Indeks Kebahagiaan DKI Jakarta Rendah: Cerminan Kebijakan Pemerintahan Daerah yang Kurang Baik

Indeks Kebahagiaan DKI Jakarta Rendah: Cerminan Kebijakan Pemerintahan Daerah yang Kurang Baik


Belum lama ini DKI Jakarta menunjukkan indeks kebahagiaan yang rendah. Tertingginya di Indonesia justru diduduki oleh Maluku dan sekitarnya. Hal ini tentu mencerminkan banyak faktor. Salah satunya kebijakan pemerintah di daerah. Di samping itu, faktor sosiologisnya.

Jakarta, sebagai kota tempat orang-orang daerah menggantungkan harapan dan bertaruh nasib, justru menunjukkan kenyataan sebaliknya. Mari kita renungkan sejenak, dan mencari jalan keluarnya.

Soal Pembangunan

Pembangunan infrastruktur merupakan yang terutama demi memenuhi hajat kepentingan seluruh masyarakat. Hal ini tentu menjadi faktor kunci penentu kebahagiaan warga yang bertinggal dan beraktifitas di dalamnya. Pembangunan begitu mempengaruhi berbagai aspek: mobilitas-transportasi, kinerja instansi, dan yang paling utama adalah suasana yang dirasakan. Poin yang terakhir ini bahkan menjadi penentu bagi suatu daerah wisata.

Kenyataan yang terjadi beberapa tahun belakangan begitu absurd dan tak jarang, menyebalkan. Begitu banyak uang rakyat yang dipungut melalui pajak malah dipergunakan untuk membangun monumen yang entah apa kegunaannya. Belum lagi persoalan banjir. Alih-alih membangun resapan yang kongkrit, sumur-sumur buatan yang ditanam di tengah jalan itu malah mencelakakan. Salah satu korbannya sahabat saya, Ketua DPP PSI tercinta kita, Sis Isyana Bagus Oka. Tentu hal ini menjadi ketidakbahagiaan kecil dari sebagian orang.

Kemacetan dan Perubahan Iklim

Macet dan cuaca adalah kesan pertama yang menjadi wajah suatu kota atau daerah. Pemerintah harus mampu menyiasati problem tersebut. Oleh sebab itu, janji seorang Gubernur dalam Pemilihan Kepala Daerah seringkali menjanjikan solusi terkait.

Untuk kemacetan, selain mengurangi akses kepemilikan kendaraan pribadi dengan membiasakan kendaraan umum. Pembangunan jalan tentu menjadi yang utama. Kondisi jalan yang telah dilebarkan dan rapi, jangan malah dijadikan area percobaan populis untuk jalur sepeda atau pejalan, yang justru kegunaannya malah menambah kekurangan di sana-sini. Dan jangan pula menambah kebijakan absurd dengan menarik biaya di jalanan umum. Sebab rakyat, telah membayar pajak demi fasilitas dan kinerja pemerintah.

Dalam persoalan cuaca sendiri, jelas kita kini telah menghadapi problem perubahan iklim yang serius. Kondisi panas sudah pasti. Namun, suatu kota akan menjadi lebih sejuk jika pepohonan memayunginya. Tetapi jangan asal sembarang pohon. Pemerintah terkait mesti menyiasati kotanya dengan menanami pohon-pohon yang memungkinkan tumbuh besar dan bermanfaat untuk memberi kesegaran mengurangi polusi.

Semestinyalah poin-poin di atas menjadi fokus untuk segera dibenahi di DKI Jakarta, demi menumbuhkan kembali kebahagiaan warga kotanya. Seorang pemimpin, janganlah mengorbankan rasa kebahagiaan itu demi ambisi pribadi.





Sumber

---

PSI terus bekerja untuk rakyat, dukung PSI melalui Dana Solidaritas, hanya Rp 88.888 per bulan Klik Disini

Tunjukkan Solidaritasmu!
Giring Presiden 2024

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 × 2 =