PSI Dampingi Anak Korban Pemerkosaan dan Perdagangan Orang di Bekasi

PSI Dampingi Anak Korban Pemerkosaan dan Perdagangan Orang di Bekasi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bertemu dengan keluarga anak korban pemerkosaan dan perdagangan orang yang terjadi di Kota Bekasi, Jawa Barat.

Dalam pertemuan ini, PSI menyampaikan komitmen untuk mendampingi korban PU dan keluarganya untuk mendapatkan keadilan.

PU, remaja putri siswa kelas 9 SMP yang baru berusia 15 tahun, menjadi korban pemerkosaan oleh tersangka AT, seorang pria berusia 21 tahun.

AT, anak anggota DPRD di Kota Bekasi ini, juga diduga melakukan kejahatan perdagangan orang dengan menawarkan PU sebagai pekerja seksual melalui layanan chat daring.

Dalam sehari, PU harus melayani empat hingga lima orang lelaki hidung belang yang membayar AT.

Komitmen PSI untuk melakukan pendampingan dimulai dengan pertemuan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PSI Kota Bekasi, Tanti Herawati, di rumah keluarga korban.

Pertemuan dilanjutkan dengan kunjungan keluarga PU ke Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PSI di Jakarta Pusat.

Dalam pertemuan ini, keluarga korban ditemui oleh Direktur Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DPP PSI Imelda Berwanty Purba, dan beberapa pengurus DPP PSI lainnya.

Ayah korban dalam dua pertemuan ini menceritakan, keluarganya mendapatkan berbagai ancaman dan intimidasi melalui telepon, pesan singkat, hingga pintu rumahnya yang digedor-gedor tengah malam.

Menurut sang ayah, ancaman ini dilakukan agar keluarganya menerima tawaran damai pelaku.

Namun dirinya bergeming dan menginginkan pelaku diproses secara hukum dan mendapat hukuman yang setimpal.

Imelda mengatakan, PSI akan mendampingi korban dan keluarganya untuk mendapatkan keadilan.
“Teror dan intimidasi pada pencari keadilan seperti ini tidak bisa dibiarkan. Kami akan mendampingi korban dan keluarganya dalam kasus ini,” kata Imelda dalam keterangan tertulis, Senin (31/5/2021).

PSI, menurut Imelda, akan mengawal kasus ini agar tidak dibelokkan menjadi kasus perzinahan yang bisa diselesaikan secara damai, termasuk dengan menikahkan korban dengan pelaku.

“Menurut kami, kasus kekerasan, pemerkosaan pada anak di bawah umur dan perdagangan orang harus segera diselesaikan secara hukum dengan memberikan keadilan pada korban dan keluarganya. Menikahkan korban yang masih di bawah umur dengan pelaku, selain melanggar Undang-undang Perkawinan juga akan semakin membuat korban menderita sepanjang hidupnya. Kasus ini harus diselesaikan sesuai hukum,” tegas Imelda.

BACA JUGA:  PSI Surabaya apresiasi Eri Cahyadi cepat koordinasi terkait penyekatan Suramadu

PSI juga akan mendampingi korban untuk menjalani pemulihan secara psikologis.

“Kita harus memahami, korban yang masih di bawah umur pasti mengalami trauma psikologis yang sangat besar. Pengungkapan kasus ini juga tidak boleh membuat trauma yang dialami korban menjadi semakin besar,” kata Imelda.

Ketua DPD PSI Kota Bekasi Tanti Herawati mengatakan, PSI Kota Bekasi akan membantu keluarga korban untuk terhindar dari ancaman dan intimidasi yang masih terjadi.

“Pertama tentu dengan melapor kepada polisi dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban. Jika mereka terus mendapat teror, kami akan mencoba pilihan-pilihan lain, seperti memindahkan korban dari rumahnya sekarang,“ ujar perempuan yang akrab dengan panggilan Hera ini.

Amri Tanjung alias AT (21), tersangka pelecehan seksual berniat menikahi korbannya seorang siswi SMP inisial PU (15).

Namun tawaran itu ditolak mentah-mentah.

Kuasa hukum AT yakni Bambang Sunaryo mengatakan, pihaknya tidak akan menarik niat tersebut dan tidak masalah telah ditolak pihak korban.

“Niat untuk tetep menikah tidak pernah diurungkan, tetap walaupun enggak mau niat itu enggak akan ditarik. Enggak apa-apa silahkan itu hak mereka (menolak) tapi yang kita tawarkan enggak pernah ditarik,” kata Bambang, Sabtu (29/5/2021).

Bambang menegaskan, niat AT menikahi PU bukan semata-mata bertujuan meringankan hukuman atau semacamnya.

“Proses hukum tetap berjalan, menikah atau tidak proses hukum tetap berjalan jadi enggak ada begitu niat dinikahi terus proses hukum berhenti tidak begitu gak mungkin terjadi,” jelas Bambang.

Pilihan untuk tidak mengurungkan niat menikahi korban, kata Bambang, bisa jadi saat ini ditolak tetapi dikemudian hari dapat berubah.

“Enggak apa-apa, niat sudah disampaikan sekarang mungkin nanti ada perubahan di kemudian hari kan gak apa-apa,” tegasnya.

Ditanya soal kondisi AT, menurut Bambang, kliennya saat ini dalam keadaan sehat di dalam sel tahanan Polres Metro Bekasi Kota.

BACA JUGA:  Giring Ganesa: Saya Jatuh Cinta dengan Alam dan Sejarah Sintang

Pihaknya secara rutin memantau perkembangan penyidik di kepolisian dan berharap, penanganan kasus dapat berjalan sesuai koridor hukum.

“(Kondisi AT) Baik sehat-sehat saja, komunikasi sama keluarga berjalan bahkan saya sendiri hampir dua hari sekali menjenguk AT di polres mengikuti perkembangan penyidikannya,” ungkapnya.

Diketahui, D (43), ayah korban PU secara tegas menolak niat dari tersangka untuk menikahkan anaknya.

“Wacana nikah adalah hal yang enggak masuk akal, saya menolak dengan tegas apapun tawaran seperti itu,” kata D di Mapolres Metro Bekasi Kota, Jalan Pramuka, Bekasi Selatan, Jumat (28/5/2021).

D mengaku, anaknya saat ini masih perlu pendampingan secara psikis.

Masa depannya untuk melanjutkan pendidikan masih harus dijaga bukan malah dinikahkan.

“Sudah jelas syarat perkawinan seperti apa, bahasa yang harusnya menyejukkan situasi malah bikin suasana baru menjadi simpang siur. Saya sebagai ortu korban, menolak dengan tegas,” tegasnya.

Dia mengaku, tidak sudi anaknya menikah dengan AT.

Bahkan, jika harus menanggung dosa atas persetubuhan yang dilakukan buahnya hatinya, dia siap menanggung.

“Saya lebih baik menanggung dosa anak dibanding harus menikahkan anak saya dengan pelaku,” kata D.

Dia menjelaskan, jika pernikahkan AT dengan PU sampai terjadi, hal itu sama saja menjerumuskan anaknya ke lubang hitam yang lebih pekat.

Sebab, tindakan AT yang sudah jelas-jelas melakukan persetubuhan anak di bawah umur sangat tidak bisa ditolerir.

“Dari segi akhlak dan moral ga bisa ditoleransi,” tegasnya.

Ayah tiga orang anak ini bahkan berandai-andai, kalaupun PU sudah berusia dewasa saat ini, niat menikahkan anaknya dengan tersangka tetap akan ditolak mentah-mentah.

“Saya enggak akan sudi, karena kalau saya menikahkan korban dengan pelaku itu tidak akan berjalan baik kehidupan anak saya, dia kemungkinan akan tersiksa,” tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, anak anggota DPRD Kota Bekasi berinisial AT merupakan tersangka kasus persetubuhan yang dilakukan terhadap ABG berinisial PU (15).

AT berhasil ditangkap setelah pihak keluarga dan kuasa hukum menyerahkan tersangka, dia kabur dijemput di daerah Bandung, Jawa Barat.

BACA JUGA:  Wali Kota Keluarkan Perwal PPKM, Fraksi PSI DPRD Kota Bandung: Jangan Batasi Ekonomi Masyarakat

Kuasa Hukum tersangka Bambang Sunaryo mengatakan, AT diserahkan ke pihak kepolisian pada Jumat (21/5/2021) dini hari sekira pukul 04.00 WIB.

Diancam 15 Tahun Penjara

Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Polisi Aloysius Suprijadi mengatakan, AT dijerat pasal tindak pidana persetubuhan di bawah umur pasal 81 ayat 2 juncto 76 D, undang-undang Nomor 17 Tahun 2016.

“Terhadap perbuatan pelaku diancam hukuman pidana penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp5 miliar,” kata Aloysius, Jumat (21/5/2021).

Aloysius menjelaskan, tersangka AT ditangkap setelah orangtuanya bersama kuasa hukum menyerahkan tersangka yang sempat buron ke sejumlah daerah.

“Jadi pada saat dilaporkan ke polisi yang bersangkutan melarikan diri ke Cilacap, lalu ke Bandung, semalam akhirnya menyerahkan diri (diantar orangtua),” jelasnya.

Perbuatan persetubuhan dilakukan AT terhadap PU sudah terjadi berkali-kali, keduanya menjalin hubungan asmara selama sembilan bulan.

“Sudau berkali-kali kan hubungannya sudah sembilan bulan, menurut pengakuan korban mereka berpacaran,” jelasnya.

AT diketahui merupakan anak seorang Anggota DPRD Kota Bekasi.

Pelaku melakukan tindakan persetubuhan di kamar kos daerah Pengasinan, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi.

Selain dicabuli, korban diduga disekap di dalam kamar kos tersebut. PU diduga dipaksa menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK) melalui aplikasi MiChat.

Dugaan kasus persetubuhan dan perdagangan orang ini dilaporkan ke Polres Metro Bekasi Kota oleh orang tua korban berinisial LF (47), pada Senin (12/4/2021) dengan Nomor : LP/971/K/IV/2021/SPKT/Restro Bekasi Kota.

Sumber: https://www.tribunnews.com/nasional/2021/05/31/psi-dampingi-anak-korban-pemerkosaan-dan-perdagangan-orang-di-bekasi?page=4.

---

PSI terus bekerja untuk rakyat, dukung PSI melalui Dana Solidaritas, hanya Rp 88.888 per bulan Klik Disini

Tunjukkan Solidaritasmu!
Liputan Daerah

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × one =