Batu Akik, Artis dan Seks

Batu Akik, Artis dan Seks

Editorial Koran Solidaritas Edisi VII, Januari 2016

Ketika demam batu Akik melanda beberapa titik di Indonesia, Negara kalah cepat dalam menetapkan regulasi penambangan dan perdagangan si Akik. Seorang pemilik batu di Aceh mendadak jadi milliarder setelah batu akik miliknya dibeli seorang pengusaha dari Tiongkok. Akik terdiri dari bermacam jenis, warna dan bentuk. Ada Bacan, Kalimaya, Kecubung, belum lagi batu yang entah berjenis apa tapi memiliki tekstur mirip Katak, Ular, atau wajah manusia meski hanya hidung dan mata. Dalam hal kilauan, kualitas dan kekerasan  tentu Akik masih dibawah kelas Diamond, Ruby atau Saphire. Tapi kehebohan yang ditimbulkan oleh Akik Nusantara ini tidak kalah hebohnya dengan batu kelas premium lainnya.

Bagi Akik, harga tidaklah ditentukan oleh jenis batu, kualitas atau biaya produksi gali gosoknya. Nilai dan harga jual si Akik sangat ditentukan oleh cerita tentang bagaimana batu tersebut ditemukan, atau tentang sejarahnya di masa lalu, ditambah khasiat apa yang bisa didatangkannya di masa mendatang. “Bapak lihat bukit itu? Jika hari ini saya sebar cerita bahwa ada Bongkahan Akik disana, seminggu lagi Bapak kesini bukit itu sudah rata dengan tanah” demikian seorang kawan di Aceh setengah berkelakar soal Akik.

Cerita si Akik mirip dengan kasus Prostitusi Artis yang belum lama menghebohkan kita. Baik Akik ataupun prostitusi Artis tentu tidak segampang mengakses ‘Cabe-cabean’, mereka tersembunyi, prosedur kerahasiaannya berlapis. Makin rahasia, makin sakral, makin mahal juga harga yang harus dibayarkan. Apakah Akik lebih bagus kualitasnya dibanding Saphire Srilanka? Atau apakah artis-artis itu mengalahkan pesona seluruh perempuan Indonesia? Jika saja memori konsumen tentang kisah batu tersebut dihapuskan, maka tentu pilihan obyektif akan jatuh berdasarkan rasa dan sensasi yang terpancar ketika melakukan kontak pertama terjadi dengan keduanya. Tanpa itu preferensi kita mengenai Akik dan Artis adalah preferensi yang sudah dikonstruksikan.

Hal yang sama berlaku pada Seks, jika saja relasi kuasa dicabut dari  Seksualitas kita, maka Seks akan hadir utuh sebagai benda sosial yang suci secara horizontal, perennial dan vertikal. Namun kuasa modal, pasar, media massa dan Negara telah membawa Seksualitas sebagai sebuah struktur kuasa, ketidakadilan yang kita alami adalah akibat dari ketidakjujuran kita dalam perilaku Seksual. Pada akhirnya tubuh yang kita huni hanyalah seonggok daging tanpa gairah. Tubuh yang dikonstruksikan sebagai cerminan dari selera pasar, bukan lagi tubuh yang unik, sebagai pancaran Ilahiah dan kebenaran.

Publik sedang mencari batas wajar dari “harga dan nilai”.  Seks hari ini tidak lagi menjadi wilayah kedaulatan tubuh, kekaburan batas nilai dan harga itu memang yang menjadi prasyarat pasar bergerak dinamis. Ketika itu masuk ke ruang publik dalam bentuk konsumsi apalagi kekuasaan, maka disana Seksualitas menciptakan tembok pemisah antara si kaya dan si miskin mendapatkan reaksi. Menyakitkan tentu bagi seorang isteri buruh atau buruh itu sendiri mendengar tarif ratusan juta rupiah yang diterima Sang Artis dengan bekerja tidak lebih dari tiga jam di sebuah kamar hotel berbintang lima. Pada saat yang sama media massa (yang juga memberitakan transaksi Sang Artis) memberitakan tentang sepasang suami isteri tega menjual bayinya untuk membayar biaya persalinan. Lalu tibalah kita pada identifikasi kelas yang membawa atas dan bawah saling berkelahi. Solidaritas si-miskin melawan si-kaya dipisah oleh jurang kesenjangan sosial.

Sadar atau tidak, Negara telah ikut mereduksi Seks menjadi bagian dari kotornya tubuh manusia. Celakanya itu tidak berlaku bagi mereka yang ada di kelas sosial atas. Jika anda menyewa kamar di hotel bintang lima, anda berhak mendapatkan perlindungan Negara. Ini sama dengan yang dikatakan Foucault mengenai praktek Seks di jaman Gereja Ortodoks dan Viktorian. Jika dulu terjadi sakralisasi dan puritanisme seks. Maka hari ini yang terjadi adalah komersialisasi Seks yang dimenangkan oleh kelas sosial atas. Tarif premium ditetapkan sedemikian rupa, kapitalisme sudah melakukan kalibrasi spesifikasi produk, cantik dan ganteng di konstruksi sedemikian rupa melalu media massa. Tidak ketinggalan fitur-fitur terbaru berupa kosmetik, parfum, bra, lingerie, lipstik dll menjadi prasyarat utama sistem bisa bekerja. Ada menu untuk mengganti desain hidung, tinggi badan, warna kulit dll. Semuanya tersedia di Buku Manual yang generik. Harga adalah hal terakhir yang diketahui konsumen. Jika boleh harga fluktuatif, karena setiap detik naik turunnya harga akan menjamin laba semakin menggunung. Artis yang sudah dibentuk melalui uji publik berupa sinetron, gossip, musik dll. akhirnya memasuki fase akhir bernama Komersialisasi: DIJUAL.

Industri fantasi, sensasi, pornografi dan ideologisasi Seksual versi pasar selalu ditopang oleh media massa yang juga adalah milik mereka. Lalu bagaimana soal keamanan dan privasi? Bukankah di buku manual sudah terantum “anda kecewa uang kembali” Bagian yang ini bisa di “outsource” ke lembaga yang bernama Negara dan ormas sektarian radikal.  Polisi, hakim dan penegak hukum lainnya sedang menderita disfungsi seksual. Bahkan KPK yang masih bergairah, mulai diteror agar setidaknya tidak lagi menyadap informasi rahasia para klien.  Harga bisa rusak karenanya, orang akan enggan membeli, harga jatuh dan dana pinjaman yang mereka kelola, macet.

Jargon Negara  netral harus tetap didengungkan. Aktor keamanan secara konsisten bisa juga menjadi aktor ketidakamanan di waktu yang lain. Konsumen harus tetap merasa pantas untuk membayar mahal setiap produk yang mereka tiduri.  Jika perlu sesekali Negara menunjukkan sikap tegas, menangkap germo yang sudah tidak produktif memasarkan produk. Contact list di seluler Sang Germo tidak pernah di ekspose, selain untuk perlindungan konsumen, juga akan berguna untuk kepentingan ‘jaga-jaga’ dikemudian hari. Sementara sang konsumen mendadak rajin mengawasi berita, takut tiba-tiba namanya disebut. Tapi itu jarang terjadi, karena produk baru akan segera diluncurkan dan mereka kembali ke mekanisme seperti semula. Seakan tidak ada apa-apa.

Tunjukkan Solidaritasmu!
Kolom Opini