11 Relevansi Pemikiran KH Wahab Hasbullah dari Nasionalisme Sampai Melawan Radikalisme

11 Relevansi Pemikiran KH Wahab Hasbullah dari Nasionalisme Sampai Melawan Radikalisme

Oleh: Mohamad Guntur Romli

KH Abdul Wahab Hasbullah (1888-1971) adalah salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari kalangan umat Islam. Beliau meletakkan dasar kebangsaan Indonesia dalam doktrin keislaman melalui slogan beliau yang terkenal hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman). Beliau adalah Perintis, Penggerak dan Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ormas Islam moderat terbesar di Indonesia dan dunia dari jumlah pengikut. Beliau adalah santri, kiai, ulama, pejuang, pedagang, politisi, tokoh pers, tokoh pendidikan, tokoh kepemudaan yang warisan perjuangannya hingga saat ini masih abadi di Indonesia.

Berikut 11 relevansi perjuangan KH Wahab Hasbullah yang melintasi ruang dan waktu yang hingga saat ini masih relevan dan urgen untuk tetap dilestarikan:

1. Kiai Wahab adalah Peletak, Penyelaras dan Perangkai Dua Dasar Kebangsaan dan Keagamaan; Keindonesiaan dan Keislaman. Kiai Wahab meletakkan dasar nasionalisme (kebangsaan), patriotisme (cinta dan bela tanah air) bagi umat Islam di Indonesia dengan slogan “hubbul wathan minal Iman” (cinta tanah air bagian dari iman), sehingga relasi agama-negara, Islam-Indonesia, keislaman-kebangsaan, musyawarah-demokrasi alih-alih dipertentangkan (seperti yg dilakukan oleh kelompok Islam radikal dan nasionalis ekstrim) namun melalui Kiai Wahab dua dasar ini saling memperkuat, melengkapi dan harmonis, tidak bisa dipisahkan, ibarat dua sisi mata uang yang tidak boleh hilang. Inilah politik jalan tengah Kiai Wahab yang memadukan agama dan nasionalisme, Islam dan Indonesia.

2. Kiai Wahab adalah nasionalis dan patriot sejati dari kalangan santri. Sebagai muslim, santri, kiai dan ulama, KH Wahab sejak awal telah memikirkan dan memperjuangkan kemerdekaan dan kebangkitan tanah air ini dengan membangun (a) Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) tahun 1916, organisasi yang memperjuangkan pendidikan plus organisasi kemasyarakatan yang sudah berdiri di beberapa wilayah saat itu dan (b) Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air) tahun 1924. Dua organisasi berwatak kebangsaan dari kalangan santri ini adalah bukti nyata kalangan santri (Kiai Wahab, Kiai Mas Mansur, Kiai Dahlan Achyad, Kiai Mas Alwi, Kiai Ubaid dan tokoh-tokoh Islam lainnya saat itu) adalah nasionalis sejati, sebelum Sumpah Pemuda tahun 1928 dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Kiai Wahab adalah pejuang dan pembela Kemerdekaan, yang terlibat aktif dalam konfrontasi fisik dan kultural yang melawan penjajah baik Belanda dan Jepang sejak sebelum Kemerdekaan dan pembelaan terhadap Kemerdekaan Indonesia, ketika Sekutu akan menjajah kembali Indonesia pada pertemuan 21-22 Oktober 1945, Kiai Wahab adalah sosok yang aktif mengumpulkan para kiai yang dikomando oleh KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad yang melahirkan Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, yang memantik perlawanan rakyat Indonesia terhadap sekutu di seluruh wilayah Indonesia.

3. Kiai Wahab adalah Penyusun Lagu Kebangsaan dari kalangan santri, Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air) tahun 1934 dalam bahasa Arab yang liriknya mengajak putra-putra bangsa bangkit dan bergerak, berjuang dan membela negeri yang merupakan implementasi ajaran agama karena cinta tanah air adalah bagian dari iman (Hubbul Wathan Minal Iman).. Ya Lal Wathan Ya Lal Wathan.. Hubbul Wathan minal iman… Dalam lirik tersebut juga disebutkan dengan jelas Indonesia Negeriku (Indunisia Biladi)–ini pada tahun 1934! Bandingkan dengan Indonesia Raya yang dikarang oleh WR Supratman tahun 1924, pertama kali diperdengarkan melodinya pada Sumpah Pemuda tahun 1928, karena menggunakan bahasa Indonesia, liriknya dilarang oleh Belanda karena ada “Indonesia raya.. merdeka.. merdeka” pernah diganti “Indonesia mulia”. Namun karena lagu Ya Lal Wathan menggunakan bahasa Arab, maka bisa bebas dilagukan karena penjajah (baik Belanda dan Jepang) tidak paham bahasa Arab.

4. Kiai Wahab adalah Pendiri dan Penggerak “NU Struktural” karena menjadi “NU kultural” bagi Kiai Wahab tidak lah cukup, harus menjadi NU struktural, beliau lah sutradara, maestro, kondaktor, motor, penggerak (muharrik), aktor Intelektual, perintis, pendiri NU Struktural, stlah sebelumnya kaum tradisionalis hanya cukup merawat tradisi dalam masyarakat dan pesantren, Kiai Wahab mencerahkan dan menyadarkan pentingnya struktur dan organisasi bagi kaum kultural, artinya jamaah harus memiliki Jam’iyyah (organisasi, struktur) ini sesuai dgn ucapan Imam Ali Karramallahu wajhah, Al-haqqu bila nidzamin qad yaghlibuhul bathilu bi nidzamin (Kebenaran tanpa organisasi/struktur bisa dikalahkan oleh kebetulan yg tersetruktur).

5. Kiai Wahab adalah tokoh yang melihat pentingnya kemandirian dan pertumbuhan ekonomi, melalui organisasi yang pernah ia bangun Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Pedagang) tahun 1918, selain ulama, Kiai Wahab juga pengusaha, pada zamannya memiliki biro perjalanan haji, pedagang, atau sistem bagi hasil. Dengan kemandirian ekonomi Kiai Wahab menghidupkan organisasi NU. (Rumah beliau baik di Surabaya dan Pesantrennya di Tambakberas menjadi pusat kegiatan organisasi-organisasi yang menjadi cikal bakal NU dan Jam’iyyah NU itu sendiri).

6. Kiai Wahab adalah tokoh pendidikan melalui lembaga pesantren Tambakberas, Jombang yang merupakan salah satu pesantren terbesar di Indonesia, demikian juga madrasah-madrasah Nahdlatul Wathan yang pada zamannya dibangun di beberapa wilayah yang nantinya menjadi cikal bakal Nahdlatul Ulama.

7. Kiai Wahab adalah tokoh pemuda, yang juga melihat pentingnya peran dan organisasi pemuda dengan mendirikan Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air) tahun 1924 dan Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) tahun 1934. Dalam perjuangannya, Kiai Wahab melibatkan tokoh-tokoh pemuda di zamannya baik di NU, Pemuda NU (Ansor) dan pers, seperti Wahid Hasyim, Mahfudz Siddiq, Hasan Gipo, Abdullah Ubaid, Thohir Bakri, Achmad Barawi, Saifudin Zuhri, Subhan ZE, Idham Cholid, dll

8. Kiai Wahab adalah tokoh pers, yang memandang pentingnya media sebagai syiar dan pembentuk opini publik melalui media yang ia bangun melalui mesin cetak yang berada di gedung PBNU saat itu di Surabaya yang menerbitkan media resmi NU, seperti Swara Nahdlatoel Oelama (1927, aksara Arab Pegon berbahasa Jawa), Oetoesan Nahdlatoel Oelama (1928, Latin Melayu), Berita Nahdlatoel Oelama (1931, Latin, Melayu), Soeloeh Perdjuangan, Swara Ansor NO. Yang selanjutnya akan lahir Duta Masyarakat dll.

9. Kiai Wahab adalah tokoh yang melihat pentingnya kekuatan ide, visi, gagasan, pemikiran melalui lembaga diskusi pemikiran yang ia pernah bangun seperti Tashwirul Afkar (Formulasi Gagasan) tahun 1919 dan Islamic Studi Club Tahun 1920 bersama dr Soetomo (Pendiri Budi Oetomo). Kebangkitan pemikiran (afkar), diskusi, musyawarah hingga debat merupakan karakter yang membentuk keilmuan Kiai Wahab yang menjadikan beliau pribadi yang luwes, luas, bijak, arif, toleran, lembut dan mengayomi, jauh dari sifat diktator, menang sendiri, ekstrim, egois dan lain-lainnya.

10. Kiai Wahab adalah politisi yang menjadikan politik sebagai instrumen–dalam bahasa Gus Dur–“memperjuangkan nasib orang banyak”, yang terinspirasi dari kaidah fiqih tasharruful imam ala ra’iyyah manuthun bil mashlahah (kebijakan pemimpin atas rakyatnya berdasarkan kemaslahatan rakyat). Dalam sejarahnya NU pernah menjadi parpol politik yang lagi-lagi memperkuat aspirasi politik jalan tengah (nasionalisme ala santri) yang tetap memperkuat dasar Islam dan kebangsaan Indonesia di tengah pertentangan kubu-kubu politik nasionalis ekstrim, sosialis, komunis, Islam radikal. Kiai Wahab menampilkan sosok politisi yang luwes, tidak radikal dan ekstrim, akomodartif-korektif (meskipun masuk dalam koalisi Parlemen tetap mengoreksi dan memperbaharui kebijakan-kebijakan negara), Kiai Wahab mampu membedakan antara prinsip dan strategi dalam politik, salah satu contoh meskipun secara prinsip Kiai Wahab tidak pernah setuju dengan komunisme dan politik PKI, tapi Kiai Wahab tetap memutuskan dalam koalisi pemerintahan yang di dalamnya ada PKI agar kebijakan-kebijakan yang terkait agama tidak jatuh ke tangan mereka. Dan dari dalam, Kiai Wahab melakukan koreksi dan mempengaruhi Soekarno dalam kebijakan-kebijakannya. Karena sikap ini, Kiai Wahab dan politik NU saat itu sering dicemooh sebagai politik oportunis, beliau diledek “Kiai Orla”, “Kiai Nasakom” namun beliau selalu tabah dan menjawab “Nabi Muhammad dalam perjuangannya bahkan dituduh gila, saya belum dituduh orang gila”, namun dengan keluwesan, sikap akomodartif-korektif, serta membedakan yang prinsip dan strategi, Kiai Wahab menyelamatkan peran politik NU yang tetap setiap pada dasar dan perjuangan negara tidak pernah memberontak seperti kubu-kubu aliran politik lain. Terbukti juga dalam kemelut PKI pada pertemuan tahun 60an, Kiai Wahab dan NU menjadi garda terdepan menentang organisasi dan pengikut PKI, sebagaimana ketegasan Kiai Wahab dan NU melawan pemberontakan Darul Islam (DI) dan Tentara Islam Indonesian(TII) bentukan Kartosuwiryo pada tahun 50an sebagai pembelaan Kiai Wahab dan NU terhadap dasar negara dan Republik Indonesia serta Pemerintahan yang sah. Dalam mengambil keputusan politiknya Kiai Wahab menggunakan kaidah fiqih misalnya yang membuat beliau luwes, tidak ekstrim dan tidak patah arang dalam berpolitik karena terinspirasi kaidah mala yudraku kulluhu la yutraku kulluhu (Yang tidak bisa diperoleh semua, jangan ditinggalkan semuanya), saat membela pemerintahan yang sah Soekarno beliau menggunakan qiyas (analogi) pemerintahan sebagai “wali hakim” dalam doktrin fiqih yang sah, demikian pula kaidah dar’ul mafasid muqaddam ala jalbil mashalih (mendahulukan menolak kerusakan daripada mengambil manfaat) dan Al-Khuruj minal khilaf mustahabb (keluar dari konflik dianjurkan) dalam melihat polemik, pertentangan serta pemberontakan politik saat itu.

11. Kiai Wahab adalah cerminan dari karakter muslim NU, muslim Nusantara, Muslim Indonesia yang toleran (tasamuh), moderat (tawassuth), adil dan konsisten (i’tidal), berimbang, tidak ekstrim (tawazun) dan senantiasa menyerukan pada kebaikan dan mencegah kemungkaran (al-amr bil ma’ruf wan nahyi anil munkar).

Tulisan ini berasal dari ide-ide yang disampaikan dalam Diskusi Publik dan Launching Kelas Pemikiran KH Wahab Hasbullah (KPMW) yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul Ulum Cabang Ibu Kota (HIMABI) di Ciputat, Sabtu 5 April 2018.

Mohamad Guntur Romli, kader NU dan Ansor yang menjadi Calon Legislatif (Caleg) dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Tunjukkan Solidaritasmu!
Opini

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

15 − three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.