Wasekjen PSI: Korban Bully yang jadi Super Student

Wasekjen PSI: Korban Bully yang jadi Super Student

Indonesia Tanpa Bullying #Merdeka100Persen

Pernah menjadi korban bully hanya karena anda berasal dari sekolah, yang “menurut orang” kualitasnya kurang bagus dan ditambah bumbu cerita tentang anak-anak yang nakal. Nah Wasekjen PSI, Danik Eka Rahmaningtyas ini juga pernah mengalaminya.

Cerita bermula ketika dirinya diterima di salah satu SMA 1 Ambulu, merupakan SMA favorit di Jember. Yang bersekolah di SMA ini adalah mereka yang rata-rata berasal dari SMP yang favorit juga, punya prestasi dan tentu lebih suka berkompetisi. Sangat jauh jika dibandingkan dengan SMP  Muhammadiyah, dimana Danik tamat, SMP ini  selalu dianggap sebagai SMP tempat anak-anak nakal, miskin, anak buruh bersekolah. Juga tempat bersekolah bagi mereka yang sudah tidak bisa diterima di SMP lain, baru melirik SMP ini menjadi pilihan terakhir.

Murid di SMP tersebut sedikit, mungki karena jarang yang mau memasukkan anaknya bersekolah disana. Selain nakal, dalam hal infrastruktur, bangunan SMP ini memang terbilang kecil dan terkesan kumuh jika dibandingkan dengan SMP lain. Satu hal yang membuat Danik betah dan bertahan, karena mungkin murid-murid SMP disana tidak terlalu berkompetisi dalam mata pelajaran, mereka justeru memiliki hal lain yang dimata Danik merupakan sesuatu nilai lebih. Yakni rasa solidaritas yang tinggi. Satu sakit-sakit semua, satu bahagia, yang lain juga harus dibagi.

Awal-awal masuk SMA merupakan hari yang berat, kakak kelas pengurus OSIS menjadi pelaku utama, mulai dari candaan, ejekan, sampe pandangan mata meremehkan di terima Danik. Mungking kawan-kawan barunya di SMA melihatnya seolah keanehan, ada anak SMP Muhammadiyah masuk ke SMA 1 Ambulu. Danik sangat kesal dan marah, dia sempat rindu kawan-kawan SMP yang penuh dengan suasana persaudaraan. Danik sempat menceritakan hal ini kepada orang tuanya. Abah, demikian Danik memanggil ayahnya, malah tersenyum “masa digituin jadi berkecil hati?” Kata ‘berkecil hati’ membuat Danik sadar, ini tidak bisa dibiarkan.

Akhirnya Danik memutuskan, dia harus melawan, bukan dalam artian fisik, tapi menolak dikalahkan dari segi mental. Keesokan hari, Danik masuk sekolah dengan wajah cool, dalam hati dia selalu mengulang “saya lulus test disini, tidak ada yang bisa menghakimi saya (juga kawan-kawan SMPnya), siapaun berhak jika dia mampu membuktikan dirinya lebih baik” Itu cukup membuat Danik bertahan dan mulai memegang kendali perasaannya.

Danik akhirnya membuktikan, bahwa prestasi bisa diperoleh siapa saja tanpa membedakan latar belakang sosial dan ekonomi. Dalam perjalanannya, dari mengorganisir komunitas, hingga bergabung sebagai Wakil Sekjen DPP PSI, Danik mendapat banyak pelajaran berharga, salah satunya adalah rasa solidaritas dan persaudaraan yang diajarkan oleh kawan-kawan SMP yang bagi sebagian orang bisa saja disebut “nakal” atau “buangan”. Tapi setiap orang punya kesempatan yang sama, tergantung sekeras apa kita pada diri kita sendiri. Karena yang paling sulit adalah mengalahkan diri sendiri.

 

---

PSI terus bekerja untuk rakyat, dukung PSI melalui Dana Solidaritas, hanya Rp 88.888 per bulan Klik Disini

Tunjukkan Solidaritasmu!
Kolom Opini

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen + 6 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.