Pemimpin Menginspirasi
Inspirasi

Pemimpin Menginspirasi

Bencana kemanusiaan di Agats, Kabupaten Asmat, Papua, menguji model kepemimpinan transformatif yang selalu bisa memberikan inspirasi bagi warganya.

Model kepemimpinan transformatif dan selalu memberikan inspirasi itu menjadi penting di tengah situasi ketika elite-elite politik berburu kekuasaan. Salah satu model pemimpin yang selalu terpanggil, tetapi tidak haus akan kekuasaan adalah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Kebijakan dan tindakannya sangat nyata dan riil untuk membantu sesama manusia.

Dibujuk-bujuk untuk menjadi calon wakil gubernur Jawa Timur, setelah Abdullah Azwar Anas mundur, Risma tegas menolak. Dibujuk lagi, Risma tetap menolak. Risma bersikukuh tidak mau menjadi calon wakil gubernur karena ingin mewujudkan mimpinya soal Surabaya.

Di tengah orang berburu rekomendasi partai politik, bahkan disebut-sebut rekomendasi harus dibeli miliaran rupiah, Risma bisa jadi teladan. Tawaran partai politik untuk mendapatkan kursi kekuasaan yang lebih tinggi ditolaknya. Pilihan politik Risma terasa anomali di tengah perburuan kuasa para elite.

Naluri kemanusiaan Risma tergerak ketika saudara kita di Agats, Asmat, terkena bencana akibat gizi buruk, campak, dan radang paru. Sebanyak 62 orang meninggal sejak Oktober 2017. Warga Agats membutuhkan uluran tangan. Risma langsung mengorganisasi bantuan dari karyawan Pemerintah Kota Surabaya dan mengirimkan bantuan ke Asmat.

Tanpa banyak berbicara, bantuan dari karyawan Pemkot Surabaya langsung diangkut ke Timika untuk diteruskan ke Agats. Sejumlah warga masyarakat biasa pun terpanggil untuk berbela rasa membantu sesama warga di Agats. Implementasi nilai Pancasila diuji bagaimana kita menanggapi bencana kemanusiaan di Agats.

Bandingkan reaksi Risma dengan pernyataan seorang menteri di Jakarta seperti dikutip harian ini. ”Ini era otonomi daerah. Pemerintah daerah juga harus bergerak. Tidak mungkin semuanya mengandalkan pemerintah pusat,” ujar menteri itu.

Pernyataan itu seperti tak punya empati. Solidaritas kemanusiaan seharusnya tidak mengenal hierarki, tidak mengenal batas teritorial. Pemimpin yang terpanggil naluri kemanusiaannya akan langsung berbuat untuk sesama, tidak mempertimbangkan apakah korban itu warganya atau bukan, punya KTP atau tidak, di era otonomi daerah atau kewenangan pusat. Kita meyakini masih banyak pemimpin yang punya naluri kemanusiaan seperti Risma, hanya mereka mungkin masih sibuk dengan urusan domestiknya sendiri, termasuk berjuang meraih kekuasaan terlebih dahulu dalam pilkada.

Bangsa ini membutuhkan sosok pemimpin yang menginspirasi bangsanya untuk terus maju dan bergerak untuk kemanusiaan, bergerak untuk kemajuan bangsanya. Pemimpin yang tidak hanya berburu kekuasaan dan penikmat kekuasaan, tetapi tidak tahu bagaimana kekuasaan akan digunakan. Apakah kekuasaan digunakan untuk kepentingan dirinya, partainya, atau kelompoknya. Bangsa ini rindu pemimpin yang jujur dan punya komitmen besar kepada manusia dan kemanusiaan. Pemimpin yang tak membutuhkan publisitas, tetapi tulus berbuat nyata.

Sumber: Tajuk Rencana Harian Kompas, 16 Januari 2018

Menjaga Optimisme dalam Berpolitik
Inspirasi

Menjaga Optimisme dalam Berpolitik

Oleh: Jeffrie Geovanie

Dalam setiap lomba lari atau renang, biasanya ada atlet yang fokus melihat ke depan dan ada yang sibuk mengamati pergerakan lawan. Dari dua jenis atlet ini, siapa yang menang? Jawabannya pasti yang fokus melihat ke depan. Karena ia konsentrasi penuh menuju titik finis, tanpa terganggu dengan pikiran-pikiran yang lain.

Mengapa Presiden Joko Widodo–yang diperkirakan sebagian lawan politiknya akan jatuh di tengah jalan–masih bisa bertahan hingga saat ini, bahkan dengan tingkat kepuasan yang terus menanjak? Jawabannya, karena Jokowi fokus bekerja dan bekerja. Presiden RI ke-7 ini bukan tidak peduli dengan kritikan publik, tapi ia lebih memilih untuk menjawab kritik dengan aksi, bukan dengan cara membela diri.

Membela diri adalah menjawab kritik dengan kata-kata (retorika), yang mungkin saja bisa menjawab kritik yang disampaikan. Dengan argumentasi yang canggih si pengritik bisa saja dikalahkan, atau lebih tepatnya dibungkam dengan jawaban-jawaban retoris. Tapi apakah cara ini bisa memuaskan? Pasti tidak. Publik hanya bisa dipuaskan dengan kerja nyata.

Kerja nyata adalah jawaban dari semua keraguan. Meskipun kerja nyata belum tentu bisa menjawab semua pertanyaan. Setidaknya, dengan kerja nyata, seorang pemimpin terbukti tidak sekadar obral janji. Bahwa belum semua janji terpenuhi, kerja nyata akan menumbuhkan optimisme bahwa terpenuhinya seluruh janji hanyalah soal waktu dan kesempatan. Karena tidak semua hal bisa dikerjakan pada saat yang bersamaan.

Selain tidak bisa menjawab semua pertanyaan, kerja nyata juga tidak mungkin bisa memuaskan semua orang. Bekerja adalah satu hal. Kepuasan atas hasil kerja adalah hal yang lain. Dengan cara apa pun, seorang pemimpin, tidak mungkin akan bisa memuaskan semua orang. Itu tidak ada masalah karena tugas pemimpin sejatinya bukan untuk memuaskan rakyatnya.

Tugas pemimpin yang terpenting adalah bagaimana membuat segenap rakyatnya selalu optimistis dalam menghadapi masa depan. Optimisme adalah modal yang baik bagi siapa pun untuk sukses dan maju. Optimisme adalah energi yang konstruktif bagi siapa pun untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Lantas, adakah cara yang tepat untuk menumbuhkan optimisme? Selain dengan kerja nyata, adalah dengan melihat segala sesuatu dengan positif (berpikir positif/positive thinking atau berprasangka baik/husnudzan). Ketika dikritik, atau bahkan dikecam, ia tanggapi dengan positif. Mungkin terdengar naif, tapi percayalah, bersikap positif pada setiap kritik dan kecaman akan menumbuhkan suasana kehidupan yang lebih baik. Karena ada harmoni yang terbangun pada saat aura negatif dipertemukan dengan aura yang positif.

Mengapa selalu ada yang bersikap negatif pada seorang pemimpin? Ada hateryang terus-menerus menghembuskan kabar buruk, atau bahkan kabar bohong (hoaks) tentang pemimpin? Karena memang tidak akan ada seorang pun pemimpin yang disukai semua orang. Karena memang begitulah takdir alam raya, yang senantiasa diisi oleh dua kutub yang saling bertentangan. Kebaikan dan keburukan selalu hadir secara bersamaan.

Apakah kita juga harus berpandangan positif terhadap keburukan? Untuk pertanyaan ini, jawabannya bisa ya bisa tidak. Ya, untuk keburukan yang relatif, dan tidak untuk keburukan yang mutlak. Keburukan yang relatif adalah yang muncul karena perbedaan perspektif. Contoh, kritik pada seorang pemimpin sudah pasti buruk bagi seorang pengikut setia (die hard lover), tapi baik pagi pengikut yang objektif.

Sedangkan keburukan yang mutlak adalah sesuatu yang sudah pasti buruk. Contohnya kejahatan, yakni tindakan yang bertentangan dengan norma dan hukum positif seperti mencuri, melukai orang lain, membunuh, dan sebagainya. Untuk keburukan seperti ini, kita tidak boleh berpandangan positif.

Dalam negara demokrasi yang menjunjung tinggi norma-norma hukum, sangat mudah membedakan mana keburukan yang relatif, dan mana yang mutlak. Caranya dengan bersikap objektif dan adil. Objektif artinya terbebas dari kepentingan, dan adil artinya bersikap proporsional dan menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Oleh karena itu, cara lain untuk menumbuhkan optimisme adalah dengan bersikap objektif dan adil. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Pada saat kita memandang kebaikan dan keburukan seseorang berdasarkan kepentingan yang kita miliki, itu artinya kita bersikap tidak objektif. Dan, pada saat kita melihat seseorang dengan cara membandingkannya dengan orang yang kita dukung/cintai, itu artinya kita bersikap tidak adil.

Bagi seorang pemimpin, kerja nyata, berpikir positif, dan bersikap objektif dan adil adalah kombinasi yang mampu menumbuhkan optimisme di hadapan rakyatnya. Dan, pada saat optimisme sudah tumbuh, tugas pemimpin adalah menjaganya agar tetap tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Jeffrie Geovanie
http://jeffriegeovanie.com
Anggota MPR RI 2014-2019

Sumber

Pesan Kebangsaan
Inspirasi

Pesan Kebangsaan

Oleh: Hamzirwan Hamid

Kunjungan kerja Presiden Joko Widodo ke Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, menggenapi kehadiran negara di empat penjuru mata angin wilayah NKRI. Dari Sabang (Aceh) di barat ke Merauke (Papua) di timur. Dari Miangas (Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara) di utara hingga ke Rote Ndao di selatan. Apa makna kunjungan ini?

Presiden Jokowi tak pernah bosan menggambarkan besar dan luasnya Indonesia sebagai nusa dan bangsa kepada siapa pun. Hampir setahun terakhir dalam berbagai kesempatan, Presiden Jokowi menyampaikan betapa kayanya Indonesia. Punya 714 suku, 1.100 bahasa daerah, juga 17.000 pulau.

Kebinekaan yang begitu besar membuat praksis hidup berlandaskan Pancasila yang toleran dengan tepa selira tinggi menjadi modal dan panutan bagi negara lain menjaga kerukunan masyarakat. Raja Salman bin Abdulaziz dari Arab Saudi dan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani pun kagum mendengarkan penjelasan Presiden Jokowi tentang kebinekaan Indonesia dan memintanya ikut menjaga baik-baik.

”Kita harus menyadari bahwa semua yang ada di Republik ini adalah saudara sebangsa dan se-Tanah Air. Walaupun berbeda-beda, kita masih bersaudara. Walaupun berbeda-beda, kita tetap bersatu untuk mencapai cita-cita kemerdekaan. Walaupun berbeda-beda, kita memiliki tekad yang sama mewujudkan Indonesia yang maju dan berkemajuan,” kata Presiden Jokowi saat kuliah kebangsaan bertajuk ”Multikulturalisme dan Politik Kebangsaan dalam Mewujudkan Indonesia Berkemajuan” di depan ribuan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kupang, Nusa Tenggara Timur, Senin (8/1). Presiden didampingi Ibu Negara Nyonya Iriana Joko Widodo, sejumlah menteri dan perangkat Presiden dan Gubernur NTT Frans Lebu Raya.

Dari Kupang, sorenya, Presiden dan rombongan bertolak ke Kabupaten Rote Ndao, wilayah paling selatan Negara Kesatuan RI (NKRI) yang berbatasan langsung dengan Australia. Kepala Negara dan rombongan pun bermalam di Pantai Nemberala, Desa Nemberala, Kecamatan Rote Barat, Rote Ndao.

Kunjungan ke Rote Ndao ini menggenapi kehadiran Jokowi dan Ibu Negara Nyonya Iriana di empat penjuru mata angin wilayah NKRI sejak menjadi Presiden. Mulai dari Sabang (Aceh) di barat ke Merauke (Papua) di timur dan dari Miangas (Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulut) di utara hingga ke Rote Ndao di selatan. Saking luasnya Indonesia, kata Presiden Jokowi, dia butuh waktu sembilan jam lima belas menit untuk terbang memakai Pesawat Kepresidenan Indonesia-1 Boeing seri 737 dari Sabang ke Wamena, Papua.

Waktu penerbangan itu setara dengan dari London, Inggris, ke Istanbul, Turki, atau dari Jakarta menuju Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Luasnya wilayah dan kebinekaan Indonesia jadi kekayaan bangsa yang tak dimiliki negara lain.

Tahun politik

Kekayaan ini pula yang harus dijaga kini dan pada masa datang. Apalagi saat ini, kita memasuki tahun politik, yang tahapannya sedang berlangsung dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 2018. Pada 27 Juni 2018 akan ada 17 dari 34 provinsi dan 154 kabupaten/kota dari 516 kabupaten/kota yang akan memilih kepala daerah serentak.

Meskipun pilkada merupakan pesta demokrasi lokal, media sosial yang nirbatas wilayah telah membuatnya jadi serasa agenda politik nasional. Apalagi, semua elite partai politik menjadikan Pilkada Serentak 2018 sebagai momentum pemanasan mesin partai menghadapi Pemilu 2019.

Untuk jadi negara maju dan sejahtera, suka tidak suka, bangsa Indonesia harus bersatu padu mewujudkan cita-cita kemerdekaan NKRI. Apalagi, tiga tahun terakhir pemerintah berupaya membangun infrastruktur fisik dan investasi sumber daya manusia yang tentu membutuhkan iklim politik stabil agar program itu bisa berjalan sinkron dengan kebutuhan daerah.

Ada tujuh juta orang yang kini bekerja di proyek-proyek infrastruktur pemerintah pusat di seluruh Indonesia, baik jalan, jalan tol, jaringan rel kereta api, jembatan, bendungan, pelabuhan, hingga bandara. Untuk mengatasi ketertinggalan infrastruktur, pemerintahan Jokowi-Kalla juga tengah gencar membangun dengan visi Indonesia sentris, yakni di Sumatera ada 61 proyek, Kalimantan (24), Sulawesi (27), Maluku dan Papua (13), serta daerah terpencil lainnya.

Presiden mengingatkan, praktik demokrasi dalam pilkada hendaknya dijalankan sesuai karakter bangsa Indonesia yang santun serta tak saling menjelekkan dan mencaci. Setelah memilih pemimpin yang terbaik di pilkada, rakyat mesti segera kembali bersatu dalam persaudaraan. ”Inilah demokrasi yang kita miliki. Setelah pilkada, biarkan pemimpin itu bekerja lima tahun. Kalau tidak baik, jangan dipilih lagi. Kalau baik, silakan dipilih,” kata Presiden Jokowi.

Bersatu padu

Presiden pun mengajak semua komponen bangsa bersatu padu terlepas apa pun pilihan politiknya. Pasalnya, sesungguhnya Indonesia masih harus menghadapi persoalan yang jauh lebih besar pada masa datang, yang solusinya hanya dihadapi dengan persatuan.

Kebinekaan dan toleransi yang kini jadi panutan negara lain merupakan modal besar kita mencapai Indonesia berkemajuan. Kita perlu belajar dari pengalaman Afghanistan, yang memiliki tujuh suku, tetapi masih mengalami konflik berkepanjangan sampai saat ini.

Dalam kunjungan kenegaraannya pada 5 April 2017, Presiden Ashraf berkata kepada Presiden Jokowi, Indonesia sesungguhnya negara yang dianugerahi Allah SWT keberagaman yang perbedaan rakyat yang memperkuat bangsa. Dia berpesan agar Presiden Jokowi terus menjaga kebinekaan itu sekuat tenaga.

Kedua pemimpin itu kemudian sepakat bekerja sama mewujudkan perdamaian (Kompas, 6/4/2017). Kerja sama itu diwujudkan dengan kunjungan Majelis Tinggi Perdamaian Afghanistan ke Indonesia untuk belajar dari pengalaman Indonesia menjaga kebinekaan dan mengatasi konflik serta meminta bantuan untuk mendamaikan konflik (Kompas, 22/11/2017).

Berkaca dari pengalaman dan tantangan ke depan, Presiden Jokowi pun mengajak semua anak bangsa tetap menjaga persatuan apa pun pilihan politiknya. Bagaimanapun, Indonesia masih harus terus mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan pada era persaingan global yang ketat.

Dalam kunjungannya itu, Presiden Jokowi juga beberapa kali menyampaikan pesan. Rote Ndao, termasuk yang menyelenggarakan pilkada pada 27 Juni mendatang. Tentu kita semua menginginkan kelancaran dan perdamaian serta persatuan dalam keberagaman pilihan. Sebab, bagaimanapun, pilkada adalah sarana untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, bukan semata-mata merebut kekuasaan.

Sumber: Harian Kompas 14 Januari 2018 

Presiden Jokowi dan ”Mutiara Selatan”
Inspirasi

Presiden Jokowi dan ”Mutiara Selatan”

Bayangan alam yang gersang saat mendengar kata Rote pupus saat pesawat CN-295 Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara melayang jelang mendarat di Bandara DC Saundale, Ba’a, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, Senin (8/1) sore. Hamparan sawah dan hutan lebat diselingi padang rumput bak permadani hijau terbentang subur di bumi paling selatan Negara Kesatuan RI ini.

Presiden Joko Widodo dan Nyonya Iriana Joko Widodo pun membuka awal tahun 2018 dengan melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Rote Ndao, yang dikenal juga dengan sebutan ”Mutiara Selatan” NKRI. Tidak sekadar berkunjung, Kepala Negara dan Ibu Negara juga menginap semalam di Nemberala Beach Resort, Pantai Nemberala, Desa Nemberala, Kecamatan Rote Barat, Rote Ndao, yang dihiasi dengan pasir putih, pepohonan kelapa, padang rumput hijau nan indah.

Presiden, Nyonya Iriana, beserta rombongan bertolak menggunakan Pesawat Kepresidenan Indonesia-1 dari Jakarta, Senin pukul 06.33 menuju Kupang. Setelah melakukan serangkaian acara di Kupang, Presiden terbang ke Ba’a menggunakan Pesawat Kepresidenan RJ-85, Senin sore.

Sepanjang perjalanan dari Bandara DC Saundale menuju Kantor Bupati Rote Ndao yang kemudian dilanjutkan dengan perjalanan menuju Pantai Nemberala sejauh 40,1 kilometer, rakyat berdiri di tepi jalan menyambut Presiden Jokowi dengan penuh sukacita. ”Senang sekali kami akhirnya Presiden datang melihat kami di sini,” ujar Mira (22), warga Kelurahan Mokdale, Kecamatan Lobalain, Rote Ndao.

Rote Ndao merupakan kabupaten paling selatan perbatasan Indonesia dan Australia. Jaraknya tidak terlalu jauh dari Pulau Timor sehingga pelayaran kapal dari Kupang ke Rote cukup ditempuh sekitar 2 jam dan jika menggunakan pesawat terbang dari Bandara El Tari, Kupang, ke Bandara DC Saundale memakan waktu sekitar 30 menit.

Pantai berpasir putih dengan laut jernih berwarna hijau kebiruan memeluk Pulau Rote, berhadapan langsung dengan Taman Nasional Prince Regent dan Semenanjung Dampier, pulau tempat Darwin, Ibu Kota Australia berada. Begitu dekatnya Kabupaten Rote Ndao dengan Australia sehingga kata Marcell Kilok (29), warga Da’a, ”Kalau naik perahu layar, seminggu sudah sampai di Australia.”

Jangan bandingkan dengan dari Rote ke Jakarta yang berjarak 2.461 kilometer. Namun, jarak tersebut bukan penghalang bagi Presiden Jokowi untuk datang dan menginap di Rote.

Indonesia sentris

Begitu gembiranya Bupati Rote Ndao Leonard Haning dan masyarakat menyambut kunjungan Presiden Jokowi dan Ibu Iriana. Bagi mereka, kehadiran Presiden di Rote Ndao merupakan anugerah yang sudah lama dinanti.

Kehadiran Presiden Jokowi di Rote Ndao tidak semata-mata melengkapi kunjungan kerja Kepala Negara dari Sabang, Aceh, sampai Merauke, Papua, dan dari Miangas di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, ke Rote atau dari barat ke timur dan dari utara ke selatan Indonesia. Presiden Jokowi pernah terbang menggunakan Pesawat Kepresidenan Indonesia-1 dari Sabang ke Wamena, Papua, selama sembilan jam lima belas menit.

Begitu luasnya Indonesia yang memiliki sedikitnya 17.000 pulau dengan 714 suku dan 1.100 bahasa daerah. Negeri kepulauan terbesar di dunia ini membuat waktu terbang dari Sabang ke Merauke setara dengan penerbangan dari London, Inggris, ke Istanbul, Turki, atau dari Jakarta ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Begitu besarnya Indonesia sebagai negara maupun bangsa, ini, kerap disampaikan Presiden Jokowi dalam setiap kunjungan kerjanya ke daerah, baik di perkotaan maupun kawasan pedalaman.

Presiden Jokowi selalu mengajak semua anak bangsa untuk bersama-sama menjaga kebinekaan Indonesia dan menjadikannya sebagai modal bersama membangun negeri maju yang sejahtera rakyatnya. Tanpa kebersamaan itu, upaya Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla membangun bangsa dan negara dalam visi Indonesia sentris tentu tidak akan semulus yang diharapkan.

Pembangunan Indonesia sentris yang bermakna membangun dari pinggiran atau pulau-pulau di luar Jawa, yang selama puluhan tahun tertinggal. Selama tiga tahun terakhir pemerintah gencar membangun bandara, pelabuhan, jalan tol, jaringan rel kereta api, hingga pasar tradisional berkonsep modern di seluruh penjuru negeri.

Tentu saja dampaknya tidak secepat membalik telapak tangan. Namun, pembangunan yang berorientasi meningkatkan konektivitas antarwilayah dan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru di luar Pulau Jawa, berdampak positif untuk jangka panjang jika dikerjakan secara berkesinambungan.

Hal itu pula yang membuat Presiden rajin berkunjung ke daerah, terutama daerah perbatasan, untuk memeriksa kemajuan proyek-proyek yang sedang berjalan. Tekad memajukan Indonesia dari pinggiran itu pula yang membuat Presiden Jokowi dan Ibu Iriana mau menginap di daerah, seperti di Pulau Rote yang dikunjunginya kali ini.

Pentingnya air

Tiga tahun lalu, Presiden Jokowi memerintahkan agar Kementerian Perhubungan memperpanjang landasan pacu dan membangun fasilitas Bandara DC Saundale. Kini, sudah ada penerbangan komersial berjadwal yang melayani rute Pulau Rote ke Kupang dan sebaliknya dengan pesawat jenis ATR-72.

”Semula saya kira harus terbang menggunakan helikopter dari Kupang, ternyata bandaranya sudah bisa didarati pesawat. Saya saja sampai lupa ternyata tiga tahun lalu memerintahkan Menteri Perhubungan untuk membenahi bandara di sini supaya bisa didarati pesawat,” ujar Presiden saat berbicara di hadapan para pengurus Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) dari seluruh Indonesia di Ba’a, Rote.

Dalam kunjungannya ke Rote Ndao ini, Presiden Jokowi memeriksa realisasi pembangunan 74 embung untuk menampung air di sekitar lahan pertanian dan peternakan rakyat. Pembangunan embung untuk menampung air hujan tersebut akan menyediakan air baku untuk minum, mengairi sawah, dan memenuhi kebutuhan peternakan milik masyarakat.

”Di sekitar embung baru ini sekarang sudah banyak sawah baru karena sumber air sudah tersedia. Air ini kunci untuk menyejahterakan masyarakat di NTT,” ujar Presiden seusai meresmikan embung Saina di Desa Oelolot, Kecamatan Rote Barat, Rote Ndao, Selasa pagi.

Memang tidak mudah menghadirkan negara untuk rakyat. Namun, niat baik pemimpin dan ketulusan memimpin untuk menyejahterakan rakyat selalu mewujud dalam hasil pembangunan yang bermanfaat bagi rakyat, baik untuk masa kini maupun masa depan. Bentuk pengejawantahan keadilan sosial bagi seluruh Indonesia.

Hamzirwan Hamid

Sumber: Harian Kompas, 12 Januari 2018

Perempuan-perempuan Pemberani
Blog Solidaritas Inspirasi

Perempuan-perempuan Pemberani

Tahun ini, Pinki, penyanyi sebuah grup band di India selatan, ingin belajar bermain gitar. Dia ingin bisa memetik gitar seperti yang dilakukan gitaris pria di atas panggung. Lewat musik, Pinki ingin melupakan ”kisah” pahit yang harus ia lalui ketika dipaksa bekerja di sebuah rumah bordil di Ballari, India.

Pinki (19) mengungkapkan resolusi tahun barunya setahun setelah pengadilan India menghukum 40 pelaku perdagangan manusia di Negara Bagian Karnataka di India selatan. Pinki hadir dalam persidangan untuk memberikan kesaksiannya di pengadilan. Di antara 40 terpidana, ada orang yang telah memperjualbelikan Pinki.

Perempuan yang menjualnya pada sindikat prostitusi dan seorang pria pemilik rumah bordil di Ballari, di mana ia dipaksa menjadi pekerja seks komersial selama delapan bulan, dinyatakan bersalah oleh pengadilan. ”Mereka seharusnya dihukum mati, bukan dipenjara 10 tahun,” kata Pinki sembari duduk di atas ranjang, menenteng gitar di tangan dengan boneka beruang di sampingnya. Saat itu ia sedang berada di rumahnya di sebuah desa di Andhra Pradesh.

”Akan tetapi, saya tidak mau memikirkan itu lagi. Saya ingin memikirkan tentang musik dan kekasih saya. Mudah-mudahan kami bisa menikah akhir tahun ini,” kata Pinki kepada Thompson Reuters Foundation.

Ribuan kilometer dari rumah Pinki, di Kolkata, seorang perempuan berumur 19 tahun—senasib dengan Pinki—juga membuat resolusi pada 2018 ini. Ia sedang menyiapkan ujian akhir sekolah menengah atas dan mencari kampus untuk belajar filsafat.

Diselamatkan

Sebelumnya para perempuan muda itu diselamatkan polisi India dari rumah bordil di Ballari pada 2013. Saat itu polisi menggerebek beberapa rumah bordil. Mereka menyelamatkan 43 perempuan termasuk 21 anak-anak. Sebanyak tujuh orang berasal dari Bangladesh dan sisanya berasal dari India.

Setelah diselamatkan, Pinki dan teman-temannya ditempatkan di sebuah rumah perlindungan di Prajwala. Di sana mereka ditanya apakah mereka mau menjadi saksi untuk melawan para pelaku perdagangan manusia itu.

Awalnya mereka sulit melupakan masa lalu yang gelap itu dan harus menunggu hingga empat tahun untuk bisa menceritakan secara detail pemerkosaan dan pelecehan yang mereka alami dalam sidang di pengadilan. Karena keberanian itu, akhirnya mereka bisa menyaksikan para pelaku yang menjual mereka dihukum.

Pendiri Prajwala, Sunitha Krishnan, mengatakan, setiap tahun ada 200.000 perempuan dan anak-anak di India yang dipaksa masuk ke dunia prostitusi dengan ancaman dan paksaan. Diperkirakan 16 juta perempuan dan anak-anak dari 20 juta pekerja seks komersial di India merupakan korban perdagangan manusia.

Sumber: Harian Kompas 11 Januari 2018

Jangan Remehkan Anak Muda, PSI Lolos Verifikasi Administrasi Menuju Verifikasi Faktual, Selamat!
Inspirasi

Jangan Remehkan Anak Muda, PSI Lolos Verifikasi Administrasi Menuju Verifikasi Faktual, Selamat!

Oleh: Mohamad Guntur Romli

Semangat anak-anak muda tak perlu diragukan lagi. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebagai parpol anak muda diumumkan oleh KPU Pusat termasuk parpol baru yang lolos verifikasi administrasi menuju verifikasi faktual.

Banyak yang berdecak kagum, kok bisa PSI lolos? Padahal PSI tidak punya konglomerat yang membiayai partainya, PSI tidak punya jaringan monopoli media, baik televisi, cetak, online, radio, PSI juga parpol baru bukan parpol-parpol lama yang sudah diprediksi lolos, kok bisa ya PSI lolos?

Jawabannya hanya satu: kerja keras para pengurus dan kader PSI serta semangat militan menghadapi verifikasi.

Yang patut dicatat PSI adalah satu-satunya parpol baru yang lolos verifikasi Kemenkumham. Sejak awal, PSI memang didirikan sebagai parpol, didaftarkan sebagai parpol dan mengikuti verifikasi Kemenkumham untuk memperoleh pengesahan sebagai parpol.

Dan PSI adalah satu-satunya Parpol yang lolos verifikasi Kemenkumham.

Apabila dibandingkan dengan parpol-parpol “baru” yang lain, mereka tidak melalui proses verifikasi Kemenkumham, tapi cukup dengan “akuisisi” parpol lama, ganti nama dan pengurus, kemudian jadilah parpol “baru”, tapi sebenarnya tidak lah benar-benar baru.

Maka dengan satu-satunya Parpol yang lolos Kemenkumham, hanya PSI lah parpol yang benar-benar baru.

PSI adalah parpol anak muda, pengurusnya tidak boleh lebih berusia 45 tahun. Bahkan, mayoritas pengurus masih di bawah 35 tahun!

PSI juga mengusung politisi yang benar-benar baru, karena pengurus PSI tidak boleh dari bekas pengurus parpol lama (lain), hal ini dilakukan agar konflik dan masalah di parpol-parpol lama sebelumnya tidak pindah atau dipindahkan ke PSI.

PSI lahir oleh semangat anak-anak muda yang tidak membanggakan siapa pendukung dan mengandalkan tokoh.

PSI bergantung pada kerja keras sendiri dan semangat serta militansi anak-anak muda. Seperti puisi yang dinisbatkan pada Imam Ali bib Abi Thalib Karramallahu wajhahu.

ليس الفتى من يقول كان ابى
ولكن الفتى من يقول ها أناذا

Pemuda bukanlah yang berkata “Ini bapakku”
tapi pemuda berkata yang berkata “Inilah aku”.

PSI tidak berbicara tentang pengusaha, tokoh, modal materi yang berada di belakang parpol ini, tapi PSI berkata tentang semangat dan militansi anak-anak muda.

Ini kami, anak-anak muda yang melahirkan PSI

Ini kami politisi-politisi muda yang ingin memperbaiki negeri.

Ini kami politisi-politisi muda yang ingin melawan korupsi.

Ini kami politisi-politisi muda yang ingin terus menegakkan toleransi dan melawan intoleransi.

Ini kami anak-anak muda datang bersama PSI, maka sambutlah Parpol anak muda, parpol baru, parpol yang melihat politik sebagai kebajikan, politik sebagai arena memperjuangkan nasib orang banyak, inilah Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Sumber

Maulid, Maulud, Milad dan Perayaan Kelahiran Nabi Muhammad Saw
Inspirasi

Maulid, Maulud, Milad dan Perayaan Kelahiran Nabi Muhammad Saw

Oleh: HM. Guntur Romli

Tulisan ini mengulas istilah-istilah maulid, maulud, milad apakah berarti sama atau beda? Kemudian lahirnya genre Sastra Maulid yang berisi prosa dan puisi terhadap kelahiran dan pujian pada Nabi Muhammad Saw yang ternyata sudah lahir dari zaman Nabi, hingga mencapai puncaknya pada karya Burdah Al-Bushiri, Al-Barzanji dan Ad-Diba’i

Maulid artinya Kelahiran. Selain maulid ada istilah lain, Milad. Namun dalam penggunaan masyarakat Arab, istilah Milad sudah identik dengan Hari Kelahiran Isa Al-Masih atau Yesus Kristus. Masyarakat Kristen Arab menyebut Hari Natal untuk Yesus Kristus dengan Idul Milad Al-Majid (Hari Kelahiran yang Agung).

Masyarakat muslim Arab menggunakan istilah lain untuk Hari Lahir Nabi Muhammad Saw, yang lahir pada hari Senin 12 Rabiul Awwal dengan sebutan Maulid.

Tapi baik Maulid dan Milad artinya sama, hanya penggunannya yang berbeda. Istilah Milad juga digunakan sebagai perayaan Hari Ulang Tahun di zaman modern. Orang Arab modern merayakan ulang tahunnya dengan istilah Milad, tapi tidak dengan istilah Maulid yang sudah identik dengan Perayaan Kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Selain istilah Maulid yang acap kali digunakan dalam masyarakat kita, ada penamaan lain: Maulud. Dari istilah ini muncul, Mauludan, yang artinya merayakan Hari Lahir Nabi Muhammad Saw. Maulud arti harafiyahnya “ia yang dilahirkan”, dan “ia” yang dimaksud adalah manusia mulia dan agung sepanjang zaman, Muhammad bin Abdullah, shallallahu alaihi wa sallama (saw).

Sastra Maulid

Dalam Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw dibacakan kesustraan yang disebut sebagai “Sastra Maulid” dalam istilah Arabnya dikenal sebagai “Adabul Maulidi”.

Sastra Maulid adalah karya sastra baik dalam bentuk genre prosa dan puisi yang memuji dan merayakan kelahiran Nabi Muhammad Saw. Oleh karena itu, jenis sastra ini dalam kajian sastra Arab juga disebut sebagai “Sastra Pujian terhadap Nabi Muhammad Saw” Adabul Mada’ih An-Nabawiyah.

Kisah Sastra Maulid atau Sastra Pujian ini mengakar kuat dalam tradisi Islam, yang berawal dari tradisi keluarga Nabi Muhammad Saw. Diriwayatkan orang yang pertama menuliskan puisi-puisi sebagai pujian bagi kelahirannya berasal dari paman tercintanya: Abu Thalib, yang mengasuhnya setelah Ibundanya wafat (ayahandanya meninggal saat beliau dalam kandungn) yang kemudian diasuh kakeknya, setelah kakeknya wafat, Muhammad dari umur 8 tahun diasuh pamannya: Abu Thalib yang dikenal sebagai salah seorang penyair dan sastrawan Arab.

Inna ibna Aminah annabiyy Muhammadan – Indi bimitsli manazilil awladi

Sungguh putra Aminah, Muhammad yang diangkat menjadi nabi, bagiku sudah seperti anaku sendiri.

Dalam perjalana selanjutnya, setelah Islam diterima oleh masyarakat Kota Yatsrib, yang diubah namanya menjadi Madinah dan Nabi Muhammad Saw hijrah ke pangkuannya, Nabi Muhammad Saw memiliki penyair-penyair yang menuliskan karya-karyanya yang secara sukarela dengan penuh kekagumaan dan kecintaan pada Nabi melalui karya sajak-sajak mereka.

Tersebut lah nama seperti Hassan bin Tsabit, Ka’ab bin Malik, Abdullah bin Rawahah.

Burdah Al-Bushiri, Al-Barzanji dan Ad-Diba’i

Dalam perayaan Maulid sering dibacakan karya-karya Burdah Al-Bushiri, Al-Barzanji dan Ad-Diba’i.

Burdah artinya Selendang, yang berawal dari mimpi Syaikh Al-Bushiri setelah sembuh dari sakitnya bertemu Rasulullah Saw dan diberi hadiah selendang. Sebagai bentuk syukur dan pujian, Syaikh Al-Bushiri mengarang rasa cinta, kekaguman dan kerinduannya dalam Burdah.

Syaikh Al-Bushiri murid dari Syaikh Abul Hasan As-Syadzili, Pendiri Tarekat Syadziliyah, saya pernah ziarah ke makamnya yang berdampingan dengan makam Syaikh Abul Abbas Al-Mursi, Penganti Pemimpin Tarekat Syadziliyah setelah Syaikh Abul Hasan As-Syadzili. Kini kedua makam tersebut yang menjadi tujuan ziarah dibangun dua masjid megah.

Kutipan kasidah Burdah yang sering dibacakan dan dilagukan seperti di bawah ini:

مولاي صل وسلم دائما أبدا
علي حبيبك خير الخلق كلهم
مولاي صل وسلم دائما أبدا
عل حبيبك خير الخلق كلهم
محمد سيد الكونين والثقلين
والفريقين من عرب ومن عجم
مولاى صل وسلم دائما أبدا
على حبيبك خير الخلق كلهم
هو الحبيب الذى ترجى شفاعته
لكل هول من الأغوال مقتحم
مولاى صل وسلم دائما أبدا
على حبيبك خير الخلق كلهم
ثم الرضا عن أبى بكر وعن عمر
وعن على وعن عثمان ذى الكرم
مولاى صل وسلم دائما أبدا
على حبيبك خير الخلق كلهم
يا رب بالمصطفى بلغ مقاصدنا
واغفر لنا ما مضى يا واسع الكرم
مولاى صل و سلم دائما أبدا
على حبيبك خير الخلق كلهم

Kasidah Burdah juga dibacakan saat ada yang sakit, saya masih ingat, kalau saya waktu kecil panas, bapak saya membacakan Kasidah Burdah, tabarrukan karena Syaikh Al-Bushiri mengarang pujian ini setelah sembuh dari sakit.

Namun yang paling banyak dibacakan dalam Maulid adalah Al-Barzanji, yang hadir dalam dua genre, prosa dan puisi.

Yang puisi dibacakan saat berdiri, kelanjutan dari prosa yang menceritakan kelahiran Nabi Muhammad Saw dan tepat di kalimat Asyraqal Badru… Telah Terbit Purnama…. Makanya Al-Barzanji sering disebut Srakalan… dari kata Asyraqal.

يا نبي سلام عليكَ***يارسول سلام عليكَ
ياحبيب سلام عليك***صلوات الله عليك
أشرق البدرُ علينا*** فاختفت منه البدورُ
مثلَ حسنكْ مارأينا*** قط يا بدرَ السرورِ
انتَ شمسٌ انت بدرٌ*** انت نورٌ فوق نورِ
انت اكسيرٌ و غالي***انت مصباحُ الصدورِ
ياحبيبي يا محمد***ياعروسَ الخافقين
يامؤيّد يا ممجّد***يا إمامَ القبلتين
من رأى وجهكَ يسعد***يا كريمَ الوالدين ِ
حوضك الصافي المبرّد***وردنا يوم النشورِ
ما رأينا العيس حنت***بالسرى الا اليكَ
و الغمامة قد أظلت***والملا صلوا عليكَ
و اتاك عود يبكي***و تذلّل بين يديك
و استجارت يا حبيبي***عندك الظبي النفورُ
عندما شدوا المحامل***و تنادوا للرحيلِ
جئتهم و الدمع سائل***قلت قف لي يا دليل
و تحمل لي رسائل*** ايها الشوق الجزيلُ
نحو هاتيك المنازل***في العشي و البكورِ
كل من في الكونِ هاموا***فيك يا باهيَ الجبين ِ
و لهم فيكَ غرامُ***و اشتياق وحنينُ
في معانيك الأنامُ***قد تبدت حائرينَ
انتَ للرسل ختامُ***انتَ للمولى شكورُ
فيك قد احسنت ظني***يا بشير يا نذير
فيكَ يا بدر تجلّى***فلكَ الوصفِ الحَسينَ
ليسَ ازكى منكَ أصلاً*** قط يا جدّ الحُسيْنِ
فعليكَ الله صلّى***دائماً طولَ الدهور

Al-Barzanji juga dibacakan saat merayakan kelahiran seorang anak. Saat berdiri yang disebut dengan shalawat qiyam, atau mahallul qiyam, bayi yang lahir dibawa keluar, diperkenalkan.

Sementara karya Ad-Diba’i dalam bentuk puisi, berikut syairnya:
المولد الديبعي
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
* ياربّ صلّ علي محمّد
* ياربّ صلّي عليه وسلّم
* ياربّ بلّغه الوسيله
* ياربّ خصّه بالفضيله
* ياربّ وارض عن الصحابه
* ياربّ وارض عن السلاله
* ياربّ وارض عن المشايخ
* ياربّ فارحم والدينا
* ياربّ وارحمناجميعا
* ياربّ وارحم كلّ مسلم
* ياربّ واغفرلكلّ مذنب
* ياربّ لا تقطع رجانا
* ياربّ ياسامع دعانا
* ياربّ بلّغنانزوره
* ياربّ تغشانابنوره
* ياربّ حفظانك وامانك
* ياربّ واسكنّاجنانك
* ياربّ اجرنامن عذابك
* ياربّ وارزقناالشهاده
* ياربّ حطنابالسعاده
* ياربّ واصلخ كلّ مصلح
* ياربّ وكف كلّ موءذي
* ياربّ نحتم بالمشفّع
* ياربّ صلّي عليه وسلّم
(اللهم صلّ وسلّم وبارك عليه)

Mohamad Guntur Romli

*Ditulis dalam perjalanan di atas pesawat dari Jakarta menuju Banyuwangi dalam perjalanan #SafariMaulid #YaNabiSalamAlaika #MaulidNabi #MaulidRasul #Mauludan di Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi.

Sumber 

Rindu Ahok, Rindu Pengawal Uang Rakyat
Inspirasi

Rindu Ahok, Rindu Pengawal Uang Rakyat

Oleh: Raja Juli Antoni 
Foto ini diambil oleh wartawan Kompas. Pagi-pagi, pada hari pencoblosan, saya sudah sampai di kediaman Bapak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Saya diajak sarapan bersama dengan Ibu Vero dan dua orang anaknya. Ada bakmi dan potongan buah.
Sambil sarapan, saya sempat sarankan agar beliau memakai baju kotak-kotak. Tapi, beliau bilang, kampanye sudah usai, cuti kampanye sudah selesai, dan, kalah atau menang, ia akan menjadi gubernur untuk semua di sisa masa jabatannnya.

Ada benarnya, meski saya tidak setuju secara penuh. Saya sampaikan keberatan saya. Sebelum ada keputusan KPU, menurut saya, Pilkada belum usai. Memakai baju kotak-kotak sebagai simbol pergerakan relawan akan membantu menguatkan mental dan moral para pemilih. Paling tidak, ini usaha terakhir sebelum tawakal kepada Tuhan.

Tapi, Pak Ahok tetap kekeh menolak dengan alasan di atas yang dia ulangi. Keputusan di tangan beliau. Saya tidak bisa memaksa. Tepatnya, siapa yang bisa memaksa seorang Ahok.

Setelah sarapan, Pak Ahok memasang sepatu di sebuah sudut bagian rumahnya, di mana di sana ada celo punya Bu Vero. Ketika itulah foto ini ternyata, diambil oleh seorang wartawan. Ini link beritanya.

Tapi, bukan itu hal pokok yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini. Sebagai pendatang baru di belantara politik Indonesia, saya beruntung didapuk menjadi jubir tim pemenangan Pak Ahok.

Saya punya kesempatan mencurahkan segala yang saya bisa dari lingkaran paling dalam untuk membantu pemenangan Pak Ahok agar kembali menjadi gubernur. Bagi saya, dan mungkin juga Anda, pertarungan politik kemarin bukan soal Ahok secara personal, tapi spirit kebaruan yang ia tawarkan dan praktikkan yang mesti diteruskan bahkan ditularkan.

Di antara kebaruan itu adalah pengelolan anggaran, uang rakyat, secara transparan. E-budgeting adalah warisan yang paling penting ditinggalkan Ahok. Rakyat secara partisipatif dapat melihat ke mana anggaran publik dialokasikan bahkan sampai satuan tiganya (tidak hanya gelondongannya saja).

Dari sistem itulah dulu kita mengetahui harga UPS-nya #SaveHajiLulung, upaya perampokan uang rakyat hasil kongkalingkong eksekutif dan legislatif.

Bagian dari sistem e-budgeting itu, Ahok in charge menyisir tiap item anggaran, satu per satu. Staf Ahok yang paling dekat dengannya bercerita, bila musim pembahasan anggaran tiba, Ahok dan stafnya akan pulang lewat tengah malam dan datang ke balaikota lebih pagi.

Agendanya tunggal: mengecek satu per satu usulan penggunaan anggaran rakyat agar tepat sasaran, tidak mubazir, dan jauh dari korupsi. Ia menjadi punggawa dan benteng terakhir menjaga uang rakyat dengan segala risikonya.

Riuh rendah kontroversi kenaikan anggaran staf gubernur (TGUPP), kolam “air muncrat” DPRD, biaya operasional dan kunker DPRD, harga parfum dan AC dan lain sabagainya, mesti dilihat secara positif sabagai bagian dari legacy Ahok. Rakyat diajarkan untuk melek anggaran, mengkritisi politik anggaran pemerintah.

Pada akhirnya, keberpihakan pemerintah diukur dari politik anggaran, bagaimana mengalokasikan anggaran bukan dari retorika dan kata-kata. Bila seorang gubernur beretorika tentang keadilan dan keberpihakan, lihat saja apakah anggaran untuk rakyat biasa porsinya naik atau turun. Apakah subsidi bahan pokok, daging, telur, dan beras masih dialokasikan.

Begitu pula jaminan layanan kesehatan dan pendidikan untuk rakyat, apakah masih tersedia. Ujungnya, sekali lagi, orientasi keberpihakan seorang pemimpin tidak dilihat dari kata-kata, tapi pola penganggaran yang nyata.

Seperti Anda, saya tidak pernah menyesal berjuang bersama Ahok dan nilai-nilai yang ia tegakkan. Bahkan, saya bangga pernah bangun subuh hari dan tidur lewat tengah malam untuk menyertainya ke mana saja, termasuk mengantarkannya ke TPS pada hari pencoblosan.

Kita telah melawan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya!

Raja Juli Antoni

Sekretaris Jenderal PSI

Sumber

Tsamara Amany: Antara Soekarno, Jokowi, dan Ahok
Inspirasi

Tsamara Amany: Antara Soekarno, Jokowi, dan Ahok

Coba singkirkan dulu pemikiran tentang parasnya yang rupawan dengan senyumannya yang menawan, sebab perempuan ini tak sedang menapaki tangga selebritas.

Bedahlah benaknya, kuliti aktivitas kesehariannya, maka terjawablah mengapa ia sampai menjadi salah satu Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Bidang Eksternal Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Dialah Tsamara Amany Alatas. Ia wujud dari generasi milenial – yang akrab dengan komunikasi, media, dan teknologi digital—yang kini mewarnai dinamika panggung politik negeri ini.

Belum tercemar politik negatif, ia masuk dunia politik dengan semangat antikorupsi dan intoleransi. Tsamara berpandangan bahwa korupsi adalah penyakit yang menggerogoti bangsa dan negara.

Karena itu ia melawannya dan mendukung Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK). Ia juga yang menjadi co-founder gerakan Perempuan Politik yang diinisiasi sejak April 2016.

Semua yang dilakukannya itu dengan langkah kaki yang ringan. Sebab pundaknya tak terbebani latar belakang keluarga yang bercitra negatif di mata publik.

Ayahnya, Muhammad Abdurachman Alatas yang seorang pengusaha itu, tak memiliki riwayat sengkarut benang kusut yang merugikan publik. Ibunya, Nabila Zain Ba’abud, telaten mendidik putrinya dari sisi seorang perempuan.

Kendati serba berkecukupan pasangan suami istri, Muhammad-Nabila, tak memanjakan putrinya. Mereka membentuknya agar menjadi perempuan mandiri, pekerja keras, dan rendah hati. Sebab karakter seperti itu dianggap pas untuk Jakarta dengan kompetisi kehidupan yang ketat.

Mereka memulai menempanya dengan menantang Tsamara apakah berani jualan pecel lele atau tidak?

Singkat cerita, Tsamara sukses berdagang pecel lele. Tapi ia tak mengambil keuntungannya, malah memberikannya pada para pekerja di restorannya.

“Saya berfikir, keuntungan untuk mereka saja sebab telah bekerja dari pagi sampai malam,” ujar Tsamara.

Muhammad memaklumi sikap putrinya yang menyimpang dari logika bisnis itu.

Kagumi Soekarno, Idolakan Jokowi

Lahir di Jakarta pada 24 Juni 1996. Menghabiskan masa kecilnya hingga masuk ke dunia politik, ia tetap berada di Jakarta. Tak heran jika ia sangat memahami seluk beluk Jakarta.

Didikan ayahnya yang tanpa manja-manja, membuat Tsamara harus rajin belajar. Tak heran jika ia gemar membaca. Sehingga di dalam kamarnya banyak buku berserakan.

Salah satu karya yang menancap dalam benaknya berjudul “Di Bawah Bendera Revolusi”.

Ya, itu adalah buku berisi butiran – butiran pemikiran Proklamator Ir Soekarno. Di sinilah ia mulai mengenal dunia politik. Ia kagum terkesima dengan pemikiran politik Presiden RI yang pertama itu.

Seokarno, menurut Tsamara, semakin sempurna karena memiliki Wakil Presiden M. Hatta. “Soekarno pemilik gagasan, Hatta melaksanakan administrasi kenegaraan,” katanya.

Tsamara makin jatuh hati pada politik tatkala muncul sosok Joko Widodo berkibar di negeri ini. Bahkan bisa Jokowi terpilih menjadi Presieden RI tahun 2014.,Dari kemunculan Jokowi, Tsamara menjadi yakin negeri berpeluang untuk bersih dan maju.

Ia sudah mengagumi Jokowi sejak menjabat sebagai Walikota Solo, kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta. Apalagi ketika itu, Jokowi memiliki pasangan yang dianggapnya hebat, yaitu Basuki Tjahaya Purnama yang akrab disapa Ahok.

Terinspirasi Ahok

Titik penting langkah Tsamara adalah ketika ia diterima menjadi mahasiswi magang untuk staf gubernur di Balai Kota DKI. Apalagi sosok Gubernur DKI Jakarta waktu itu memang ia kagumi, yaitu Ahok yang menggantikan Jokowi yang terpilih menjadi Presiden RI.

Selamat empat bulan magang, Tsamara mendapat pembelajaran banyak hal, selain politik juga pelayanan publik. Ahok menugaskannya untuk mengawasi para pelayan masyarakat mulai dari tingkat kelurahan.

Memang ada juga pejabat kelurahan yang meradang, sebab Tsamara membuat laporan sejujurnya. Belakangan para pejabat di kantor gubernur memberi pemahaman kepada para lurah, bahwa Tsamara memang ditugaskan mengawasi kinerja para pelayan masyarakat agar tidak menyimpang sehingga bisa berujung pemecatan.

Selain itu, Tsamara juga ditugaskan untuk ikut merumuskan proses perizinan usaha dari yang sebelumnya 60 hari menjadi 40 hari.

Rupanya, bersentuhan dengan birokrasi dibawah kepemimpinan Ahok, membuat, Tsamara semakin menemukan jati dirinya. “Saya merasa ada kontribusi yang lebih konkret banget ke masyarakat. Masyarakat merasakan apa yang saya lakukan itu jadi ada manfaat buat mereka,” kata Tsamara.

Akhirnya, Ahok menjadi sosok yang menginspirasinya untuk masuk ke dunia politik. “Selama saya kerja empat bulan itu, saya melihat kinerja dia, saya terinspirasi dengan itu,” kata dia.

Ia pun meminta masukan Ahok mengenai keinginannya masuk ke dunia politik praktis. “Saya ketika terjun ke politik meminta nasihat beliau ya, karena memang beliau sosok yang menginspirasi saya. Dia (Ahok) mengajari saya banyak hal tentang pemerintahan,” kata Tsamara.

Setelah itulah, Tsamara total masuk politik. Kini, ia pun masuk salah satu calon legislatif dari PSI untuk daerah pemilihan (dapil) DKI 2 yang meliputi Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Ketua Umum PSI Grace Natalie mengatakan, “melalui PSI kita akan mengguncang politik Indonesia!”

Mereka Respek pada Tsamara

Keputusan Tsamara terjun ke dunia politik mendapat sambutan positif. Bahkan pada Rabu 26 April 2017, beberapa jam terlihat tagar #TsamaraGabungPSI menjadi percakapan utama atau trending topic nomor satu nasional.

Ahok yang saat itu menjabat Gubernur DKI Jakarta melalui rekaman video menyampaikan selamat kepada Tsamara: “Kamu telah melakukan perlawanan, semoga banyak anak muda mengikuti jejak terjun ke politik, melayani pasti diberkati, sekalipun difitnah”.

Kalangan selebritis juga menyambut menyambut hangat keputusan politik Tsamara. “Congrats & good luck buat @TsamaraDKI. Be a beacon of hope!,” cuit sutradara beken Ernest Prakasa yang mengirimkan video selamat melalui akun sosial media.

Musisi dan konduktor terkenal Addie MS mengirim tweet:“Selamat ya Tsamara. Dunia politik Indonesia memerlukan orang muda cerdas dan berintegritas seperti kamu”.

Begitu juga aktris dan musisi Titi Rajo Bintang mencuit: “Semoga Tsamara membuat politik lebih bergejolak, tapi kece, stay humble, buat Indonesia lebih maju lagi”.

Anak muda yang menuntut perubahan banyak, tapi yang mau melakukan perubahan jarang, apalagi yang mencoba dari dalam, tweet rapper J Flo. “Gua respek¸ gua berharap one day Tsamara jadi gubernur perempuan pertama, all the best for you, you got it, good luck,” kata J Flo.

Tak kurang, host senior selevel senior Wimar Witoelar pun menyediakan acaranya untuk Tsamara – tokoh milenial ini – dalam acara bertajuk “Understanding Millennials”.

Nah, ketika bersua Presiden Jokowi, Tsamara bilang begini: “Sebagai sosok yang begitu saya hormati, saya minta didoakan oleh Pak Presiden. Oh ya, Pak Presiden juga sempat nanya. “Katanya mau ngevlog sama @Kaesang?” Wah usulan menarik ini, Pak.” []

Sumber

Memudakan Politik Indonesia
Blog Solidaritas Inspirasi Opini

Memudakan Politik Indonesia

Oleh: Saidiman Ahmad

Kabar baik itu datang dari Partai Solidaritas Indonesia. Di usianya yang masih muda, mereka merekrut bakal calon anggota legislatif secara terbuka. Semua warga negara diberi kesempatan mendaftarkan diri. Sejumlah tokoh profesional diberi wewenang untuk mewawancarai setiap kandidat yang lulus persyaratan administratif.

Wawancara disiarkan secara langsung melalui media sosial, seperti Facebook, Instagram, Periscope, dan Twitter. Para kandidat tidak hanya menghadapi tim independen di ruang tertutup, tetapi juga publik secara umum. Ini adalah tradisi baru yang patut diapresiasi.

Inisiatif yang dilakukan partai dengan cap anak muda ini merupakan sebuah terobosan di tengah persoalan akut yang membelit partai-partai politik mapan di Indonesia. Merit based recruitment ini secara langsung melawan oligarki politik dan praktik kartel yang telah begitu lama mengental dalam perilaku elite dan partai politik kita. Oligarki dan politik kartel bahkan menjadi pandangan dominan para pengamat, media, aktivis, dan publik secara umum. Tidak heran jika dalam banyak jajak pendapat, partai politik menjadi institusi demokrasi yang paling tidak mendapat tempat di hati publik.

Masih terkungkung oligarki

Vedy R Hadiz dan Richard Robison (2013) menyimpulkan bahwa Indonesia pasca-Orde Baru masih dikungkung oleh politik oligarki. Kekuasaan politik dan akses pada sumber daya masih berada di tangan para elite yang itu-itu juga sejak zaman Orde Baru. Jika pun muncul elite dan aktor baru, mereka melakukan dominasi serupa.

Bagi Hadiz dan Robison, oligarki tidak mengenal sistem politik. Ia bisa hidup pada semua bentuk pemerintahan. Dalam setiap perubahan sistem, menurut keduanya, kapitalisme melakukan evolusi. Jika pada masa kediktatoran, kekuasaan para oligarki terpusat, maka desentrasilisasi membuat oligarki menyebar ke seluruh daerah. Elite-elite lokal menjadi raja-raja baru yang dominan dan nyaris tak tergantikan.

Jeffrey A Winters (2013) dalam Oligarchy and Democracy in Indonesia menjelaskan bahwa para oligarch bisa berdiri sendiri dan memerintah, atau masuk ke dalam rezim otoritarian atau demokratis sekaligus. Kekuatan utama mereka adalah uang.

Di sisi yang lain juga terjadi praktik politik kartel. Studi disertasi yang dilakukan Kuskridho Ambardi (2008) menyoroti interaksi antarpartai politik di Indonesia masa Reformasi. Pandangan banyak orang menyatakan bahwa pemilihan umum yang diikuti partai-partai politik adalah cerminan kompetisi antarideologi, cara pandang, dan kekuatan politik.

Meski demikian, Ambardi menemukan bahwa kompetisi antarkekuatan politik itu hanya terjadi pada masa pemilihan umum. Kompetisi berhenti ketika para anggota Dewan terpilih dan eksekutif dilantik. Yang terjadi setelah itu adalah kompromi dan praktik politik kartel. Tidak ada lagi pekik ideologi. Sehabis pemilu, keputusan dan kebijakan tiap-tiap partai didasarkan pada lobi, kompromi, dan bagi-bagi kue kekuasaan.

Lalu, apakah perekrutan bakal calon anggota legislatif Partai Solidaritas Indonesia (PSI) secara terbuka bisa mengurai kebuntuan dunia politik ini?

Sebuah studi yang dilakukan Marcus Mietzner (2013), Fighting the Hellhounds: Pro-democracy Activists and Party Politics in Post-Suharto Indonesia, menarik untuk dibaca. Studi ini mempelajari peran para aktivis yang masuk ke parlemen sejak pemilu pertama Reformasi pada 1999.

Pengaruh aktivis

Di tengah pesimisme pada politik Tanah Air, Mietzner menemukan pengaruh para aktivis di parlemen. Meski tidak semuanya, kehadiran para aktivis di dalam parlemen di awal-awal Reformasi telah mampu membawa perubahan yang cukup berarti.

Ada tiga kanal yang menyalurkan para aktivis masuk parlemen, menurut Mietzner. Pertama, para aktivis di organisasi-organisasi ekstra mahasiswa yang secara langsung maupun tidak memiliki afiliasi pada partai-partai politik. Organisasi-organisasi ini antara lain KAMMI yang dekat dengan PKS, PMII yang dekat dengan partai-partai NU, HMI yang memiliki banyak senior di Partai Golkar, atau IMM yang berada dalam satu kultur keagamaan dengan PAN.

Kanal kedua adalah para aktivis yang di masa Orde Baru bergerak melawan rezim dengan menggunakan pelbagai organ masyarakat sipil. Mereka untuk sementara waktu berada di luar sistem untuk menumbangkan rezim diktator. Setelah demokrasi terwujud, mereka lalu masuk ke dalam sistem melalui partai-partai politik yang ada.

Kanal ketiga adalah para aktivis yang setelah 1998 tetap bergerak di luar parlemen. Mereka konsisten mendesakkan agenda-agenda perubahan. Namun, pada satu titik, ketika gerakan di luar sistem tidak lagi memadai, mereka lalu terjun masuk untuk mengubah dari dalam.

Meski demikian, menurut Mietzner, para aktivis yang masuk parlemen mengalami dua masalah. Di kalangan sesama aktivis, mereka acap kali dianggap sebagai pengkhianat. Sementara di kalangan sesama anggota parlemen, mereka sering dianggap politikus bermental organisasi nonpemerintah.

Walaupun relatif sangat sedikit, tahun 2009 hanya 7 persen atau 37 orang dari 560 anggota parlemen (Kompas 2010, dalam Mietzner 2013), para aktivis yang masuk ke parlemen bisa memberi warna. Hal ini dimungkinkan karena mereka memiliki konsep, cakap dalam berkomunikasi, dan tentu saja piawai dalam berdebat yang telah terasah semasa menjadi aktivis.

Gagasan yang masuk akal dan retorika terlatih membuat mereka dominan dalam perdebatan. Dari situ lahir banyak produk perundang-undangan yang penting antara lain di bidang reformasi militer, partisipasi politik perempuan, sampai pada undang-undang desa.

Rekrutmen politik terbuka yang dilakukan PSI adalah pintu masuk bagi para aktivis untuk terlibat lebih banyak dalam politik praktis. Dengan menguji para bakal calon anggota legislatif melalui proses wawancara dengan tim independen, kualitas calon bisa terjaga.

Perubahan wajah

Jika perekrutan terbuka yang dilakukan PSI ini berhasil, politik Indonesia akan mengalami perubahan wajah. Anak-anak muda profesional dari pelbagai bidang akan mengisi daftar calon anggota legislatif mereka. Lalu, sebagian mereka akan berhasil masuk parlemen.

Dengan demikian, bukan hanya jumlah aktivis yang akan bertambah, melainkan juga varian yang meluas pada aktivis yang masuk ke dalam parlemen. Rekrutmen terbuka calon anggota legislatif adalah ikhtiar memudakan politik Indonesia. Partai-partai politik dominan perlu melakukan hal serupa.

Saidiman Ahmad

Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC); Alumnus Crawford School of Public Policy, Australian National University

Sumber: Opini Harian Kompas, 22 November 2017