Si Anak Kampung: Kearifan Minang di Tapal Batas Pasaman
Blog Solidaritas

Si Anak Kampung: Kearifan Minang di Tapal Batas Pasaman

Kebajikan yang ditempa Hutan Pasaman

Si Anak Kampung, sejak pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta, hingga saat ini menjadi salah satu tokoh politik nasional, tidak banyak yang berubah. Setidaknya demikian yang diungkapkan Jeffrie Geovanie, tokoh Minang yang ditemui Si Anak Kampung ketika tiba di Jakarta. “Endang ini pekerja keras dan jujur, pernah berjalan kaki dari Senen ke Kantor Syafii Maarif Institute hanya karena kehabisan uang. Dia tidak mau menelepon dan merepotkan orang lain, karena uangnya habis akibat salah hitung saat makan di rumah makan padang di sekitar Senen, lalu dia memutuskan jalan kaki untuk memberikan pelajaran pada dirinya sendiri” kata Jeffrie Geovanie menggambarkan sosok Si Anak Kampung yang sederhana, pekerja keras, serta bertanggungjawab atas tindakannya sendiri.

Lahir di Padang Balai, Pasaman, Sumatera Barat, pada tanggal 8 April 1981, Si Anak Kampung tumbuh disirami nilai-nilai agama. Ayahnya (alm.Buya Syamruddin) seorang mubaligh, kerap mengajaknya keliling saat harus mengisi ceramah dari kampung ke kampung. Rupanya proses itu tanpa disadari membentuk dirinya menjadi pribadi yang mencintai agama. Medan yang sulit dan ancaman binatang buas di hutan perbatasan Pasaman dan Tapanuli saat menemani Sang Ayah berdakwah, menjadikan Si Anak Kampung sosok yang kuat dan tidak mudah menyerah. Melihat keihklasan Sang Ayah yang menempuh jarak dan medan yang berat, tanpa mengharap imbalan hanya untuk menebar benih kebajikan agama, membawa Si Anak Kampung mengerti, bahwa tidak semua di dunia ini harus diukur dengan uang atau materi.

Masa Kecil Si Anak Kampung: Bekerja adalah Kegembiraan

Kehidupan masa kecilnya tentu tidak mudah, jauh dari bayangan masa kecil yang disajikan sinetron-sinetron televisi. Setiap hari, Endang Tirtana harus berjalan sekitar empat kilometer, melewati hutan lebat untuk sampai ke sekolah. Kesempatan bersekolah tidak didapatkannya cuma-cuma, didikan orangtuanya mewajibkan Si Anak Kampung untuk bekerja membantu keluarga.

Endang Tirtana ikut membantu mengurus sawah yang diberikan orang tuanya padanya sebagai bekal untuk bersekolah. Tidak lupa setiap menjelang Idul Fitri, Si Anak Kampung diingatkan untuk mengeluarkan zakat dari hasil mengolah sawah tersebut. Imam Addaruqutni, Sekertaris Dewan Masjid Indonesia menceritakan “Saya bersama Endang Tirtana naik mobil dari Kota Padang menuju kampungnya di Pasaman, saya menyaksikan dan kemudian mengerti mengapa Endang tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan berkarakter, itu mengapa saya percaya penuh kepadanya.”

Sekolah Kehidupan Si Anak Kampung

Angin reformasi seakan ikut bertiup bersama perjalanan Si Anak Kampung. Setelah mendapat restu orang tua dan keluarga, tahun 1998 memutuskan merantau ke Padangpanjang untuk melanjutkan sekolah di Kulliyatul Muballighien Muhammadiyah.  Sebagai anak rantau dari Pasaman, Si Anak Kampung harus bertahan hidup, tentu mencari teman yang banyak adalah jawabannya. Sifatnya yang ringan tangan untuk menolong dan berkarakter kuat, menjadikan Endang Tirtana disukai banyak orang, itu membuat namanya dengan cepat melambung di organisasi dimana dia bergabung.

Aktif di berbagai diskusi, bakat ceramah dan orasi tampaknya menurun dari Sang Ayah. Si Anak Kampung mulai dipercaya menjadi panitia pelaksana kegiatan hingga dipercaya menjadi Ketua Bidang Pengkajian dan Pengembangan Dakwah DPD Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) Kota Padangpanjang. Kiriman dari kampung kadang telat dan tidak cukup menunjang aktifitas belajar dan organisasinya, namun dia selalu mengatakan cukup agar orang tuanya tidak merasakan resah, selebihnya dia bekerja untuk menutup kekurangan tersebut.

Dari Kota Padang Menuju Ibukota Republik

Berniat menjadi pendakwah, Si Anak Kampung tampaknya ditentukan punya jalan sendiri. Dunia politik menunggu sentuhan putra Pasaman ini, hijrah ke Kota Padang dan menjadi mahasiswa di IAIN Imam Bonjol, nama Endang Tritana malah tercatat mendirikan partai politik mahasiswa dan menjabat sebagai Presiden Partai Mahasiswa Islam Reformis. Karir politiknya mulai menanjak ketika dipercaya menjadi Ketua Umum IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah) Sumatera Barat dan anggota DPD KNPI Provinsi Sumatera Barat. Si Anak Kampung tidak pernah lepas dari memori indahnya di Pasaman, Endang Tirtana lalu mengajak teman-teman satu kampungnya untuk mendirikan Ikatan Mahasiswa Pasaman.

Kesuksesannya mengemban misi kemanusiaan dari PP Muhammadiyah di Aceh tahun 2005, membawa berkah tersendiri, meski Si Anak Kampung murni tersentuh oleh penderitaan korban Tsunami Aceh, namanya malah mulai disebut-sebut oleh beberapa tokoh di Jakarta.

Jeffrie Geovanie, mengajaknya hijrah ke Jakarta, melalui Raja Juli Antoni yang saat itu menjabat Direktur Eksekutif Maarif Institute, Si Anak Kampung dari Hutan Pasaman tersebut akhirnya tiba di Jakarta. Berawal sebagai peneliti di Maarif Institute for Culture and Humanity yang dipimpin Buya Syafii Maarif. Endang Tirtana juga dipercaya menjadi Wakil Bendahara Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah dan Anggota Majelis Kebijakan Publik PP Muhammadiyah.

Karir politiknya lalu berkembang cepat, di usia relatif belia (27 tahun), Si Anak Kampung menjadi ketua DPP Partai Matahari Bangsa (PMB dan menjadi Caleg Dapil II Sumbar pada tahun 2009. Namanya lalu muncul sebagai salah satu Wakil Ketua DPP Partai Nasdem saat Partai tersebut pertamakali bersiap untuk mengikuti Pemilu 2014. Mundur dari Nasdem, namanya muncul sebagai Ketua Organisasi dan Keanggotaan Ormas Persatuan Indonesia (DPP ORMAS PERINDO). Disaat PSI mulai bergerak, namanya disebut-sebut terlibat dalam pendirian partai tersebut, dan akhirnya menjadi Caleg DPR RI Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Daerah Pemilihan Sumatera Barat II.

Kembalinya Si Anak Kampung: Sepenggal Asa untuk Tanah Minang

Berbekal memorinya pada kampung halamannya di pedalaman Pasaman, Si Anak Kampung percaya Sumatera Barat kaya akan potensi sumber daya alam dan manusia serta kearifan adat budaya. Sejarah dan sepakan terjang tokoh Minang telah menginspirasi tidak hanya putra Minang tapi juga menjadi inspirasi Indonesia. Endang Tirtana yakin, jika dikelola dengan baik, tentu akan berdampak signifikan bagi percepatan pembangunan di Sumatera Barat. Kini tinggal memupuk kepercayaan diri dan etos kerja anak muda Minang untuk berdiri di kaki sendiri.

Semua sudah tersedia: alam, manusia, budaya, adat dan sejarah. Anak Muda Minang tidak boleh bergantung pada sektor formal belaka atau hanya bercita-cita menjadi pegawai negeri. Dunia internet dan teknologi telah menyediakan banyak kemungkinan, yang sebelumnya tampak seperti kemustahilan. Kini tinggal memupuk ide kreatif lalu mewujudkannya dengan kerja keras dan pengetahuan dari berbagai sumber, niscaya kemajuan akan menjadi milik anak-anak Minang.

Tugas pemerintah daerah adalah menggenjot ketersediaan infrastruktur seperti transportasi, rumah sakit, sekolah, pasar, peningkatan sentra-sentra produksi berdasarkan potensi, listrik dan fasilitas komunikasi hingga merata di seluruh Sumuatera Barat. Berkaca pada keterbatasan hidupnya di Pasaman dan perjalanannya hingga ke Jakarta, membuat Endang Tirtana yakin ‘jika dirinya saja Si Anak Kampung, bisa, tentu anak muda Minang hari ini yang kehidupannya jauh lebih baik, akan mampu mengatasi tuntutan zaman yang bergerak cepat ini.’

Tidak ada kata terlambat, Sumbar harus berpacu dengan daerah lain, semua ini bisa terwujud jika ada kemauan yang kuat. Ibarat pepatah Minang “Anak-anak kato manggaduah, sabab manuruik sakandak hati, kabuik tarang hujanlah taduah, nan hilang patuik dicari.” Sekarang suasana telah baik, keadaan telah pulih, sudah waktunya menyempurnakan kehidupan.

Bersimpuh Si Anak Kampung pada Adat dan Tanah Minang

Kini, Si Anak Kampung telah kembali dari rantau, tiada niat yang buruk selain meminta restu dan dukungan unuk bisa mendapatkan amanah yang lebih tinggi sebagai Putra Minang dan Putra Bangsa Indonesia.

Dengan segala kerendahan hati, Si Anak Kampung datang bersimpuh pada adat  dan tanah kelahirannya, memohon doa, restu dan dukungan untuk menjadi Anggota DPR RI Periode 2019-2024 mewakili Daerah Pemilihan Sumatera Barat II meliputi: Pasaman, Pasaman Barat, 50 Kota, Kota Payakumbuh, Agam, Kota Bukittinggi, Pariaman dan Kota Pariaman.

PSI dan Politik Perubahan: Sebuah Refleksi
Blog Solidaritas

PSI dan Politik Perubahan: Sebuah Refleksi

Oleh: Irfan Prayogi

Politik adalah bagian yang tak terpisahkan dari aktivitas manusia. Manusia sebagai ‘zoon politicon’, alias binatang politik, seperti disebutkan oleh Hannah Arendt dan Aristoteles, hanya dapat dikatakan manusia apabila di dalam dirinya mengandung tabiat politik.

Maka ungkapan semacam ‘anti-politik’ menjadi tidak relevan manakala secara konstitutif justru politik-lah yang membedakan kita dengan binatang. Politik mengandaikan adanya ruang debat dan berdiskusi untuk merasionalisasi sebuah tindalan agar bisa diterima oleh khalayak ramai.

Gamblanglah, bahwa politik membutuhkan orang-orang rasional agar mesin politik mampu bekerja demi kebaikan bersama (common good). Tentu yang dimaksud dengan rasional bukan mereka yang menggunakan kekuasaannya demi kepentingan pribadi –karena itu juga rasional–tetapi pertimbangan etis untuk sebanyak mungkin mengagregasi kepentingan warga negara. Mari kita mulai berdiskusi, mengapa politik harus diperjuangkan oleh orang-orang yang rasional.

Mengubah mindset masyarakat tentulah tidak semudah membalikkan meja-meja di kantor Parlemen. Seperti sudah mengurat-mengakar, money politic menjadi salah satu jalan pintas yang efektif –selain politik identitas—untuk mengais suara.

Tebar janji kampanye calon legislatif setelah dirinya terpilih hanyalah janji tanpa realisasi. Keadaan berubah, ia duduk dikursi empuk nan nyaman dengan fasilitas memadai, tanpa sadar ada ribuan orang yang dulu memilihnya agar sang Caleg duduk menjadi wakilnya. Kampanye tidak sekadar kampanye, sebagian besar menggunakan amunisi berupa uang yang siap meluncur pada menit maupun detik terakhir pertarungan elektoral.

Menjadi wakil rakyat dengan cara demikian layaknya berjudi dengan logika untung-rugi. Lantas disinilah mula dari citra buruk tentang politik. Politik dianggap sebagai arena perebutan kekuasaan dengan cara apapun tanpa mendalami secara filosofis hakekat keberadaan kekuasaan tersebut diperuntukkan demi kepentingan apa, kapan, siapa dan bagaimana. Korupsi menjadi mungkin manakala politik membutuhkan ongkos dalam setiap permainannya.

Politik-Demokrasi mustilah dihinggapi oleh wajah-waras para politikusnya. Kontestasi wacana menjadi sarana deliberatif didalam kotak kosong bernama demokrasi untuk saling berargumentasi mengenai ide dan gagasan. Maka dengan sendirinya, seharusnya demokrasi menyerap orang-orang yang memiliki ide pengetahuan tentang bagaimana mengartikulasikan program dan gagasan untuk mencapai thelos berupa kemakmuran dan kebahagiaan.

Kemampuan meyakinkan secara argumentatif inilah yang di kita sangat defisit, sehingga untuk mencari jalan yang paling mudah, money politic menjadi pilihan. Mereka yang menggunakan uang demi mencapai kekuasaan, sesungguhnya tidak layak berkontestasi dalam politik electoral yang dijuluki pesta demokrasi. Karena prasyarat untuk masuk ke arena demokrasi adalah mampu untuk meyakinkan pemilih secara hegemonic, meyakinkan melalui argumentasi.

Bukan memberikan solusi demi kebaikan bersama, mereka malah meng-anggar-kan uang untuk berbicara kepada masyarakat bahwa dirinya layak dipilih. Dengan demikian, maka tumpullah demokrasi, diiringi dengan korupsi yang mengkorusi setiap sendi kehidupan warga negara.

Hari-hari ini banyak kita melihat dan mendengar proyek politik yamg gagal akibat jauhnya moral politik dari politikus itu sendiri. Proyek E-KTP misalnya yang sangat berdampak secara sistemik terhadap kepentingan masyarakat merupakan wajah buruk politikus kita. Tentu Korupsi semacam E-KTP, Pembangunan Wisma Atlet, dan tindakan korupsi lainnya mencerminkan betapa ringkihnya moralitas politisi yang semestinya bekerja demi kepentingan warga Negara.

Tentu kita semua tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali. Korupsi harus disingkirkan dari narasi Politik dengan mengedepankan etika politik dan kesadaran akan tugas menjadi seorang politisi mewakili masyarakat. Maka kita harus memberikan ruang pada mereka yang rasional dalam berpolitik, agar politik tidak lagi menjadi momok menakutkan dalam diskursus ruang publik.

Optimisme
Agaknya prinsip untuk menjadi Partai yang rasional bukan hanya isapan jempol. PSI yang untuk pertama kali pada 2019 ikut dalam kontestasi pesta demokrasi membuktikan dengan tampil percaya diri bersama dengan calon legislatif 0 eks narapidana korupsi. Ini menjadi prestasi tersendiri, di mana bahkan partai yang sudah ‘senior’ pun tidak paham bagaimana cara berlaku etis kepada publik dengan menyodorkan mantan napi kepada konstituen.

Sebut saja Gerindra dengan 27 eks napi, Golkar dengan 25 eks napi dan NasDem dengan 17 eks napi. Ini menjadi cerminan bahwa PSI tidak kekurangan orang baik untuk disuguhkan kepada masyarakat untuk dipilih. Selain itu juga komitmen untuk mengedepankan khalayak anak muda dan perempuan juga tampak nyata sebagai gerakan yang progreif. Ini juga saya disebut sebagai gerakan emansipatif, melihat formasi calon legislatif perempuan di PSI berjumlah 45 persen. Perempuan memang harus berpartisipasi aktif dalam politik, agar terjadi kesetaraan yang lebih bersifat plural tanpa memandang gender dan seks.

Langkah PSI yang mencoba untuk merasionalisasi apa arti penting berpolitik tidak hanya berada pada tahapan epistemologis, tetapi sudah pada tahap tindakan yang rasional. Kita paham betul bahwa korupsi merupakan biang keladi dari banyaknya persoalan di negeri ini.

Kita paham betul generasi muda butuh wadah untuk berbuat lebih jauh dan ikut andil dalam proses-proses pengambilan kebijakan dan keputusan. Juga kita paham betul penyebab korupsi adalah juga diakibatkan oleh mahar politik untuk membeli perahu politik (Baca: Partai Politik) agar bisa mencalonkan diri. Ketiga permasalahan politik tersebut mestilah dijawab dengan langkah nyata dan bukan hanya sekedar jargon untuk merestorasi atau tete bengek lainnya.

Politik harus dimenangkan oleh mereka yang memiliki kapabilitas dan integeritas yang tinggi. Politik juga harus dimenangkan oleh mereka yang memiliki keinginan dan niatan kuat membangun sebuah perubahan dan tidak takut akan perubahan.

Politik harus berorientasi kepada publik dan mengabdi kepada kepentingan warga Negara. Politik mustilah memiliki idealisme sebagai tempat bersemayam harapan untuk diwujudkan. Dan pemuda adalah entitas yang siap menghadapi tantangan dengan segala konsekuensinya. Maka berikan kesempatan kepada mereka untuk berbuat. Karena bagi pemuda, hidup yang pantas dimenangkan adalah hidup yang dipertaruhkan.

Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

Sumber

Pelapor Buni Yani Jadi Caleg PSI
Blog Solidaritas

Pelapor Buni Yani Jadi Caleg PSI

Ingat siapa yang melaporkan Buni Yani dengan tuduhan menyampaikan ujaran kebencian? Buni Yani divonis dua tahun karena menyerbarkan video Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang telah dipotong-potong.

Pelapor Buni yani adalah Muannas Alaidid dalam kapasitas sebagai Ketua Umum Komunitas Advokat Muda Ahok-Djarot (Kotak Badja). Kini Muannas menjadi calon legislatif Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Barat VII (Kabupaten Bekasi, Karawang, dan Purwakarta).

Sebagai advokat, Muannas pernah melaporkan Jonru Ginting dengan tuduhan ujaran kebencian. Selain itu, Muannas juga menjadi kuasa hukum Muhammad Rizki yang melaporkan Fadli Zon dan Fahri Hamzah terkait penyebaran hoax.

Selain berkarier sebagai advokat, Muannas juga menjadi Ketua Cyber indonesia, perkumpulan yang berkomitmen melawan intoleransi, radikalisme, dan terorisme terutama di media sosial.

Gerakan yang ia lakukan di Cyber Indonesia bukan tanpa hambatan. Kerap dicibir dan dikritik beberapa pihak. “Kritik itu pengawal jiwa yang bekerja tanpa bayaran, kritik itu bentuk kasih sayang agar orang menjadi lebih baik,” kata Muannas.

Ia menyadari keterlibatan terhadap kasus-kasus itu memberikan risiko. Alasan yang melandasi keterlibatannya itu murni dalam agenda penegakan hukum dan keadilan.

“Saya berharap penegakan hukum tersebut dapat memberikan efek jera bagi setiap pengguna sosial media agar tidak lagi memberikan informasi yang mengandung fitnah dan hoax, juga ujaran kebencian dan adu domba, maupun SARA,” ujar pria kelahiran 3 Desember 1980 itu.

Muannas mengatakan dirinya terjun ke dunia politik karena prihatin terhadap permasalahan intoleransi dan radikalisme. Ia ingin membawa bangsa ke peradaban baru. Ia menyatakan, “Saya memimpikan situasi ketika setiap anggota masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama, tidak ada diskriminasi dan intoleransi.”

Jika nanti terpilih menjadi anggota legislatif, Muannas akan melakukan terus bekerja untuk memberantas hoax dan membendung arus kebencian bernuansa SARA. Ia berjanji tetap konsisten dengan perjuangan selama ini.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain. Inilah satu-satunya bentuk kebaikan di dunia. Di luar itu, yang ada ilusi dan kehampaan semata. Menjadi wakil rakyat adalah jawabannya,” tutur Muannas.

Penulis dan pegiat media sosial, Denny Siregar, menyatakan Muannas punya rekam jejak panjang. Terakhir, ia membentuk Cyber Indonesia. “Cyber Indonesia adalah perlawanan aum muda intelektual, menghadapi kelompok yang selalu mengandalkan laporan sebagai bagian dari intimidasi dan persekusi,” kata Denny.

Orang-orang seperti Muannas inilah yang harus didukung. Menurut Denny, “Muannas punya rekam jejak dan kompetensi yang tepat, untuk menyuarakan aspirasi rakyat. Mendukungnya sama dengan mencegah yang buruk untuk berkuasa.”

#PSI #PSINomor11 #SamaSama #CalegPSI

Suci Mayang Sari, Aktivis 98 Caleg PSI
Blog Solidaritas

Suci Mayang Sari, Aktivis 98 Caleg PSI

Tak banyak kaum muda yang tertarik masuk ke ranah politik praktis. Wajah buruk partai politik dan para politisi cenderung mereka hindari agar tak ikut terkontaminasi. Mereka lebih memilih jalur di luar kekuasaan meski sadar keterbatasannya.

Hal inilah yang menggugah aktivis 98, Suci Mayang Sari, untuk memutuskan terjun ke politik praktis dengan menjadi Bacaleg PSI untuk DPR RI dari Dapil Jawa Barat III (Kab Cianjur dan Kota Bogor).

Menurut Mayang, dunia politik justru harus diisi anak muda yang berintegritas dan tidak terbelenggu praktik oligarki lama. Panggilan ini jugalah yang pernah membawanya bersama para mahasiswa lain turun ke jalan pada 1998. Ia ada di tengah peristiwa pada 12 Mei 1998, saat terjadi penembakan mengakibatkan empat kawannya di Universitas Trisakti gugur dan menjadi pahlawan reformasi.

“Selama ini politik diasosiasikan sebagai hal yang kotor, belum lagi ditambah maraknya pemberitaan di media massa yang mereduksi sedemikian parah makna politik menjadi sekadar ajang pertarungan merebut kekuasaan yang penuh praktik oligarkis. Untuk itu, anak muda perlu masuk untuk berjuang membersihkan praktik kotor politik di Indonesia,” ujar arsitek pemenang lomba revitalisasi gedung tua “Kuntskring Gebouw” di Menteng, Jakarta, ini.

Kecemasan Mayang akan meluasnya praktik korupsi dan intoleransi meneguhkan semangatnya untuk meninggalkan zona nyaman. Menurutnya, perjuangan harus dilanjutkan dari dalam. Anak muda tidak boleh membiarkan begitu saja peluang politik diambil orang-orang yang tidak dapat diharapkan melakukan perubahan. Sikap inilah yang mendorong Mayang bersama teman-temannya ikut mendirikan PSI dan dipercaya sebagai Bendahara Umum.

“Saya cemas melihat korupsi. Itu membuat orang nggak percaya DPR dan partai politik. Selain itu, Saya khawatir atas meluasnya intoleransi yang bisa membuat negeri ini terpecah oleh konflik SARA. Untuk itu, kita tidak boleh membiarkan begitu saja peluang politik diambil orang-orang yang tidak dapat diharapkan untuk melakukan perubahan,” kata lulusan terbaik Magister Corporate Social Responsibility (CSR), Universitas Trisakti, ini.

Selain sebagai aktivis, arsitek, dan pernah menekuni dunia jurnalistik, Master di bidang CSR ini pernah pula menjadi Trainer di British Council dalam program Community Enterpreunership. Ini merupakan program Pemberdayaan Usaha Berbasis Masyarakat yang dapat ia gunakan sebagai bekal untuk kampanye. Program ini bertujuan membangun kapasitas masyarakat untuk menerapkan ide bisnis yang berdampak pada pemecahan masalah sosial, seperti kemiskinan, lingkungan, dan inklusi sosial.

Keteguhan diri Mayang untuk terjun ke politik mendapatkan dukungan dari Tosca Santoso, Wartawan dan Wirausahawan Sosial Berbasis Masyarakat Desa. Santoso yang beberapa tahun ini bergiat dalam Perhutanan Sosial di Sarongge, Jawa Barat, mengatakan, “Keputusan Mayang untuk mengabdi lewat parlemen sangat patut dihormati. Ia ingin melayani publik dengan berpartisipasi dalam pembuatan kebijakan. Bagi saya niat itu penting mengingat posisinya pada dua hal: promosi keberagaman dan ketegasannya melawan korupsi. Parlemen perlu diisi oleh orang-orang dengan kemauan baik seperti Mayang”.

Sementara advokat senior, Sugeng Teguh Santoso, juga mendukung penuh niat mayang ini. Menurutnya, sosok Mayang hadir dengan spirit baru untuk melayani masyarakat dengan terbuka dan bersedia setiap saat untuk mendengar aspirasi pemilih.

“Mayang adalah mantan aktivis mahasiswa yang peduli dan berpihak pada warga. Saya yakin apabila terpilih, Mayang akan menunjukkan kinerja yang baik,” ujar advokat yang pernah menjadi calon wakil wali kota Bogor ini.

Dukungan juga datang dari penulis Goenawan Mohamad. “Suci Mayang, yang saya kenal sejak bertahun-tahun, selalu mengesankan dalam kesungguhan hatinya. Ia bersungguh-sungguh dalam bekerja sebagai jurnalis, juga bersungguh-sungguh dalam memusatkan perhatian kepada perbaikan masyarakat. Saya tak heran jika ia berusaha menjadi seorang legislator, anggota Parlemen — tanpa ambisi pribadi. Baginya itu tugas, itu panggilan,” ujar Goenawan.

#PSI #PSINomor11 #SamaSama #CalegPSI

Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti Yakin Chandra akan Berperan Penting Memajukan Bangsa
Blog Solidaritas

Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti Yakin Chandra akan Berperan Penting Memajukan Bangsa

Satia Chandra Wiguna, atau akrab dipanggil Chandra, aktif berorganisasi. Terutama di kegiatan-kegiatan Muhammadiyah.

Keaktifannya di Muhammadiyah membuat pria kelahiran Jakarta 3 Oktober 1981 ini mendapat perhatian khusus dari sejumlah petinggi PP Muhammadiyah. Chandra mendapat dukungan dari Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, ketika menceritakan niatnya untuk maju sebagai Calon Legislatif DPR RI dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk Dapil Jawa Barat XI (Kabupaten Garut, Kabupaten dan Kota Tasikmalaya).

“Saya mengenal Saudara Chandra sebagai kader muda yang cerdas, berdedikasi, terhuka, dan merakyat. Jika diberi kesempatan untuk menjadi anggota legislatif, saya yakin Saudara Chandra akan berperan penting dalam memajukan bangsa.”

Chandra sudah mulai terlibat sejak di Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM). Mulai dari kepengurusan tingkat kecamatan hingga kepengurusan tingkat nasional pun dilakoni. Wakil Ketua Pimpinan Daerah IRM Jakarta Barat dan Sekretaris Bidang Kajian Islam di Pimpinan Pusat IRM pernah ia jabat.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP DPP PSI ini sampai sekarang masih tercatat sebagai Ketua Divisi Humas dan Publikasi Majelis Pelayanan Sosial (MPS) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah untuk 2015-2020. Sebagai Wakil Sekretaris Jenderal, Chandra mengawal proses verifikasi PSI di Kemenkumham, KPU, hingga persyaratan kelengkapan para bakal calon legislatif.

Ketika ditanya apa yang ia ingin lakukan untuk memajukan bangsa ketika jadi anggota dewan, Chandra mengatakan, “Saya ingin menyuarakan anti korupsi dan anti intoleransi melalui musik.”

Chandra memang memiliki hobi di bidang musik sejak ia kecil. Ia sudah sering ikut festival musik dan pentas seni sejak masih duduk di bangku SMP. Bahkan hingga ikut aktif di PasERS Milis, komunitas untuk penggemar Pas Band.

Bagi lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta ini, musik memiliki bahasa yang universal. “Saya mau bekerja keras menjadikan musik sebagai alat pemersatu bangsa,” ujar pria yang juga punya hobi naik gunung ini.

Dukungan untuk Chandra juga diberikan Hajriyanto Y. Thohari, Ketua PP Muhammadiyah 2015-2020 yang juga Wakil Ketua MPR RI 2009-2014.

“Saya kenal baik Chandra. Ia orang organisasi, pekerja keras, gigih, dan selalu punya ide-ide segar dan visioner. Karakter seperti ini cocok untuk menjadi anggota Dewan. Dia dibutuhkan untuk mewujudkan DPR yang lebih baik,” kata Hajriyanto.

#PSI #PSINomor11 #SamaSama #CalegPSI

Si Milly Aktivis Sosial yang Bersiap Ke Senayan
Blog Solidaritas

Si Milly Aktivis Sosial yang Bersiap Ke Senayan

Sampai beberapa bulan lalu, Milly Ratudian Purbasari jauh dari dunia politik. Ia seorang arsitek. Kini, tekadnya mantap menjadi calon anggota legislatif Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Barat II (Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat).

Menjadi arsitek merupakan cita-cita Milly sejak kecil. Itu semua berawal dari hobi bermain lego dan menggambar rumah. Selulus SMA, istri dari Shafiq Pontoh ini kuliah di Jurusan Teknik Arsitektur, Universitas Parahyangan.

Latar belakang sebagai arsitektur membawa Milly bergabung dengan berbagai operator hotel besar. Sebut saja Golden Tulip, brand di bawah Louvre Hotels Indonesia yang merupakan operator hotel kelas dunia dari Perancis, dan Tauzia Hotel Management. Atas dedikasi dan prestasi cemerlangnya, ia dipercaya sebagai Manajer Layanan Teknis dan Arsitek Korporat Golden Tulip dan Tauzia Hotel Management saat usianya belum 30 tahun.

Sibuk dengan karier profesional tidak lekas membuat Milly jauh dari aktivitas sosial. Milly memang telah aktif berkegiatan sosial sejak di bangku kuliah. Ia pernah menjadi Relawan Studio Habitat, yang memberikan desain gratis untuk Habitat for Humanity.

Kemudian ibu dua anak ini tergabung dalam gerakan “Save Babakan Siliwangi” untuk menyelamatkan Babakan Siliwangi sebagai hutan kota di Bandung. Indonesia Berkebun juga merupakan komunitas yang ia turut bangun. Kemudian menjadi relawan di Komunitas Keluarga Kita yang turut aktif mengadakan kelas parenting di Jakarta.

Dulu alasan Milly aktif di komunitas karena tidak percaya dengan politik. “Dalam anggapan saya, di politik, kebanyakan orang haus akan kekuasaan saja. Sementara di komunitas relawan, yang menjadi tujuan bukan uang dan kekuasaan.

Namun, pada akhirnya, dia merasa perlu masuk ke dalam sistem untuk melakukan perubahan. Milly ingin melakukan perbaikan melalui dunia pendidikan. Bagi dia, selama ini korupsi dan intoleransi menjadi akar permasalahan yang menghambat kemajuan Indonesia di berbagai bidang, khususnya pendidikan. Untuk itu ia ingin memperjuangkan pendidikan yang berkualitas dan setara di Indonesia.

Kehadiran PSI membuat dia berubah pikiran soal politik. “Saya sangat anti korupsi. PSI jelas mengembangkan misi itu. Saya juga melihat PSI membawa cara baru dalam politik. Buat saya, ini bisa membawa perubahan di perpolitikan Indonesia,” kata perempuan kelahiran Bandung pada 1984 ini.

Keputusan Milly maju politik pun mendapat dukungan dari sahabatnya yang juga sudah lebih dulu berada di Senayan, Meutya Hafid.

“Saya kaget Milly masuk politik, karena saya tahu dia sangat profesional, juga sangat idealis. Sebuah kombinasi yang jarang di politik. Apalagia ia perempuan. Tapi politik memerlukan Milly, yang tidak hanya mewakili perempuan tetapi juga perspektif dari anak muda,” ujar Meutya.

#PSI #PSINomor11 #SamaSama

Catatan Pada Usia 22 Tahun
Blog Solidaritas

Catatan Pada Usia 22 Tahun

Oleh: Tsamara Amany

Alhamdulillah hari ini resmi menginjak usia 22 tahun. Banyak pertanyaan pagi ini, utamanya dari keluarga dan teman, soal hadiah apa yang diinginkan. Hanya satu saja hadiah yang saya minta: DOA.

Doa apa? Hanya satu juga: agar PSI masuk parlemen tahun 2019 nanti. Mungkin di benak keluarga dan teman, saya hanya berpikir soal politik, politik, dan politik. Tapi bagi saya politik sudah menjadi begitu personal. Bukan karena saya ingin merasakan kursi Senayan. Politik bukan tujuan, politik adalah alat paling efektif untuk mencapai tujuan yang saya inginkan: membawa Indonesia bersih dari korupsi dan memberi kesejahteraan bagi rakyatnya.

Saya berpolitik sejak usia 19 tahun. Saya memulai semuanya sendiri. Orang tua saya bukan orang politik. Tapi mereka sangat mendukung langkah saya berpolitik. Itu mendorong saya untuk belajar soal politik. Saya mencoba membaca buku-buku pendiri bangsa Indonesia. Sukarno yang paling memikat saya.

Saya juga mencoba menuliskan pandangan saya di media sosial. Mendengarkan perdebatan seputar politik. Memahami cara kerja politisi-politisi berprestasi seperti Jokowi, Ahok, Risma, Nurdin Abdullah, dan lain-lain. Mencoba mengenal banyak orang dan mengajak mereka berdiskusi soal politik.

Pelajaran paling berharga yang saya dapatkan pada usia 19 tahun adalah magang di Balaikota DKI Jakarta. Saya betul-betul memelajari cara birokrasi bekerja. Saya mendapat mentor yang tepat dalam urusan kebijakan publik. Ahok dan seorang birokrat berprestasi di Pemprov DKI.

Dari situ saya mulai terlibat dalam Pilkada DKI, salah satu berkah terbaikyang saya dapatkan dalam proses ini adalah bertemu dengan teman-teman PSI. Saya mengenal mereka dan tau bagaimana idealisme mereka. Saya tau mungkin banyak orang yang menyatakan ini omong kosong, tapi saya tau PSI diisi orang-orang idealis karena saya merasakannya sendiri.

Sejak masuk PSI, saya sudah mengalami banyak hal. Mulai dari direndahkan karena masih muda, dilecehkan secara seksual, diolok soal kehidupan pribadi, hingga diancam dibunuh. Semuanya sudah pernah saya alami. Tapi apakah itu semua membuat saya menyesal berpolitik dan masuk ke PSI?

Sama sekali tidak. Bergabung dengan PSI adalah keberkahan bagi saya. Saya bahagia di PSI karena partai ini tak pernah membuat saya melakukan hal-hal yang tak sesuai nurani saya. Kami melakukan banyak hal yang selama ini kami kritik kepada partai pada umumnya. Kami membuat seleksi caleg terbuka, penggalangan dana publik, sistem pengawasan caleg, kami selalu bereksperimen demi politik Indonesia yang lebih baik. So, it’s all worth it!

Belakangan ini banyak yang meledek saya karena elektabilitas PSI yang masih rendah. Ada yang bilang ‘udah, pindah partai aja!”. Saya tegaskan ke mereka: lebih baik saya kalah bersama PSI dibanding menang dengan partai lain. Saya akan berjuang sekuat tenaga untuk partai ini.

Saya tak mau masuk ke DPR tapi tak mampu berbuat sesuatu. Saya ingin masuk ke sana dan memperjuangkan UU E-Budgeting, undang-undang yang saya percaya akan mampu membantu pencegahan korupsi di negeri. Saya hanya bisa melakukan itu semua bersama PSI, partai yang diisi orang-orang yang memiliki komitmen anti korupsi.

Pada 2019 nanti, saya percaya kami semua di PSI akan membuktikan bahwa anak muda mampu masuk ke DPR & mampu bawa perubahan. Karena itu, di hari ulang tahun ini, saya hanya memohon doa itu saja kepada Bro & Sis semua. Restui perjuangan kami untuk Indonesia lebih baik.

#TsamaraAmany #PSI #PSINomor11 #PSI11

Sumber

Ajax dan Hector: Kebencian dan Persahabatan
Blog Solidaritas Kolom

Ajax dan Hector: Kebencian dan Persahabatan

Kisah Perang Troya

Oleh: Tsamara Amany

Perang Troya semakin mematikan. Mayat bertebaran di mana-mana.

Dewi Athena ketakutan melihat banyak pejuang Akhaia berguguran dalam peperangan kali ini. Ia cepat-cepat turun dari Olimpus, namun Dewa Apollo yang berada di sisi Troya datang menghadangnya. Apollo khawatir Athena ingin menggunakan kekuatannya untuk mengalahkan pasukan Troya.

Ketika kedua dewa itu bertemu, mereka sepakat agar perang ini tak memakan lebih banyak korban. Lebih baik mereka membujuk Hector, pangeran Troya, untuk menantang pejuang terhebat Akhaia dan melakukan duel.

Tanpa ragu-ragu, Hector berteriak dengan lantang menantang para pejuang-pejuang terbaik Akhaia yang mau berduel dengan dirinya. Pasukan Akhaia dan pemimpinnya terdiam. Mereka takut melawan Hector yang begitu kuat dalam medan perang. Secara bersamaan mereka malu untuk mengakui ketakutan itu.

Karena tak kuasa menahan rasa malu melihat situasi yang ada, Menelaus, adik Raja Agamemnon, menawarkan diri untuk melawan Hector. Agamemnon dengan segera melarang kegilaan adiknya itu.

“Jangan hanya demi persaingan dan rasa sombongmu kamu kemudian buru-buru bertarung dengan Hector. Ia lebih baik darimu. Banyak petarung ciut di hadapannya. Bahkan Akhilles, petarung yang lebih hebat dari dirimu itu, tak berani mengadu dirinya dengan Hector,” ujar sang Raja tertinggi Akhaia. 

Menelaus mengikuti saran Agamemnon. Tapi situasi memalukan ini harus segera diakhiri. Nestor, raja Pylos, lelaki tua yang sangat dihormati di kalangan Akhaia, marah kepada pasukannya.

“Andai saja aku masih muda, Hector akan bertemu lawannya yang sepadan! Kalian, pejuang-pejuang Akhaia yang katanya paling berani, tapi tak satu pun dari kalian memiliki nyali untuk melawan Hector!” kata Nestor kepada pejuang-pejuang Akhaia tersebut.

Tentu saja apa yang diucapkan Nestor sangat mengusik harga diri pejuang-pejuang itu. Apalagi dalam budaya Yunani kuno, konsep kehormatan dan heroisme begitu penting.

Sembilan pejuang akhirnya memberanikan diri. Mereka adalah Agamemnon, Diomedes, Idomeneus, Meriones, Eurypylus, Thoas, Odysseus, Ajax besar (Great Ajax), dan Ajax kecil (Little Ajax). Untuk menentukan siapa pejuang yang akan melawan Hector, kesembilannya pun diundi. Ajax besar mendapat undian tersebut. Ia bersiap melawan pejuang Troya paling tangguh, Hector. 

Ajax dengan gagah berani maju ke dalam arena peperangan, menjawab tantangan Hector, dan siap bertarung secara head to head melawannya. Melihat itu, Hector yang awalnya lantang menyuarakan tantangan ini gelisah melihat Ajax yang maju mendekat ke arahnya.

“Kini kamu akan belajar, Hector, bagaimana kehebatan pejuang-pejuang pasukan Akhaia!” ujar Ajax dengan nada mengancam.

Hector menjawab ancaman meremehkan itu dengan tegas. Ia meminta Ajax untuk tidak mempermainkannya karena ia tahu betul bagaimana caranya berperang.

Pertarungan sengit itu pun terjadi. Hector hampir saja kalah dalam pertarungan itu ketika Ajax melempar batu besar yang menghancurkan perisainya, namun Apollo datang menyelamatkannya. Ketika pertarungan mulai memasuki babak selanjutnya, Dewa Zeus mengirimkan Thaltybius dan Idaeus untuk menghentikan pertarungan mematikan itu. Dewa Zeus menyanyangi kedua pejuang hebat tersebut.

Karena Hector yang memulai, Ajax hanya ingin berhenti jika Hector yang mengakhiri. Hector mengikuti keinginan Dewa Zeus dan mengakhirinya dengan memuji Ajax sebagai seorang pejuang tangguh yang Akhaia miliki.

Yang mengagumkan dari cerita ini, Hector dan Ajax bertukar hadiah saat mengakhiri pertarungan tersebut. “Agar pejuang Akhaia dan Troya suatu saat akan berkata, ‘Awalnya mereka bertengkar dengan hati penuh kebencian, lalu mereka berpisah dengan ikatan persahabatan’,” ujar Hector kepada Ajax. 

Kisah perang Troya dalam buku ketujuh The Iliad yang diceritakan Homerus begitu inspiratif. Bayangkan saja, Akhaia dan Troya sudah berperang selama sembilan tahun untuk mempertahankan kehormatan masing-masing. Sudah banyak korban dari kedua kubu.

Di tengah peperangan yang seolah tak ada akhir, Hector, kakak Paris si biang keladi perang Troya, menantang pejuang-pejuang Akhaia. Berusaha keluar dari rasa malu, Ajax mewakili Akhaia untuk melawan Hector yang hampir saja kalah dalam duel itu!

Marah, lelah, malu. Entah apa ada kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaan keduanya. Tapi mereka masih mampu untuk saling menghargai dan memberikan teladan kepada generasi penerus Akhaia dan Troya. Mereka tak ingin meninggalkan dendam. Kebencian mampu berubah menjadi persahabatan. 

Coba bedakan dengan apa yang terjadi pada kita hari ini. Pilihan politik merusak hubungan persahabatan dan bahkan hubungan kekeluargaan. Sungguh menyedihkan bagaimana sesuatu yang sejak awal dilandasi cinta dan kasih sayang mampu berubah menjadi kebencian hanya karena perbedaan pilihan politik menjelang Pemilu. 

Polarisasi menjadi semakin tajam seiring waktu. Elite politikalih-alih mendinginkan suasanajustru ikut memperuncing keadaan. Pernyataan yang mengkotak-kotakkan terus diucapkan. Masyarakat sengaja dibelah menjadi dua kubu ekstrem: nasionalis vs religius. Dua kubu yang tak perlu dipertentangkan sama sekali.

Seorang tokoh bangsa yang dihormati turun gunungbukan untuk menginisiasi rekonsiliasi politiktapi terlibat dalam proses polarisasi politik. Masyarakat kehilangan suri teladan. Kita tak memiliki kebesaran jiwa Ajax dan Hector di negeri ini.

Indonesia tak sedang berperang. Kita hanya akan memasuki tahun kontestasi politik untuk mencari pemimpin politik yang paling cocok memimpin negeri ini lima tahun ke depan.

Jika Hector dan Ajax bisa mengakhiri pertarungan berdarah dengan bersahabat, mengapa kita tak bisa tetap bersahabat dan saling menghargai perbedaan pilihan politik? Apakah perbedaan pilihan politik lebih kejam dibanding perang berdarah selama sembilan tahun?

Sumber

PSI Puji Keberanian Via Vallen
Blog Solidaritas

PSI Puji Keberanian Via Vallen

Partai Solidaritas Indonesia memuji keberanian artis Via Vallen berbicara secara terbuka melalui media sosial soal pelecehan seksual terhadap dirinya.

“Sebagai public figure, Via Vallen melakukan langkah besar yang bisa menginspirasi banyak perempuan yang tidak atau belum berani bicara tentang pelecehan seksual terhadap diri mereka,” kata Dara Adinda Nasution, juru bicara PSI untuk pemberdayaan perempuan dan kaum muda, Rabu 6 Juni 2018.

Pernyataan Dara ini dilontarkan untuk menanggapi berita bahwa Via secara berani menyebarkan screenshot pelecehan seksual terhadap dirinya melalui Instagram oleh seorang pemain sepakbola terkenal di Indonesia. Dalam pesan Instagram itu, pria tersebut menulis: “I want you sign for me in my bedroom, wearing sexy clothes.”

Menurut Dara, tidak mudah bagi seorang perempuan untuk bicara terbuka tentang pelecehan seksual terhadap dirinya. “Banyak perempuan memilih diam karena merasa takut, cemas, tidak berdaya atau merasa tidak pantas untuk mengungkapkan apa yang dialaminya pada orang lain,” ujar Dara. “Diamnya korban pelecehan seksual ini jusru bisa mendorong terus berlangsungnya praktek-praktek pelecehan baik di ruang publik maupun ruang privat.”

Dara menegaskan, pelecehan seksual tidak boleh dianggap remeh dan dianggap normal. “Yang terjadi pada Via, meski tidak melibatkan kontak fisik, juga termasuk pelecehan yang membuat korban tidak nyaman,” kata Dara. “Kita tidak boleh membiarkan pelaku merasa bahwa apa yang dilakukannya diterima oleh masyarakat.”

Data Biro Pusat Statistik menunjukkan satu dari tiga perempuan di Indonesia pernah mengalami kekerasan seksual, baik fisik maupun non-fisik. “Data ini sendiri hanya mewakili puncak dari gunung es. Kondisi riil pasti lebih tinggi, karena banyak kasus tidak dilaporkan atau tidak diakui. Karena itu, support terhadap korban sangat penting,” ujar Dara.

Dara sangat menyayangkan masih banyak orang, apalagi sesama perempuan, yang malah menyalahkan Via. “Ada saja orang yang menganggap Via cuma cari panggung, lebay, dan lain-lain,” katanya.

“Tindakan menyalahkan korban ini akan melemahkan keberanian korban-korban pelecehan untuk bersuara,” ujar Dara. “Seharusnya kita mendukung perempuan yang berani bicara terbuka. Kalau kita menyalahkan korban, berarti kita ikut mendukung pelaku dan melakukan peremehan pelecehan seksual. Kita harus menciptakan ekosistem yang bisa membuat korban merasa aman untuk berbicara.”

#PSI #PSINomor11 #PelecehanSeksual

Konsep Kehormatan Yunani Kuno 
Blog Solidaritas

Konsep Kehormatan Yunani Kuno 

Oleh: Tsamara Amany

Kisah Perang Troya

Salah satu penggalan kisah menarik yang diceritakan Homerus dalam buku keenam epik Yunani The Iliad adalah pertemuan antar Glaucus dan Diomedes di tengah peperangan Troya.

Diomedes – setelah berhasil mengalahkan banyak pejuang Troya dan bahkan menyakiti para Dewa –  tertarik dengan sosok Glaucus yang berani berhadapan dengannya. Diomedes khawatir Glaucus sebenarnya seorang dewa yang menyerupai manusia. Ia tak mau lagi menyerang para Dewa karena sadar akibatnya akan fatal di kemudian hari.

Namun Glaucus bukanlah dewa. Ia hanyalah seorang pejuang dengan cerita. Dalam suasana perang yang begitu mencekam itu, Glaucus menceritakan kepada Diomedes bahwa kakeknya Bellerophon adalah seorang yang begitu tampan dan luar biasa. Orang memanggilnya dewa karena ia tak pernah berbuat salah. Bellerophon menikah dengan putri Raja Lycia dan kemudian memiliki tiga orang anak: Isander, Hippolochus, dan Laodamia.

“Aku bangga menyatakan bahwa Hippolochus adalah ayahku. Dia mengirimku ke Troya. Pesannya masih nyaring terdengar di telingaku. ‘Jadilah yang terbaik, anakku, jadilah seorang yang paling berani. Tegakkan dengan tinggi kepalamu di atas yang lain. Jangan memalukan generasi leluhurmu. Mereka adalah orang-orang pemberani dan hebat yang lahir di Korinthos, di Lycia, dan sekitarnya’. Itulah garis keturunanku, darah biru yang aku miliki!” cerita Glaucus.

Setelah menyadari bahwa ada keterkaitan antara leluhur mereka, keduanya tak saling membunuh dan justru bertukar baju perang sebagai bentuk penghormatan terhadap persahabatan antar keluarga. Tapi poin penting yang harus digaris bawahi di sini adalah betapa pentingnya mengetahui garis keturunan seseorang dalam Yunani kuno.

Kolom sebelumnya menjelaskan bagaimana Diomedes diharapkan mampu menjadi seperti ayahnya, Tydeus, seorang pejuang hebat yang berhasil menaklukan kota Thebes.

Sebenarnya dalam The Iliad, justru kita dapat memahami bagaimana Homerus sendiri sebagai sosok yang menceritakan kisah perang Troya ini mementingkan garis keturunan dari setiap tokoh yang ia ceritakan.

“Bucolion, son himself to the lofty King Laomedon,
first of the line, though his mother bore the prince 
in secrecy and shadow.” (6.26-28)

“Take me alive, Atrides, take a ransom worth my life! 
Treasures are piled up in my rich father’s house, 
bronze and gold and plenty of well-wrought iron—
father would give you anything, gladly, priceless ransom 
if only he learns I’m still alive in Argive ships!” (6.54-58) 

“But the son of Cronus, Zeus, stole Glaucus’ wits away. 
He traded his gold armor for bronze with Diomedes, 
the worth of a hundred oxen just for nine.” (6.280-282)

Tiga kutipan di atas adalah sedikit contoh bagaimana Homerus tidak pernah luput untuk menyebutkan siapa orangtua atau ayah, khususnya dari tokoh yang ia ceritakan. Kita bisa melihat ia menyebut Bucolion sebagai anak dari Raja Laomedon, menyebut Atrides untuk memanggil anak Atreus, Agamemnon dan Menelaus, dan menyebut Cronus sebagai ayah dari Dewa Zeus.

Sekali lagi, ini hanyalah sedikit contoh. Jika kita membaca setiap buku dalam The Iliad, Homerus selalu menekankan tentang “anak siapa”.

Dalam buku keenam ini, diceritakan pula tentang Hector yang kembali ke kotanya, Troya. Semua orang, terutama istrinya Andromache, resah memikirkan suaminya karena kematian jauh lebih dekat dibanding kemenangan. Hector menggendong putranya yang masih bayi itu dan berdoa untuknya.

Menariknya, ia bukan mendoakan keselamatan putranya. “Dewa Zeus, berikan anakku kemuliaan di antara para pasukan Troya, jadikan ia berani dan kuat sepertiku, dan mampu memerintah Troya. Agar kelak mereka bisa berkata, ‘Dia lelaki yang lebih baik dari ayahnya!’” begitulah doa Hector kepada Dewa Zeus.

Doa Hector sebenarnya menjelaskan kepada kita bahwa cerita-cerita mengenai garis keturunan yang ada dalam The Iliad menunjukkan kuatnya konsep kehormatan dalam Yunani kuno. Konsep kehormatan yang dimaksud dalam hal ini adalah menjaga nama baik keturunan atau keluarga. Setiap pejuang, baik itu dari Akhaia maupun dari Troya, diharapkan mampu menjaga kehormatan keluarga dengan menjadi pejuang-pejuang terbaik dalam medan peperangan.

Mereka harus mampu membuktikan bahwa mereka sama baiknya – kalau tidak lebih baik – dari leluhur mereka. Jika mereka tak mampu membuktikan, itu akan menjadi penghinaan dan mencoreng nama baik keluarga. Persis seperti yang dinyatakan Raja Agamemnon kepada Diomedes dalam buku empat.

Apa ini? Kau, putra Tydeus, si pemikat kuda yang terampil? Mengapa meringkuk di sini? Hanya bisa menatap lorong-lorong pertempuran! Malu dan berada di belakang garis bukanlah cara Tydeus.

Sejak itu Diomedes dalam buku-buku selanjutnya membuktikan bahwa ia juga sehebat ayahnya. Bahkan akhirnya Helenus, anak Priam, mengakui bahwa Diomedes adalah pejuang Akhaia terkuat saat itu.

Konsep kehormatan keluarga yang ada dalam Yunani kuno sebenarnya secara langsung atau tidak langsung telah menciptakan fanatisme buta terhadap golongan. Sebab, mereka tak melihat lagi apakah yang dilakukan oleh leluhur mereka salah atau benar. Yang terpenting bagi mereka adalah melanjutkan tradisi pembuktian kekuatan dalam medan peperangan. Mereka telah menanggalkan sisi kritis dalam melihat sejarah dan masa lalu para leluhur.

Di sisi lain, cara pandang semacam ini juga telah melahirkan dinasti-dinasti politik yang dibayangkan akan mampu merealisasikan kehebatan leluhur mereka yang memiliki kontribusi besar terhadap bangsa. Persoalannya, kehebatan ayah, ibu, kakek, atau nenek di masa lalu tak selalu menentukan keturunannya akan menjadi sehebat itu pula.

Karena itu, kita sering kali kecewa ketika anak tokoh besar tidak mampu menghasilkan ide atau gagasan brilian seperti ayah atau ibu mereka. Padahal ekspektasi pada seseorang yang dilandasi nama besar keluarga seperti itu hanya membuat kita berkutat pada cara pandang yang kuno.

Biarkanlah seseorang membesarkan namanya sendiri dengan pembuktian. Jika ia mampu membuktikan, itu karena dirinya dan kerja kerasnya, bukan karena “anak siapa”. Itu langkah awal kita mengganti cara pandang kuno dan menuju cara pandang modern: meritokrasi.

Ketua DPP PSI

Sumber