Ajax dan Hector: Kebencian dan Persahabatan
Blog Solidaritas Kolom

Ajax dan Hector: Kebencian dan Persahabatan

Kisah Perang Troya

Oleh: Tsamara Amany

Perang Troya semakin mematikan. Mayat bertebaran di mana-mana.

Dewi Athena ketakutan melihat banyak pejuang Akhaia berguguran dalam peperangan kali ini. Ia cepat-cepat turun dari Olimpus, namun Dewa Apollo yang berada di sisi Troya datang menghadangnya. Apollo khawatir Athena ingin menggunakan kekuatannya untuk mengalahkan pasukan Troya.

Ketika kedua dewa itu bertemu, mereka sepakat agar perang ini tak memakan lebih banyak korban. Lebih baik mereka membujuk Hector, pangeran Troya, untuk menantang pejuang terhebat Akhaia dan melakukan duel.

Tanpa ragu-ragu, Hector berteriak dengan lantang menantang para pejuang-pejuang terbaik Akhaia yang mau berduel dengan dirinya. Pasukan Akhaia dan pemimpinnya terdiam. Mereka takut melawan Hector yang begitu kuat dalam medan perang. Secara bersamaan mereka malu untuk mengakui ketakutan itu.

Karena tak kuasa menahan rasa malu melihat situasi yang ada, Menelaus, adik Raja Agamemnon, menawarkan diri untuk melawan Hector. Agamemnon dengan segera melarang kegilaan adiknya itu.

“Jangan hanya demi persaingan dan rasa sombongmu kamu kemudian buru-buru bertarung dengan Hector. Ia lebih baik darimu. Banyak petarung ciut di hadapannya. Bahkan Akhilles, petarung yang lebih hebat dari dirimu itu, tak berani mengadu dirinya dengan Hector,” ujar sang Raja tertinggi Akhaia. 

Menelaus mengikuti saran Agamemnon. Tapi situasi memalukan ini harus segera diakhiri. Nestor, raja Pylos, lelaki tua yang sangat dihormati di kalangan Akhaia, marah kepada pasukannya.

“Andai saja aku masih muda, Hector akan bertemu lawannya yang sepadan! Kalian, pejuang-pejuang Akhaia yang katanya paling berani, tapi tak satu pun dari kalian memiliki nyali untuk melawan Hector!” kata Nestor kepada pejuang-pejuang Akhaia tersebut.

Tentu saja apa yang diucapkan Nestor sangat mengusik harga diri pejuang-pejuang itu. Apalagi dalam budaya Yunani kuno, konsep kehormatan dan heroisme begitu penting.

Sembilan pejuang akhirnya memberanikan diri. Mereka adalah Agamemnon, Diomedes, Idomeneus, Meriones, Eurypylus, Thoas, Odysseus, Ajax besar (Great Ajax), dan Ajax kecil (Little Ajax). Untuk menentukan siapa pejuang yang akan melawan Hector, kesembilannya pun diundi. Ajax besar mendapat undian tersebut. Ia bersiap melawan pejuang Troya paling tangguh, Hector. 

Ajax dengan gagah berani maju ke dalam arena peperangan, menjawab tantangan Hector, dan siap bertarung secara head to head melawannya. Melihat itu, Hector yang awalnya lantang menyuarakan tantangan ini gelisah melihat Ajax yang maju mendekat ke arahnya.

“Kini kamu akan belajar, Hector, bagaimana kehebatan pejuang-pejuang pasukan Akhaia!” ujar Ajax dengan nada mengancam.

Hector menjawab ancaman meremehkan itu dengan tegas. Ia meminta Ajax untuk tidak mempermainkannya karena ia tahu betul bagaimana caranya berperang.

Pertarungan sengit itu pun terjadi. Hector hampir saja kalah dalam pertarungan itu ketika Ajax melempar batu besar yang menghancurkan perisainya, namun Apollo datang menyelamatkannya. Ketika pertarungan mulai memasuki babak selanjutnya, Dewa Zeus mengirimkan Thaltybius dan Idaeus untuk menghentikan pertarungan mematikan itu. Dewa Zeus menyanyangi kedua pejuang hebat tersebut.

Karena Hector yang memulai, Ajax hanya ingin berhenti jika Hector yang mengakhiri. Hector mengikuti keinginan Dewa Zeus dan mengakhirinya dengan memuji Ajax sebagai seorang pejuang tangguh yang Akhaia miliki.

Yang mengagumkan dari cerita ini, Hector dan Ajax bertukar hadiah saat mengakhiri pertarungan tersebut. “Agar pejuang Akhaia dan Troya suatu saat akan berkata, ‘Awalnya mereka bertengkar dengan hati penuh kebencian, lalu mereka berpisah dengan ikatan persahabatan’,” ujar Hector kepada Ajax. 

Kisah perang Troya dalam buku ketujuh The Iliad yang diceritakan Homerus begitu inspiratif. Bayangkan saja, Akhaia dan Troya sudah berperang selama sembilan tahun untuk mempertahankan kehormatan masing-masing. Sudah banyak korban dari kedua kubu.

Di tengah peperangan yang seolah tak ada akhir, Hector, kakak Paris si biang keladi perang Troya, menantang pejuang-pejuang Akhaia. Berusaha keluar dari rasa malu, Ajax mewakili Akhaia untuk melawan Hector yang hampir saja kalah dalam duel itu!

Marah, lelah, malu. Entah apa ada kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaan keduanya. Tapi mereka masih mampu untuk saling menghargai dan memberikan teladan kepada generasi penerus Akhaia dan Troya. Mereka tak ingin meninggalkan dendam. Kebencian mampu berubah menjadi persahabatan. 

Coba bedakan dengan apa yang terjadi pada kita hari ini. Pilihan politik merusak hubungan persahabatan dan bahkan hubungan kekeluargaan. Sungguh menyedihkan bagaimana sesuatu yang sejak awal dilandasi cinta dan kasih sayang mampu berubah menjadi kebencian hanya karena perbedaan pilihan politik menjelang Pemilu. 

Polarisasi menjadi semakin tajam seiring waktu. Elite politikalih-alih mendinginkan suasanajustru ikut memperuncing keadaan. Pernyataan yang mengkotak-kotakkan terus diucapkan. Masyarakat sengaja dibelah menjadi dua kubu ekstrem: nasionalis vs religius. Dua kubu yang tak perlu dipertentangkan sama sekali.

Seorang tokoh bangsa yang dihormati turun gunungbukan untuk menginisiasi rekonsiliasi politiktapi terlibat dalam proses polarisasi politik. Masyarakat kehilangan suri teladan. Kita tak memiliki kebesaran jiwa Ajax dan Hector di negeri ini.

Indonesia tak sedang berperang. Kita hanya akan memasuki tahun kontestasi politik untuk mencari pemimpin politik yang paling cocok memimpin negeri ini lima tahun ke depan.

Jika Hector dan Ajax bisa mengakhiri pertarungan berdarah dengan bersahabat, mengapa kita tak bisa tetap bersahabat dan saling menghargai perbedaan pilihan politik? Apakah perbedaan pilihan politik lebih kejam dibanding perang berdarah selama sembilan tahun?

Sumber

PSI Puji Keberanian Via Vallen
Blog Solidaritas

PSI Puji Keberanian Via Vallen

Partai Solidaritas Indonesia memuji keberanian artis Via Vallen berbicara secara terbuka melalui media sosial soal pelecehan seksual terhadap dirinya.

“Sebagai public figure, Via Vallen melakukan langkah besar yang bisa menginspirasi banyak perempuan yang tidak atau belum berani bicara tentang pelecehan seksual terhadap diri mereka,” kata Dara Adinda Nasution, juru bicara PSI untuk pemberdayaan perempuan dan kaum muda, Rabu 6 Juni 2018.

Pernyataan Dara ini dilontarkan untuk menanggapi berita bahwa Via secara berani menyebarkan screenshot pelecehan seksual terhadap dirinya melalui Instagram oleh seorang pemain sepakbola terkenal di Indonesia. Dalam pesan Instagram itu, pria tersebut menulis: “I want you sign for me in my bedroom, wearing sexy clothes.”

Menurut Dara, tidak mudah bagi seorang perempuan untuk bicara terbuka tentang pelecehan seksual terhadap dirinya. “Banyak perempuan memilih diam karena merasa takut, cemas, tidak berdaya atau merasa tidak pantas untuk mengungkapkan apa yang dialaminya pada orang lain,” ujar Dara. “Diamnya korban pelecehan seksual ini jusru bisa mendorong terus berlangsungnya praktek-praktek pelecehan baik di ruang publik maupun ruang privat.”

Dara menegaskan, pelecehan seksual tidak boleh dianggap remeh dan dianggap normal. “Yang terjadi pada Via, meski tidak melibatkan kontak fisik, juga termasuk pelecehan yang membuat korban tidak nyaman,” kata Dara. “Kita tidak boleh membiarkan pelaku merasa bahwa apa yang dilakukannya diterima oleh masyarakat.”

Data Biro Pusat Statistik menunjukkan satu dari tiga perempuan di Indonesia pernah mengalami kekerasan seksual, baik fisik maupun non-fisik. “Data ini sendiri hanya mewakili puncak dari gunung es. Kondisi riil pasti lebih tinggi, karena banyak kasus tidak dilaporkan atau tidak diakui. Karena itu, support terhadap korban sangat penting,” ujar Dara.

Dara sangat menyayangkan masih banyak orang, apalagi sesama perempuan, yang malah menyalahkan Via. “Ada saja orang yang menganggap Via cuma cari panggung, lebay, dan lain-lain,” katanya.

“Tindakan menyalahkan korban ini akan melemahkan keberanian korban-korban pelecehan untuk bersuara,” ujar Dara. “Seharusnya kita mendukung perempuan yang berani bicara terbuka. Kalau kita menyalahkan korban, berarti kita ikut mendukung pelaku dan melakukan peremehan pelecehan seksual. Kita harus menciptakan ekosistem yang bisa membuat korban merasa aman untuk berbicara.”

#PSI #PSINomor11 #PelecehanSeksual

Konsep Kehormatan Yunani Kuno 
Blog Solidaritas

Konsep Kehormatan Yunani Kuno 

Oleh: Tsamara Amany

Kisah Perang Troya

Salah satu penggalan kisah menarik yang diceritakan Homerus dalam buku keenam epik Yunani The Iliad adalah pertemuan antar Glaucus dan Diomedes di tengah peperangan Troya.

Diomedes – setelah berhasil mengalahkan banyak pejuang Troya dan bahkan menyakiti para Dewa –  tertarik dengan sosok Glaucus yang berani berhadapan dengannya. Diomedes khawatir Glaucus sebenarnya seorang dewa yang menyerupai manusia. Ia tak mau lagi menyerang para Dewa karena sadar akibatnya akan fatal di kemudian hari.

Namun Glaucus bukanlah dewa. Ia hanyalah seorang pejuang dengan cerita. Dalam suasana perang yang begitu mencekam itu, Glaucus menceritakan kepada Diomedes bahwa kakeknya Bellerophon adalah seorang yang begitu tampan dan luar biasa. Orang memanggilnya dewa karena ia tak pernah berbuat salah. Bellerophon menikah dengan putri Raja Lycia dan kemudian memiliki tiga orang anak: Isander, Hippolochus, dan Laodamia.

“Aku bangga menyatakan bahwa Hippolochus adalah ayahku. Dia mengirimku ke Troya. Pesannya masih nyaring terdengar di telingaku. ‘Jadilah yang terbaik, anakku, jadilah seorang yang paling berani. Tegakkan dengan tinggi kepalamu di atas yang lain. Jangan memalukan generasi leluhurmu. Mereka adalah orang-orang pemberani dan hebat yang lahir di Korinthos, di Lycia, dan sekitarnya’. Itulah garis keturunanku, darah biru yang aku miliki!” cerita Glaucus.

Setelah menyadari bahwa ada keterkaitan antara leluhur mereka, keduanya tak saling membunuh dan justru bertukar baju perang sebagai bentuk penghormatan terhadap persahabatan antar keluarga. Tapi poin penting yang harus digaris bawahi di sini adalah betapa pentingnya mengetahui garis keturunan seseorang dalam Yunani kuno.

Kolom sebelumnya menjelaskan bagaimana Diomedes diharapkan mampu menjadi seperti ayahnya, Tydeus, seorang pejuang hebat yang berhasil menaklukan kota Thebes.

Sebenarnya dalam The Iliad, justru kita dapat memahami bagaimana Homerus sendiri sebagai sosok yang menceritakan kisah perang Troya ini mementingkan garis keturunan dari setiap tokoh yang ia ceritakan.

“Bucolion, son himself to the lofty King Laomedon,
first of the line, though his mother bore the prince 
in secrecy and shadow.” (6.26-28)

“Take me alive, Atrides, take a ransom worth my life! 
Treasures are piled up in my rich father’s house, 
bronze and gold and plenty of well-wrought iron—
father would give you anything, gladly, priceless ransom 
if only he learns I’m still alive in Argive ships!” (6.54-58) 

“But the son of Cronus, Zeus, stole Glaucus’ wits away. 
He traded his gold armor for bronze with Diomedes, 
the worth of a hundred oxen just for nine.” (6.280-282)

Tiga kutipan di atas adalah sedikit contoh bagaimana Homerus tidak pernah luput untuk menyebutkan siapa orangtua atau ayah, khususnya dari tokoh yang ia ceritakan. Kita bisa melihat ia menyebut Bucolion sebagai anak dari Raja Laomedon, menyebut Atrides untuk memanggil anak Atreus, Agamemnon dan Menelaus, dan menyebut Cronus sebagai ayah dari Dewa Zeus.

Sekali lagi, ini hanyalah sedikit contoh. Jika kita membaca setiap buku dalam The Iliad, Homerus selalu menekankan tentang “anak siapa”.

Dalam buku keenam ini, diceritakan pula tentang Hector yang kembali ke kotanya, Troya. Semua orang, terutama istrinya Andromache, resah memikirkan suaminya karena kematian jauh lebih dekat dibanding kemenangan. Hector menggendong putranya yang masih bayi itu dan berdoa untuknya.

Menariknya, ia bukan mendoakan keselamatan putranya. “Dewa Zeus, berikan anakku kemuliaan di antara para pasukan Troya, jadikan ia berani dan kuat sepertiku, dan mampu memerintah Troya. Agar kelak mereka bisa berkata, ‘Dia lelaki yang lebih baik dari ayahnya!’” begitulah doa Hector kepada Dewa Zeus.

Doa Hector sebenarnya menjelaskan kepada kita bahwa cerita-cerita mengenai garis keturunan yang ada dalam The Iliad menunjukkan kuatnya konsep kehormatan dalam Yunani kuno. Konsep kehormatan yang dimaksud dalam hal ini adalah menjaga nama baik keturunan atau keluarga. Setiap pejuang, baik itu dari Akhaia maupun dari Troya, diharapkan mampu menjaga kehormatan keluarga dengan menjadi pejuang-pejuang terbaik dalam medan peperangan.

Mereka harus mampu membuktikan bahwa mereka sama baiknya – kalau tidak lebih baik – dari leluhur mereka. Jika mereka tak mampu membuktikan, itu akan menjadi penghinaan dan mencoreng nama baik keluarga. Persis seperti yang dinyatakan Raja Agamemnon kepada Diomedes dalam buku empat.

Apa ini? Kau, putra Tydeus, si pemikat kuda yang terampil? Mengapa meringkuk di sini? Hanya bisa menatap lorong-lorong pertempuran! Malu dan berada di belakang garis bukanlah cara Tydeus.

Sejak itu Diomedes dalam buku-buku selanjutnya membuktikan bahwa ia juga sehebat ayahnya. Bahkan akhirnya Helenus, anak Priam, mengakui bahwa Diomedes adalah pejuang Akhaia terkuat saat itu.

Konsep kehormatan keluarga yang ada dalam Yunani kuno sebenarnya secara langsung atau tidak langsung telah menciptakan fanatisme buta terhadap golongan. Sebab, mereka tak melihat lagi apakah yang dilakukan oleh leluhur mereka salah atau benar. Yang terpenting bagi mereka adalah melanjutkan tradisi pembuktian kekuatan dalam medan peperangan. Mereka telah menanggalkan sisi kritis dalam melihat sejarah dan masa lalu para leluhur.

Di sisi lain, cara pandang semacam ini juga telah melahirkan dinasti-dinasti politik yang dibayangkan akan mampu merealisasikan kehebatan leluhur mereka yang memiliki kontribusi besar terhadap bangsa. Persoalannya, kehebatan ayah, ibu, kakek, atau nenek di masa lalu tak selalu menentukan keturunannya akan menjadi sehebat itu pula.

Karena itu, kita sering kali kecewa ketika anak tokoh besar tidak mampu menghasilkan ide atau gagasan brilian seperti ayah atau ibu mereka. Padahal ekspektasi pada seseorang yang dilandasi nama besar keluarga seperti itu hanya membuat kita berkutat pada cara pandang yang kuno.

Biarkanlah seseorang membesarkan namanya sendiri dengan pembuktian. Jika ia mampu membuktikan, itu karena dirinya dan kerja kerasnya, bukan karena “anak siapa”. Itu langkah awal kita mengganti cara pandang kuno dan menuju cara pandang modern: meritokrasi.

Ketua DPP PSI

Sumber

Ngaji di PSI: Keislaman, Keindonesiaan & Kemanusiaan
Blog Solidaritas

Ngaji di PSI: Keislaman, Keindonesiaan & Kemanusiaan

Bro dan Sis, yuk kita peringati turunnya kitab suci Al-Quran di basecamp DPP PSI. Ada Rais Syuriah PBNU, K.H. Ahmad Ishomuddin yang bakal mengisi ceramahnya. Ada juga khataman Al-Quran dan pertunjukan marawis. Kita juga bisa berbuka puasa bersama dengan pengurus pusat DPP Partai Solidaritas Indonesia. Kamu bisa konfirmasi kehadiran kamu di 0821-2827-5242

 

Selamat Jalan, Pak Dawam
Blog Solidaritas

Selamat Jalan, Pak Dawam

PSI berduka cita atas kepergian M Dawam Rahardjo. Dalam hidupnya, almarhum telah memberikan banyak buat Indonesia.

Pada masa muda, ia bergelut sebagai pemikir ekonomi, mengembangkan pemikiran alternatif dari road map pembangunan era Orde Baru. Ia juga menempa banyak anak muda yang memenuhi panggilan idealisme sebagai aktivis LSM.

Kelak, Pak Dawam juga lantang bersuara untuk isu-isu toleransi dan pluralisme. Ia memperjuangkan keberagaman dari ancaman mereka yang hendak menyeragamkan, yang ingin menyingkirkan “the other”.

Selamat jalan, Pak Dawam. Semoga tenang di sisi-Nya.

#PSI #PSINomor11 #SamaSama #DawamRahardjo

PSI: Yang Muda Yang Berpartai
Blog Solidaritas

PSI: Yang Muda Yang Berpartai

Penulis: Uly Siregar

Jangankan merepotkan diri bergabung dengan partai politik, yang enggan menggunakan hak pilih pun masih gampang ditemui. Tapi jangan tanya berapa banyak anak muda yang bawel di Twitter mulai dari soal politik hingga isu-isu feminisme. Saking bawelnya, mereka bahkan seringkali dicap sebagai pasukan SJW (social justice warrior) yang hanya jago berkicau di medsos.

Keengganan anak muda berpartisipasi secara aktif di ranah politik,atau menggunakan hak pilih mereka tak hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat, sebuah survei nasional dengan responden usia 18-29 tahun yang diselenggarakan oleh Harvard’s Institute of Politics (IOP) menyebutkan terdapat ekspektasi yang sangat rendah untuk berpartisipasi dalam pemilu paruh waktu. Hanya kurang dari 23 persen anak muda Amerika Serikat yang menyatakan pasti mencoblos di bulan November. Di antara mereka yang paling mungkin mencoblos, survei juga menemukan bahwa konstituen partai Republik (yang cenderung konservatif) memperlihatkan antusiasme yang lebih tinggi dibandingkan dengan partai Demokrat (yang cenderung liberal).

Bagi anak muda Indonesia, berurusan dengan politik sering membuat gentar

Apalagi perilaku politisi Indonesia sering tak terpuji. Wakil rakyat yang harusnya mengurusi nasib rakyat justru terlibat dengan beragam skandal yang melibatkan jumlah uang yang tak sedikit.

Petinggi-petinggi partai tersangkut beragam kasus korupsi, hingga membuat KPK kewalahan. Pejabat daerah mengumbar kekayaan yang jumlahnya menjadi berlipat ganda hanya sesaat setelah menjabat. Singkat kata, politisi Indonesia membawa citra negatif. Akibatnya, buat anak muda Indonesia, politik itu nyaris identik dengan perebutan kekuasaan agar bisa memperkaya diri, bukan memperbaiki nasib rakyat. Politik itu busuk, tak seindah seperti memajang foto terbaik di Instagram, atau segampang menyinyiri kepemimpinan Presiden Jokowi di status Facebook, atau seasyik berperang kata-kata di Twitter.

Bergabung dengan partai politik bukan ide yang akrab bagi anak muda Indonesia. “Rendahnya minat anak muda terjun politik bisa dimaklumi karena sebagian besar partai yang ada selama ini didominasi ide-ide yang bagi anak muda dianggap usang, klise, dan tidak menawarkan sesuatu yang segar. Praktik korupsi dan tindak tanduk politik lama membuat publik apalagi anak muda apatis. Tingkat kepercayaan publik terhadap DPR dan parpol kini mencapai titik terendah,” jelas Andy Budiman, Ketua Tim Kampanye Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Padahal parpol seharusnya berlomba-lomba menarik simpati kaum muda untuk bergabung. Pasalnya, berdasarkan survei SMRC, ‘party ID’ di Indonesia sangatlah lemah. Tak seperti di Amerika Serikat yang masyarakatnya fanatik dalam berpartai, hanya sekitar 20 persen rakyat Indonesia yang mengasosiasikan diri dengan parpol. Sisanya bisa disebut mengambang, berpotensi untuk berpindah dari satu partai ke partai lainnya.

Muramnya dunia politik Indonesia dari sentuhan tangan anak muda generasi Milenial dan generasi Z jelas tak boleh dibiarkan berlarut-larut. Tantangan dan juga kesempatan bagi partai politik adalah meyakinkan mereka untuk mengisi panggung politik Indonesia dengan sosok-sosok baru yang tergolong muda, bertenaga, pandai, berprestasi, dan mau bekerja keras. Juga jauh dari urusan korupsi.

Ide dan gagasan baru

Adalah PSI yang mengklaim diri sebagai mesin politik baru yang mengusung identitas kebajikan dan keberagaman, termasuk ide dan gagasan baru. Ia mencoba meyakinkan rakyat Indonesia—terutama kaum muda—bahwa partai ini tak terperangkap dalam kepentingan politik lama, klientalisme, rekam jejak yang buruk, beban sejarah dan citra yang buruk. PSI juga mengusung semangat feminisme dengan memberi porsi yang besar pada perempuan. Tak hanya dalam jumlah 30 persen perempuan, tapi juga berjanji selalu melibatkan perempuan secara aktif dalam pengambilan keputusan politik.

Selintas, PSI seperti ‘dream party’ di tengah kemuakan rakyat Indonesia akan parpol-parpol besar yang tak putus-putusnya mengecewakan. Dan respon yang muncul pun tak buruk. Sejak berdiri 16 November 2014, terdapat 400 ribu pemegang kartu anggota di seluruh Indonesia. Ditambah dengan jumlah pengurus sekitar 30 ribu, dengan komposisi gender relatif seimbang antara perempuan dan laki-laki.

Tapi perjalanan PSI mengambil hati anak muda Indonesia untuk mau aktif berpolitik jelas tak gampang. Kehadiran PSI tak hanya menuai sikap optimistik, tapi juga skeptis di kalangan anak muda. Beberapa pihak dengan sinis memberi label ‘partai medsos’, partai yang hanya memimpin di kampanye medsos. Eksistensi PSI di medsos diwarnai oleh keriuhan atas pernyataan-pernyataan kontroversial yang muncul dari juru bicara PSI Tsamara Amany Alatas, misalnya. Meskipun, menurut Andy Budiman, kuat dalam kampanye medsos justru memperlihatkan kualitas partai dalam memanfaatkan kemajuan digital yang merupakan dunia masa depan. Menurut Andy Budiman yang juga caleg DPR RI PSI untuk Dapil Jatim I Surabaya-Sidoarjo ini PSI adalah partai yang mempunyai konsep paling jelas mengenai strategi pengembangan digital dan isu perlindungan data konsumen digital. Baiklah.

Tapi realitanya, politik adalah dunia yang tak menarik bagi kaum muda. Sumber daya manusia terbaik, mereka yang muda, cerdas, dan berprestasi lebih bersemangat menapaki dunia profesional daripada menceburkan diri dalam keruwetan dunia politik Indonesia. Akibatnya partai dan jabatan politik justru diisi oleh orang-orang dengan kualitas nomor dua. Mungkin termasuk juga di PSI.

Namun tentu tak adil untuk mengarahkan sinisme pada partai baru seperti PSI yang belum memiliki dosa politik seperti partai-partai pendahulunya. Apalagi ia mengusung semangat anti korupsi. Seharusnya kita mendukung semakin banyak lahirnya partai baru yang bisa menjadi wadah bagi kaum muda untuk berpolitik. Dalam rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jakarta, 17 Februari lalu, PSI dinyatakan resmi sebagai peserta Pemilu 2019. Artinya, satu partai baru menjadi alternatif bagi kaum muda Indonesia untuk dipertimbangkan dan dipilih pada pemilu yang sudah semakin dekat.

Sudah waktunya kaum muda Indonesia mengambil alih kendali politik di tanah air dengan aktif berpolitik dan bergabung bersama parpol. Bila memang muak pada parpol-parpol lama yang sarat dosa, mengapa tak memberi kesempatan pada parpol baru yang belum terbukti ngawur? Tak harus dengan PSI, tentunya. Mungkin pada pemilu berikutnya, kaum muda Indonesia semakin mempertimbangkan untuk bergabung dengan parpol yang ada dan menjadi pembawa perubahan dalam parpol tersebut. Atau, untuk mereka yang lebih progresif, membentuk parpol baru.

Karena ada perbedaan yang sangat antara nyinyir bahkan kritis di Twitter, dengan mereka yang ikut terlibat dalam rapat partai dan turut andil dalam memberikan arahan pada pengambilan keputusan. Dan bila keputusan yang diambil bisa memberikan perubahan yang berarti bagi kesejahteraan rakyat Indonesia, adilkah bila kita sinis pada mereka yang memilih berjuang dengan cara bergabung dalam parpol atau membentuk partai baru?

Uly Siregar

Bekerja sebagai wartawan media cetak dan televisi sebelum pindah ke Arizona, Amerika Serikat. Sampai sekarang ia masih aktif menulis, dan tulisan-tulisannya dipublikasikan di berbagai media massa Indonesia.

Sumber

Soal Polling di Jawa Pos, Mengapa PSI Dizalimi Bawaslu?
Blog Solidaritas Kolom

Soal Polling di Jawa Pos, Mengapa PSI Dizalimi Bawaslu?

Oleh Mohamad Guntur Romli

Saat Bawaslu melaporkan pengurus DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ke polisi (17 Mei 2018) banyak pesan yang masuk ke no WA saya, nadanya hampir sama: mengapa hanya PSI yang dilaporkan?

Para pengirim pesan lebih banyak bukan anggota PSI, kalau anggota PSI mungkin sudah paham serangan terhadap partai politik bisa terjadi kapanpun dan dengan dalih apapun. Mereka yang mengirimkan pesan ke saya, juga menyertakan beberapa hasil jepretan foto-foto materi iklan di media baik online dan cetak, spanduk, baleho, billboard atau Iklan tv dari parpol-parpol lain. Intinya masyarakat umum pun mengerti, PSI sedang “dikerjain” oleh Bawaslu. Karena hanya PSI yang dilaporkan oleh Bawaslu ke polisi, sementara parpol-parpol lain yang memasang materi yang hampir sama dengan polling yang dipasang oleh PSI di Jawa Pos sampai saat ini masih “selamat” dari laporan Bawaslu. Artinya memag PSI dizalimi oleh Bawaslu.

Bawaslu melaporkan pengurus DPP PSI terkait masalah “citra diri”. Polling PSI di Jawa Pos tanggal 23 April 2018 disebut oleh Bawaslu sebagai bagian dari “citra diri” dan pelanggaran terhadap jadwal “kampanye” yang dilakukan oleh PSI karena memuat logo partai dan nomer urut partai. Tapi seolah-olah Bawaslu menutup mata dengan fakta banyaknya materi yang sama yang dilakukan oleh Parpol-parpol lain baik dalam bentuk spanduk, baleho, billboard, iklan di media cetak, online dan tv yang sangat mudah kita temukan dan bertebaran di media sosial atau kalau kita cari melalui mesin google. Hanya “galak” dan “keras” pada PSI, tapi tampak lemah pada parpol-parpol lain, penzaliman Bawaslu pada PSI kalau kata orang Jawa sudah “cetho welo-welo” yang artinya sudah sangat nampak, sangat jelas.

Tiga Bukti Penzaliman Bawaslu terhadap PSI

Apa yang kasat mata dari penzaliman Bawaslu ke PSI? Menurut saya ada tiga hal.

Pertama, Bawaslu melakukan tebang pilih, hanya galak pada PSI dan lemas pada parpol lain. Hal ini sangat nyata kalau kita bandingkan antara materi polling PSI di Jawa Pos tanggal 23 April 2018 dengan materi dari PAN dan Demokrat esok harinya di koran yang sama: Jawa Pos, 24 April 2018. Polling PSI menampilkan foto Joko Widodo dan kandidat kabinet Jokowi, dan benar ada logo PSI dan nomer urut yang menurut Pengurus PSI adanya logo parpol untuk menyatakan polling ini dimuat oleh organisasi yang jelas. Demikian pula materi iklan PAN dan Demokrat pada tanggal 24 April 2018, selain memuat foto Ketua Umum Parpolnya masing-masing (ini yang tidak ada di materi polling PSI, tidak ada satu pun foto pengurus PSI!), PAN dan Demokrat juga memuat logo parpol dan nomer urut. Tapi, meskipun materi PSI berjarak hanya satu hari dari materi PAN dan Demokrat, Bawaslu melakukan gerak secepat kilat untuk memproses PSI, sampai-sampai sudah dilaporkan ke polisi. Bagaimana dengan materi PAN dan Demokrat? Tak ada kabar jelas hingga saat ini, katanya Bawaslu sedang “mendalami dugaan pelanggaran kampanye parpol” tapi apa parpolnya hingga tulisan ini diketik dengan dua jempol, tak ada kabar dari Bawaslu. Perlakuan yang berbeda oleh Bawaslu terhadap materi PSI dengan PAN dan Demokrat yang dimuat di koran yang sama hanya berjarak satu hari, dengan logo dan nomer urut parpol, inilah diskriminasi alias penzaliman yang dilakukan Bawaslu terhadap PSI. Meskipun, entah kapan, misalnya, kalaupun Bawaslu menetapkan PAN dan Demokrat bernasib yang sama dengan PSI, tidak menutup fakta bahwa telah terjadi proses yang diskriminatif yang dilakukan oleh Bawaslu terhadap PSI. Bawaslu menempuh jalur cepat pada PSI, tapi mengambil jalur lambat, bahkan seperti sengaja melalui jalur macet untuk memproses PAN dan Demokrat.

Kedua, pengaduan soal dugaan pelanggaran terhadap PSI bukan berasal dari aduan warga masyarakat, tapi berasal dari Komisioner Bawaslu langsung: Sdr Afifuddin. Komisioner yang mengadu dan memproses langsung dugaan pelanggaran PSI bukan hal haram, tapi “aneh”, ditambah dengan proses yang diskriminatif terhadap PSI bila dibandingkan dengan PAN dan Demokrat, apakah proses terhadap materi PAN dan Demokrat yang hingga saat ini masih macet entah di mana dan dengan alasan apa, juga diadukan langsung oleh Komisioner Bawaslu? Kalau Sdr Afifuddin yang tinggal di Jakarta, menemukan iklan Jawa Pos yang banyak beredar di Jawa Timur bisa dengan cepat menemukan materi PSI tanggal 23 April 2018 tapi tidak menemukan materi PAN dan Demokrat tanggal 24 April 2018, hal ini merupakan keanehan yang bisa masuk rekor MURI. Apalagi proses terhadap PSI yang sedemikian cepat, sementara materi PAN dan Demokrat yang hanya berjarak sehari hingga saat ini tak ada kabar beritanya.

Ketiga, saat melaporkan ke Polisi, Bawaslu ingin segera polisi menetapkan “tersangka” pada pengurus PSI.

“Kepolisian segera menetapkan tersangka untuk selanjutnya masuk dalam proses penuntutan,” kata Abhan, saat membacakan hasil temuan Bawaslu, di kantor Bawaslu, Jakarta (dikutip dari kompas.com Kamis, 17/5/2018).

Tuntutan Bawaslu ini tidak hanya melanggar asas praduga tidak bersalah tapi juga menimbulkan keanehan dan kecurigaan. Bawaslu sudah sangat cepat memproses, memutuskan dan melaporkan PSI ke polisi, tapi masih macet memproses materi PAN dan Demokrat meski sama-sama memasang materi di Jawa Pos yang hanya beda jarak satu hari, kemudian minta polisi segera men-tersangka-kan pengurus DPP PSI. Ada apa dengan Bawaslu?

Saat saya menulis dan menekankan penzaliman Bawaslu pada PSI apakah karena PSI takut proses hukum? Atau ingin mengajak kawan masuk penjara dari parpol lain? Kami tegaskan tidak! Yang kami masalahkan adalah perbedaan yang jomplang antara proses, prosedur, tempo dan tindakan yang dilakukan Bawaslu terhadap PSI dibandingkan dengan PAN dan Demokrat yang memasang materi yang sama di koran yang sama yang hanya berselang satu hari.

Perbedaan “Citra Diri” dan “Fakta/Identitas Diri”

Pandangan saya, materi PSI, PAN dan Demokrat bukanlah pelanggaran terhadap kampanye. Saat ini parpol-parpol sedang membuka caleg, cawapres, capres untuk maju pada Pemilu 2019. Parpol-parpol menyebarkan informasi pendaftaran ini baik dalam bentuk iklan atau advertorial yang berisi informasi pembukaan caleg, cawapres, capres, bagaimana mungkin ini disebut pelanggaran kampanye. Dalam UU Pemilu disebutkan, kampanye itu di Pasal 274 adalah kegiatan peserta pemilu untuk meyakinkan pemilu untuk visi misi program kerja partai politik. Baik dalam materi PSI, PAN dan Demokrat tidak ada pemuatan visi, misi dan program kerja parpol. Kalau hanya logo dan nomer urut parpol apakah bisa disebut citra diri? Bagi saya logo parpol dan nomer urut bukan citra diri tapi “fakta diri”, karena citra diri adalah imaji yang dilekatkan yang berasal dari luar diri. Contohnya setiap manusia memiliki identitas dan fakta diri, dari nama, tempat kelahiran dll ini yang disebut fakta atau identitas diri, bukan citra diri. Tapi akan disebut citra diri apabila ada sebutan dan citraan yang sengaja dibangun untuknya. Orang yang baik, soleh, lurus dll adalah citra diri, tapi kalau hanya nama, identitas dll yang menunjukkan fakta diri bukanlah citra diri.

Logo PSI dan nomer urutnya bukanlah citra diri tapi fakta dan identitas diri parpol, tapi slogan yang dipasang PAN di hari setelahnya dengan kalimat: Pro Rakyat Pro Umat bisa disebut citra diri, tapi logo PAN dan nomer urutnya bukan citra diri.

Walhasil, adanya perlakuan yang berbeda terhadap PSI dari Bawaslu dibanding dengan materi PAN dan Demokrat yang dimuat di koran yang sama, yang hanya berselang satu hari, materi PSI dimuat tanggal 23 April 2018 sementara materi PAN dan Demokrat dimuat 24 April 2018, tapi proses terhadap PSI yang sangat cepat dan super kilat, sedangkan pada Demokrat dan PAN yang lambat dan macet, sudah jelas-jelas, Bawaslu melakukan diskriminasi dan penzaliman terhadap PSI.

Wallahu A’lam

Mohamad Guntur Romli, Caleg Partai Solidaritas Indonesia (PSI)

Medsos 101: Milenial Melawan Radikalisme!
Blog Solidaritas

Medsos 101: Milenial Melawan Radikalisme!

Radikalisme dan terorisme menemukan tempat baru untuk menyebarkan paham: media sosial. Para milenial yang menghabiskan mayoritas waktunya di media sosial harus waspada dan turut memerangi keberadaan mereka.

Partai Solidaritas Indonesia berkolaborasi dengan 3 influencer sosial media yaitu Shafiq Pontoh (Chief Strategic Officer Provetic Indonesia), Milly Ratudian Purbasari (Influencer, Pegiat Indonesia Berkebun) dan Anggun “Goenrock” Adi Prasetya (Youtuber dan Videografer).

Bro dan Sis bisa belajar cara membuat konten positif untuk memerangi konten-konten berbau kekerasan dan persekusi yang makin marak di sosial media kita. Acara ini akan dilaksanakan:

Tempat: DPP Partai Solidaritas Indonesia (Jalan Wahid Hasyim no. 194, Tanah Abang, Jakarta Pusat)
Waktu: Jum’at, 25 Mei 2018, 15.00 s/d selesai (acara diakhiri dengan buka puasa bersama)

Acara ini GRATIS dan terbuka untuk umum. Untuk registrasi, silahkan hubungi narahubung 087883888908 (Vanni).

Netizen Dukung Perlawanan PSI Terhadap Bawaslu
Blog Solidaritas

Netizen Dukung Perlawanan PSI Terhadap Bawaslu

 Bro dan Sis, netizen mendukung perlawanan PSI terhadap Bawaslu dengan hashtag atau tagar #MelawanBersamaPSI. Dengan lebih dari 10.000 cuitan sampai Rabu 23 Mei 2018 pagi, hashtag tersebut terus bertahan sebagai trending topic di Twitter.

Ya, ini terkait pemeriksaan sejumlah pengurus PSI, Selasa 22 Mei 2018, di Bareskrim Polri perihal dugaan kampanye di luar jadwal oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI. Ini terkait materi pengumuman polling cawapres dan susunan kabinet Jokowi 2019 di Jawa Pos edisi 23 April 2018.

Pada pemeriksaan di Bareskrim, hadir Ketua Umum PSI, Grace Natalie, Sekjen Raja Juli Antoni, Wasekjen Satia Chandra Wiguna, dan sejumlah pengurus lain.

Akun @HarSimangunsong dalam cuitannya, misalnya, menyatakan: “Paling greget klo ngeliat kebebasan berjajak pendapat dibungkam. Apakah ini cara tuan untuk melihat anak muda menang? #MelawanBersamaPSI”

Hal yang sama juga diungkapkan oleh akun @rdhs_tio, melalui cuitannya: “Sekali lagi saya bukan kader @psi_id, di sini saya berkomentar karena apa yg dilakukan oleh Bawaslu sungguh aneh, janggal & tidak adil.. Padahal salah satu fungsi parpol itu memberikan pendidikan politik terhadap masyarakat.. #PSIDizalimiBawaslu#MelawanBersamaPSI”

Selain itu, akun @nongandah, mempertanyakan ketidakadilan sikap Bawaslu yang tidak menindak partai lain yang justru melakukan kampanye secara terang-terangan.

“Ini sbg perbandingan aja ya utk bukti #PSIDizalimiBawaslu.partai2 lain malah melakukan kampanye scr terang2an. bahkan ada partai yg anak kecil aja sampai hapal loh marsnya itu didiamkan aja oleh Bawaslu.saya pribadi #MelawanBersamaPSI menuntut keadilan,” tulis @nongandah.

#PSI #PSINomor11 #SamaSama #MelawanBersamaPSI

Bom Surabaya dan Empat Generasi Teroris di Indonesia
Blog Solidaritas Opini

Bom Surabaya dan Empat Generasi Teroris di Indonesia

Oleh: Mohamad Guntur Romli

Bom bunuh diri yang menyerang Surabaya dan Sidoarjo secara beruntun, yang dilakukan oleh tiga keluarga sekaligus, menunjukkan telah lahir generasi baru teroris dan memulai babak baru terorisme di Indonesia.

Sebelum ini Bom Bali Bali I tanggal 12 November 2002 adalah permulaan dari babak terorisme di Indonesia, baik dari sisi generasi, modus aksi, bahan peledak, sasaran dan keterlibatan jaringan teroris internasional.

Secara kronologi generasi teroris di Indonesia bisa dibagi menjadi empat. Generasi pertama yang berasal dari kelompok teroris lokal: Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dari tahun 1950-1980, Generasi kedua yang dilakukan Jamaah Islamiyyah (JI) dari tahun 1980-2001, Generasi Ketiga merupakan “Alumni/Veteran Perang Afghanistan” dari Tandzimul Qaidah Osama Bin Laden dengan Bom Bali I 2002. Generasi Keempat, Jaringan ISIS dengan Bom Sarinah-Thamrin 2016 dan Bom Surabaya 2018.

Bom Bali I tahun 2002 bisa disebut babak baru terorisme karena aksi-aksi teror pasca tahun 2002 di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari jaringan Bom Bali I, baik individu-individu yang terlibat langsung dalam Bom Bali I atau pun generasi selanjutnya yang merupakan anak didik rekrutan jaringan Bom Bali I yang melahirkan aksi Bom Bali II tahun 2005.

Dengan keterampilan militer dan merakit bom hasil didikan di kamp-kamp perang Afganistan, Generasi Bom Bali I mampu merakit bom dengan daya ledak tinggi dan tehnik bersembunyi serta menghindari dari kejaran dan pengungkapan aparat. Kita menyaksikan pengejaran aparat keamanan terhadap generasi Bom Bali I yang membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan sampai Generasi Bom Bali I itu mampu melahirkan generasi teroris selanjutnya yang tidak pernah pergi ke Afghanistan.

Bom Bali I juga melahirkan tren baru teroris: bom bunuh diri yang pelakunya dikenal dengan sebutan “pengantin” yang pertama kali dilakukan oleh Iqbal yang menggunakan bom rompi dan meledakkan dirinya di Paddy’s Pub dan Jimi yang menggunakan bom mobil dan meledakkan bersama dirinya saat menyerang Sari Club. Aksi bom bunuh diri tidak dikenal sebelum Bom Bali I 2002.

Generasi Bom Bali I ini pula menguatkan jaringan teroris internasional di Indonesia melalui jaringan Tandzimul Qaidah, baik dari sisi ideologi, pendanaan, pelatihan militer dan merakit bom, serta bantuan-bantuan strategis lainnya. Meskipun kontak dengan jaringan teroris internasional sudah dimulai sejak generasi teroris kedua (Jamaah Islamiyyah), yang asalnya merupakan jaringan teroris Jamaah Islamiyyah di Mesir, bersama kelompok-kelompok lain seperti Tandzimul Jihad dan Jamaah Takfir wal Hijrah, namun dalam generasi kedua ini masih dalam tataran pengaruh ideologi saja. Sementara hubungan Generasi Bom Bali I dengan jaringan teroris internasional Al-Qaidah, tak hanya terpengaruh dari sisi ideologi tapi juga adanya bantuan pelatihan militer, merakit bom dan pendanaan.

Dari Jaringan Al-Qaidah ke Jaringan ISIS

Perubahan aktor jaringan teroris internasional, dengan meredupnya Al-Qaidah dan naiknya ISIS mengubah peta jaringan teroris di Indonesia. Meskipun beberapa aktornya masih jaringan lama, yakni produk Jamaah Islamiyyah (JI) dan Al-Qaidah, namun dengan munculnya ISIS, tak sedikit dari mereka meninggalkan Al-Qaidah dan berbaiat ke ISIS, seperti yang dilakukan oleh Santoso alias Abu Wardah di Poso, Abu Bakar Ba’asyir, Aman Abdurrahman yang merupakan mantan pengikut JI dan Al-Qaidah sebelumnya.

Sedangkan pengikut JI dan Al-Qaidah yang setia, menolak berbaiat ke ISIS tetap memakai jaringan Al-Qaidah dan kelompok baru di Suriah yang terafiliasi ke Al-Qaidah, Jabhah Nusroh. Nama yang bisa disebut dalam jaringan ini adalah Ridwan anak dari Abu Jibril yang bergabung dengan Jabhah Nusroh di Suriah dan tewas di sana. Ridwan dan kawan-kawannya bukan pengikut SIS tapi pengikut Jabhah Nusroh yang terafiliasi dengan Al-Qaidah. Antara ISIS dan Jabhah Nusroh (Al-Qaidah) terjadi persaingan bahkan konflik fisik, dalam merekrut pengikut serta dalam menjalankan aksi-aksi teror.

Bom Surabaya 2018 adalah generasi keempat. Jika dirunut: Generasi Pertama: DI/TII, Generasi Kedua: Jamaah Islamiyah (JI), Generasi Ketiga: Al-Qaidah dengan Bom Bali I 2002 dan Generasi Keempat: ISIS.

Apabila aksi-aksi teror Generasi Keempat ISIS di Indonesia sebelum ini dilakukan oleh mantan pengikut JI dan Al-Qaidah yang berbaiat ke ISIS dengan tokohnya seperti Abu Bakar Ba’asyir, Santoso Abu Wardah dan Aman Abdurrahman, sementara Bom Surabaya 2018 merupakan produk dari gelombang “hijrah” keluarga yang bergabung dengan ISIS baik di Suriah dan Iraq.

Bom Surabaya: Jaringan “Alumni ISIS”

Generasi Jaringan Alumni ISIS menjadi generasi teroris mutakhir di Indonesia. Bila rangkaian teror bom di Indonesia sejak tahun 2002 dilancarkan oleh Generasi Alumni Perang (Veteran) Afghanistan yang terkait Tandzimul Qaidah, maka, Bom Surabaya Generasi Alumni ISIS telah menggantikan Alumni Perang Afghanistan.

Ada fenomena veteran perang ini terpaksa “mudik” alias kampung setelah wilayah yang menjadi basis pertempuran mereka jatuh ke tangan lawan. Afghanistan yang dikuasai rejim Taliban dan Al-Qaidah pada akhir tahun 2001 jatuh ke tangan AS dan sekutunya. Para veteran tercerai berai dan terpaksa “pulang kampung” dengan membawa amunisi dan keahlian militer untuk melanjutkan “jihad” di asal masing-masing. Terjadilah Bom Bali I, 12 Oktober 2002 yang pelakunya adalah Alumni Perang Afghanistan, Hambali, Dr Azahari, Amrozi, Imam Samudra, Mukhlas dll.

Setelah Generasi Veteran Afghanistan ini lahir generasi anak-anak didik mereka yang berhasil direkrut yang merupakan “Murid-murid Veteran Afghanistan” yang melakukan Bom Bali II, JW Marriot dll atau alumni-alumni yang lain, seperti “Alumni Mindanao” “Alumni Poso” dan dari wilayah-wilayah konflik lainnya, hingga fenomena “Generasi Teroris produk Internet dan Medsos” adalah mereka yang tidak pernah berguru pada tokoh alumni konflik/kombatan dan tidak pernah pula pergi ke wilayah konflik, tapi belajar sendiri merakit bom dan aksi teror melalui internet dan berhubungan dengan donatur serta pemberi fatwa melalui media sosial (misalnya Pasangan Solihin-Dian Yulia yang gagal melakukan bom bunuh diri melalui bom panci 2016 memiliki relasi dengan Bahrun Naim, pengikuti ISIS di Suriah dan Iraq). Generasi teroris produk medsos dan internet ini melahirkan istilah “lone wolf” dalam generasi teroris.

Sedangkan keluarga Dita-Puji yang menjadi pelaku bom bunuh diri di tiga lokasi di Surabaya adalah keluarga Jaringan “Alumni ISIS” setelah wilayah ISIS di Iraq jatuh ke tangan AS dan sekutunya dan wilayah ISIS di Suriah kembali dikuasai rejim Assad, Rusia dan sekutunya pada tahun 2017.

Masalah terbesar saat ini adalah dari 1000 orang lebih warga Indonesia yang ikut ke Suriah dan Iraq baik yang bergabung dengan ISIS dan Jabhah Nusroh (Al-Qaidah), sudah kembali 500 orang lebih, dan mereka tidak bisa ditahan karena kekosongan hukum. UU Tindak Pidana Terorisme No 15 Tahun 2003 tidak bisa menjerat mereka yang terlibat organisasi dan aksi teror di luar wilayah NKRI. Tentu saja tidak semua dari 500 orang itu adalah ancaman, namun 1 keluarga Alumni ISIS ini yang melakukan bom bunuh diri dan menyerang 3 lokasi sekaligus sudah memberikan dampak teror yang luar biasa, bagaimana dengan mereka yang masih bebas berkeliaran?

Bom Surabaya: Formasi Lengkap Keluarga Terlibat Terorisme

Generasi “keluarga lengkap teroris”, dari suami, istri dan anak menjadi ciri khas yang nyata dari generasi teroris ini bila dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Teroris sebelumnya hanyalah ikatan keluarga kakak, adik, ipar (misalnya: Mukhlas alias Ali Ghufron bersaudara: Amrozi dan Ali Imron).

Sedangkan pelaku bom bunuh diri di tiga Gereja di Surabaya adalah Keluarga Suami-Istri: Dita Oepriarto-Puji Kuswati, bersama keempat anak mereka (kecuali anak mereka yang berumur 16, 12 dan 9 tahun sebenarnya adalah korban orang tua mereka), demikian pula bom yang meledak di Rusunawa Sidoarjo yang melibatkan Keluarga Anton Febrianto-Puspita Sari dan bom bunuh diri yang menyerang Polrestabes Surabaya, adalah Keluarga Tri Murtono-Tri Ernawati.

Bom Surabaya: Pelaku Bom Bunuh Diri Wanita bersama Anak-Anaknya sebagai Kedok

Bom Surabaya menunjukkan modus baru bom bunuh diri dalam aksi terorisme yang dilakukan oleh wanita dewasa dan menjadikan anak-anak di bawah umur sebagai tameng hidup aksi terorisme. Sebelum ini aksi terorisme dilakukan oleh kalangan pria, baik pria dewasa, pria muda dan remaja (Bom Bali II, November 2005 pelakunya berumur 20 tahunan), Bom JW Marriott Juli 2009 pelakunya remaja (Dani berusia 18 tahun).

Penggunaan wanita sebagai pelaku bom bunuh diri menjadi ciri khas “Generasi ISIS”, Generasi Keempat Teroris di Indonesia. Sebelum ini sudah ada pelaku wanita bom bunuh diri, tapi gagal meledak. Dian Yulia Novi yang terpengaruh ideologi ISIS, akan melakukan bom bunuh diri dengan Istana Negara sebagai sasarannya yang gagal karena tertangkap. Ia melakukan aksinya bersama suaminya M Nur Solihin. Pasangan Solihin dan Dian Yulia menerima perintah dari tokoh ISIS asal Indonesia, Bahrun Naim. Pada Agustus 2017, Dian Yulia divonis 7.5 tahun penjara dalam kondisi hamil tua hasil perkawinannya dengan Solihin. Saat pekan lalu berita viral seorang bayi ada di Rutan Mako Brimob adalah anak dari Dian Yulia ini.

Sebelum Dian Yulia ada sejumlah wanita yang diadili dalam kasus terorisme tidak sebagai pelaku tapi hanya ikut membantu. Misalnya Munfiatun, istri Noordin M. Top, Putri Munawwaroh, istri Susilo pengikut Noordin M. Top, dan Denny Carmelita merupakan istri Pepi Fernando, pelaku bom termos yang mengincar rombongan Presiden SBY pada 2009. Namun sebelum ini tidak ada yang melibatkan anak-anak dalam aksi terorisme.

Sedangkan Bom Surabaya, melalui Puji Kuswanti, adalah wanita, istri dan ibu dari 4 orang anak yang menjadikan anak-anaknya sebagai tameng hidup dan modus operandi aksi teror. Demikian pula Keluarga Anton dan Pelaku Bom Polrestabes yang membawa anaknya, Ais (7 tahun) yang masih kecil, dalam aksi bom buni diri, Ais terlempar dan selamat.

Bom Surabaya: Bahan Peledak dari TNT dan C-4 ke TATP (The Mother of Satan)

Selain formasi keluarga lengkap sebagai aksi teror, pelakunya wanita dan menggunakan anak-anak sebagai kedok, Generasi Bom Surabaya mengenalkan bahan peledak yang lebih canggih bila dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Bom Surabaya menggunakan jenis Triacetone Triperoxide (TATP) yang dikenal sebagai “The Mother of Satan” sebagai ciri khas bom rakitan ISIS.

Sedangkan generasi teroris sebelumnya, mulai Bom Bali I menggunakan jenis Trinitrotoluene (TNT) dan C-4. Letak kecanggihan bom rakitan ISIS, TATP ini menurut Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian bila bom TNT dan C-4 keduanya masih membutuhkan detonator untuk meledak. Sedangakan jenis TATP ini hanya dengan guncangan saja sudah bisa meledak.

Generasi Bom Surabaya: Akankah Seperti Generasi Bom Bali I?

Bom Surabaya bagi saya telah menunjukkan kelahiran Generasi Teroris, Generasi Keempat, Jaringan Alumni ISIS yang bisa menggantikan generasi teroris sebelumnya, Jaringan Alumni Al-Qaidah di Afghanistan.

Mengapa bisa disebut sebagai generasi baru teroris? Dari pemaparan di atas, bisa saya simpulkan beberapa ciri khas generasi teroris dari Bom Surabaya ini:

Pertama karena jaringan pelakunya merupakan jaringan Alumni ISIS bukan lagi jaringan lama: Alumni Al-Qaidah. Kedua, formasi lengkap satu keluarga yang tidak ada pada generasi teroris sebelumnya. Ketiga, pelaku bom bunuh diri adalah wanita setelah aksi bom bunuh diri sebelumnya dilakukan oleh pria dewasa, muda dan remaja, doktrin ISIS, wanita menjadi pelaku bom bunuh diri. Keempat, penggunaan anak-anak dalam aksi bom bunuh diri. Meskipun penggunaan anak-anak dalam jaringan aksi teror g

lobal bukan modus baru, tapi benar-benar baru untuk Indonesia. Anak-anak dimanfaatkan sebagai kedok untuk mengelabui keamanan dan pemeriksaan serta menghindar dari kecurigaan. Kelima, penggunaan bahan peledak TATP, “the mother of satan” ciri khas bom ISIS yang menggantikan jenis peledak TNT dan C-4.

Akankah Generasi Keempat ini, Jaringan Alumni ISIS, mengulangi “kesuksesan” Generasi Kedua Teroris (Al-Qaidah dan Alumni Afghanistan)? Pertanyaan ini lebih banyak menyimpan kekhawatiran, tapi potensi Generasi Bom Surabaya akan menggantikan keberhasilan Generasi Bom Bali I adalah kemungkinan yang bisa saja terjadi, seperti yang telah saya tunjukkan kekhasannya di antara dua generasi itu.

Semuanya berpulang pada kita untuk melawan terorisme khususnya peran Negara dan aparat keamanan. Dengan membaca sejarah, kita akan tahu sejarah bisa berulang kalau kita biarkan, namun sejarah tidak akan berulang kalau kita berhasil melakukan intervensi dan perubahan. Sesuai firman Allah Swt, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah dengan diri mereka sendiri” (QS 13: 11).

Semoga kita termasuk yang mampu melakukan intervensi dan perubahan.

Mohamad Guntur Romli, Caleg Partai Solidaritas Indonesia (PSI); mengamati dan menulis isu-isu terorisme sejak tahun 2002

Sumber