PSI: Sistem Rekrutmen Caleg Secara Terbuka, Menghindari Praktek Korupsi

PSI: Sistem Rekrutmen Caleg Secara Terbuka, Menghindari Praktek Korupsi

Tidak diragukan lagi bahwa Partai politik memiliki peran sangat besar dalam siklus kepemimpinan dalam pengelolaan negara, Namun ironisnya, reformasi internal di partai politik belum terjadi. Sistem rekrutmen caleg secara tertutup adalah salah satu contohnya, yang sampai saat ini masih dilakukan oleh hampir seluruh partai.

Sistem rekrutmen caleg secara tertutup inilah, salah satu yang ingin dihindari oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Ketua Umum PSI, Grace Natalie menjelaskan, sebagai partai yang ingin membangun tradisi dan standar baru, maka mereka melakukan siatem rekrutmen caleg secara terbuka dan dilakukan oleh orang-orang yang kompeten dan independen.

“Salah satu masalah utama di parpol adalah sistem rekrutmen caleg (calon anggota legislatif) yang tidak transparan. Tidak mengherankan praktik korupsi, misalnya, masih sangat marak,””ujar Grace melalui siaran pers yang kami terima pada hari ini (2/1/2018).

Sistem Rekrutmen Caleg PSI

Grace berkeyakinan, jika proses dan sistem rekrutmen caleg diperbaiki, maka kualitas anggota legislatif juga akan jauh lebih baik. Dan kemudian ia menjelaskan, proses rekrutmen caleg PSI untuk pemilu 2019 akan memasuki gelombang ke dua.

“Pada gelombang pertama, ada 1.155 pendaftar. Dari 146 peserta yang mengikuti tes wawacara, PSI menetapkan 57 calon dinyatakan lolos, 58 lolos dengan syarat. Sementara, 31 orang dinyatakan tidak lolos,” urai Grace.

Dalam rekrutmen gelombang pertama, digelar wawancara secara terbuka yang melibatkan para anggota Panitia Seleksi (Pansel). Adapun anggota Pansel Rekrutmen Caleg PSI pada gelombang pertama tersebut adalah: Mari Elka Pangestu, mantan Ketua MK Mahfud MD, mantan Komisioner KPK Bibit Samad Rianto, praktisi pendidikan Henny Supolo, mantan Komisioner Komnas Perempuan dan Anak Neng Dara Affiah, dan pengamat politik Djayadi Hanan. Selanjutnya, ada mantan hakim dan pakar hukum Asep Iwan Iriawan, advokat senior Tuti Hadiputranto, dan dosen Komunikasi UI Ade Armando, dosen Fakultas Hukum UGM Zainal Arifin Mochtar, guru besar psikologi UI Hamdi Muluk, dosen ilmu politik UI Sri Budi Eko Wardhani, dan Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi.

Adapun anggota Pansel yang terlibat dalam rekrutmen gelombamg kedua, selain nama-nama yang ada si gelombang pertama, juga ditambah dengan advokat senior Todung Mulya Lubis, mantan Rektor UIN Jakarta Azyumardi Azra, mantan Menkeu Muhammad Chatib Basri, pakar Hubungan Internasional Clara Juwono, tokoh perempuan Natalia Soebagjo, pakar hukum Bivitri Susanti, penulis Goenawan Mohamad, dan pegiat sosial Atika Makarim.

“Pada gelombang kedua, saya berharap ada lebih banyak perempuan yang mendaftar. Masih sangat kurang. Sehingga mudah-mudahan minimal sepertiga dari calon legislatif PSI nanti perempuan,” ujar salah seorang anggota Pansel, Mari Elka Pangestu.

Mengenai pelaksanaan rekrutmen gelombang ke dua, Grace menjelaskan bahwa sistemnya sama dengan sebelumnya.

“Wawancara dilakukan secara terbuka agar masyarakat mengenal caleg yang dipilih. Selama ini masyarakat memilih tanpa mengetahui rekam jejak caleg. Pendaftaran gelombang kedua ini akan ditutup pada 31 Januari 2018. Untuk keterangan lebih lanjut mengenai proses rekrutmen, masyarakat bisa lihat di situs kami (www.psi.id),” Grace menjelaskan.

Sumber

---

PSI terus bekerja untuk rakyat, dukung PSI melalui Dana Solidaritas, hanya Rp 88.888 per bulan Klik Disini

Tunjukkan Solidaritasmu!
Liputan Nasional