Perempuan-perempuan Pemberani

Perempuan-perempuan Pemberani

Tahun ini, Pinki, penyanyi sebuah grup band di India selatan, ingin belajar bermain gitar. Dia ingin bisa memetik gitar seperti yang dilakukan gitaris pria di atas panggung. Lewat musik, Pinki ingin melupakan ”kisah” pahit yang harus ia lalui ketika dipaksa bekerja di sebuah rumah bordil di Ballari, India.

Pinki (19) mengungkapkan resolusi tahun barunya setahun setelah pengadilan India menghukum 40 pelaku perdagangan manusia di Negara Bagian Karnataka di India selatan. Pinki hadir dalam persidangan untuk memberikan kesaksiannya di pengadilan. Di antara 40 terpidana, ada orang yang telah memperjualbelikan Pinki.

Perempuan yang menjualnya pada sindikat prostitusi dan seorang pria pemilik rumah bordil di Ballari, di mana ia dipaksa menjadi pekerja seks komersial selama delapan bulan, dinyatakan bersalah oleh pengadilan. ”Mereka seharusnya dihukum mati, bukan dipenjara 10 tahun,” kata Pinki sembari duduk di atas ranjang, menenteng gitar di tangan dengan boneka beruang di sampingnya. Saat itu ia sedang berada di rumahnya di sebuah desa di Andhra Pradesh.

BACA JUGA:  Evil Winter, Trade War, dan Nurani Jokowi

”Akan tetapi, saya tidak mau memikirkan itu lagi. Saya ingin memikirkan tentang musik dan kekasih saya. Mudah-mudahan kami bisa menikah akhir tahun ini,” kata Pinki kepada Thompson Reuters Foundation.

Ribuan kilometer dari rumah Pinki, di Kolkata, seorang perempuan berumur 19 tahun—senasib dengan Pinki—juga membuat resolusi pada 2018 ini. Ia sedang menyiapkan ujian akhir sekolah menengah atas dan mencari kampus untuk belajar filsafat.

Diselamatkan

Sebelumnya para perempuan muda itu diselamatkan polisi India dari rumah bordil di Ballari pada 2013. Saat itu polisi menggerebek beberapa rumah bordil. Mereka menyelamatkan 43 perempuan termasuk 21 anak-anak. Sebanyak tujuh orang berasal dari Bangladesh dan sisanya berasal dari India.

BACA JUGA:  Evil Winter, Trade War, dan Nurani Jokowi

Setelah diselamatkan, Pinki dan teman-temannya ditempatkan di sebuah rumah perlindungan di Prajwala. Di sana mereka ditanya apakah mereka mau menjadi saksi untuk melawan para pelaku perdagangan manusia itu.

Awalnya mereka sulit melupakan masa lalu yang gelap itu dan harus menunggu hingga empat tahun untuk bisa menceritakan secara detail pemerkosaan dan pelecehan yang mereka alami dalam sidang di pengadilan. Karena keberanian itu, akhirnya mereka bisa menyaksikan para pelaku yang menjual mereka dihukum.

Pendiri Prajwala, Sunitha Krishnan, mengatakan, setiap tahun ada 200.000 perempuan dan anak-anak di India yang dipaksa masuk ke dunia prostitusi dengan ancaman dan paksaan. Diperkirakan 16 juta perempuan dan anak-anak dari 20 juta pekerja seks komersial di India merupakan korban perdagangan manusia.

BACA JUGA:  Evil Winter, Trade War, dan Nurani Jokowi

Sumber: Harian Kompas 11 Januari 2018

Tunjukkan Solidaritasmu!
Blog Solidaritas Inspirasi