya ingin lakukan yang baik, dan kalau kira-kira saya sudah agak melenceng, saya jelas-jelas minta ibu saya mengingatkan. Saya yakinkan ibu saya kalau saya melenceng saya akan berhenti. Makanya doa orang tua paling penting.

Kalau reaksi suami?

Suami saya, saya kenal suami saya dari 2001, saya pacaran juga 2001, jadi sudah lama kenal dan sampai saat ini dia selalu mendukung saya, termasuk waktu kirim surat terbuka. Itu kan suratnya cukup banyak ya, sampai saya kirim surat itu Senin, Minggu malam dia tidur satu jam karena bantu saya lay out. Waktu saya OTW kirim surat, di jalan dia tahu saya degdegan, dia pegangi tangan saya, untuk menguatkan saya, karena dia tahu sekali saya degdegan. Kalau orang pacaran sudah lama, pegangan tangan kan jarang. Apalagi sudah jadi suami istri, lebih banyak sibuk dan kerja, kalau pegangan tangan agak jarang, apalagi kita jarang keluar berdua, selalu sama anak. Jadi saya agak kaget saat dia pegang tangan tangan saya. Jadi pada saat itu saya sadar kalau suami saya dari dulu mendukung saya, kita saling support.

Bagaimana nantinya membagi waktu antara partai dan keluarga, karena PSI kan partai baru butuh, butuh banyak sosialisasi?

Sekarang masih dijalanin saja, dan berusaha kalau ada waktu kosong pasti sama anak, dan suami, keluarga. Kemudian kalau partai biasanya jarang mulai acara pagi, biasanya siang ke arah malam. Jadi pagi masih ketemu dan sempet ngurus anak, sekolah dsb, setiap momen yang tidak sedang meeting, atau tidak sedang sosialisasi, rapat dan sebagainya, itu pasti dengan anak.

Aktivitas lain apa selain aktif di PSI?

Sekarang fokus di sini, sama ke anak. Kalau untuk uang suami kan kerja. Kemudian paling sekarang ya ini, menjawab pertanyaan-pertanyaan, yang jelas itu yang agak transisinya musti agak sedikit berasa, karena biasanya kita nanya, nanya sedikit pendek selesai, sekarang ganti jawab pertanyaan. Transisi utamanya itu, dan mudah-mudahan bisa, perlahan-lahan, masih belajar untuk menjawab.

Besarkan partai dengan manfaatkan jaringan pertemanan wartawan
Wawancara

Besarkan partai dengan manfaatkan jaringan pertemanan wartawan

Lama menjadi jurnalis, Grace Natalie tentunya telah memiliki jaringan kolega yang luas, baik sesama wartawan maupun para nara sumber. Jaringan inilah yang nantinya dimanfaatkan oleh mantan presenter tvOne tersebut untuk memperkenalkan partainya kepada publik.

“Kalau mereka support paling nggak mereka bisa kasih masukan PSI dari kacamata media baiknya gimana, karena media salah satu pilar demokrasi,” kata Grace Natalie dalam wawancara khusus dengan merdeka.com, Kamis (23/4) lalu.

Dengan pengalamannya sebagai wartawan itu pula, Grace ingin dibantu sosialisasi kepada masyarakat. Mengingat, partai yang dia rintis ini masih baru dan tidak memiliki media, atau pun afiliasi dengan kekuatan pemodal besar. “Kita minta dibantu dari segi sosialisai, paling tidak tahu apa sih yang dilakukan PSI, kan dari temen-temen jurnalis juga. Jaringan pertemanan untuk kami yang nggak punya media, ya jaringan pertemanan itu,” imbuh Grace.

Pengalamannya sebagai wartawan ini pula lah yang membuat wanita cantik kelahiran 4 Juli 1982 tersebut kian mantap masuk ke dunia politik, yang menurut sebagian orang kejam.

“Ada yang nanya ke saya, saya perempuan, punya anak, apa nggak takut ke dunia politik yang katanya kejam, tapi karena sudah tertempa ke kondisi itu saya tidak asing lagi bersinggungan dengan politik,” ujarnya.

Berikut wawancara lengkapnya:

Pengalaman sebagai jurnalis membantu nggak sebagai ketua umum parpol seperti saat ini?

Bantu sekali, itu tidak dipungkiri sosialisasi PSI harus melalui media. Hubungan pertemanan sangat terasa banget saya sebagai ketum, pengurus partai, sosialisasikan PSI ke temen-temen jurnalis. Kalau mereka support paling nggak mereka bisa kasih masukan PSI dari kacamata media baiknya gimana, karena media salah satu pilar demokrasi. Dan juga kita minta dibantu dari segi sosialisai, paling tidak tahu apa sih yang dilakukan PSI, kan dari temen-temen jurnalis juga. Jaringan pertemanan untuk kami yang nggak punya media, ya jaringan pertemanan itu.

Nggak ingin jadi jurnalis lagi?

Nggak, saya selama ini cinta media, tapi perjuangan saya harus dengan partai. Nggak mungkin lagi bagi saya kembali ke media, mungkin punya media saja kali ya biar PSI punya saluran.

Sebagai mantan jurnalis, pengalaman yang sampai sekarang tidak terlupakan?

Banyak sih. Jadi jurnalis membawa kita ketemu orang macem-macem, dari presiden sampai yang paling kecil. Saya kebetulan sejak di ANTV dan tvOne konsisten dilibatkan dalam liputan terorisme. Itu mungkin jadi berkesan karena andrenalinnya tinggi, risiko tinggi, bahkan sudah pernah ada penyerangan secara pribadi, diserang lagi siaran live, orang datang bawa pisau, ada kok di profile di merdeka.com. Jadi itu berkesan bukan karena menyenangkan, tapi saya percaya bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan ada risikonya. Sepanjang kita punya niat baik dalam melakukan, pasti ada yang menjaga, pasti hasinya baik juga, entah itu kita sendiri yang lakukan sampai garis finish atau orang lain. Melalui liputan yang penuh risiko, saya terbiasa bersinggungan dengan risiko. Ada yang nanya ke saya, saya perempuan, punya anak, apa nggak takut ke dunia politik yang katanya kejam, tapi karena sudah tertempa ke kondisi itu saya tidak asing lagi bersinggungan dengan politik.

Mbak Grace kan muda, cantik, pintar. Pernah merasa dimanfaatkan oleh orang-orang di sekeliling anda?

Mungkin bukan dimanfaatkan, kalau dimanfaatkan kan ornagnya mendapat manfaat. Saya pengennya jadi bermanfaat, buat saya sendiri, keluarga, buat orang-orang di sekitar saya.

Bagaimana partai nantinya dalam menggalang dana?

Melalui partisipasi masyarakat. PSI nggak akan kemana-mana kalau kalau nggak sampai jadi gerakan. Kita nggak punya media, dana terbatas, tapi kita percaya kalau kita jadi gerakan, orang itu akan dengan sadar sendiri danai diri sendiri. Contoh anak muda, nggak usah dibagiin kaos, lalu mereka pakai. Justru anak muda kemarin saat Jokowi, desain sendiri, cetak sendiri, pakai sendiri, itu sudah jadi gerakan. PSI harus seperti itu. Justru itu sudah jadi gerakan. Media pun akan dengan sendirinya memberitakan, meski kita nggak punya media. Makanya sekarang kita rajin-rajinnya sosialisasi kenapa PSI harus ada, agar masyarakat silakan membuktikan sendiri PSI seperti yang diomongin atau tidak. Kalau tidak, silakan ditinggal. Saya sudah meninggalkan pekerjaaan saya yang sudah nyaman, saya percaya banyak orang di luar sana yang ingin berkontribusi, cuman mungkin wadahnya nggak sreg, dan sekarang kita orang-orang baru, nggak ada kultur-kultur lama. Kita sama-sama coba lagi dulu, kalau
mengecewakan ya tinggal saja, sesimpel dan sesederhana itu, tapi kasih kami kesempatan.

Masuk politik kebutulan atau tuntutan?

Bukan tuntutan yang pasti, tapi diri saya yang berproses. Ketika saya waktu jadi wartawan saya sudah bersinggungan dengan parpol, tapi sebatas kulit-kulitnya saja. Ketika saya berproses, saya ingin belajar lebih ke politik, dari sisi keilmuan saya belajar dari SMRC. Dari situ saya bersinggungan dengan politik praktis, tapi bukan politisi. Dengan kondisi itu saya jadi lebih paham bagaimana wajah parpol kita, kemudian dari diri saya, merasakan oh ternyata penting punya parpol yang beda dari semua yang saya ketahui ketika saya jadi konsultan politik. Kenapa kita pilihannya, mungkin jadi barrier orang dan anak muda selama ini apatis dengan partai. Partai selama ini kesannya korup, hanya melayani agenda yang di atas, sifatnya masih oligarkhi. Kenapa kita nggak bikin baru dengan aturan dan pakem dari kita sendiri.

Contoh, selama ini partai bikin KTA gratis, dapat asuransi jiwa pula. Akhirnya di grass root orang bisa bikin lebih dari satu. Ongkosnya nggak murah, miliaran. Apakah itu berimbas nggak? Nggak tentu. PSI inginnya mengedepankan partisipasi masyarakat. PSI akan berhasil kalau jadi gerakan dan menggegrakkan anak muda, PSI akan berhasil jika jadi gerakan dan menggerakkan orang. Terus dana parpol dari mana, kalau kita sama-sama sadari pentingnya PSI kenapa PSI harus ada, maka harus berkontribusi. Misalnya kartu anggota kita, orang membayar iuran, seperti kartu kredit yang bayar uang tahunan. Tapi kenapa orang harus rela bayar, kita saat ini terus brainstorming, kira-kira benerfitnya apa ya yang ada dalam kartu ini agar anak muda ini mau megang KTA dan ikut berkontribusi secara finansial.

Semacam crowd funding seperti itu?

Iya dan itu kita pakai nanti. Nggak cuma crowd funding, contoh nanti kalau misalnya muncul lagi perdebatan apakah pemilihan kepala daerah langsung atau tidak, kita survei, mau masyarakat apa, langsung atau tidak. Tapi apa yang di masyarakat itu sikap partai, bukan hasil rapat sekelompok orang di atas, kemudian jadi sikap partai.

Berarti kayak PKS nanti pengkaderannya?

Untuk berbagai hal PKS kita akui lebih rapi, kaderisasinya juga bagus. Untuk itu mungkin sistemnya mirip seperti itu.

Harapan terhadap masyarakat dengan hadirnya PSI?

Semakin banyak orang-orang profesional, yang tergelitik untuk masuk politik, peduli untuk memperbaiki politik Indonesia. Kita sering kali melihat ada orang yang cuma kritik doang, tidak terjun, sory to say sama saja bohong. Kita boleh kritik, perlu, tapi kalau ingin berbuat sesuatu ingin melakukan perubahan, salah satu cara yang paling efektif ya parpol, terjun ke politik, buat regulasi, jadi pemimpin di daerahnya. PSI ini memang dibuat memang untuk itu, jadi coba deh mengalami, kalau kamu pengen melayani masyarakat lewatlah dulu PSI, kalau sampai ada yang minta mahar hubungi langsung ketum, itu akan langsung ditindak, keluar dari partai, jaminan. Kalau ada (mahar) mas, males jadi ketum, kalau modelnya sama dengan partai-partai lain. Partai ini dibikin untuk agar orang-orang profesional itu dikasih kesempatan bisa berbuat bagus. Saya yakin di luar sana banyak orang yang bagus. Contoh Kang Ridwan Kamil. Kalau orang-orang ini kita kasih perahu, di sini gak ada uang mahar, nggak perlu ribet dengan urusan duit-duit, di sini nggak ada. Jadi pakailah, dan silakan layani masyarakat lewat PSI. Kita nggak minta apa-apa, cuma minta kalian melayani masyarakat lewat PSI.

PSI minimal ingin seperti Nasdem
Wawancara

PSI minimal ingin seperti Nasdem

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) besutan mantan presenter cantik Grace Natalie kini mulai bersiap menghadapi Pemilu 2019 mendatang. Sebagai partai baru yang bahkan belum lama didaftarkan di Depkum HAM, PSI ingin lolos dalam verifikasi dan menjadi kontestan pada Pemilu 2019 mendatang.

Targetnya tidak muluk-muluk, minimal sama seperti Partai Nasdem yang dalam Pemilu 2014 lalu mendapatkan suara sekitar 6 persen.

“Target tentu minimum seperti Nasdem, karena Nasdem kemarin partai baru kemudian lumayan 6 persen,” kata Ketua Umum PSI Grace Natalie dalam wawancara khusus dengan merdeka.com di kantor Indonesian Institute, Kamis (23/4) lalu.

Untuk mencapai target tersebut, berbagai langkah dilakukan di antaranya dengan menggandeng ormas-ormas Islam toleran, seperti NU dan Muhammadiyah. PSI juga memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak-anak yang selama ini masih terabaikan.

“Kita masih ketemu Perda-Perda nggak ramah perempuan. Contoh larangan jam malam, atau perempuan nggak boleh naik motor kalau tidak dengan muhrimnya, macam-macam, yang kalau kita punya pemimpin perempuan, nggak akan lahir diskriminasi gender,” kata Grace Natalie.

Berikut wawancara lengkapnya:

Sebagai ketua umum yang kebetulan perempuan dan seorang ibu, apakah Mbak Grace Natalie ke depan akan membawa PSI memperjuangkan hak-hak ibu serta anak?

Terkait dua-duanya, perempuan secara populasi hampir sama dengan laki-laki. Dulu katanya perempuan jauh lebih banyak daripada laki-laki, nggak juga. Tetapi sayangnya karena politisi perempuan sedikit, perempuan yang ada di posisi legislatif nggak banyak. Akibatnya kami merasa kebijakan di daerah dan pusat banyak yang nggak ramah perempuan. Kita masih ketemu Perda-Perda nggak ramah perempuan. Contoh larangan jam malam, atau perempuan nggak boleh naik motor kalau tidak dengan muhrimnya, macam-macam, yang kalau kita punya pemimpin perempuan, kita nggak akan lahir diskriminasi gender, tapi itu masih kita temui. Kita ingin mengajak perempuan lebih aktif dalam proses pembentukan regulasi agar lebih ramah kepada perempuan dan anak. Karena perempuan selama ini kesannya cuma penuhi jatah kuota partai. Padahal dunia internasional banyak perempuan yang menduduki jabatan strategis, tapi kenapa giliran di politik jarang.

Kita pengen memberi peranan lebih kepada perempuan. Di DPP kami 70 persen pengurusnya perempuan. Bukannya diskriminasi ke laki-laki, nggak kok. Di daerah persentasenya sekitar 50 persen perempuan, sementara. Tapi kurang lebih di kisaran 50 persen di daerah. Ini akan kita jaga terus sampai ke kecamatan.

Saya sebagai perempuan juga sebenarnya ada pesan ke luar yaitu orang seperti saya saja dengan berbagai elemen minoritas, saya perempuan, muda, nonmuslim, Tionghoa, nggak punya pengalaman di parpol sebelumnya, orang seperti saya saja diberi kesempatan dan dipercaya. Harusnya orang di luar sana yang mungkin daftar dosa politiknya gak sebanyak dan sepanjang saya harusnya lebih merasa nyaman untuk berpolitik dan untuk menjadikan politik sebagai rumahnya, karena saya saja diberikan kepercayaan yang sedemikian.

Jadi nanti difokuskan ke perempuan dan minoritas?

Intinya, gak pakai DNA. PSI yang penting kebaikan dan keragaman. Kita nggak beda-bedakan orang minoritas, mayoritas dan sebagainya. Di politik mayorotas dan minoritas suaranya kan dihitung satu. Nggak masalah, kita hanya lihat substansinya, bukan atribut-atribut yang sudah given, apa yang diubah lagi seseorang ketika lahir dengan etnis tertentu. Jadi nggak ada masalah-masalah dengan hal itu.

Sekjen PSI kan orang Muhammadiyah, berarti PSI nanti juga akan menyasar suara di kalangan Muhammadiyah?

Oh iya, kita harapannya gitu. Temen-temen di DPP nggak cuma Muhammadiyah, ada HMI, NU, dan lain-lain. Kalau temen-temen dan sekjen tidak besar dari ajaran Muhammadiyah dan NU, pasti mereka tidak rela ketum diisi oleh saya. Kita tidak eksklusif Muhammadiyah, itu hitung-hitungan politiknya salah kalau Muhammadiyah saja, semuanya.

Harapannya di Muhammadiyah cukup besar, umumnya mereka terdidik, di kota, cukup melek politik, akrab dengan organisasi, kita mudah berbagi dengan teman-teman yang berada di lingkungan seperti itu. Tapi tentu tidak terbatas pada Muhammadiyah saja, tapi semua.

Menggunakan nama PSI apakah mendompleng nama PSI sebelumnya yang sudah ada?

Sama sekali nggak. PSI sebelumnya kan sudah kandas. Mungkin kalau generasi di atas kita akan mengkaitkan PSI dengan partai lama. Tapi kalau anak muda sekarang, jangan-jangan nggak, meski harus disurvei dulu sih, apalagi pemilih pemula. Mungkin ketika disodorkan nama PSI mereka belum ada yang terpikir bukan partai sosialis. Nggak ada masalah buat kita, nggak ada beban PSI yang lama.

Target PSI?

Target tentu minimum seperti Nasdem, karena Nasdem kemarin partai baru kemudian lumayan 6 persen. Jadi minimal kita harus seperti Nasdem.

Tapi Nasdem kan punya media, sementara PSI nggak punya media?

Optimis, kita punya teman-teman media. Kalau punya teman media lebih banyak mas daripada punya media, iya kan.

Mbak Grace kan punya suami, anak juga, bagaimana nanti ke depannya membagi waktu untuk partai dan keluarga?

Suami saya ajak bicara dari awal. Kita melalui proses berpikir sama-sama berpikir panjang, dengan segala konsekuensinya. Suami saya sekarang pada posisi yang mendukung. Dia sudah memahami, dan sudah mendukung. Saya juga cermat mengatur waktu. Rapat-rapat diusahakan efektif, kalau bisa dikumpulin jamnya. Sampai saat ini masih terhandel dengan baik. Suami saya belum komplain nggak lihat istrinya berapa hari. Bahkan dia sudah pada tahap apa yang bisa saya sumbangkan ke PSI.

Suami saya kebetulan bergerak di bidang IT, dia akan bantu kita untuk develop website PSI. Jadi untuk siasati politik nggak mahal deh, kenapa duit itu jadi barrier orang untuk berkontribusi ke dunia politik. Politik jadi barrier orang, kebetulan suami kan ahli di bidangnya. Bukan ecek-ecek loh. Temen-temen media yang meliput dan mensosialisasikan kenapa sih PSI hadir dan apa yang akan dicapai oleh PSI. Jadi suami dukung, anak masih keurus, semua baik-baik saja.

Bagaimana PSI memanfaatkan social media untuk mengembangkan partai ke depan?

Harus mas, socmed harus dimanfaatkan, karena kita kan partai anak muda. Masa anak muda gaptek. Jadi apalagi nanti 2019 pemilu pemula cukup banyak, mereka semua yang sudah melek IT. Jadi IT harus banget, justru kita senang sekali generasi muda melek IT, berarti ongkos politiknya makin murah.

Kemarin-kemarin ongkos sosialisasi mahal karena harus iklan TV, cetak kaos, cetak spanduk dan sebagainya, distribusi ke daerah kan mahal banget. Semakin banyak yang pakai Twitter, FB dan sebagainya, dan yang kita pantau nanti di 2009 makin banyak pemilih pemula, 30 persen anak muda, paham IT, makin senang kita. Itu akan lebih efisien dan yang akan dipertaruhkan ide-ide dan kreativitas. Pasti kita akan pergunakan itu (IT).

Sekarang baru tahun 2015, 2019 kan masih lama, waktu yang masih lama ini akan dimanfaatkan sebaik-baiknya, dengan cara apa?

Pasti, makanya kita start-nya dari sekarang. Kita ngerti banget untuk lolos bukan hal yang mudah. Saya ornag baru di parpol, pengurus baru semua, kita berguru ke yang sudah berpengalaman. Kita lihat harus segera mungkin dari sekarang karena ferivikasi nggak mudah, apalagi sampai ke kecamatan. Makin sulit cari pengurus bagus di kecamatan. Kita harus mulai sedini mungkin, sosialisasi kan berat juga, perkenalkan PSI agar diketahui orang itu pekerjaan panjang. Oleh karena itu kita harus mulai sedini mungkin.

Ini kan juga trial and error, yang model seperti ini kan cuma kita di republik ini, oleh karena itu kita mau waktu yang panjang agar bisa trial and error, kayak tadi saya bilang kita mau maksimalkan social media, sejauh mana penetrasi socmed, dari pemilu-pemilu sebelumnya, socmed penting.

Tapi karena yang akses orang-orang kota, kelas menengah, ini kan menempati porsi terbatas di pemilih kota. Jadi bagaimana kita maksimalkan itu, kita masih trial and error, kita manfaatkan waktu untuk melihat sejauh mana efektif atau nggak, atau perlu diubah atau bagaimana, itulah kita mengapa mulai dari sekarang.

Selain PSI ada partai baru yang juga akan daftar?

Yang belum deklarasi, nggak tahu. Denger-denger sih ada tapi namanya juga isu, katanya Projo kemungkinan mau, tapi ya entah apakah mereka sudah mulai kumpulkan verifikasi, terdaftar di Depkumham, kita nggak tahu.

Tahapan di Depkum HAM seperti apa?

Depkum HAM kan terbuka terus. Kalau ada yang masuk, sekarang kayak kami atau tahun depan ya terserah. Yang nanti ada waktunya kan KPU yang menjelang pemilu. PSI sudah didaftarkan ke Depkum HAM per akhir 2014, setelah pemilu lalu kita intensif ngomong, setelah Pilpres lewat kita mulai intensif, dan sebagainya.

Perindo kan sudah deklarasi, akankah nanti jadi saingan PSI karena sama-sama partai baru?

Kami nggak kecil hati, tapi kita lihat Perindo punya potensi yang luar biasa. Mereka punya media, TV, online, radio koran, semua punya. Menarik sih seperti apa nanti Perindo dengan semua modal yang dimilikinya.

Mungkin Perindo nggak lihat PSI sebagai kompetitor, kita kan nggak punya apa-apa. Oleh karena itu kita manfaatkan jaringan pertemanan dengan media.

Mengenal lebih dekat PSI dan ketum cantiknya, Grace Natalie
Wawancara

Mengenal lebih dekat PSI dan ketum cantiknya, Grace Natalie

Dunia perpolitikan tanah air kini kian segar dengan masuknya wanita cantik Grace Natalie. Mantan preseter tvOne yang juga mantan Direktur Saiful Mujani Research & Consulting SMRC tersebut bersama rekan-rekannya yang masih muda memperkenalkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Bahkan, menurut Grace, saat ini partainya sudah bergerak ke tingkat kabupaten untuk melakukan perekrutan pengurus-pengurus di daerah. “Sekarang kita lagi rekrut di tingkat kabupaten. Provinsi sudah semua. Kabupaten sekarang sudah di atas 70 persen, tapi masih ada tingkat kecamatan lagi kan,” kata Grace Natalie dalam wawancara khusus dengan merdeka.com, Kamis (23/4) lalu.

Grace mengatakan, sebenarnya dia dan timnya tidak tiba-tiba membikin partai. Semua sudah disiapkan secara matang. Namun berdasarkan timeline-nya, sebenarnya saat ini harusnya belum dipublikasikan partai baru yang dia rintis itu. Namun, karena sudah terendus media, akhirnya dia pun bersyukur saat ini PSI sudah mulai dikenal oleh masyarakat luas.

“Kami sebenarnya belum rencana (menunjukkan ke publik), kalau mengikuti timeline kami, karena ya itu persiapan masih terus jalan, tapi kabar bocor duluan,” ungkap Grace.

Karena masih baru, partai ini pun belum memiliki kantor. Saat ini Grace dan kawan-kawan masih menumpang di kantor Indonesian Institute di daerah Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Berikut wawancara lengkap wartawan merdeka.com dengan Grace Natalie:

Bagaimana ceritanya kok tiba-tiba bikin partai politik?

Jadi nggak tiba-tiba, ada prosesnya, cuma orang nggak tau. Saya dan sekjen, Raja Juli Antoni, berkawan cukup lama, kemudian ketika jelang Pemilu 2014 komunikasi kita makin intens. Sementara SRMC punya banyak hasil survei, kita diskusi, kita lihat pemilu ada sosok Jokowi, muda, baru, ada harapan baru di tengah-tengah tokoh lama. Kita lihat jalannya gak mulus-mulus banget untuk jadi capres, ketika itu. Padahal semua lembaga survei mulai dari yang kredibel sampai baru kita denger, semuanya menjagokan Jokowi. Ternyata satu bulan sebelum pileg baru PDIP mengumumkan, entah itu alasannya sengaja disimpan, karena takut dihabisi sebelum pemilu, atau memang saat-saat terakhir baru akhirnya mereka dengan rela hati memberi tiket capres ke Jokowi, kok kita lihat setengah hati. Ketika Jokowi sudah nyapres pun iklan PDIP, Indonesia Hebat malah Puan. Dengan kondisi kayak gitu kita lihat tokoh muda sulit sekali, nggak punya darah biru politik, dan modal terbatas, ini barrier-nya masih terasa sekali di parpol-parpol yang ada saat ini.

Kita mulai berbincang, bagaimana caranya orang muda kompeten, kita lihat misalnya di daerah, orang-orang baru, misal Ridwan Kamil, Ahok di Jakarta, Azwar Anas di Banyuwangi, mereka kan kalau kita lihat, Ridwan Kamil baru, kalau sampai mereka di akhir masa jabatannya punya sesuatu, mereka punya kans nggak untuk berbuat sesuatu yang lebih besar di tingkat nasional, susah. Jokowi saja kemarin diperlakukannya demikian. Mulai dari situ kita mulai berbincang dan sepakat harus membentuk parpol baru. Kenapa bukan ormas, LSM, karena kalau kita pengen unjungnya nanti bisa bikin terobosan sistemik, sampai punya regulasi, mengantar calon-calon, harus parpol, tak ada pilihan lain. Sesuai konstitusi kita jalurnya ke situ. Akhirnya kita sepakat, kita berikhtiar dan bikin parpol baru.

Kenapa baru akhir Maret lalu diperkenalkan?

Nggak sengaja sebenarnya, makanya ini bantuan temen media semuanya. Kami belum rencana keluar sekarang, karena mas lihat sendiri kantor saja belum ada, website belum punya, kartu nama pun belum cetak. Tapi kemudian pergerakan kita terendus oleh Majalah Tempo karena mereka mau bikin laporan partai baru. Kita nggak ngaku ntar dibilang bohong, kalau kita ngaku, kan baru sekali, kayak janin. Sama Majalah Tempo dibuat laporannya cukup panjang, kemudian bergulirlah akhirnya PSI jadi seperti sekarang ini, yang beritanya sudah terdengar oleh masyarakat. Kami sebenarnya belum rencana, kalau mengikuti timeline kami, karena ya itu persiapan masih terus jalan, kabar bocor duluan. Tapi blessing juga mas, karena responsyan positif sejauh ini, di sosial media, karena kebanyakan di berita online. Bahkan sudah banyak juga ada 200 orang relawan. Untuk kami terhitung banyak, karena kami belum resmi, yang mungkin bisa dibilang relawan tergerak untuk ikut bergabung berkontribisi, meski belum jelas mereka masuk divisi apa. Akhirnya untuk menampung orang-orang ini kita bikin pre registrasi, mereka naruh nama, nomor telepon, dll. Lumayan sudah ada 200 orang dan nggak cuma dari Jakarta, dari berbagai tempat. Ini modal awal bagi kami, karena jumlahnya terus bertambah, tapi kita akan terus komunikasi dengan mereka.

Step selanjutnya, sambil administrasi jalan kita rapat-rapat ke program. Kami dari awal sudah punya niatan bahwa PSI ini sebelum pemilu dari sekarang sudah harus punya dampak ke masyarakat. Kalau partai-partai yang lain, kita ingin beda. PSI harus punya dampak ke masyarakat, masyarakat harus merasakan PSI ketika di dekat mereka dampaknya apa ya. Nggak usah yang besar-besar, simpel saja, misalnya kita bantu orang mengerti apa sih BPJS, bagaimana cara daftar, banyak orang yang ngak ngerti caraya seperti apa sih, melalui online atau apa, sesimpel itu. Masih banyak lagi yang lain yang akan kita lakukan.

Partai ini konon tidak akan mencalonkan kadernya sebagai capres-cawapres?

Bukan kadernya yang tidak jadi capres, tapi saya sebagai pengurus partai tidak punya agenda jadi capres atau cawapres. Saya fokus membesarkan partai. Ini partai baru, kita harus lewati verifikasi, itu tidak mudah. verifikasidi Depkum HAM, KPU, tidak mudah. Kita pengen cari pemimpin orang-orang yang bagus melayani masyarakat, kan tidak gampang. Saya tidak ikut bertarung rebutan dengan kader-kader yang bagus-bagus itu untuk memperebutkan tiket capres. Kan partai tiketnya satu, masa dua, saya tidak ikut rebut itu, sama sekali.

Persiapannya sejauh ini sudah sampai di mana?

Sekarang kita lagi rekrut di tingkat kabupaten. Provinsi sudah semua. Kabupaten sekarang sudah di atas 70 persen, tapi masih ada tingkat kecamatan lagi kan.

Pengurusnya juga sudah siap semua?

Pengurus belum, kan bertahap. Di kabupaten kan ada 500 lebih, kita rekrut dulu yang inti-inti untuk kerjakan administrasi. Memang tidak butuh banyak, misal dua orang dulu di kabupaten. Intinya untuk memenuhi itu harus ada proses administrasi. Nah perekrutan pun dilakukan, anak-anak muda, yang bagus-bagus kita belum mulai perekrutan. Kita penuhi persyaratan administrastif dulu. Perekrutan untuk pengurus, mengurusi administrasi.

Targetnya selesai sampai kapan?

Target kita 2016 selesai. Sekarang kan masih cukup panjang. Enaknya kerja sama anak muda, berbagi visi, temen-temen di daerah yang sepakat, langsung bergerak cepat sekali, tanpa perlu diiming-imingi, mereka mengerjakan dari hati.

Untuk pengumpulan dana sementara ini bagaimana?

Kita kirim proposal kepada sejumlah orang yang kami percaya yang dari segi finansial sudah stabil, mereka nggak perlu cari uang di politik. Tentu dengan catatan tidak boleh campur dengan operasional partai. Tidak banyak memang yang mau menerima propesal kita. Tapi di awal untuk biaya, transport kemana-mana, itu lumayan cukup lah.

Temen-temen kan model gaya bekerjanya mereka nggak keliling, sewa mobil, habis sekian-sekian, nggak. Kita alokasikan dana nggak besar, nggak enak nominalnya saya
sebutkan. Kemudian mereka olah sendiri. Contoh ada pengurus di Pontianak, dalam rangka sosialisasi mereka keliling kabupaten cukup menggunakan bis kota saja. Dihitung-hitung 700 kilometer. Anak muda idealis, semangat tinggi mau kayak gitu. Kalau senior gak mau, oke saya keliling bawa mobil, akomodasi, dll. Kalau mereka (anak muda) langsung bergerak, tanpa perlu diimingi macem-macem. Jadi kita mengakui bikin partai itu pasti butuh biaya tapi tak perlu mahal kalau yang mengerjalan dari hati, berbagi goal yang sama, nggak keluar bujet baru jalan, jadi jalan dulu, biayanya minimal. Seperti sekarang, kita nggak keluar apa-apa untuk numpang ruangan kantor. Nggak perlu mahal-mahal.

PSI ini nantinya apakah juga akan merekrut tokoh yang sudah dikenal publik untuk mempermudah penjaringan massa?

Saat ini beluma ada karena kita nggak mau partai ini bertumpu pada satu tokoh. Sejak dari awal itu bukan model yang kita adopsi. Partai ini mau buka pintu seluas-luasnya untuk siapa pun tokoh kecil, besar yang mau berkontribusi menjadi pelayan masyarakat tanpa perlu bayar mahar, tanpa perlu mengeluarkan sejumlah uang. Orang mau melayani masyarakat kok keluarkan uang.

Pengalaman saya di SMRC, saya lebih terbuka mata saya dengan pengalaman-pengalaman seperti itu, sedih, kami dampingi calon-calon yang bagus. SMRC juga punya idealisme sendiri. Saya dan Bang Saiful Mujani ketika mendampingi seseorang lihat track record, kalau bagus kita dampingi tapi kalau ada cacat apalagi pernah berkasus hukum, kami milih tidak mendampingi. Selama ini banyak calon-calon keluar miliaran, uang diambil, dukungan nggak dikasih. Kita mengalami sendiri (waktu di SMRC). Selama ini sering kita dengar tapi alami sendiri nggak pernah, jadi kemarin alami sendiri. Dari pengalaman itulah, partai ini nanti nggak ada mahar-mahar, perlu dicatat. Muda, mau berkontribusi bagi masyarakat, nggak usah pakai mahar, PSI membuka pintu seluas-luasnya. Makanya kita nggak akan bertumpu pada satu tokoh.

Kalau artis-artis atau orang terkenal lainnya apakah akan direkrut juga?

Kalau mereka berbagi visi yang sama dengan PSI why not. Kalau artis punya agenda lain lagi di luar misi kami, kita memilih untuk tidak. Kami yakin, calon-calon di daerah mereka bertempur di daerah masing-masing. Artis banyak juga ya maju tapi nggak dapat (menang). Nggak jamin.

Apa yang membedakan PSI dengan partai-partai lain yang sudah ada, atau calon partai lain yang juga akan mendaftarkan untuk Pemilu 2019?

Yang pasti dari awal kami tawarkan partai ini start fresh, dari awal orang-orang di partai ini nggak pernah berpartai, kami nggak punya beban dosa-dosa politik dari orang sebelumnya. Kita start baru, bangun kultur sendiri. Dimana praktik uang, money politics yang buat seseorang terpilih mikirnya balik modal, itu kita tidak ada.

Kita nggak bisa jamin kader kita lurus terus. Tapi paling tidak kita mulai orang-orang yang bersih, baru, yang belum ada beban-beban, juga tidak terkontaminasi kultur politik yang lama. Kemudian selalu menjaga semangat muda, baru, selalu apdate dengan kondisi baru, kita batasi pengurus maksimal umurnya 45 tahun. Semua justru kisaran pengurus kita di daerah umurnya 20-30 tahun itu banyak banget. Jadi anak muda, mereka bekerja cepat, semangat, efisien, itu yang akan kita jaga semangat itu. Dan kita buka diri seluas-luasnya bagi orang yang ingin besarkan PSI.

Parpol-parpol lain mungkin ketum-ketumnya punya agenda jadi presiden. Jadi meski belum disurvei, belum diketahui apakah masyarakat menginginkan, dia sudah memasang diri, dan itu kita lihat. Orang dari parpol tertentu, survei elektabilitas nggak meningkat tapi tetep saja nggak mau kasih tiketnya ke tokoh lain yang lebih sesuai dengan aspirasi masyarakat. Kalau kita nggak, kita terserah ke masyarakat, pemimpin yang mana yang layak jadi capres.