TRILOGI PERJUANGAN PSI

TRILOGI PERJUANGAN PSI

Menebar kebajikan, Merawat Keragaman, Mengukuhkan Solidaritas.

Naskah lengkap pidato politik Ketua Umum PSI Grace Natalie dalam acara Kopdarnas PSI I di Balai Sidang Jakarta, 16 November 2015

Assalamu Alaikum, Salam Damai Sejahtera untuk kita semua,
Om Swastiastu, Namo Buddhaya

Salam Solidaritas!

Jika Trisakti Bung Karno menyebutkan Berdaulat secara politik, Berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara budaya. Maka malam ini,  PSI ingin menyampaikan Trilogi Kebangsaan PSI. Tiga poros misi perjuangan PSI: Menebar Kebajikan, Merawat Keragaman dan Mengukuhkan Solidaritas.

Setiap hari kita menyaksikan betapa kebajikan semakin sulit untuk ditemukan, seakan kebajikan menjadi barang mewah yang hanya bisa dipajang di etalase-etalase merek ternama, tanpa bisa menyentuh apalagi memiliki. Buya Syafii Maarif bahkan memberikan catatan khusus bahwa “telah lama bersimpang jalan antara perkataan dan perbuatan.” Sepintas berbuat baik sepertinya mudah, namun pertanyaannya mengapa setiap hari tingkat kriminalitas dengan segala bentuknya terus meningkat? Masih banyak masyarakat yang lebih senang menggunjingkan buruk saudaranya, daripada mengulurkan tangan menularkan cinta. Begitu juga kriminalitas yang dipertontonkan para elit dan pengambil kebijakan, yang masih suka mengabaikan, bahkan merampok hak-hak rakyat. Banyak.

Hadirin, Bro dan Sis yang saya banggakan!

Sungguh yang lebih berbahaya dari krisis ekonomi adalah krisis orang-orang baik, krisis kebajikan. Bisa kita bayangkan jika bonus populasi Indonesia mayoritasnya justeru diisi oleh orang-orang yang tidak baik, para koruptor dan para pencoleng dana publik.

Oleh karena itulah malam ini saya ingin kembali menegaskan, bahwa PSI lahir untuk menyemai, menebar, memupuk, menumbuhkan, menyuburkan kembali benih-benih kebajikan sebelum punah ditelan kegelapan dan keserakahan. Minggu lalu Mas Goen mengingatkan kami pada pesan Ali Bin Abi Thalib “Kebenaran yang tidak terorganisir akan kalah oleh kejahatan yang terorganisir.” Disinilah PSI meletakkan pondasi berdirinya, sebagai barisan orang baik yang terpimpin, terdidik dan terorganisir untuk melawan kejahatan.

Bro dan Sis, bila kelak PSI ditakdirkan mengemban amanah rakyat, PSI tidak akan pernah terlibat dalam persekongkolan jahat melemahkan institusi pemberantasan korupsi, KPK, sebagai anak kandung refomasi. KPK mesti perlu terus diperkuat bersamaan dengan pembenahan serius di tubuh kepolisian dan kejaksaan.

Bro dan Sis yang saya cintai!

Bagian kedua dari Trilogi PSI adalah merawat keragaman. Apalah arti batas teritori Sabang – Merauke, apalah guna bala tentara yang kuat, sejarah yang panjang dan ekonomi yang makmur, jika kemudian kita tidak diikat oleh sebuah rasa toleransi. Bangsa kita sudah ditakdirkan menjadi bangsa yang dijahit dari berbagai warna suku, agama, kebudayaan, adat istiadat dan sumber daya alam.

Tapi bagaimana hati ini tidak miris, ketika melihat rumah ibadah dibakar, satu kelompok keyakinan yang berbeda lalu dipinggirkan. Jelas bagi PSI, bahwa “mengakui Kemerdekaan Indonesia, adalah juga pengakuan terhadap ribuan suku, adat istiadat, budaya, agama dan keyakinan yang menghuni gugusan pulau-pulau di nusantara.” Sehingga melukai keragaman adalah sama dengan melukai kemerdekaan Indonesia. Serangan terhadap kebebabasan beragama dan berkeyakinan adalah juga serangan pada NKRI pada saat yang sama.

Tindakan intoleransi, rasanya tidak pantas ada di negeri gemah ripah loh jenawi ini. Bangsa ini tidak pantas berduka karena dicederai oleh aksi-aksi intoleran. Intoleransi adalah musuh dari kebhinekaan atau keragaman. Intoleransi adalah ancaman nasional paling nyata. Bahkan intoleransi adalah aksi separatisme paling nyata. Kita harus percaya bahwa Kebhinekaan adalah pusaka negeri yang harus kita jaga. Inilah warna dan jati diri bangsa Indonesia.

Hadirin, Bro dan Sis Pengawal Kebhinekaan!

Kebetulan malam ini, tepat 16 November 2015, bertepatan dengan hari peringatan satu tahun PSI, juga merupakan “hari toleransi internasional.” Di tanggal yang baik ini, ijinkan saya sebagai Ketua Umum PSI menyatakan! Bahwa PSI akan berdiri digaris paling depan untuk menyatakan perang terhadap korupsi dan tindakan Intoleransi. Kata korupsi dan intoleransi harus dihapuskan dari kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ini penting saya nyatakan, agar semua orang tahu, PSI bukanlah sekumpulan anak muda dan perempuan cengeng, yang hanya bisa memaki di media-media sosial. Kader PSI tidak hanya mengandalkan kemudaannya untuk mengemis kekuasaan. inilah PSI yang Anti Korupsi dan Anti Intoleransi. PSI adalah anak muda yang sadar bahwa kekuasaan bisa sangat membutakan.

Hadirin, Bro dan Sis, Para Pembela Solidaritas Indonesia!

Pendek kata, jika rakyat menjatuhkan kepercayaannya kepada PSI di 2019 kelak. Saya berani menyatakan, PSI tidak akan pernah tertarik menerbitkan Perda Injil atau Perda Syariah. Tidak ada Bupati atau Walikota PSI yang akan menerbitkan Surat Edaran untuk mebatasi kebebasasan warganya untuk beribadah, siapapun  mereka. Tidak boleh lagi ada perusakan gereja di Singkil, tidak boleh lagi ada lagi cerita tentang perusakan masjid di Bitung. Tidak boleh ada pengusiran sekelompok orang dari tanahnya hanya karena beda keyakinan.

PSI tidak rela bangsa ini dicabik-cabik iri dan dengki. Kita ini bangsa beradab, kita punya jutaan sawung-sawung untuk bermusyawarah. Kita masih punya dada yang  sangat lapang untuk  mencapai mufakat. Sungguh yang kita butuhkan sekarang adalah Toleransi… toleransi… dan toleransi! Romo Magnis pernah mengatakan “Dalam beragama, kita harus selalu rendah hati. Karena agama datang untuk kebajikan, bukan untuk membuat kerusakan”

Bro dan Sis, Generasi Politik Baru Indonesia!

Tidak mungkin menebar kebajikan dan merawat keragaman jika tidak ada sebuah ikatan diantara unsur-unsur. Mustahil menjadi sebuah kibar Merah Putih yang perkasa, jika warna putih kebajikan dan merahnya keragaman itu tidak kita jahit dengan benang SOLIDARITAS. Bro dan Sis, kitalah benang-benang solidaritas itu, benang dari bahan terbaik bumi Indonesia, benang yang tidak akan mau berkelahi satu dengan yang lainnya. Kita adalah benang-benang yang saling bergandengan tangan menjadi tali, menjadi untaian mutiara mutu manikam, berkilau digaris khatulistiwa.

Inilah Trilogi kelahiran sebuah generasi politik baru. Trilogi perjuangan Partai Solidaritas Indonesia. Trilogi kemanusiaan, trilogi pergolakan kaum muda dan perempuan Indonesia. Trilogi yang menolak kenyataan bahwa bangsa yang begini kaya raya, hanya menjadi bangsa pelengkap dalam peta percaturan dunia baru.

Bro dan Sis Para Benang penjahit Indonesia Baru yang saya cintai!

Sebagai partai baru, PSI tentu harus membawa gagasan dan cara berpolitik yang baru. Karenanya kami sangat ketat dalam rekrutmen pengurus. Pengurus harus berusia di bawah 45 tahun dan belum pernah menjadi pengurus harian partai politik manapun. Inilah komitmen kami terhadap perwujudan KEBARUAN PSI.

Di PSI kami mewajibkan kepengurusan perempuan di atas 40%. Ini merupakan pernyataan politik PSI terhadap persoalan kesetaraan gender di Indonesia. Memang bukan pekerjaan yang ringan. Tapi kami yakin bisa terwujud dengan kerja keras dan disiplin ketat.

Rakyat Indonesia yang kami cintai!

Orang boleh mengatakan, PSI akan bernasib sama dengan pendahulunya. Menebar janji manis di awal, lalu terjebak dalam lingkaran kekuasaan. Berbaik muka di depan, lalu meninggalkan rakyat di ujung cerita. Sebagian bahkan  meremehkan dan nyinyir, “ Bagaimana mungkin membangun partai tanpa donatur?”

Ya betul, kami memang butuh donatur, kami butuh uang. Karena sistem kepartaian ini memang dirancang sedemikian rupa, untuk melanggengkan Status-Quo. Tapi PSI tidak akan mengemis, karena uang bukanlah segalanya. Fundraising penting, namun friendraising jauh lebih penting. Karena dengan friendraising itulah PSI mendapatkan tempat di satu tahun pertama kemunculannya.

PSI memang tidak memiliki media, namun berkat kedekatan perkawanan dengan Bro dan Sis para jurnalis, mereka yang masih setia menjadi pilar utama demokrasi Indonesia, akhirnya berita tentang PSI mulai bertebaran di berbagai media massa nasional dan lokal. Pada malam ini, penghargaan dan terima kasih yang tulus kami ucapakan, kepada Bro dan Sis sahabat kami para jurnalis hebat, yang masih memberi jalan pada kelahiran PSI.

Rakyat Indonesia yang karenanya PSI lahir dan didirikan!

Saya juga akan buka malam ini bahwa kami punya banyak sekali donatur. Di ruangan ini telah hadir 1000 lebih donatur utama PSI. Mereka yang selama setahun ini mendonasikan pikiran, tenaga, kreativitas, dan waktu untuk membangun mimpi ini bersama. Mereka yang tanpa henti, dari 34 Provinsi, 514 Kab/Kota, dari 7.160 Kecamatan yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka inilah yang senantiasa mengalirkan gagasan dan energi baru pada PSI.

Bro dan Sist ini telah mendonasikan hal yang tidak ternilai, bukan pada takaran Rupiah, tapi berbentuk karya yang tidak sebanding dengan kalkulasi timbangan untung rugi. Jika ada yang mencari donatur PSI, malam ini mereka hadir disini. Jika ada yang menanyakan mengapa Grace Natalie begitu percaya diri? Tidak ada keraguan, karena saya yakin akan selalu ada jutaan tangan, jutaan bahu dan jutaan jiwa,  yang akan ikutserta menanggung beban perjuangan bersama ini.

Hadirin, Bro dan Sist yang saya cintai!

Ada satu orang yang tidak hadir, bukan karena berhalangan. Ketidakhadirannya justru merupakan pernyataan politik terbuka. Bro yang satu ini adalah orang yang pertama percaya kepada kami. Percaya bahwa mimpi PSI bisa menjadi kenyataan jika dijalankan secara konsisten. Saya perkenalkan Ketua Dewan Pembina PSI, Bro Jeffrie Geovanie yang pada malam ini diwakili oleh istri tercintanya, Sist Diana Geovanie.

Ketidahadiran Ketua Dewan Pembina PSI adalah sebuah pernyataan politik kepada publik. Pernyataan bahwa anak-anak muda Indonesia sudah siap tanpa harus menunggu lama. Batas sudah ditetapkan. Sebuah garis demarkasi yang hanya bisa ditegakkan oleh manusia yang meyakini bahwa segala sesuatu haruslah mengenal batas. Kami merasa sangat beruntung, salah satu individu yang mampu menarik batas itu, saat ini menjadi Ketua Dewan Pembina PSI.

Hadirin sekalian, Bro dan Sis yang berbahagia!

Disadari atau tidak, saat ini kita sedang hidup dalam era digital. Pada era ini, sahabat yang selalu menyertai kita dimanapun kita berada, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi adalah perangkat elektronik yang kita sebut GADGET.

Harus diakui, gadget bisa membuat manusia menjadi asosial dan cenderung apatis terhadap lingkungannya.Tapi ada cerita lain yang tidak kalah menarik tentang gadget dan era digital ini. Dalam genggaman anda, ada kisah tentang demonstrasi Occupy Wall Street di New York, ada cerita tentang Arab Spring. Gadget yang mungil ini, juga berkisah tentang aksi heroik seorang pelajar muda dalam Umbrella Revolution di Hongkong.

Bro dan Sis yang saya banggakan!

Dunia terus bergerak maju, kita telah masuk ke dalam sebuah bahasa baru, relasi sosial baru, dan juga relasi kekuasaan yang sama sekali baru. Oleh karena itu kita butuh sebuah alat baru untuk menjawab tantangan di zaman baru.

Sebagai partai anak muda kami sadar akan tanda-tanda zaman ini. Beberapa hari yang lalu, berkat dukungan dan kerja keras orang-orang kreatif di dapur PSI, Fanspage Facebook PSI telah mencapai 1 juta Fans, yang artinya adalah terbanyak ketiga dalam urutan partai-partai politik di Indonesia. Hasil ini tidak akan membuat kitra lengah tentunya. 16 November tahun yang akan datang, kita harus memastikan PSI berada di urutan teratas Partai Politik yang paling diminati di media sosial di Indonesia.

Hadirin sekalian, Bro dan Sist yang saya hormati!

Pada Pemilu 2019 mendatang, Indonesia tengah menikmati bonus demografi. Lebih dari 50% pemilih berada pada rentang usia muda. Disanalah PSI mengambil posisi politiknya. PSI berdiri sebagai perwakilan generasi baru, zaman baru, dengan bahasa dan alat yang baru. Generasi Y, Generasi Z, generasi yang dituduh apatis berpolitik, generasi yang dipersalahkan karena Bahasa mereka  tidak memenuhi kaidah Ejaan Yang Disempurnakan. Bersama PSI, generasi baru inilah yang akan unjuk kekuatan, akan unjuk kreatifitas, generasi baru yang telah memilih takdirnya sendiri.

Kita bukan generasi yang hanya bisa menonton dan menunggu sampai kerusakan sudah benar-benar tidak bisa diperbaiki. Kita adalah generasi yang menolak untuk menjadi batu ditengah arus sungai yang kotor. Kita generasi hebat dan keren, generasi yang ingin berenang di arus peradaban yang jernih, bersih dari malware korupsi, jauh dari virus-virus Intoleransi.

Bro dan Sist yang tercinta!

Saya akan mengakhiri pidato ini disini. Dengan segala rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Juga rasa terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia. Dengan segala kerendahan hati, dengan segala keyakinan pada kekuatan Solidaritas, saya persembahkan bayi politik baru Indonesia Partai Solidaritas Indonesia. Tangisan pertama PSI adalah pernyataan, bahwa PSI telah berdiri mantap di garis START dan siap berkompetisi dalam gelanggang politik Indonesia menuju Pemilu 2019.

Saya gunakan kesempatan baik ini, untuk mengajak seluruh anak muda Indonesia, generasi Y, generasi Z, generasi yang selama ini diabaikan, kepada kalian PSI berbicara malam ini. Bersama seluruh kekuatan perempuan Indonesia,  PSI menunggu solidaritas kalian, kaum muda dan perempuan, solidaritas untuk mempersiapkan sebuah kelahiran baru. Kelahiran Indonesia yang lebih baik.

Jangan pernah tanya berapa yang harus Bro dan Sist donasikan, jangan tanya apa posisi Bro dan Sist kelak di PSI, karena dalam Kamus PSI itu bukanlah pertanyaan penting. Kita semua setara di PSI! Yang paling penting adalah apa yang akan kita dedikasikan untuk bangsa dan Negara ini.

Download terus DNA kebajikan dan keragaman, Upload terus virus Solidaritas Indonesia ke seluruh penjuru negeri. Mari bersama kita tebarkan benih kebajikan, semai terus bunga-bunga keragaman. Karena sesungguhnya, kami bukan siapa-siapa, tanpa kamu semua.

Salam SOLIDARITAS!

Terima kasih Indonesia, Salam Sejahtera, Puji Tuhan, Wassalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!

 

 

Tunjukkan Solidaritasmu!
Pidato Ketua Umum