Solidaritas Orang Muda

Solidaritas Orang Muda

Meniti Jalan Baru Politik Indonesia di Era Digital

Rubrik Diskursus – Koran Solidaritas Edisi IV, Oktober 2015

Oleh: Ramli Hussein (Pimpinan Redaksi Koran Solidaritas)

Orang Muda

Pasti banyak yang mencibir Soekarno ketika ditengah kawan-kawannya yang kumuh, dia seorang diri berpakaian rapi dan selalu necis dalam setiap penampilan. Mungkin juga lebih banyak yang mengutuk Soekarno, daripada memberinya simpati, ketika cintanya kepada seorang Noni Belanda harus kandas ditengah jalan. Cintanya harus menyerah pada kenyataan bahwa perbedaan warna kulit bisa menimbulkan perbedaan dalam cerita percintaan. Mungkin itulah benturan pertama Soekarno dengan kolonialisme.

Tentu tidak ada yang menyangka bahwa pemuda Kusno yang necis, sedikit bergaya aristokrat itu akan didampingi oleh seorang anak muda Minang bernama Hatta, kelak akan menjadi orang yang mengumumkan kemerdekaan Indonesia kepada dunia. Dari sebuah Gang kecil di Surabaya, Gang Peneleh 10, HOS Tjokroaminoto seorang aktivis Sarekat Islam melahirkan orang-orang muda berpikiran maju. Tjokro tentu tidak mengajarkan teori semata, Tjokro mengajarkan bagaimana seorang Guru harus bersikap. Satu kata – dengan perbuatan. Anak kos Gang Peneleh mengambil jalannya masing-masing. Muso dan Semaun mendirikan Partai Komunis Indonesia, Kartosuwiryo mendirikan DII/TII, Soekarno sendiri mengambil jalan Nasionalis.

Ketika masa berjuang, mereka bisa bersama. Mendekati ruang kekuasaan mereka saling berkelahi. Mungkin sedemikian membiusnya aroma kekuasaan itu sehingga tidak cukup pertemanan dan penderitaan berpuluh tahun, demi sebuah perebutan kuasa politik. Setiap zaman memlilih anaknya sendiri untuk ditulis dalam sejarah. Itu juga yang terjadi dalam Kongres Pemuda Oktober 1928. Keberanian berimajinasi, mengambil jalan berbeda, bahwa hari ini – tidak boleh sama dengan hari esok, hanyalah dilahirkan oleh orang-orang yang tidak punya ketergantungan besar pada kebahagiaan dunia. Biasanya itu yang disebut “orang muda.”

Rock, Hippies dan Generasi Bunga

Ketika dunia memasuki tahun 1960, perang berkecamuk kembali. Perang yang sudah lama diramalkan Churchill akan meletus, bahkan sebelum pendaratan sekutu di Normandia sebagai awal dimulainya Perang Dunia II. Dunia terbagi dalam kekuatan Bipolar, TImur dan Barat, Kapitalisme melawan Komunisme, Liberalisme melawan Komunitarianisme. Porosnya adalah Amerika Serikat dan Uni Soviet. Namun yang merasakan dampak paling mengerikan justru wilayah Asia dan Amerika Selatan. Di Asia Tenggara: Laos-Cambodia dan Vietnam lalu terakhir Indonesia, terlibat perang saudara yang sampai hari ini masih terasa dampaknya. Perang dunia kedua memang melibatkan mesin-mesin tempur dalam sebuah perang terbuka. Namun Perang Dingin tidak kalah mencekam, dengan melibatkan operasi intelijen tertutup dan beberapa kisah tentang “boneka lokal” yang digunakan untuk kepentingan membelah dua dunia.

Tiba-tiba sebuah gerakan orang-orang muda merebak di jantung Amerika Serikat. Diawali dengan penolakan mereka terhadap konservatisme Gereja, diskriminasi rasial, kemapanan yang membosankan dan kemuakan terhadap kisah peperengan yang tak pernah berujung. Generasi bunga lahir melahirkan sebuah kultur tandingan. Gramsci menyebutnya sebuah “counter hegemoni” Dasarnya teorinya sederhana, penundukan seseorang atau kelompok bukan hanya karena ketidak berdayaan fisik. Tapi juga karena makna “kebenaran” dikuasai oleh segelintir orang dan karenanya kelompok lain terkadang menerimanya sebagai sebuah kewajaran. Flower generation menolak hegemoni atas logika-logika kemapanan yang berujung pada pembenaran diskriminasi rasial, penundukan seksual, kesenjangan ekonomi dan melegitimasi terjadinya perang saudara di beberapa negara.

Musik Rock N’Roll didaulat menjadi lafadz perjuangan kaum Hippies. Usia mereka mendekati 30 tahun ketika mereka menari dan bernyanyi di sepanjang jalan-jalan Amerika Serikat sampai ke Eropa. Mereka tidak lagi bertanya tentang kebebasan dan kesetaraan manusia, juga tidak meminta dan menuntutnya. Mereka “melakukannya” sebagai penolakan langsung terhadap aturan gereja, hukum Negara dan keganderungan tentara pada perang. Sambil membawa spanduk ‘Make Love Not War’ mereka bertelanjang di jalan-jalan raya. Sebagai simbol perlawanan terhadap ‘candu kekuasaan dan kekerasan’ mereka menggunakan narkotika secara terbuka, menurut mereka perang lebih mematikan dari narkotika.

Ketika Barat dan Timur saling berperang dan menghancurkan. Kaum Hippies justru menjadikan Timur sebagai rujukan tata dunia yang penuh kedamaian. Tidak heran jika The Beatles lalu memburu ilmu ke India. Lagu Stairway to Heaven, All you need is love, Imagine dan Mary Jane mendatangkan euforia Bahasa dunia baru “Rock N Roll dan Hippies.” Menolak perang, bercinta dan bermusik menjadi karakter Flower Generation ini.  Nama-nama seperti Jimi Hendrix, Pink Floyd, Janis Joplin, The Doors masih kita dengarkan karyanya sampai hari ini. Generasi bunga tidak hanya melahirkan kebudayaan baru, tapi juga tatanan nilai baru dalam pergaulan internasional. Pintu dibuka bagi Malcolm X untuk menyuarakan keaamaan hak kulit putih dan kulit hitam di Amerika Serikat, begitu juga kesadaran akan pentingnya kesetaraan gender dan perdamaian dunia.

Salah satu jejak dari suara Generasi Bunga itu bisa kita saksikan dalam video-video dan juga masih digelar hingga hari ini. Dunia mengenangnya sebagai salah satu sumbangan Musik Rock pada perdamaian dunia. Ketika selama tiga hari non-stop, di sebuah lahan pertanian di Bethel – New York, sekitar 700.000 kaum Hippies berkumpul dalam sebuah pagelaran musik Woodstock. Perang dingin berakhir, namun suara dari Woodstock, lirik-lirik lagu dari generasi bunga itu masih terdengar hingga hari ini.

Bob Marley, Reggae dan Pesan Damai untuk Afrika

Desmon Tutu, tokoh pembebasan dan rekonsiliasi Afrika Selatan pernah menjelaskan bagaimana Politik Apartheid dimulai di benua itu. “Ketika mereka (bangsa kulit putih) datang, kami punya tanah dan mereka punya kitab. Lalu mereka berkata: tutuplah matamu dan berdoa, Tuhan akan menghilangkan kesedihan hati kalian. Ketika kami membuka mata, mereka punya tanah dan kami punya kitab.”  Apartheid, sebuah politik rasial, yang memisahkan secara genetis dan seksual kelas kulit putih dan ras kulit hitam. Politik identitas itu lalu terus berlanjut pada berkuasanya Apartheid yang dalam  bahasa Afrika, dikenal dengan istilah Aparte Ontikelling atau perkembangan yang terpisah.

Afrika hampir satu abad dilanda perang, lima tahun sebelum Perang Dunia II dimulai, Divisi Der Panzer Jerman dibawah komando Erwin Rommel telah menjelajahi Afrika. Belum selesai duka perang dunia kedua, kemajuan belahan dunia yang lain tidak dirasakan di Afrika. Politik Apartheid kembali berkuasa, migrasi besar-besaran terjadi bersambut dengan perang saudara di beberapa titik, termasuk Jamaika.

Jamaika, Reggae, Rasta dan Marijuana. Empat kata yang sulit dipisahkan, mengapa demikian? Tidak lain karena penderitaan berkepanjangan. Empat kata tersebut mengikat mereka ke dalam sebuah identitas baru yang mengandung harapan, minimal menjadi obat penawar sakit sementara. Jauh sebelum membumi, langgam dan ritme Reggae adalah musik ritual pemujaan. Tidak heran jika Reggae memiliki cita rasa magis dan mistis, karena memang sebagai musik ritual, haruslah punya dua kekuatan tersebut. Lalu datanglah Bob Marley, anak muda yang tentu akrab dengan perjuangan kesetaraan ras yang disaksikannya langsung di Amerika Serikat dimana dia dan ibunya tinggal. Yang istimewa, Bob Marley punya keahlian: suaranya unik dan kemampuan bermusiknya sangat bagus.

Usianya masih 17 tahun ketika Marley menginjakkan kaki kembali di Jamaica. Dihari yang sama, Raja Etophia Haile Selassie mengunjungi Jamaica. Mereka berdua memiliki kesamaan, terinspirasi oleh intektual Afrika, Marcus Garvey. Afrika untuk bangsa Afrika, adalah inti pemikiran nasionalis Garvey. Namun hal yang tidak kalah pentingnya,  Garvey mencoba melakukan dekonstruksi Teologis, dengan menyebutkan bahwa Tuhan  bukan dari ras kulit putih, tapi dari Afrika dan berkulit hitam. “Harusnya Moses berkulit hitam seperti mereka,” Bob Marley sangat mengagumi Garvey dan Selassie, pengalaman masa kecilnya menjadikannya demikian. Marley melihat Ibunya ditinggalkan oleh ayahnya (kulit putih) dan tidak pernah peduli lagi dengan nasib mereka.

Reggae yang disuarakan oleh Bob Marley adalah perpaduan dari kekuatan ritual transenden yang merupakan inti kekuatan spiritual orang Afrika, kekuatan lirik yang hadir mewakili penderitaan akibat politik Apartheid, menjadi identitas baru yang pelan-pelan membentuk kesadaran baru Orang Muda Afrika. Rastafarian adalah anti tesis dari apa yang selama ini kulit putih install ke kepala mereka. Rastafari menjadi mazhab religius baru, ritual baru, kebudayaan baru,  identitas Afrika baru dan aknirnya menjadi kekuatan Partai Politik Baru.

Lagu dan lirik Reggae dari Bob Marley membuat perubahan itu menyebar lebih cepat. Marley mewakili ekspresi penolakan terhadap ketidakadilan dan ajakan untuk bersatu dalam perdamaian. Lagu Buffalo Soldier dan album Exodus misalnya adalah ajakan agar pemuda Afrika yang ada diluar negeri untuk kembali ke Afrika, tanah yang dijanjikan Zion. Marley menyemai Reggae, semangat pembebasan, namun juga pemberontakan. Tidak heran dua butir peluru bersarang ditubuhnya ketika hendak menggelar konser di Taman Nasional Kingston. Namun Marley tetap menggelar konser tanpa merasa takut.

Suara Marley terdengar ke penjuru dunia, bahkan beberapa lagunya sempat bertahan lama di Top Chart di Amerika dan Inggris. Terutama lagu No Woman No Cry melambungkan Reggae sebagai genre musik dunia. Pesan yang ada di dalamnya memang tidak ringan, namun itulah politik seorang Marley: Musik, ritual dan pembebasan Afrika. Marley tidak pernah berhenti sampai dirinya meninggal dunia di Miami karena kanker. Namun namanya telah menginspirasi jutaan orang Afrika untuk mengatakan TIDAK pada Politik Apartheid. Tidak lama setelahnya, Apartheid terjepit oleh perlawanan dari Afrika dan tekanan dunia internasional. Rezim Apartheid akhirnya menyerah, sebagian diadili dalam sebuah Sidang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang melambungkan nama Desmon Tutu dan Nelson Mandela. KKR Afrika Selatan adalah tanda berakhirnya politik Apartheid.

Si Lupus, Gang Potlot dan Reformasi 1998

Awal 1980an di Indonesia, selain Donald Duck, Micky Mouse dan komik Siksa Api Neraka jarang buku cerita bermutu. Radio hanya ada sandiwara radio Misteri Gunung Merapi. Sementara di Televisi si Huma dan Unyil masih menjadi tokoh sentral. Nasib layar lebar tidak kalah menyedihkan, meski ada beberapa yang bagus, namun lebih banyak menyajikan kultur anak muda glamour, silat yang jauh dari ikatan historis, malah dibumbui ornamen pornografi (dalam arti ekslpoitatif) yang menjadi senjata satu-satunya agar film ditonton orang. Sementara itu di dunia musik Endang S. Taurina, Obbie Mesakh, Nike Ardilla, Betharia Sonata dan Desi Ratnasari masih terus melantunkan kesedihan cinta. Keadaan spiral keheningan dalam teori Noelle-Neumann, begitu hening tapi mencekam, seakan menunggu waktunya untuk pecah.

Di media cetak apalagi, anak muda tidak memiliki referensi memadai kecuali diktat-diktat wajib yang kering dari pengetahuan baru, lebih sering menjadi penghasilan sampingan guru-guru saat itu. Budaya menulis menjadi beku, novel-novel kebanyakan dari terjemahan luar negeri, itupun sangat terbatas. Anak SMA saat itu lebih sering bertukar bacaan stensilan porno dengan tokoh Nick Carter, agen intelijen cabul. Selebihnya hanya majalah dengan berita yang datar. Sementara orang muda selalu membutuhkan ruang pertukaran emosi, namun kenyataan harus diterima, rezim Orde Baru membatasi bacaan-bacaan politik dan progresif selain yang ditetapkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Badan Sensor.

Bacaan yang berbeda dari berbagai mazhab, baik yang berbasis agama maupun filsafat sosial beredar secara diam-diam. Kelompok-kelompok diskusi kecil bermunculan, sembunyi-sembunyi, tadinya berlangsung diluar kampus, pelan-pelan mulai masuk ke organisasi mahasiswa formal, terutama pers mahasiswa. Entah darimana bacaan-bacaan itu mulai bermunculan, ada yang berbahasa Inggris ada juga yang berupa terjemahan yang diketik ulang atau bahkan tulisan tangan. Dalam kajian Islam bemunculan referensi Revolusi Iran karya Suroosh Irfani atau pemikir lainnya Sayyid Ahmad Khan dan Jamaluddin al-Afghani. Di kajian kelompok Kristen mulai bermunculan karya-karya Paulo Freire tentang teologi pembebasan. Di beberapa tempat buku paling dilarang selama Orde Baru seperti karya Pramoedya Ananta Toer dan referensi filsafat kritis lainnya mulai dibaca kembali.

Lalu Hilman Wijaya muncul, dengan cerita berseri LUPUS, sosok anak muda sederhana, urakan, tidak necis dan jorok. Bacaan Lupus dan peran Majalah HAI ketika itu cukup gencar. Generasi Indonesia yang merupakan antitesis dari cerita kesedihan generasi sebelumnya mulai terasa. Tiba-tiba Lupus menjadi sosok yang melawan pakem Si Boy anak muda glamour dengan mobil mewah dan mobil terbaru. Lupus mengunyah permen karet dan naik bus kota. Lupus menjadi idola baru, karena mayoritas yang diam, seakan terwakili oleh sosok rekaan Hilman Wijaya.

Di Gang Potlot, Bimbim yang tadinya ‘nongkrong’ di Cikini Stone’s Complex dengan lagu-lagu Rolling Stones sebagai genre utamanya masih mencari formasi band yang tepat. Spirit Rock N Roll dari Flower Generation juga tiba di Jakarta, begitu juga Reggae pembebasan Afrika mulai bermunculan. Tentu generasi sebelumnya ada Iwan Fals yang cukup keras dan digandrungi, tapi Iwan sudah terlalu besar, konser-konsernya dilarang dimana-mana. Mungkin juga lagu Iwan Fals kurang menghentak anak muda saat itu.

Desember 1990, album pertama SLANK berjudul ‘Suit suit He hee.. Gadis Sexy” diluncurkan dan meledak di pasaran. Generasi Obbie Mesakh dengan semut yang berbaris di dinding sudah berakhir. Dengan musik yang diramu apik oleh Kaka, Bimbim, Pay, Indra dan Bongky ini, lirik cinta dengan bahasa baru menarik perhatian orang muda. Slank konser disambut ribuan orang, wajar album kedua mulai dilirik pemerintah. Selain karena mulai menghembuskan narasi politik, Bahasa yang digunakan seperti dalam lagu “Anjing” langsung terjaring sensor. Slank menjadi fenomena baru, tapi Gang Potlot 14 bukan hanya Slank, dari sana lahir Oppie Andariesta yang juga muncul dengan lirik dan musik yang jauh dari ‘kecengengan.’ Lagu Oppie  mencerminkan perempuan yang mandiri dan tegar. Sangat berbeda jika dibandingkan lirik Betharia Sonata yang ketika disakiti hanya bisa meminta dipulangkan ke rumah orang tuanya. Atau Desi Ratnasari dengan Tenda Biru menyajikan kesedihan ditinggal kawin sang kekasih.

Gang Potlot 14 juga melahirkan Anang yang PopRock, Imanez dengan warna Reggae dan banyak lagi musisi lainnya mulai lahir. Gairah baru berhembus, spiral keheningan mulai pecah. Orang berkumpul dimana-mana dalam konser-konser. Disisi lain kelompok-kelompok diskusi di luar kampus, mulai masuk ke Senat-senat mahasiswa, masjid-masjid kampus mulai hidup dengan narasi yang ‘bukan’ narasi mainstream. Bahkan sebagian nekad mendirikan Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang lalu pada tahun 1996 oleh Kejaksaan Agung dinyatakan sebagai partai terlarang.

Massa mulai terkonsentrasi, Slank dan Geng Potlotnya melahirkan musiknya dari potret sosial yang berlangsung. Bimbim dan Kaka menyerukan kebebasan melalui musik, Hilman WIjaya berhasil memantik gaya penulisan baru, setelahnya muncul sosok Si Roy karya Gola Gong. Majalah remaja bermunculan seiring dengan majalah politik dan kajian sosial. Lalu spiral keheningan itu pecah, kerumunan massa berubah menjadi kerumunan politik. Era demokrasi tiba, spiral ketakutan berganti kebebasan berbicara dan berekspresi. Mei 1998, adalah tanda dimulainya era reformasi di Indonesia.

Kebingungan dalam Era Keterbukaan

Reformasi 1998 mampu memobilisasi jutaan anak muda karena sumbatan sosial sudah semakin terasa. Kata Slank ‘mau begini salah, mau begitu salah, lalu yang mana yang nggak salah?’ cerita reformasi memang banyak didukung oleh kemarahan sosial kepada dinding kekuasaan yang sudah dirasakan terlalu angkuh menghadang generasi baru yang muncul. Para pemikir reformasi mulai merasakan bahwa ternyata arah perubahan politik telah dibajak. Politik yang terbuka, ternyata dirasakan menjadi sangat normatif prosedural, seperti sirkulasi kekuasaan lima tahunan. Desentralisasi kekuasaan melalui otonomi daerah dan Pilkada langsung, tetap dikuasai oleh elit-elit partai. Aktor politik tidak berganti, begitu juga dengan aktor ekonomi yang menopang negara. Benar adanya, terjadi desentralisasi ekonomi disatu sisi, namun jika diurut ke puncak mata rantai ekonomi, nama yang sama saat Orde Baru juga masih tercantum disana. Gerakan LSM, non partisan, mahasiswa, buruh dan perempuan dihadapkan pada satu kenyataan bahwa: dalam sistem politik yang terbuka, representasi aspirasi politik paling sentral adalah Partai Politik. Teori anti-partisan harus direvisi, Partai Politik harus direbut.

Beberapa dari aktivis angkatan 98 itu mencoba secara individual untuk masuk merebut ruang-ruang politik di partai. Namun kembali, kenyataan yang tidak bisa dihindari adalah fakta bahwa Partai-partai politik di Indonesia membutuhkan darah biru dan kesiapan finansial. Ruang politik yang terbuka adalah catatan penting keberhasilan Gerakan Reformasi. Bagaimanapun ruang keterbukaan masih jauh lebih baik, daripada berdiskusi politik dibawah ancaman rezim. Namun zaman benar-benar berubah lebih cepat. Rekayasa-rekayasa politik dilakukan, sebagian mencoba mendirikan partai politik: Partai Matahari Bangsa (PMB) yang digawangi anak-anak muda Muhammadiyah berhasil menjadi peserta Pemilu, begitu juga dengan PRD berhasil mengikuti Pemilu 1999. Namun tidak satupun dari keduanya berhasil melampaui Parliament Threshold. Sebagian mencoba membangun partai politik Partai Perserikatan Rakyat (PPR) yang kebanyakan adalah aktivis Buruh dan Tani, platform ideology partai dusah rampung, namun gagal dalam verifikasi administrasi Partai Politik di Kementerian Hukum dan HAM.

Di sektort yang berbeda, insan-insan kreatif Indonesia sedang bergumul dengan industri-industri, aturan-aturan hak cipta dan birokrasi negara yang tidak disiapkan untuk mengakomodasi kepentingan mereka. Harusnya fokus berkarya, sebagian dari mereka malah harus menyisihkan waktu untuk menjawab persoalan diskoneksi antara insan kreatif, negara dan pasar. Sangat berbeda jika kita lihat dunia fashion, film dan musik di Korea Selatan. Insan kreatif, industri dan negara digerakkan dalam satu nafas yang sama. Tidak heran K-Pop, film dan fashion Korea mampu menembus pasar Indonesia dengan mudah. Negara yang tahun kemerdekaannya sama dengan Indonesia itu telah merajai industri musik, film, fashion Asia. Pelan tapi pasti menggeser India, Jepang dan Hong Kong.

Solidaritas Politik Digital, Trance dan PSI

Bukan anak muda jika tidak mampu menjawab tantangan jamannya. Social media menjadi fenomena yang berhasil membuat dua lapangan (politik dan dunia kreatif) menjadi menemukan jalan baru. Dunia sosial menyediakan berbagai kemudahan untuk memasarkan karya-karya, saling betukar informasi dengan cepat serta membukan keran ekonomi baru yang  tidak membutuhkan birokrasi dan formalitas yang rumit. Geliat kehidupan di internet dan gadget menjadikan anak-anak muda Indonesia tumbuh dan membangun karakter digitalnya sendiri melalui alat baru ini. Pelan-pelan media berbasis cetak dan layar televisi mulai merasakan ancaman bisnis. Di dunia politik, dukungan politik dan konfirmasi kritik terhadap gaya hidup elit dengan cepat menyebar. Kemenangan Jokowi dalam Pilpres 2014 menjadi salah satu fakta penting yang harus dicatat. Melalui akun-akun sosial, menjalar sebuah gerakan baru, tidak membutuhkan Kartu Anggota, atau bahkan tidak perlu menjadi anggota partai tertentu untuk menyatakan sebuah sikap dan pilihan politik.

Tidak seperti media cetak dan elektronik yang cepat menyadari pentingnya bertransformasi ke dunia digital. Partai politik malah masih asik dengan fasilitas lama, bahkan berusaha mempertahankan kebijakan lama demi melanggengkan privilege kekuasaannya. Metode politik lama masih digunakan, spanduk dan billboard serta iklan televisi masih menjadi andalan saat kampanye. Padahal rekruitmen keanggotaan dan kaderisasi politik seperti itu, sudah terbukti using dan tidak pernah mampu memobilisasi dukungan dari orang muda.

Dunia sedang berubah, raksasa keuangan dunia yang berkantor di Wall Street diserbu demonstrasi massal berhari-hari. Tanpa menggunakan surat kabar mainstream dan televisi untuk menyebarkan ajakan dan propagandanya. Kumpulan massa itu saling terhubung dari akun-akun media sosial seperti Facebook dan Twitter. Hal yang sama terjadi di Tahrir Square yang merupakan awal berjatuhannya rezim-rezim otoriter di jazirah Arab. Dari Hongkong seruan Joshua Wong, pelajar muda itu berhasil memicu demostrasi dan pemogokan massal melawan kebijakan Beijing yang sedang merajai ekonomi dunia. Arus sejarah dan peradaban terus dihembuskan melalui jaringan-jaringan baru yang mungkin unik dan rumit bagi orang berusia 50an tahun. Namun tidak bagi anak-anak muda, gadget dan sosial merebut ruang-ruang yang selama ini tidak disediakan oleh elit dan juga negara.

Sementara itu di Belgia anak muda dari berbagai penjuru dunia berkumpul, sebuah kerumunan raksasa sedang seakan terhipnotis oleh irama suggestif yang muncul dari musik elektro dalam event Tomorrowland. Kerumunan serupa direplikasi di belahan dunia lain dengan tema berbeda seperti Ultra Music Festival, A State of Trance (ASOT), tidak ketinggalan di Indonesia event serupa digelar, pemuncaknya bertema Djakarta Warehouse Project dan Dreamfields Festival di Bali. Kerumunan ini tidak mudah diseret ke arus politik jika menggunakan metodologi pengorganisasian politik lama. Namun mereka juga bukan kelompok yang pasif, sebagian mereka aktif dalam menggalang solidaritas dalam tema-tema sosial tertentu.

Kemunculan tokoh-tokoh muda yang memiliki integritas dan dedikasi tinggi, banyak merebut simpati publik media sosial. Sebut saja Ahok, Risma, RIdwan Kamil, Jokowi dll seakan didaulat oleh publik menjadi idola politik dengan kriteria yang ‘berbeda’ dengan kriteria partai politik dan Undang-undang. Persoalan terjadi ketika popularitas tokoh-tokoh baru ini seakan tidak kompatibel dengan sistem dan tradisi kepartaian di Indonesia. Lalu pertanyaannya adalah ‘jika tidak sudi diusung oleh partai politik, darimana kemudian tokoh-tokoh tersebut bisa bertahan dalam kekuasaan?’ Keadaan ini tampaknya yang membuat seorang mantan presenter cantik, masih 32 tahun, bersama kawan-kawannya membentuk Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Yang menarik, Grace dkk sangat ketat dalam kriteria usia. Harus dibawah 45 tahun dan belum pernah menjadi pengurus harian Parta Politik lama. Jelas ini adalah upaya menarik garis demarkasi yang tegas. Dalam gerakan politiknya, PSI mensiasati kebutuhan finansial  (tidak bisa dihindari dalam syarat mendirikan sebuah partai baru) dengan menggunakan media sosial. Awalnya mungkin terdengar tidak mungkin atau mustahil. Tapi tampaknya, pelan-pelan PSI mulai mencuri ruang kosong yang ditinggalkan oleh Partai-partai lain. Ruang kosong itu bernama Gerakan Sosial Digital.

PSI tentu menyadari, bahwa sejarah selalu berulang, hanya saja dengan latar dan narasi yang berbeda. Perubahan besar tidak pernah dimulai oleh orang-orang besar yang berjiwa kerdil. Tapi oleh orang-orang biasa yang yakin dan percaya untuk mengubah ketidakmungkinan menjadi sebuah kenyataan baru. Di Eropa partai sejenis bermunculan, sebut saja Piraten Partei (Partai Pembajak) di Jerman yang cukup mengejutkan, karena pelan-pelan mulai mendekati ambang batas parlemen (PT). Di New Zealand, berbekal media sosial dan platform digital yang apik, Internet Party NZ secara resmi ikut dalam Pemilihan Umum.

Ketika tulisan ini dibuat, akun Fanpage Facebook PSI sudah mendekati angka 1 juta Fans. Artinya sudah hamper 1 juta orang Indonesia yang setuju dengan konten kampanye yang diluncurkan oleh PSI di media sosial. Bukan hal yang mudah mendapatkan simpati publik media sosial. Mereka adalah publik yang kritis, terdidik dan berani menyatakan pendapat. PSI mungkin akan menjadi kekuatan politik baru, dengan Bahasa yang baru untuk jaman yang baru. Sebagaimana Soekarno yang patah hati pada colonial, John Lennon dalam babak Flower Generation, atau Slank dengan Gang Potlot 14 nya. Tidak ada yang tidak mungkin, angka-angka statistik demografi, survei-survei kuantitatif, fenomena media sosial seakan mengkonfirmasi bahwa ‘Grace dan PSI on the right track’.  

Tanpa mengusung Bahasa ideologi yang mungkin rumit bagi sebagian orang, atau janji-janji yang muluk-muluk, PSI mengusung DNA kebajikan dan keragaman. Dua hal yang terdengar ringan namun bisa memiliki daya dorong sosial yang besar seperti Rock N Roll tahun 60an, Reggae tahun 70an atau Suit suit He hee ala Slank di tahun 90an. PSI selalu mengajak publik muda dan perempuan untuk tidak anti pada politik. Hanya Partai politiklah yang punya otoritas legal menciptakan kebijakan.

Tantangan yang dihadapi PSI tentu tidak ringan, namun sebagaimana kata Grace dalam videonya “Saya yakin, karena saya percaya akan ada jutaan tangan, jutaan bahu, jutaan anak muda dan perempuan yang akan ikut serta dalam gerakan PSI. Karena sesungguhnya kami bukan siapa-siapa tanpa kamu semua!” Kata-kata ini mungkin tidak bermakna apa-apa hari ini. Tapi akan dikutip orang dikemudian hari, jika Grace dan kawan-kawannya di PSI mampu mengukir sejarah politik baru dengan Bahasa yang baru. Tantangannya adalah bagaimana mengubah kerumunan anak muda di Djakarta Warehouse Project atau Dreamland, yang sedang gandrung dengan kebisingan Trance, menjadi sebuah kerumunan politik yang menjatuhkan solidaritas politik elektoralnya kepada PSI di Pemilu 2019.  

Setidaknya bisa disimpulkan, dalam setiap fase perubahan sosial di belahan dunia manapun. Indikator yang paling menentukan sebuah gerakan bisa mendapatkan dukungan yang luas adalah karena tiga hal: Pertama, karena gerakan itu bisa menyediakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan jaman yang baru. Kedua, karena gerakan itu bicara kepada publik dalam frekuensi yang sama dengan kegelisahan mayoritas. Ketiga, karena gerakan tersebut digerakkan oleh energi yang bernama SOLIDARITAS. Grace dan kawan-kawannya di PSI tampaknya memenuhi tiga prasyarat itu. Kita tunggu saja.

Tunjukkan Solidaritasmu!
Diskursus Kolom

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen + four =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.