Mengawal Republik  dengan Jurus Digital

Mengawal Republik dengan Jurus Digital

Hasil Wawancara bersama Ainun Najib, Penggagas Kawalpemilu.org

Jagad politik Indonesia seketika mengalami perubahan yang cukup dahsyat tatkala antusiasme relawan, khususnya masyarakat digital pada pemilihan presiden 2014 begitu luar biasa. Anak-anak muda yang biasa apatis dengan persoalan politik bergerak turut serta dengan sukarela mengawal masa depan republik. 

Tingginya partsipasi aktif masyarakat digital yang sebagian besar anak-anak muda saat ini membuktikan bahwa mereka sangat perhatian terhadap masa depan bangsa. Perhatian besar terhadap nasib negara ini masih bisa dilakukan lewat sosial media atau berperan menumbuhkembangankan demokrasi digital di Indonesia. 

Dalam rubrik sosok sebuah harian nasional sosok muda ini pernah berkata, “Perbaikan itu harus dimulai dari politiknya, orang-orang baik harus didorong untuk mengisi lembaga legislatif dan mengisi jabatan-jabatan penting di republik ini. Kami anak-anak muda indonesia akan melakukan sesuatu untuk Indonesia”.

Siapakah anak muda itu? Ya, Ainun Najib, sosok muda kreatif yang identik dengan situs Kawalpemilu.org – situs yang merilis hasil suara pemilihan presiden 2014. Kini, bersama dengan teman-temannya ia menginisiasi langkah lanjut dari apa yang telah dikerjakannya dengan kawalpemilu.org. Ainun menginisiasi portal partisipasi publik untuk bangsa mulai dengan tema: KawalAPBD, KawalDesa, LaporPresiden, dan Code4Nation. 

Ainun Najib, penampilannya nyentrik, kopiah dan jenggot mempertegas bahwa dirinya berasal dari kalangan religius, tepatnya Nahdliyin. Lulusan Universitas Nanyang di Singapura ini lahir pada tanggal 20 Oktober 1985. Dilahirkan dari pasangan Abdul Rozaq dan Rustinah di Desa Klotok, Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. 

Dikarenakan jadwal yang padat dan jarak yang terpisah, Ainun bersedia memberikan opininya melalui sebuah wawancara. Berikut wawancara santai via Whatsapp redaksi Koran Solidaritas Arief Negara dengan Ainun Najib. 

Menurut Anda sejauhmana pentingnya mengawasi kekuasaan yang dilakukan oleh masyarakat digital (digital society) ?

Iya benar sangat penting peran masyarakat digital dalam mengawasi dan mengawal pemerintahan. Baik elemen eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Bagaimana cara mengawasi pemerintahan melalui digital society, berkaca dari pengalaman Anda berkaitan dalam pengawasan digital yang diinisiasi?

Ya kalau pengalaman dalam konteks “masyarakat digital mengawasi pemerintahan” yang relevan ya KawalPemilu, KawalAPBD, KawalDesa dan LaporPresiden. Sempat ada inisiatif Kawal DPR juga tapi tidak sampai launching.

Sejauh mana anak muda digital atau Gen-Y peduli terhadap persoalan itu?

Sangat peduli sebenarnya. Dibandingkan dulu ya. 

Tapi seberapa besar pengaruh mereka dalam mempengaruhi dan mengkritisi kebijakan pemerintah?

Untuk era sekarang saya rasa sangat besar. Karena sentimen publik sangat dipengaruhi sentimen di dunia media sosial yakni dari kalangan masyarakat digital. Dan sentimen publik itu pastinya mendapat perhatian besar dari pemegang kekuasaan, karena sistem pergiliran kekuasaan kita itu demokrasi, berdasarkan pilihan langsung rakyat.

Bagaimana mengoptimalkan perangkat digital untuk pendidikan politik warga?

Itu yang agak tricky, karena masuk ke arena kompetisi yang sama dengan produk-produk teknologi yang lain. Jadi sebenarnya seolah-olah perlu semacam startup untuk bisa melakukan itu. Namun secara business value kan tidak ada,  itu pendidikan politik. Jadi ya cukup challenging. Yang bisa dileverage adalah fenomena viral di social media. Dan ini seni tersendiri.

Iya, Anda jagonya itu kan. Inisiasi yang Anda lakukan lewat kawal pemilu membuat kesadaran digital politik Gen-Y makin tinggi… 

Kebetulan aja itu mas. Sudah digariskan dan kebetulan saya ketiban sampur mendapat peran.

Tapi, mereka kan mengawasi dan terlibat sebatas itu saja, trik agar Gen-Y ini juga terlibat dalam partai politik bagaimana caranya?

Lebih tricky lagi. Kuncinya mengetahui biggest concern mereka, dan menunjukkan bahwa concern tersebut bisa diperjuangkan melalui partai. Pasti sulit sih, karena karakternya Gen-Y itu apolitis dan skeptis.

Peran digital society dalam keterlibatan politik ke depan menurut Anda bagaimana?

Seharusnya sudah makin serius. Yakni mengikuti kancah perpolitikan resmi melalui parpol.

Nah, target PSI yang menyasar anak muda dan digital society sudah cocok ya sebagai wadah buat mereka?

Target sudah benar, tinggal eksekusinya aja. Apakah PSI bisa menjadi wadah aspirasi masyarakat digital.

Apa kata penutup akhir buat digital society kita? 

Selalu berkontribusi apapun yang kita bisa dan di manapun kita berada.    

---

PSI terus bekerja untuk rakyat, dukung PSI melalui Dana Solidaritas, hanya Rp 88.888 per bulan Klik Disini

Tunjukkan Solidaritasmu!
Kolom Wawancara

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eleven − seven =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.