Utamakan Keselamatan Pesepeda, Bukan Bangun Tugu

Utamakan Keselamatan Pesepeda, Bukan Bangun Tugu

Di tengah kian maraknya hobi bersepeda di masa pandemi, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mendorong agar pemenuhan hak-hak pesepeda di jalan raya bisa segera dipenuhi sesuai amanat undang-undang.

“Pasal 25 UU 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mengamanatkan bahwa setiap jalan yang digunakan untuk lalu lintas umum wajib dilengkapi perlengkapan jalan, yang salah satunya adalah fasilitas untuk pesepeda. Sedangkan Pasal 45 menjelaskan fasilitas pendukung LLAJ juga meliputi lajur sepeda,” kata Plt Sekjen DPP PSI, Dea Tunggaesti, saat mengantarkan diskusi online “Anak Muda dan Sepeda: Do’s and Don’ts,” Senin 13 April 2021.

Pemerintah daerah, khususnya di kawasan urban, harus lebih serius memenuhi hak-hak para pesepeda. Kalau fasilitas para pesepeda tidak kunjung dipenuhi dikhawatirkan akan jatuh korban-korban.

“Pesepeda paling rentan jika dibandingkan pesepeda motor, apalagi dengan pengendara mobil. Menurut kami, langkah-langkah untuk melindungi hak dan keselamatan para pesepeda harus segera dikerjakan,” kata Dea yang rutin 3-4 kali seminggu bersepeda ini.

Intinya, keselamatan para pesepeda harus menjadi prioritas. Hal-hal lain yang bersifat kosmetik bisa dinomorduakan.

“Kemarin saya baca berita, anggota Fraksi PSI DPRD DKI Jakarta, Sis Eneng Malianasari atau Sis Milly mempertanyakan langkah Pemprov DKI Jakarta membangun tugu sepeda dengan biaya Rp 800 juta di kawasan Sudirman-Thamrin. Saya setuju dengan Sis Milly bahwa pembangunan tugu sepeda tersebut bukan sesuatu yang sangat dibutuhkan saat ini,” kata Dea.

BACA JUGA:  Ketimpangan Bisa Picu Intoleransi dan Politik Identitas

Pada diskusi tersebut, artis Wulan Guritno juga berbagi pengalamannya bersepeda yang dimulai saat pandemi Covid-19 terjadi.

“Aku sudah rutin berolahraga sejak dulu. Ketika pandemi, tetap berolahraga. Tapi lama-lama bosan juga. Lalu, dengar dari sejumlah teman, kita bisa kok berolah raga di luar dengan tetap menjaga jarak. Nah, saya mulai dengan jogging. Lalu, ada yang ngajak bersepeda,” kata Wulan.

Wulan ikut dengan komunitas. Di sana ia menambah pengetahuan soal bersepeda, termasuk aspek keselamatan. Di komunitas itu juga ada coach.

“Banyak benefit yang aku dapat dari bersepeda. Pagi-pagi, kita sudah merasa achieve something. Jadi sepanjang hari akan bersemangat. Karena kita memulai hari dengan sesuatu yang menyenangkan,” kata Wulan.

Terkait soal keselamatan, Wulan beranggapan, jalur sepeda itu aman buat yang sendiri. Padahal sekarang banyak yang bersepeda secara berkelompok.

BACA JUGA:  Ketimpangan Bisa Picu Intoleransi dan Politik Identitas

“Nah, aku agak merasa kurang aman kalau berkelompok meski di jalur sepeda. Ini semua harus dipikirkan semua pihak supaya keselamatan pesepeda tetap terjamin,” kata Wulan.

Senada dengan Wulan, Widjanarko Hastario yang juga seorang dokter mengungkap, bersepeda memang mengandung banyak manfaat.

“Ini kegiatan yang menyehatkan, menambah semangat, dan membuat kita bisa memahami lingkungan. Kan kadang-kadang kita harus mencari jalan alternatif. Juga penting bahwa bersepeda itu melatih kesabaran karena ada prinsip road sharing. Sepeda itu kasta terendah dalam transportasi, paling kecil dan lamban. Kita harus lebih humble dan sopan,” kata Yoyok, panggilan Widjanarko.

Mantan atlet downhill, Risa Suseanty, dari sisi atlet, sepeda ini olahraga individu, melawan waktu dan mengandalkan diri sendiri.

“Pagi-pagi sudah harus bangun untuk berlatih. Untuk atlet, mentalnya tidak bisa setengah-setengah. Kalau menang baru satu kali, baru keberuntungan. Jadi harus terus berlatih Disiplin gak bisa main-main,” kata Risa yang sekarang tinggal di Belgia.

Soal disiplin yang tumbuh dari bersepeda juga digarisbwahi Wakil Ketua Umum PB ISSI, Toto Sugito. Sebab, bersepeda itu harus sepagi mungkin untuk menghindari mobil dan sepeda motor.

BACA JUGA:  Ketimpangan Bisa Picu Intoleransi dan Politik Identitas

“Mulai pukul 05.30, paling telat pukul 06.00. Selesai paling telat pukul 07.30. Setelah pukul 07.00 sebenarnya kurang aman bersepeda di jalanan. Karena mobil dan sepeda motor sudah mulai banyak,” kata Toto yang juga Co-Founder B2W.

Terkait keselamatan, menurut Toto, aturan sebenarnta sudah ada. Tinggal soal penegakan hukum.

“Tinggal soal law enforcement, harus dijalankan dengan tegas dan konsisten. Seperti polisi lalu lintas dulu memberlakukan aturan safety belt. Harus tegas dan konsisten. Akhirnya dalam 3-5 bulan warga terbiasa,” kaya Toto.

---

PSI terus bekerja untuk rakyat, dukung PSI melalui Dana Solidaritas, hanya Rp 88.888 per bulan Klik Disini

Tunjukkan Solidaritasmu!
Liputan

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × four =